Alana berdiri di depan ruangan dokter Anton. Jujur, dia masih penasaran dengan penjelasan dokter Anton yang terkesan aneh. Dia yakin ada sesuatu yang dokter Anton sembunyikan, Alana menggigit bibir bawahnya kejam karena bingung harus masuk atau tidak.
“Aku masuk nggak ya? Kalau nggak mau bakalan penasaran dan nggak tahu sampai kapan. Kalau masuk kan bisa tahu kondisi kesehatan Diaz, tapi kalau Diaz tahu bisa kecewa,” seru Alana bimbang.
Alana tampak berpikir, dia merasa Alvar ataupun Diaz tak mungkin mengikuti ke ruangan dokter Anton. Alana pun mengetuk pintu, dan masuk ke ruangan dokter Anton.
“Selamat pagi Dokter,” seru Alana mengulum senyum, membungkukan setengah badan pada dokter Anton yang duduk di kursi dokter.
Dokter Anton tampak berpikir melihat kedatangan Alana. Pagi ini Alana sengaja langsung ke rumah sakit setelah jam kuliah habis. Jantung Alana berdegup kencang, dia mengulum senyum karena dokter Anton memandangnya dengan kening berkerut.
“Maaf Dok, saya lancang masuk. Dokter masih ingat saya kan, saya Alana temennya Diaz,” ucap Alana lembut.
“Oh temennya Diaz. Iya saya ingat, apa ada yang bisa saya bantu?” Dokter Anton menawarkan bantuan, suaranya yang teduh membuat Alana takjub.
Alana tak sabar merasakan rasanya menjadi dokter. “Kayaknya seru juga ya jadi dokter, nggak serumit yang aku bayangkan,” lanjutnya dalam hati.
“Alana, apakah ada yang bisa saya bantu?”
Alana mengulum senyum. “Ada Dok. Saya masih sangsi sama penjelasan dokter, jujur saya nggak percaya sama penjelasan Dokter.”
Dokter Anton mengulum senyum khasnya. “Kamu hebat Alana, baru kali ini saya menemui orang dari pasien yang kritis seperti kamu.”
“Karena saya sudah beberapa kali melihat Diaz mimisan, memar tanpa luka dan gejala lainnya Dok. Saya merasa gejala yang Diaz alami seperti indikasi penyakit serius.”
Dokter Anton mulai gusar. “Maaf Alana, kalau saya boleh tahu kamu masih kuliah atau sudah kerja?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian.
“Saya masih kuliah kedokteran Dok,” sahut Alana membuat dokter Anton membelalakan mata.
“Plis, Dok. Katakan yang sebenarnya, saya ini sudah mencintai Diaz dan nggak mau hal buruk terjadi pada orang yang saya cintai,” ucap Alana lagi.
Dokter Anton gusar, dia tak menyangka gadis di hadapannya adalah calon dokter. Pantas saja cara bicara dan menyampaikannya berbeda dari orang kebanyakan. “Bagaimana ini? Saya harus jawab apa?”
“Tolong jawab sekarang juga Dok,” pinta Alana memelas.
Tak berselang lama, seorang suster mengetuk pintu dan masuk ke ruangan dokter Anton. Hal tersebut membuat dokter Anton bernapas lega karena bisa lepas dari berbagai pertanyaan Alana yang menyudutkannya.
“Maaf dok, sekarang sudah jadwalnya operasi. Mari kita ruang operasi Dok,” seru suster berhijab ramah.
“Iya suster.” Dokter Anton menoleh memandang Alana. “Alana, saya permisi dulu ya. Saya harus mengoperasi 7 orang nih.”
Alana mengangguk dan melemparkan seulas senyum. “Iya Dok. Kita sambung obrolan kita lain kali ya Dok.”
DEG!!
Ucapan Alana benar-benar membuat dokter Anton tak bisa berkutik, gadis itu membuat dokter Anton serba salah. Jika Alana dibiarkan mengetahui penyakit Diaz, Diaz akan kecewa karena dokter Anton tidak amanah. Namun, jika Alana tak dijelaskan maka Alana akan mengganggu dokter Anton.
“Baik Alana.”
“Yaudah Dok, saya permisi dulu ya.” Alana kembali melempar senyum dan pada dokter Anton dan suster, lalu keluar dari ruangan dokter.
Dokter Anton hanya memandang punggung Alana yang menghilang setelah pintu ditutup. Betapa beruntungnya Diaz dicintai gadis seperti Alana, dia yakin Alana tak akan meninggalkan Diaz walaupun mengetahui penyakit Diaz. Justru Alana akan menjadi penyemangat Diaz menjalani kemoterapi.
“Aku harus kasih tahu Diaz. Siapa tahu dia berubah pikiran dan bersedia di Kemo,” ucap dokter Anton, lalu keluar bersama suster.
***
“Sialan! Aku gagal guys,” ucap Alana muram seraya menghampiri Keyla dan Vita di kantin rumah sakit.
“Gagal apaan?” tanya Keyla heran.
Alana duduk dan minum teh hangatnya sampai habis. “Gagal bujuk dokter Anton jujur mengenai penyakit Diaz.”
“What?!” Vita dan Keyla kompak seraya menatap wajah Alana tak percaya.
“Biasa deh jawabnya. Nggak usah sok kaget gitu,” ucap Alana heran.
“Gimana kita nggak heran. Kamu berani banget nyamperin Dokter Anton di ruangan dokter tanpa surat pengantar,” sahut Keyla berdecak kagum.
“Iya Alana. Apa jadinya jika Dokter Anton marah, kamu bisa kena pasal berlapis,” timpal Vita menakuti Alana.
Alana terkekeh. “Kayaknya kalian udah lupa ya siapa Alana sebenarnya. Walaupun aku udah insyaf, sikap yang dulu bisa muncul saat keadaan terdesak.”
Keyla menghela napas. “Iya aku paham Alana. Tapi ini seorang dokter loh, kamu berani banget datangi seorang dokter spesialis. Dokter Anton dokter bedah Alana, bukan Dokter praktek.”
“Iyalah paham. Eh, tapi aku hampir dapatkan penjelasan Dokter Anton kalau nggak ada suster yang masuk ngajak operasi,” ungkap Alana bahagia.
“Yaudah, lupain nekad kamu itu ya. Jangan ulangi lagi nggak baik, kampus kita bisa ikut tercemar karena ulah kamu. Apa jadinya kalau Bu Maria mengetahui semua ini,” cerita Keyla menyayangkan sikap Alana.
Alana malah mengangkat bahunya seolah tak peduli. “Tapi Dokter Anton menyanggupi obrolan di lanjut lain kali kok.”
Vita dan Keyla kembali tercengang dengan ungkapan Alana. Mereka tak habis pikir Alana bisa bertindak senekat itu, padahal belum tentu dugaan Alana yang menyatakan Diaz terkena penyakit Leukimia benar.
“Sudahlah, ayo makan. Nggak asik ngobrol sama kalian,” kesal Alana karena kedua sahabatnya tak mendukung aksinya.
“Iya,” sahut Keyla dan Vita serentak.
***
Sementara itu, Bu Maria duduk di samping Diaz yang tertidur pulas. Bu Maria meneteskan air mata melihat putra tunggalnya kembali di rawat di rumah sakit, dia merasa gagal menjadi seorang ibu karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi tanpa meluangkan waktu bersama Diaz.
“Maafin Mami sayang. Ini semua kesalahan Mami, selama ini Mami sibuk mengurusi anak orang lain tanpa memikirkan urusan kamu,” ucap Bu Maria lirih.
Bu Maria kembali mengusap air mata yang terus menetes membasahi pipinya. “Mami janji Nak, Mami akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu. Apapun sayang.”
Diaz menggeliat karena mendengar suara di dekatnya. Diaz mengerjapkan mata, menajamkan pandangannya dan menatap sang mami yang mengulum senyum.
“Kamu udah bangun sayang,” ucap Bu Maria, membelai rambut Diaz penuh kasih sayang.
Diaz mengulum senyum. “Mami, sejak kapan Mami disini? Kenapa nggak bangunin aku Mi.”
“Mami baru 5 menit kok disini. Mami liat kamu pules banget jadi Mami nggak mau ganggu tidur kamu Nak,” sahut Bu Maria lembut.
“Oya Mi, Alvar mana?” tanya Diaz seraya memperhatikan seluruh penjuru ruangan.
“Alvar pulang sebentar Nak. Katanya mau tidur karena disini nggak bisa tidur.”
“Kalau Alana? Dia belum kesini Mi?”
Bu Maria mengulum senyum. “Justru Alana kesini sebelum Mami datang. Tapi Mami juga nggak tahu kenapa belum nyampai sini.”
Diaz mengernyitkan kening. Mengapa Alana belum sampai ke ruangannya, harusnya dia sudah masuk. Ya Tuhan... kenapa perasaan Diaz tak enak. Apa yang terjadi pada Alana? Apa Alana mengalami masalah?
“Oya Nak, Mami mau tanya sama kamu?”
“Tanya aja Mi.”
“Apa kamu beneran ingin menikah muda? Kamu siap menjadi suami Alana?” tanya Bu Maria memandang Diaz tajam.
Mendengar pertanyaan sang mami, Diaz terlonjak kaget. “Ma-maksud Mami?”
Bu Maria tersenyum. “Mami ingin yang terbaik buat kamu Diaz. Apapun akan Mami lakukan untuk kamu, termasuk melamar Alana.”
Diaz menganga mendengar ucapan sang mami. Ternyata kehujanan dan membuat Diaz di rawat di rumah sakit memberikan kabar baik, sang mami akhirnya menyetujui keinginannya melamar Alana.
“Kamu masih niat melamar Alana kan?” tanya Bu Maria memastikan.
“Tentu dong Mi. Jadi, kita melamar Alana kapan?”
Bu Maria terkekeh. “Sabar dong. Yang utama, kamu mendatangi rumah Alana dan memberitakan kabar baik ini pada Alana dan Mamanya. Bilang kalau kamu siap melamar Alana.”
“Tentu Mi. Makasih banyak ya Mi, sumpah aku bahagia banget Mi.”
Bu Maria mengulum senyum. “Dengan satu syarat.”
Diaz menelan ludah karena persetujuan sang mami bersyarat. “Apa syaratnya Mi?”
“Tinggalkan balap liar. Mami nggak mau kamu terlibat atau mendatangi balap liar.”
Diaz gusar, dia tak menyangka sang mami mengetahui aktivitas dirinya mengikuti balap liar. Padahal selama ini aman-aman saja dan tak ada seorangpun yang mengetahui dunia balap liarnya.
“Kamu nggak usah kaget gitu. Akhir-akhir ini Mami sengaja nyuruh orang buat menyelidiki kegiatan kamu di luar rumah, dan Mami nggak nyangka kamu hobi balap liar,” ucap Bu Maria kecewa.
“Maafin aku Mi. Aku nggak bermaksud jadi anak pembangkang, aku melakukan itu untuk mengubah masa lalu dengan masa depan yang indah.
“Tapi nggak harus balap liar Nak. Mami takut terjadi hal buruk sama kamu.”
“Sekali lagi, maafin aku Mi.”
Bu Maria menghela napas. “Baiklah, Mami akan maafin semua kesalahan kamu. Tapi kamu harus semangat ya jangan pingsan lagi, Mami malu punya anak cowok tapi lemah. Padahal dari dulu kamu kuat, sesakit apapun kamu bisa tahan agar melakukan kesalahan.”
“Iya Mi, aku janji. Demi Alana aku akan tinggalin dunia balapan,” janji Diaz mantap.
***