Bab 49

1120 Kata
Diaz tak bisa memejamkan mata, padahal dilihatnya sudah pukul 03.00 pagi. Dia tak sabar menunggu siang dan bertemu Alana. "Ya Tuhan, belum juga pagi. Lama banget sih," ucap Diaz berdecak kesal. Diaz melihat Alvar tengah tertidur pulas di tikar, namun dia tak melihat keberadaan sang mami. Seharusnya sang mami sudah tertidur lelap di samping Alvar. "Diaz, kok kamu bangun Nak," ucap Bu Maria setelah membuka pintu ruang rawat Diaz. "Nggak bisa tidur Mi. Mami nggak papa kan?" Diaz terkejut saat melihat wajah sembab sang mami. Bu Maria mengulum senyum dan menghampiri putra tercintanya. Lalu, mencium kening Diaz penuh kasih sayang. "Mami nangis ya," seru Diaz menatap wajah Bu Maria. Bu Maria menggeleng. "Mami nggak nangis kok, tadi Mami habis berdoa aja supaya kamu selalu di berikan kemudahan dan kebahagiaan sama Allah SWT. Kan kamu akan segera menikah sayang." DEG! Diaz terdiam mendengar ucapan sang mami. Sampai segitunya sang mami berdoa dan mengharapkan kebahagiaan menjelang pernikahannya dengan Alana. Jika sang mami mengetahui kebenaran penyakit Diaz, Diaz tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada sang mami. Pastinya sang mami bisa down dan tak memiliki semangat hidup lagi. "Saat kamu sudah menikahi Alana, jadilah suami yang bertanggung jawab ya. Bahagiakan dia lahir dan batin, jangan pernah menyakiti dia sedikitpun," ungkap Bu Maria, membuat Diaz terbelalak. "Ya Tuhan, aku bukan laki-laki sehat seperti laki-laki lainnya. Apakah aku bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai suami Alana? Apakah aku bisa ya Tuhan?" tanya Diaz dalam hati. "Jangan pernah kamu membuat Alana menangis ya. Mami tahu, dia memiliki trauma di masa lalunya dan membuat dia sempat down. Tapi Mami liat dia sudah bangkit dan kembali bahagia. Kamu harus buat Alana semakin bahagia." Diaz mengangguk. "Aku janji akan bahagiakan Alana sepenuh hati, aku nggak akan biarin Alana sedih atau menderita." Bu Maria tersenyum. "Itu baru anak Mami, Mami bangga sama kamu sayang. Kamu itu satu-satunya penerus Mami, Mami mau yang terbaik untukmu." "Iya Mi. Makasih ya Mi, Mami selalu dukung langkah aku. Seandainya Tuhan mengambil nyawaku sekarang pun, aku ikhlas karena aku bahagia dengan semua kasih sayang yang Mami berikan," ucap Diaz, membuat Bu Maria terkejut. "Kenapa kamu ngomong kaya gitu Nak. Mami nggak mau kehilangan anak Mami, Mami ingin kamu selalu menemani Mami," sahut Bu Maria terisak. Hati Diaz mencolos melihat sang mami langsung menangis mendengar ucapannya tentang kematian. Hati Diaz benar-benar hancur, dia sanggup melihat apa yang terjadi jika sbg mami mengetahui penyakitnya. "Aku bercanda Mi, aku akan menemani Mami sampai kapanpun kok," ucap Diaz menenangkan Bu Maria. Bu Maria tersenyum lalu memeluk Diaz. Dia bahagia bisa melihat sang putra bahagia setelah bertemu Alana. "Yaudah, kamu tidur gih. Kalau besok Alana kesini kamu masih tidur kan nggak lucu," pinta Bu Maria tersenyum. "Iya Mi, Mami juga tidur ya. Aku nggak mau Mami sakit karena terlalu mikirin aku." "Iya Nak." Diaz pun membenarkan posisinya, dia menatap langit-langit rumah sakit. Sementara Bu Maria merebahkan tubuhnya di sofa dan bersiap tidur. *** Alana berjalan cepat memasuki area parkir setelah kuliahnya selesai. Dia tak sabar ingin ke rumah sakit dan bertemu dengan Diaz, namun Brian datang memegang tangan Alana. "Kak Brian," ucap Alana seraya menoleh ke arah belakang. "Kamu sibuk nggak? Aku pengen ngobrol bentar sama kamu. Semalam kan aku terpaksa pulang karena kamu di uratnya lama banget dan udah malam." Alana menghela napas berat. "Memangnya, Kak Brian ingin bicarain apa? Kalau soal insiden semalam, aku udah maafin kakak kok. So, Kak Brian nggak usah merasa nggak enak hati." "Bukan Alana. Aku eumm... pengen makan bareng kamu aja." Alana terdiam, sebenarnya dia tak tega melihat Brian yang selalu gagal mengajaknya pergi. Padahal, sebelumnya pergi bersama Brian adalah keinginan Alana. Bagaimanapun Alana masih respect dengan Brian dan menganggap Brian orang baik. "Baik Kak, tapi emmmm jangan lama-lama ya," ucap Alana akhirnya. "Siap Alana. Aku nggak akan biarin kamu lama-lama bersamaku, setelah itu aku akan antar kamu pulang." "Eh, nggak usah Kak. Kan aku pake motor, ada urusan juga kok," tolak Alana halus. Brian mengangguk. "Oke." Alana mengulum senyum, kemudian menaiki motor andalannya. Alana sengaja mengemudikan motor dibelakang Brian agar Brian memilih warung atau tempat makan mana yang dipilih. "Semoga ini bukan cara Kak Brian misahin aku sama Diaz," ucap Alana seraya mengemudikan motor. Alana pun memusatkan pandangannya lurus, memperhatikan Brian yang mengemudikan motor gede di hadapannya. Setelah menempuh sekitar 20 km, Brian menepikan motornya di pinggir jalan. Tepatnya,Brian berhenti di penjual kaki lima, Alana pun menepikan motor di pinggir jalan di samping motor Brian. "Ternyata Kak Brian ngajak ke warung ini. Warung tempat makan pertama kami," ucap Alana lirih, lalu membuka helmnya. "Ayo Alana." Brian menghampiri Alana dan mengulum senyum kebahagiaan, dia senang bisa mengajak Alana makan di warung pertamanya bersama Alana. "Iya Kak." Alana pun mengikuti langkah Brian masuk ke penjual kaki lima. Kemudian, Alana duduk berhadapan dengan Brian, Alana gusar karena Brian terus memperhatikannya. "Aduh, kenapa Kak Brian liatin terus sih. Kalau tau kaya gini mending nggak usah kesini, nggak enak juga sama Diaz. Ntar dikiranya aku ingkar janji," ucap Alana dalam hati. "Alana, kamu mau pesen apa?" tanya Brian ramah. "Aku nasi sama ayam bakar aja deh Kak, minumnya es teh aja," titah Alana. "Oke." Brian menjamah pandangannya mencari sosok penjual, setelah menemukannya segera melambaikan tangannya sebagai kode memanggil. Ibu penjual pun menghampiri Brian dan Alana dengan ramah. "Selamat siang Mbak, Mas. Mau pesen apa ya?" "Pesen nasi sama ayam bakar satu dan sambalnya dikit, terus nasi sama ikan balado dengan sambal yang banyak satu. Kalau minumnya es teh 2," titah Brian pada penjual. "Baik Mas, di tunggu sebentar ya." Ibu penjual mengulum senyum, lalu kembali ke dapur menyiapkan pesanan. "Eh Kak, bukannya kakak punya magh ya. Kok makannya malah pedes gitu sih," ucap Alana heran. Brian mengulum senyum. "Udah lama aku nggak makan pedes karena tersiksa dengan penyakit itu. Makanya aku pengen makan pedes, soalnya pengen banget nih." "Ntar sakit perut loh." "Kan ada kamu yang bakal obatin, Bu Dokter," goda Brian. Alana sontak terkejut mendengar godaan Brian, bagaimana mungkin Brian bisa mengatakan itu. Padahal sudah jelas Alana adalah calon istri Diaz, kalau sampai Diaz melihat ini sudah pasti dia marah besar. "Aduh, kenapa perasaanku nggak enak ya. Apa Kak Brian sengaja memperlambat aku temui Diaz," seru Alana dalam hati. "Kamu kenapa Alana?" tanya Brian heran. Alana menggeleng. "Nggak papa kok Kak." Tak berselang lama, Ibu penjual menghampiri Alana dan Brian membawa nampan berisi pesanan Alana dan Brian, penjual itu meletakkan pesanan Alana dan Brian seraya mengulum senyum. "Silahkan di nikmati Mas, Mbak," ucap Ibu penjual ramah. "Iya, makasih ya Bu," sahut Brian ramah. "Iya Mas." Ibu penjual kembali ke dalam, sementara Alana dan Brian mulai menyantap makanan di hadapannya. Sayangnya Alana tampak tak bersemangat menyantap nasi ayam bakar di hadapannya. "Gawat, gimana ini kalau sampai Diaz marah," ucap Alana dalam hati seraya mengaduk-aduk makanan di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN