Bab 51

1541 Kata
Diaz enggan beranjak dari ranjang rumah sakit karena menunggu kedatangan Alana, dia kecewa karena Alana memilih menemani Brian dibanding menemuinya. Dia mengetahui itu saat menelpon Alana dan mendengar suara Brian, bahkan Alana mematikan sambungan teleponnya. “Diaz, kita pulang aja yuk. Alana bilang ketemu di rumah,” ucap Keyla memelas. “Iya, lagian loe pulang sama gue dan Keyla. Gue yakin Alana pasti ke rumah loe kok,” sambung Alvar membujuk Diaz. “Gue nggak nyangka Alana masih mentingan Brian, gue kira gue lebih penting dibanding dia. Ternyata pikiran gue selama ini salah, Ya mungkin karena Alana lebih menyukai Brian ketimbang gue,” pikir Diaz, membuat Keyla dan Alvar saling memandang. “Enggak kok. Alana itu mencintai kamu, buktinya dia lebih milih kamu dibanding Kak Brian. Walaupun Kak Brian yang bisa membuka hati Alana, tapi kamu yang dipilih untuk mengisi kekosongan hatinya,” ucap Keyla yakin. Diaz tersenyum getir, dia tahu Keyla dan Alvar hanya menenangkannya. Namun, tak bisa dipungkiri hati Diaz membenarkan situasi Alana dan Brian. Sejak dulu Diaz sudah menyakiti Alana dan membuat Alana membenci cinta, sampai akhirnya Alana berhasil membuka hati dan Diaz kembali mengukir luka di hati Alana. “Udahlah, mungkin sampai disini hubunganku sama Alana,” ucap Diaz pasrah. “Hey, kok loe ngomongnya gitu sih. Bentar lagi loe mau tunangan sama Alana, jangan berpikiran yang enggak-enggak dong,” ucap Alvar kesal dengan ucapan Diaz. “Alvar benar, sebenarnya ini masalah kecil. Aku yakin Alana sebenarnya nggak mau nemenin Kak Brian, tapi kondisinya buat dia terkurung disana. Alana bilang Kak Brian pingsan setelah makan, ya sebagai calon dokter tentunya rasa kemanusiaan Alana muncul dan nggak tega tinggalin Kak Brian sendirian. Makanya Alana antar Kak Brian pulang dulu, baru ke rumah kamu,” jelas Keyla hati-hati. Diaz bergeming, mulutnya mengatup sempurna karena malas membalas tanggapan Keyla dan Alvar yang membela Alana. Diaz pun bangkit dari ranjang dan berjalan tak semangat, sementara Alvar dan Keyla membawa barang bawaan Diaz dan mengikuti langkah Diaz. Dalam langkahnya, Diaz merutuk keegoisannya yang menginginkan Alana selalu mendampinginya. Padahal masa depan Alana masih panjang, Alana akan kelelahan dan frustasi saat menikah dengannya yang penyakitan, apalagi penyakit Diaz sudah parah dan kemungkinan sembuh hanya 50 %. “Apa yang harus Aku lakukan? Di satu sisi aku ingin menikahi cinta sejatiku, tapi di sisi lain pernikahan itu hanya membuat Alana menderita. Apa aku akhiri rencana pernikahan ini demi kebahagiaan Alana?,” ucap Diaz dalam hati, lalu masuk ke lift bersama Alvar dan Keyla menuju lantai satu. Beberapa detik kemudian, lift terbuka. Diaz, Alvar dan Keyla keluar dari lift menuju mobil Alvar. Alvar membantu Diaz masuk ke mobil, namun ditepis Diaz. Diaz memilih masuk ke mobil tanpa bantuan. Barulah Keyla masuk ke jok belakang, membiarkan Diaz di jok depan bersama Alvar. “Udah dong jangan cemberut gitu, masa mantan pembalap mellow gitu,” ucap Alvar menggoda Diaz. “Kalau gini ceritanya, mending gue balapan aja.” “Jangan dong, loe kan udah janji ke Tante Maria nggak akan balapan lagi.” “Cuma balapan yang bisa buat gue tenang, walaupun Alana nyakitin gue atau apa maka nggak terlalu sakit,” ungkap Diaz. “Diaz, kamu harus percaya sama Alana. Alana cintanya sama kamu, pliss jangan giniin Alana ya. Aku nggak mau Alana sedih karena cintanya diragukan,” ucap Keyla membujuk Diaz. Tak terasa, mobil Alvar memasuki halaman rumah Diaz. Tanpa berkomentar, Diaz langsung turun dan hendak masuk ke rumah. Namun dia mendengar suara tak asing dan menghentikan langkahnya. “Diaz,” panggil Alana dari gerbang rumah Diaz dari motornya. Diaz menoleh dan melihat Alana melajukan motornya dan memarkirnya di halaman rumah. Kemudian, Alana menghampiri Diaz dan mengulum senyum. Sayangnya Diaz malah melipatkan tangan di d**a dan memalingkan wajah dari Alana. “Ngapain kesini? Nggak ada gunanya lagi Kamu kesini,” ucap Diaz dingin. “Sayang, kok ngomongnya gitu sih. Maafin aku ya, aku nggak bermaksud buat kamu kecewa,” sahut Alana merasa bersalah. Diaz bergeming, enggan melanjutkan obrolannya dengan Alana. Namun bukan karena Alana tak menjemputnya di rumah sakit, tetapi karena Diaz merasa dirinya tak pantas menikah dengan Alana. Gadis cantik calon dokter yang masa depannya masih panjang, Diaz tak ingin Alana mengorbankan masa depannya yang cerah untuk menjadi istri Diaz yang umurnya tak lama lagi. “Maafin aku sayang,” ucap Alana seraya memegang tangan Diaz. “Nggak perlu.” Diaz langsung mengibaskan tangan Alana dengan kasar dan membuat Alana terlonjak kaget. Tentunya tindakan Diaz membuat Alvar dan Keyla terkejut, bisa-bisanya Diaz memperlakukan Alana kasar menjelang hari pertunangannya. “Sayang, Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Tapi jangan giniin aku, aku nggak mau kita bertengkar.” “Siapa yang ngajak kamu bertengkar hah? Kamu yang mulai, kamu lebih memilih cowok itu dibanding jemput kekasih kamu yang sakit. Oh aku tahu, kamu pasti males kan temenin aku di rumah sakit. Kamu males punya kekasih yang penyakitan,” ucap Diaz dengan nada tinggi. “Aku bingung, kalau aku ninggalin Kak Brian di warung sendirian aku bisa disalahkan sayang. Toh aku cuma nganterin dia dan langsung kesini kok.” “Oh, jadi kamu enak-enakan makan sama dia sementara aku terkatung-katung nungguin kamu?! Tega kamu Alana. Aku nggak tahu apa hubungan kita bisa pertahanin atau enggak.” DEG! Ucapan Diaz membuat Alana terlonjak kaget, dia tak menyangka ketidakhadirannya ke rumah sakit memicu kemarahan Diaz. Dia tak menyangka Diaz akan semarah ini, Alana pun berusaha meluluhkan hati Diaz namun kembali di tepis Diaz. “Cukup Alana! Sebelum hubungan kita semakin jauh, mending kita akhiri,” ucap Diaz pasrah. “Enggak! Aku nggak mau kita putus, kita akan tunangan Diaz. Plis, jangan besarin masalah ini. Kamu bilang akan menjaga dan mencintai aku sepenuh hati, kamu akan memaafkan semua kesalahanku apapun yang terjadi,” ucap Alana terisak. “Nyatanya, hati kamu nggak sepenuhnya buat aku. Percuam hubungan kita dipertahanin tapi hanya ada kebohongan dan tanpa cinta.” “Tapi aku cinta sama kamu.” “Stop, mendingan sekarang kamu pergi karena aku mau istirahat,” usir Diaz seraya menunjukkan gerbang rumah. “Diaz, hey tenang dulu. Kamu sama Alana kok jadi bertengkar hebat sih, masalah ini sepele dan bisa dibicarakan baik-baik,” ucap Alvar mencoba menenangkan Diaz. “Loe nggak usah ikut campur hubungan gue sama Alana.” Diaz tak melanjutkan ucapannya, dia melangkah masuk dan tak menghiraukan tangisan Alana. Sebenarnya hati Diaz terluka harus menyakiti Alana seperti ini, namun sepertinya hubungannya dengan Alana hanya memberikan penderitaan untuk Alana. Diaz tak ingin wanita yang dicintai menderita dan harus merawat dirinya yang penyakitan. “Diaz, kenapa kamu mutusin hubungan kita,” isak Alana. “Sabar ya Alana, aku yakin Diaz cuma emosi semata dan ntar baikan lagi sama kamu,” ucap Keyla menenangkan Alana. “Ya udah Key, aku coba bujuk Diaz dulu ya. Mendingan kamu antar Alana pulang, kasian dia biar istirahat,” bujuk Alvar lembut, tak tega melihat Alana yang hancur karena hubungannya diputusin Diaz. “Iya, tolong bantuin ya,” pinta Keyla. “Iya.” Alana pun pasrah, dia berjalan gontai menaiki motornya. Sementara Keyla membonceng Alana yang tengah kalut. “Kamu yakin bisa nyetir?” tanya Keyla tak yakin. Alana bergeming, dia hanya menganggukan kepala. Dia memainkan gas penuh emosi, kemudian menancap gas dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat Keyla ketakutan dan memeluk pinggang Alana erat. Sementara itu, Diaz masuk kamar dan duduk di sisi ranjangnya. Dia tak tahu apa keputusannya itu salah atau benar memutuskan Alana. Diaz sangat mencintai Alana dan ingin jujur mengenai jati dirinya sebagai cinta masa lalu Alana, namun Diaz takut segala kemungkinan buruk akan terjadi. “Maafin aku Alana, aku marah dan akhiri hubungan kita bukan karena kamu nggak datang ke rumah sakit tapi karena aku nggak mau kamu menderita. Aku sengaja jadiin itu alasan biar kamu nggak curiga, aku nggak mau kamu menghabiskan masa depanmu untuk merawatku yang kaya gini,” ucap Diaz lirih. “Kamu keterlaluan,” seru Alvar mendobrak pintu kamar Diaz. “Cukup loe campuri urusan hidup gue! Gue nggak butuh cermah loe karena loe nggak tahu apa yang gue rasain,” ucap Diaz geram. Alvar mengepalkan tangannya, dia ingin sekali menonjok Diaz jika laki-laki itu bukan sepupunya. Alhasil, Alvar hanya memegang kerah baju Diaz, membuat mata mereka beradu melemparkan kemarahan. “Loe mau pukul gue?! Silahkan,” tantang Diaz murka. “Gue lakuin ini karena gue prihatin sama loe dan pengen loe bahagia. Tapi loe malah hancurin semuanya, loe malah mutusin hubungan loe sama Alana. Apa loe udah siap kehilangan wanita yang loe cintai dari dulu?!” “Maksud loe?” “Gue nggak perlu kasih tahu loe apa maksud gue, yang pasti loe harus balikan sama Alana dan lanjutin pernikahan kalian kalau loe masih anggap gue sepupu loe. Ingat, Tante Maria udah restui hubungan kalian. Bahkan nyokapnya Alana udah percaya sama loe sebagai calon suami terbaik Alana. Dengan loe nyakitin Alana, loe nyakitin banyak orang.” “Gue lakuin ini buat Alana, buat kebaikan Alana,” ucap Diaz meyakini keputusannya benar. “Loe nggak tahu apa yang terbaik buat loe, padahal yang terbaik buat loe adalah bersama Alana hidup dan mati,” ucap Alvar dengan suara di tekan saat kalimat ‘mati.’ “Gue, gue nggak tahu apa gue bisa balikan sama Alana.” “Yang pasti, harus. Jangan sampai loe menyesal dengan keputusan ini setelah Alana diambil Brian,” ungkap Alvar lalu keluar dari kamar Diaz.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN