Bab 47

1031 Kata
Alana tengah mengendarai motor gedenya dengan kecepatan rata-rata. Dia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau karena deretan penyakit Diaz yang mengarah pada leukimia. Alana berusaha percaya dengan perkataan dokter Anton mengenai kesehatan Diaz. "Aku harus sabar dan berpikir jernih. Dokter Anton bilang Diaz mimisan hanyalah mimisan biasa, itu artinya Diaz sehat dan nggak ada indikasi penyakit serius. Lagipula, seorang dokter nggak mungkin menyembunyikan penyakit pasiennya. Aku harus positif thinking, jangan sampai aku sama Diaz berdebat karena rasa ketidakpercayaanku." Alana menambah kecepatan motornya, namun dia mendapati sebuah mobil mengikutinya. Alana kembali melihat dari spionnya, dia pun menambah kecepatan motor untuk menghilangkan jejak. Nahas, motor itu terus mengikuti motor Alana. Alana kembali menambah kecepatan sampai akhirnya terjadi salip-salipan antara Alana dan mobil berwarna silver itu. Tanpa di sangka, moncong mobil itu menyenggol motor Alana dan membuat motor Alana terjatuh. Brukkkkkk Alana tak kuasa menjaga dirinya dan membuat kakinya terjepit body motor, dia meringis kesakitan karena insiden yang menimpanya. Alana segera membuka helm dan meminta pertolongan. "Tolong... tolong....," pekik Alana meringis kesakitan. Sementara pengendara mobil itu keluar dari mobil. Dia adalah Brian yang sengaja mengikuti Alana, Brian shock melihat Alana dan segera menolong Alana. Dengan sekuat tenaga, Brian mengangkat motor Alana. Namun, Alana menatap Brian penuh kemarahan. Brian jongkok dan khawatir melihat kondisi Alana. "Alana, kamu nggak papa kan. Maafin aku, aku nggak bermaksud buat kamu celaka," ucapnya merasa bersalah. "Ternyata Kak Brian yang ngikutin Aku. Kenapa Kaka lakuin ini ke aku? Kakak mau balas dendam karena aku lebih milih Diaz ya," cerca Alana tak percaya dengan sikap Brian. "Bukan gitu Alana. Tadinya, aku cuma mau ikutin kamu. Tapi aku mobil aku malah menyenggol motor kamu, sekarang kita kw rumah sakit aja ya." "Nggak perlu! Aku bisa pulang sendiri." "Alana," panggil Brian khawatir. Alana tak bergeming, dia berusaha bangkit walaupun susah payah. Namun, Alana tak sanggup karena kaki kirinya teramat sakit, bahkan Alana hampir menjatuhkan tubuhnya ke trotoar jika Brian tak menahan tubuh Alana. "Kayaknya kaki kamu keseleo Alana, kita ke rumah sakit aja ya," pinta Brian khawatir. "Enggak! Aku mau pulang aja," pinta Alana cuek. Brian menghela napas. "Yaudah, aku antar pulang ya. Kamu nggak mungkin bisa ngendarain motor sendiri." "Iya gara-gara kamu Kak. Kalau kamu nggak nabrak, aku nggak mungkin kaya gini." "Maafin aku," ungkap Brian merasa bersalah. "Iya," sahut Alana malas. "Sekarang kamu pulang sama aku. Biar motor kamu dibawa orang bengkel." Alana akhirnya mengangguk dan menuruti kemauan Brian karena kakinya tak sanggup berjalan. Sementara Brian memapah Alana masuk ke mobilnya, dia kemudian masuk mobil dan melajukan mobilnya. "Kak, ummm... aku mau ngomong sama kamu," ucap Alana ragu. "Bentar, aku juga mau omongin sesuatu ke kamu," cegah Brian cepat. Namun dia masih fokus mengendarai mobilnya. Alana hanya mengangguk, dia tak tahu apa yang akan dibicarakan Brian. Yang pasti membuat Alana menelan ludah gusar, Alana khawatir Brian kembali memaksakan cintanya. Walaupun Brian cukup kasar dan hampir membuatnya celaka, Brian tetaplah sosok laki-laki yang baik di mata Alana. Apalagi sebelum mencintai Diaz, Alana lebih dulu memiliki rasa untuk Brian. Belum lagi, kehadiran Brian membuat Alana membuka hati untuk laki-laki setelah bertahun-tahun menutup hati. "Memangnya, apa yang akan Kakak bicarakan?" tanya Alana akhirnya. Brian menoleh memandang Alana. "Apa kamu masih menganggapku orang baik?" "Kok ngomongnya kaya gitu sih. Jelas lah Kak Brian orang baik, apalagi Kak Brian sering aku pengetahuan. Karena Kakak, aku bisa melukis walaupun belum mahir," ungkap Alana lembut. "Benarkah kamu lebih dulu menyukaiku sebelum Diaz?" DEG!!! Alana terkesiap, benar dugaannya mengenai Brian. Laki-laki itu membicarakan kisah cintanya yang belum usai, namun Alana tak sanggup membicarakan lebih jauh karena bisa menyakiti hati Brian. "Alana," panggil. Brian. "Maaf Kak. Kita nggak usah bahas itu lagi ya, aku nggak mau semuanya makin rumit. Cukup sampai disini kak." Brian menggeleng. "Terlanjur Alana. Aku udah terlanjur mencintai kamu dan kamu kasih lampu hijau untukku, tapi Diaz malah merusak semuanya." "Oke Kak, masalah itu aku yang salah. Aku udah kasih harapan palsu ke Kak Brian, jujur aku sudah menyukai Kakak karena kehadiran kamu buatku bisa membuka hati untuk cinta. Kamu membuatku merasakan keindahan dan kehangatan cinta, tapi aku nggak bisa membohongi hatiku. Ternyata hatiku lebih memilih Diaz, entah kenapa hati ini memilih Diaz." Brian tampak geram karena Diaz berhasil merebut Alana. "Apa nggak ada kesempatan buatku?" Alana memandang Diaz. "Maafin aku Kak, andai aku bisa akan kulakukan. Tapi aku nggak bisa, justru aku mau kasih kabar ke Kak Brian." "Apa?" "Aku dan Diaz akan melangsungkan pertunangan." Ungkapan Alana membuat Brian shock, dengan cepat Brian mengerem dan membuat kepala Alana terbentur dasbor mobil Brian. "Aw....," rintih Alana kesakitan. "Ma-maaf Alana." Brian terkejut karena menyakiti Alana sekali lagi, dia hendak memegang kening Alana namun ditepis Alana. "Cukup Kak! Aku mau turun disini aja. Aku nggak bisa terlalu lama berdekatan dengan Kak Brian, aku takut," ucap Alana kecewa atas sikap Brian yang ceroboh. "Maafin aku Alana. Aku nggak sengaja," sesal Brian. "Aku mau turun," ucap Alana penuh penekanan. "Plis Alana. Izinin aku nganterin kamu pulang, aku nggak mungkin biarin kamu dengan kaki kesakitan pulang sendiri." Alana menghela napas, dia tak menyangka berdebat dengan Brian tak ada habisnya. Ternyata Brian sama seperti Neva yang suka memaksakan kehendak, namun Alana pasrah dan terpaksa menuruti kemauan Brian. "Oke," sahut Alana ringkas. Brian mengulum senyum. "Makasih ya. Aku janji akan mengontrol emosiku biar stabil, aku nggak mau ngebahayain kamu lagi," janjinya mantap. Alana tak menanggapi ucapan Brian, dia hanya menganggukan kepala sebagai pertanda setuju. Sementara Brian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dia tak ingin Alana kembali terluka akibat ulahnya. "Alana, apa kurangku sampai kamu berpaling dariku. Mengapa Alana? Mengapa di saat cinta dalam hatiku mendapat jawaban, kamu justru pergi. Padahal aku tulus mencintamu, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu. Walaupun aku harus menukarnya dengan nyawa, aku siap," ucap Brian dalam hati. Sementara Alana larut dalam pemikirannya sendiri, dia tak menyangka sosok Brian yang dia anggap lembut dan laki-laki terbaik bisa melakukan kekerasan. Walaupun kekerasannya tak sengaja, namun menjadi bukti Brian bukanlah laki-laki yang lembut. Diam-diam Alana mengulum senyuman, hatinya benar. Dia bahagia karena tak salah memilih Diaz, walaupun tampak galak dan urakan tetapi hatinya lembut. "Makasih sayang, aku bahagia banget bisa memilih kamu. Andai aku memilih Brian, hidupku tak akan bahagia. Dia selalu memaksakan kehendak dan selalu menekanku," ucap Alana dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN