Alana berusaha fokus agar makanannya cepat habis dan menemui Diaz di rumah sakit, namun Brian mendadak memegangi perutnya. Sontak, Alana terkejut dan tampak khawatir.
"Kamu kenapa Kak?"
"Nggak tahu nih, tiba-tiba perut aku mules. Padahal tadi nggak papa," sahut Diaz seraya memegangi perutnya.
DEG! Apa yang Alana takutkan terjadi, Brian akhirnya sakit perut dan bisa menghambat pertemuannya dengan Diaz. Padahal hari ini jadwal Diaz pulang dari rumah sakit dan Alana ingin menemani Diaz.
"Ehmmm... aku beli obat warung dulu ya Kak. Biasanya minum obat apa sih."
"Emmmm aku nggak pernah minum obat warung sih. Mami nggak pernah izinin."
"Terus gimana kak? Nggak usah minum obat. Nyerinya nggak seberapa kok. Bentar lagi juga hilang."
"Yaudah, jangan minum es ya Kak. Mending teh hangat aja," pinta Alana lembut.
Brian mengangguk, sementara Alana berjalan menghampiri penjual makanan dan memesan teh hangat. Sementara Brian tampak tersenyum di tempatnya.
"Maafin aku Alana, aku terpaksa berbohong karena aku pengen bersama denganmu lebih lama. Aku udah mencintaimu, tapi kamu malah meninggalkanku dan memilih Diaz. Padahal awalnya kita saling menyukai, maafin aku," ucap Brian dalam hati.
"Ini di minum dulu kak." Alana kembali membawa segelas teh hangat dan menyerahkannya pada Brian.
"Makasih ya." Brian meraih teh hangat dan meminumnya.
Alana kembali duduk, dia gusar ingin berpamitan pada Brian. Namun, Alana tak enak meninggalkan Brian sendirian dalam keadaan tak enak badan.
"Aduh gimana ini? Apa aku antar Brian pulang dulu ya." Batin Alana.
"Alana, makanannya habisin dong."
Alana hanya mengangguk dan mengulum senyum, sementara pikirannya melayang jauh membayangkan sikap Diaz jika dia tak datang ke rumah sakit.
"Eumm... Kak, aku telpon seseorang dulu ya," pamit Alana ragu.
"Oh iya."
Alana segera menjauh dari Brian untuk menelpon Diaz, dia ingin mengetahui kegiatan Diaz saat ini. Alana pun menempelkan smartphone pada telinganya, hatinya berdegup kencang menantikan Diaz mengangkat panggilan.
"Halo sayangku, kamu udah kangen banget ya sama aku. Bentar lagi kan mau kesini, tapi malah nelpon," goda Diaz di seberang sana.
"I-iya sayang, aku kangen banget sama kamu," sahut Alana gelisah.
"Sayang, katanya mau kesini. Ini Alvaro udah selesai urus kepulanganku, tinggal nungguin kamu nih."
Alana menggigit bibir bawahnya kejam, dia tak tahu harus menjawab apa. Kalau dia tak menghampiri Diaz di rumah sakit sudah pasti Diaz kecewa.
"Eumm... iya aku mau kesitu kok sayang. Tapi, kalau kamu nunggunya kelamaan kamu pulang aja. Ntar aku ke rumah kamu," ucap Alana hati-hati.
"Loh kok gitu? Kamu lagi ada urusan ya?" tanya Diaz penasaran.
Alana mengulum senyum. "Iya nih sayang, aku ada urusan bentar. Tapi bentar lagi selesai."
Sementara itu, Brian sengaja menghampiri Alana. Dia tahu sang penelepon adalah Diaz dan ingin Alana tidak meninggalkannya.
"Aw.... " Brian sengaja mengerang kesakitan dan pingsan.
Alana pun membelalakan mata melihat Brian tak sadarkan diri di lantai. Alana refleks mematikan sambungan telepon dan menghampiri Brian.
"Ya Allah, kak Brian." Alana jongkok dan memegang popi Brian, lalu berkata lantang memanggil sang penjual. "Bu, maaf. Tolongin saya Bu, ada yang pingsan.
Seketika, Ibu penjual menghampiri Alana dan terkejut melihat Brian pingsan.
" Mari Mbak, kita angkat Mas nya," seru Ibu penjual.
Alana dan Ibu penjual merapat Brian dan merebahkannya ke kursi panjang di warung. Ibu penjual langsung mengambil minyak angin dan memberikannya pada Alana.
"Mbak, tolongin olesin minyak angin ke hidung sama kening Masnya ya. Saya mau buatin teh hangat dulu," pinta Ibu penjual ramah.
"Iya Bu."
Alana mengulum senyum ragu, kemudian mengoleskan minyak angin ke hidung dan kening Brian. Dia berharap Brian segera siuman.
"Bangun ya Kak, kamu sih bandel. Dibilangin jangan makan pedes malah makan," gerutu Alana karena kesal dengan keras kepala Brian.
Alana cekatan mengurus Brian, Ibu penjual pun meletakkan teh hangat di meja. 2 wanita itu tampak khawatir karena Brian tak sadarkan diri juga, beruntung setelah 10 menit barulah Brian membuka matanya.
"Alana, aku kenapa?" ucap Brian lirih seraya memegangi kepalanya.
"Alhamdulillah Kamu sadar Kak. Kamu tadi pingsan lama banget, nih minum dulu." Alana mengambil gelas berisi teh hangat, lalu meminumkan nya pada Brian.
Brian mengulum senyum. "Makasih ya kamu udah nolongin aku. Gara-gara aku kamu telat ke rumah sakit, mendingan kamu cepetan pergi gih. Aku nggak mau Diaz sampai marahin kamu."
"Enggak papa Kak. Aku yakin Diaz nggak marah kok, setelah aku antar kamu pulang baru ke rumah sakit. Ntar, biar aku telpon orang bengkel buat anterin motor kamu ya."
Brian mengangguk. "Makasih ya Alana."
Alana mengulum senyum ragu, sejujurnya dia takut menghadapi Diaz nanti. Saat ini Diaz pasti marah besar, apalagi tadi Diaz mendengar suara Brian di telepon dan Alana malah mematikan sambungan telepon.
"Ya Allah, semoga Diaz nggak marah. Aku harus gimana ya biar ada yang bela, apa aku telpon Keyla sama Vita suruh ke rumah sakit ya," ucap Alana dalam hati.
"Alana, kamu kenapa?" tanya Brian khawatir.
Alana mengulum senyum. "Bentar ya Kak, aku telpon seseorang dulu. Ada hal penting yang aku bicarain."
"Iya."
Alana mengulum senyum, kemudian menjauh dari Brian dan menelpon Keyla. Seketika, Alana langsung menjauhkan ponsel dari telinganya karena Keyla langsung berkata lantang.
"Alana, kamu tega ya biarin Diaz nunggu kamu. Infus udah di lepas, udah packing pakaian tapi nggak mau pulang sebelum kamu datang."
Alana menelan ludah. "Maafin aku Key, sumpah aku nggak bermaksud nyakitin hati Diaz."
"Maksudnya kamu nggak bisa datang dan jemput Diaz pulang? Kenapa Alana?" tanya Keyla di seberang sana.
"Setelah pulang kuliah aku udah mau OTW ke rumah sakit, tapi Kak Brian datang dan mohon-mohon minta makan sebentar aja. Aku turutin karena kasihan dan nggak tega, eh dia barusan pingsan karena makan terlalu pedas," sahut Alana menjelaskan.
"Fix bener, yang aku takutkan terjadi. Semalam Kak Brian kayaknya marah dan kesel banget karena nggak bisa berduaan denganmu. Eh dia malah nahan kamu sekarang disaat Diaz butuh kehadiran kamu Alana," ungkap Keyla, kesal dengan sikap Brian.
"Yaudah, kamu sama Vita tolongin aku bujuk Dia biar pulang dulu ya. Setelah antar Kak Brian pulang aku ke runH Diaz," pinta Alana cepat.
"Kamu kayak nggak tahu aja Diaz, kalau ada yang ingkar janji bakalan ngambeknya lama," sindir Keyka.
"Plis.... Aku bakalan anterin Kak Brian dan langsung OTW ke rumah Diaz. Oke?"
"Iya sih, tapi ini aku kasih laporan ke Diaz gimana? Nggak mungkin kan bilang kamu lagi nemenin Brian yang pisan. Bisa murka dia," ucap Keyla bingung.
"Ya bilang aja Alana lagi ada urusan bentar. Ntar aku yang handle Diaz."
"Oke, kalau Diaz marah aku nggak tanggung loh." Keyla buru-buru memutus sambungan telepon dan membuat Alana gusar.
"Maafin aku sayang. Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu, aku juga terpaksa lakuin ini," sesal Alana, lalu kembali menemui Brian.
"Alana, kalau kamu mau pergi nggak papa kok. Aku bisa naik Taxi," seru Brian dengan nada lemah.
"Enggak Kak. Aku akan antar Kamu pulang, baru Aku pergi," sahut Alana mengulum senyum.
Brian mengulum senyum, hatinya berbunga-bunga karena rencananya mengelabuhi Alana berhasil. Walaupun dia merasa bersalah sudah membohongi Alana, namun dia lakukan demi cintanya untuk Alana.
"Ayo Kak," ajak Alana pasrah.
Alana pun mengulum senyum dan memapah Brian menuju motornya. Alana menaiki motor terlebih dahulu, dia menunggu sampai Brian duduk di boncengan. Barulah Alana menancap gas dengan kecepatan rata-rata.