Bab 46

1182 Kata
"Pagi sayang, tumben nih kamu udah bangun," seru Alana masuk ke ruang rawat Diaz. "Pagi juga sayangku," sahut Diaz tersenyum lebar. Alana mengernyitkan kening mendapati sikap Diaz yang tampak bahagia. Dia melirik jam berwarna ungu yang melingkar di pergelangan tangannya, masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Namun, mengapa Diaz sudah bangun. Biasanya setiap Alana ke rumah sakit pagi masih tidur. "Sayang, kamu kok kayaknya bahagia banget sih. Ceritain dong ke aku," ucap Alana cepat, lalu duduk di kursi di samping Diaz. Diaz mengulum senyum khasnya, dia menggenggam tangan Alana lembut dan mencium punggung tangannya. Wajah Alana merona diperlakukan istimewa oleh sang kekasih. "Aku bahagia karena Mami udah setuju dengan pernikahan kita sayang. Aku dan Mami akan ke rumah kamu untuk membahas lamaran," ucap Diaz bahagia. Seketika, Alana membelalakan mata mendengar ucapan Diaz. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dia dengar bukanlah mimpi. "Kamu serius sayang? Bu Maria udah setuju?" tanya Alana memastikan. Diaz mengangguk. "Aku serius. Artinya, nggak ada yang menjadi penghalang hubungan kita. Kita akan menjadi suami istri secepatnya." Alana mengangguk, lalu membelai kening Diaz. Matanya menatap tajam wajah Diaz yang masih pucat. "Untuk itulah, aku semakin mudah mengetahui penyebab kamu mimisan sayang. Dengan aku menjadi istrimu, aku lebih mudah mengetahui semuanya." Batin Alana. "Alana, kamu kenapa?" tanya Diaz, membuat Alana terkesiap. Alana menggeleng kuat. "Aku nggak papa sayang. Kan lagi bahagia banget denger kabar dari kamu." Diaz terkekeh. "Iya ya." "Cia-cia yang lagi di mabok asmara, yang mau nikah muda seneng banget." Alvar dan Keyla masuk ke ruang Diaz, mereka malah menggoda Alana dan Diaz. "Eh Bro, loe wajib banget traktir kita ya. Kalau gue nggak nyaranin loe nikahin Alana, loe nggak bakalan bisa nikahin Alana loh," ucap Alvar terkekeh. "Benar, kamu juga wajib traktir aku sama Vita ya," sambung Keyla mantap. "Iya, ntar semuanya aku traktir. Aku yang bayarin kalian semua," sahut Diaz mantap. "Yes, makan-makan. Kalau bisa selama sebulan ya," pinta Alvar cengengesan. "Enak aja! Yang ada gue bangkrut." Diaz kesal dengan permintaan Alvar yang mengada-ada. "Heee bercanda gue," sahut Alvar cepat. "Oya guys, kayaknya kabar bahagia ini perlu diumumin di kampus deh. Dengan begitu Vanes nggak akan gangguin Diaz maupun Alana lagi," saran Keyla semangat. "Nah, boleh juga tuh. Gue denger kan si Vanes berambisi banget dapetin Diaz, sering banget dia kirim hadiah ke rumah. Daru makanan sampai pakaian, tapi Diaz tolak sih," ungkap Alvar membenarkan ucapan Keyla. "Serius kamu. Terus kamu buat semuanya?" tanya Alana menggoda Alvar. Alvar senyum-senyum. "Enggak, sayang di buang. Jadi gue ambil deh." Keyla shock mendengar pengakuan Alvar, tangannya mengepal sempurna karena Alvar berani memakan makanan pemberian Vanes. Bahkan, Keyla melirik sepatu Alvar yang tampak branded. Sebelumnya, Alvar tak pernah memperhatikan penampilannya. Jangankan memilih pakaian, memilih makanan sehat saja Alvar malas. "Alvar, loe tega ya. Harusnya loe buang semua pemberian Vanes, itu bisa menghambat loe dapatin jodoh loh." Diaz melirik Keyla yang tampak kesal, kemudian melirik Alvar yang melongo. "Nah, Diaz bener. Cepetan buang pemberian Vanes," pinta Alana membela Diaz. Alvar menggaruk pelipisnya yak tak gatal, dia sadar Keyla cemburu dengan sikapnya menyimpan pemberian Vanes untuk Diaz. Namun, saat ini tak bisa membuang pemberian Vanes karena jaket, sepatu dan kaca mata yang dia kenakan juga pemberian Vanes. "Umm... besok gue buang semuanya deh," janji Alvar akhirnya. "Jangan besok, sekarang aja," pinta Diaz menahan tawa. Keyla semakin kesal dengan sikap Alvar yang tak peka dengan perasaan hatinya, dia mengumpat dalam hati. "Dasar cowok nggak peka, nyesel aku suka sama dia. Harusnya hati ini buat orang lain aja. Nyesel aku." Batin Keyla. "Alana, Diaz, aku ada urusan. Aku duluan ya," pamit Keyla seraya bangkit dari tempat duduknya. "Key, gue antar ya," tawar Alvar. "Nggak perlu! Toh acara aku kumpulan cewek, nggak mungkin kan kamu ikut," sahut Keyla cuek lalu menghampiri Alana dan Diaz. "Aku duluan ya, cepet sembuh ya Diaz. Bye." "Hati-hati ya," sahut Alana ramah, dia memperhatikan Keyla yang keluar dengan raut wajah kesal karena Alvar. Alana pun menghembuskan napas kesal karena sikap Alvar. "Alana, Diaz, gue kejar Keyla dulu ya," ucap Alvar cepat. "Jangan," sahut Alana cepat. "Loh kenapa? Keyla pasti marah sama gue. Gue nggak mau PDKT gue sama dia gagal." "Keyla beda sama cewek lain yang mintanya di kejar. Mendingan kamu buang semua pemberian Vanes dan kasih dia kejutan, aku yakin dia bakal maafin kamu." Alvar tampak berpikir ucapan Alana, akhirnya dia mengangguk. "Oke, kalau gitu gue pulang dulu." "Hati-hati, makanya jangan macem-macem sama cewek," nasehat Diaz cepat. Alana pun terkekeh melihat Alvar yang tampak frustasi. Setelah memastikan Alvar keluar, Alana memandang Diaz dalam. Tentunya Diaz salah tingkah di perhatikan Alana. "Kamu kenapa liatin aku kaya gitu sih," ucap Diaz malu. "Aku sebenarnya pengen nemenin kamu disini tapi aku harus pergi." Diaz tersenyum. "Ya nggak papa sayang, dari tadi kalian udah nemenin aku. Pastinya aku seneng banget dong." "Serius nih kamu nggak keberatan aku tinggal?" Diaz menggeleng. "Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kamu sakit dan konsentrasi kuliahmu terganggu karena sibuk nemenin aku." "Yaudah, aku pulang dulu ya. Tapi aku janji, ntar malam dan selama kamu masih dirawat akan kesini terus," janji Alana. "Iya, sana pulang. Istirahat dulu gih," perintah Diaz. Alana tersenyum, dengan ragu Alana mencium tangan Diaz dan berjalan cepat keluar karena malu telah mencium punggung tangan Diaz. Sementara Diaz merasa hari ini adalah hari kebahagian untuknya, baru kali ini Alana mencium tangannya dan membuat Diaz bahagia. "Terima kasih Alana, terima kasih untuk ketulusan cintamu untukku. Tapi, apa kamu bisa melakukan itu setelah mengetahui siapa aku sebenarnya? Apa kamu bisa memaafkan kesalahanku dimasa lalu? Jika tidak, aku nggak sanggup hidup lebih lama. Lebih baik aku mati sekarang," lirih Diaz dengan mata berkaca-kaca. "Selamat siang Diaz." Dokter Anton dan 2 suster berhijab masuk ke ruang rawat Diaz. "Siang Dok," sahut Diaz mengulum senyum. "Loh, kamu kenapa? Kok mau nangis gitu? Apa wanita yang kamu cintai menyakitimu?" tanya Dokter Anton kritis, melihat mata Diaz yang berlinang. Diaz terkekeh. "Bisa aja Dok. Aku nggak nangis kok Dok, tadi ngantuk aja makanya matanya berair," elaknya. "Sudahlah nggak usah bohong. Saran saya sih kamu jujur sama wanita itu sebelum menyesal, dia bukan wanita biasa yang mudah di bohongi. Kamu akan menyesal jika tidak jujur padanya," ucap Dokter Anton bijaksana. "Sampai kapan pun aku nggak akan jujur Dok. Aku nggak mau dia sedih dan menjauh dariku." "Kamu pikir, kamu kuat mengatasi penyakit ini sendirian? Enggak Diaz. Kamu butuh dukungan dari keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi, dengan begitu mereka bisa melindungi dan menjagamu saat kamu butuhkan." "Aku emang nggak bisa menjaga diriku Dok. Tapi, selagi aku bisa sendiri dan menyembunyikan penyakit ini aku bisa. Aku nggak mau menjadi beban untuk mereka," kekeuh Diaz. Dokter Anton menghela napas karena keras kepala Diaz. Padahal Diaz harus menjalani kemoterapi sebelum sel-sel kanker semakin ganas menggerogoti tubuh Diaz dan melemahkan tubuh Diaz. "Kenapa sih Mas Diaz keras kepala. Padahal kehadiran pasangan Mas bisa kasih semangat Mas untuk sembuh loh," sambung suster dengan kacamata transparan memandang Diaz. "Nggak perlu Sus. Yang aku butuhkan adalah kebahagiaan dia, bukan dukungan dia untuk orang penyakitan kaya aku." "Kamu memang keras kepala. Padahal, dia saja sudah curiga dengan penyakit yang kamu derita," ungkap Dokter Anton, membuat Diaz terkejut. "Maksud Dokter?" tanya Diaz shock.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN