"Ya Allah Alana, kamu kenapa?" tanya Keyla setelah membuka pintu dan melihat Alana di papah Brian.
"Aku nggak papa kok. Tadi ada insiden kecil," sahut Alana menenangkan Keyla.
"Kamu tenang aja ya. Tadinya aku mau bawa Alana ke rumah sakit, tapi dia minta di urut," ungkap Brian lembut.
Keyla tersenyum memandang Brian, pandangannya beralih menatap Alana penuh tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alana? mengapa mimik wajah Brian dan Alana sama-sama suntuk? Mungkinkah mereka ada masalah?
"Vita masih disini nggak?" tanya Alana membuyarkan lamunan Keyla.
"Ada kok, lagi makan tuh."
Alana mengangguk, kemudian matanya menjamah ruang tamu dan melihat Vita asik melahap potato chip di tangannya. Sementara Alana geram karena Vita sama sekali tak menoleh ke belakang.
"Vita," panggil Alana dengan nada tinggi.
Vita tergagap dan segera menoleh. "Alana, kamu udah pulang. Tumben manggil, biasanya langsung naik ke atas," seru Vita polos.
"Tolong panggilin tukang urut langganan aku ya, ada di rumah kan." Alana berkata lembut.
"Ada."
Vita berjalan menghampiri Alana. Dia terkejut melihat kaki kiri Alana tampak luka. " Kamu kenapa Alana?"
"Jatuh tadi, udah sana panggilin tukang urutnya," perintah Alana.
"Oke." Vita berjalan keluar.
"Ayo Alana, kita masuk," ajak Keyla lembut.
Keyla dan Brian memapah Alana dan mendudukkan Alana di sofa ruang tamu. Sementara Brian meluruskan kaki Alana, namun Alana terkejut saat ponselnya berdering dan melihat nama Diaz tertera di layar ponsel.
"Gawat, Diaz nelpon lagi. Gimana kalau dia minta video call dan liat Kak Brian, bisa salah paham ini," seru Alana dalam hati.
"Siapa Alana? Kenapa nggak diangkat," ucap Brian penasaran.
Alana mengulum senyum. "Diaz, ntar aja deh angkatnya." Alana meletakkan ponselnya yang masih berdering di meja.
"Jangan gitu dong, siapa tahu penting," lanjut Brian.
Sementara itu, Keyla tampak kesal dengan tanggapan Brian. Bagaimana mungkin Brian yang sakit hati sok bijak meminta Alana mengangkat telepon Diaz, apa ada yang Brian rencanakan setelah Alana mengangkat panggilan Diaz?
"Oya Kak Brian, aku tadi lagi masak. Boleh minta tolong pasangin gasnya nggak? Soalnya udah aku coba berkali-kali nggak nyala juga," ucap Keyla memelas.
"Loh masa sih? Perasaan regulator baru deh. Nggak mungkin nggak bisa Key."
Keyla gregetan mendapat tanggapan Keyla. Seharusnya Alana tak perlu berkomentar karena Keyla sengaja merencanakan ini untuk menjauhkan Brian dari Alana saat Alana mengangkat telepon Diaz.
"Iya aku juga nggak tahu nih, padahal udah pengen masak rendang," ungkap Keyla cengengesan.
"Udah nggak papa Alana. Aku bantuin Keyla di dapur dulu ya."
"Makasih Kak, ayo Kak," ajak Keyla.
Alana akhirnya mengangguk, dia memandang punggung Brian dan Keyla yang menjauh. Alana pun akhirnya mengangkat panggilan Diaz.
"Halo sayang, kamu udah sampai rumah kan?" tanya Diaz diseberang sana.
"Alhamdulillah sayang udah. Kamu tenang aja ya, istirahat gih. Jangan bergadang karena aku nggak mau kamu sakit," perintah Alana lembut.
"Aku nggak bisa tidur nih."
"Loh, kenapa? Ada gajela yang kamu rasain kaya sakit kepala dan lainnya?" tanya Alana khawatir.
Diaz terkekeh. "Aduh perasaan aku kok nggak karuan kaya gini ya. Nggak nyangka punya kekasih yang super baik dan perhatian kaya Alana," godanya lembut.
Alana ikut terkekeh. "Hush, jangan gitu dong sayang. Kan aku malu."
"Kenapa malu?" tanya Diaz menggoda.
Alana tak menjawab pertanyaan Diaz, namun Vita yang datang bersama tukang pijat membuat Alana terlonjak kaget. Alana pun memilih mematikan sambungan telepon Diaz karena tak ingin Diaz khawatir.
"Dapat ya Vit, makasih ya Vit," seru Alana mengulum senyum.
Vita tersenyum. "Bu, ini Alana kakinya keseleo kayaknya. Tolong di urut ya Bu."
"Iya Neng, maaf Neng. Sebaiknya kita urut di kamar Neng aja ya biar urutnya enakan dan Neng juga nyaman," seru ibu pijat ramah.
"Baik Bu. Mari ikut," sahut Alana.
Vita dan ibu pijat merapat Alana menuju kamar tamu. Mereka merebahkan Alana di tempat kasur yang empuk, sementara Vita izin keluar.
"Bu, aku keluar dulu ya Bu. Tolongin sahabatku ya Bu, kasian dia kakinya kesakitan," pinta Vita memohon.
"Baik Neng," sahut ibu pijat
Alana pun mengulum senyum karena perhatian Vita, setelah itu Alana mempersiapkan diri di pijat. Membiarkan tubuhnya terbaring di kasur yang empuk.
"Tahan ya Neng, walaupun sakit tapi biar cepet sembuh," seru Ibu pijat mengulum senyum.
"Iya Bu."
Ibu pijat pun mulai membalurkan minyak khusus untuk pijat. Sementara Alana tampak menahan sakit saat kakinya di sentuh, Alana bahkan menggigit bibir bawahnya kejam karena rasanya teramat sakit. Saking sakitnya, keringan dingin keluar dari pori-pori kulit Alana dan membasahi tubuhnya.
"Udah Bu, sakit," rintih Alana kesakitan.
"Tahan ya Neng, ini lukanya memang cukup parah. Kalau uratnya nggak segera diperbaiki bisa makin sakit Neng."
"Argghhh," teriak Alana kesakitan.
"Alana kenapa?" Keyla langsung masuk ke kamar tamu mendengar teriakan Alana. Dia khawatir melihat Alana kesakitan.
"Sakit banget Key," ucap Alana meringis.
"Tahan ya, kamu harus kuat dong. Masa cewek pembalap di urut aja sakit, itu sih namanya anak rumahan," sahut Keyla menyemangati Alana.
"Wah, Neng Alana ini pembalap ya. Hebat banget Neng, bisa tolong ceritakan pengalaman Neng selama balapan Nen," Ibu pijat ikut berkomentar.
"Nggak ah Bu, lagi sakit gini. Nggak bisa cerita aku," sahut Alana manyun.
"Nggak papa Neng cerita aja. Kalau Neng di urutnya nyaman dan rileks pasti rasa sakit Neng akan hilang."
Alana menghela napas. "Baiklah Bu. Jadi, aku tuh sengaja ikut balapan buat ngilangin kesedihan aku Bu. Aku ngrasa hidupku sendrian dan nggak ada manfaatnya lagi, apa-apa males. Bahkan kuliah pun males nggak semangat, tapi setelah ikut balapan jadi semangat. Walaupun kesedihan masih menghantui tapi aku berhasil melewati semuanya. Aku bisa tersenyum dan bergaul dengan orang yang kucintai."
"Wah, Neng Alana hebat ya. Sudah Neng," seru Ibu pijat mengulum senyum.
"Hah? Udah? Kok cepet banget Bu," ungkap Alana heran.
Keyla terkekeh karena sikap Alana. "Eh, kamu tuh keenakan di pijat sampai nggak ngrasa sakit kan. Ceritanya panjang banget lagi."
Alana tersipu malu. "Kan si Ibu yang nyuruh aku cerita."
"Bener kan Neng, Neng lebih nyaman dan menikmati pijatan Ibu tanpa rasa sakit setelah bercerita," timpal Ibu pijat ramah.
"Iya Bu, sekarang kaki aku udah nggak sakit lagi. Masih sakit sedikit sih, tapi udah enakan."
Ibu pijat tersenyum. "Yaudah, besok Ibu urut sekali lagi ya biar sakitnya hilang total."
"Iya Bu, Ibu kesininya sore aja ya. Soalnya pagi ada kuliah dan siangnya mau ke rumah sakit."
"Iya Neng, jam 4 atau 5 Ibu kesini ya."
Alana mengangguk. "Iya Bu, makasih ya. Ini ada sedikit untuk Ibu ya." Alana menyerahkan amplop berisi uang ke Ibu pijat.
"Makasih ya Neng, Ibu permisi dulu." Ibu pijat menerima pemberian Alana, lalu melangkah keluar.
"Aku antar Bu," ucap Keyla, lalu keluar bersama Ibu pijat.
Sementara Alana mengatur napasnya untuk menenangkan pikirannya. Dia tampak berpikir apakah besok jalannya akan sedikit pincang atau tidak.
"Kalau sampai besok masih sakit buat jalan, Diaz masih curiga. Terus, aku harus bilang apa sama dia," ucap Alana bingung.
Alana menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dia bingung memikirkan alasan saat bertemu Diaz.
"Aku pikirin ntar aja deh. Kasian juga Kak Brian dikacangin," seru Alana, lalu berjalan di serat-seret keluar kamar.