Alana mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dia tak menyangka Diaz memutuskan hubungan. Padahal Alana sangat mencintai Diaz dan ingin menjadi istri Diaz, Alana memilih menenangkan dirinya di sebuah jalanan. Dia turun dari motornya dan duduk di pinggir jalan.
"Kenapa Kamu tega lakuin ini sayang, aku nggak menginginkan perpisahan ini. Aku cuma kasihan sama Kak Brian, kenapa Kamu malah mutusin aku," ucap Alana terisak.
Alana menghapus air mata dengan punggung tangannya. Tak berapa lama datang 4 laki-laki berwajah garang yang dipenuhi tato, para laki-laki itu duduk di samping Alana dan melemparkan senyuman mautnya.
"Mau ngapain kalian kesini?" tanya Alana tegas.
"Kami mau nemenin Neng, kenapa malam-malam Neng nangis di pinggir jalan? Ini udah jam 12 malam loh," seru laki-laki bertato.
"Itu bukan urusan kalian, mendingan kalian pergi karena Saya ingin sendiri," sahut Alana murka.
"Ya ampun Neng, jangan galak gitu dong. Kedatangan kami kesini baik kok, kami ingin menemani Neng. Kami nggak mau Neng di jahati orang," sambung preman yang lain.
"Justru kalian yang jahat! Pergi atau Saya yang pergi."
"Wah, galak juga nih. Ayo ikut kami," ucap laki-laki dengan kuncir dan meraih lengan Alana.
"Lepasin Saya atau Saya akan teriak," ancam Alana geram.
"Silahkan saja teriak Neng. Disini nggak akan ada yang denger teriakan Neng, apalagi ini daerah kekuasaan kami," sahut preman yang mengunyah permen karet.
Alana menelan ludah karena dia berhenti di jalan yang salah. Seharusnya Alana tak menghentikan motornya sembarangan, mau tidak mau Alana harus melarikan diri dari para preman.
"Ayolah Neng, ikut bersama kami dan nikmati malam yang indah ini."
"Enggak! Saya nggak sudi menikmati malam bersama kalian, pergi," teriak Alana lantang.
Seketika, para preman tertawa. Suara tawanya membuat siapa saja yang mendengarnya ketakutan, khususnya untuk kaum wanita. Salah satu preman mendekat dan mencolek dagu Alana, namun Alana sigap menepisnya.
"Jangan berani sentuh Saya!"
Alana melangkah mundur untuk menghindari para preman, namun mereka malah memegangi tangan Alana dengan erat. Alana pun sigap menangkis tangan para preman.
"Jago bela diri juga kamu," ucap salah satu preman.
Para preman bersiap melawan Alana, Alana pun terpaksa meladeni mereka dengan berkelahi. Berkali-kali Alana berhasil melumpuhkan para preman, namun para preman masih terlalu kuat. Perkelahian semakin sengit dan membuat Alana terpojok, Alana tersungkur ke trotoar.
"Hahaaaa... sekarang nikmati malam kita Nona," ucap salah satu preman terbahak.
"Jangan, tolong jangan sakiti Saya," pinta Alana ketakutan.
Alana semakin ketakutan karena para preman mendekat, dengan sisa kekuatannya Alana berlari sejauh mungkin. Alana masuk ke dalam taman untuk menghindari kejaran preman, namun salah satu preman berhasil merobek baju Alana dan memegangi Alana dengan kuat.
"Tolong lepasin Saya," isak Alana.
"Kami tidak akan melewatkan malam yang membahagiakan ini Nona cantik," sahut preman dengan tato.
"Lepasin wanita itu," ucap Brian menghampiri Alana dan para preman.
Alana menajamkan pandangannya, senyuman terukir di bibirnya melihat kedatangan Brian. Alana tak menyangka Brian akan datang menyelamatkan.
"Kurang ajar, beraninya kamu ikut campur urusan kami," seru preman murka.
"Kalau kalian memamg preman, lawan Saya. Jangan sakiti wanita itu," ucap Brian menantang.
"Kurang ajar."
Para preman bersiap melawan Brian, begitu pun Brian yang sigap melawan serangan para preman. Sementara Alana menjauh dari perkelahian sengit itu, walaupun kepalanya berkunang-kunang dan tubuhnya yang tak memiliki tenaga. Alana berusaha tetap berdiri dan tidak tumbang.
"Ya Allah, selamatkan Brian. Jangan biarkan preman itu menang," ucap Alana memohon.
Alana terus memperhatikan perkelahian, dia terkejut saat salah satu preman berhasil melumpuhkan Brian. Namun, Brian berhasil bangkit dan kembali menyerang para preman, sampai akhirnya perkelahian di menangkan Brian.
"Pergi kalian," ucap Brian menatap para preman yang tersungkur.
"Awas Kamu," ucap salah satu preman, lalu pergi disusul preman lainnya.
"Alana," panggil Brian, lalu menghampiri Alana.
"Makasih ya Kak."
Alana merasakan kepalanya semkin berputar-putar, dia hampir saja tumbang jika Brian tidak menangkap tubuh Alana.
"Ya Allah Alana, ayo kita duduk disana," ajak Brian seraya memegangi tubuh Alana.
Alana hanya mengangguk karena kondisi tubuhnya sangat lemah. Brian pun memapah Alana duduk di kursi taman dan memberikan air mineral yang diambil dari tasnya.
"Kamu minum dulu ya biar tenang," ucap Brian menyerahkan botol mineral pada Alana.
Alana mengangguk, lalu meminum dengan tangan bergetar. Dia tak pernah menyangka akan mengalami kejadian mengerikan ini, andai saja Brian tak datang. Alana tak bisa membayangkan seperti apa dirinya saat ini.
"Kamu ada masalah apa sih? Kenapa malam-malam di jalanan?" tanya Brian mulai khawatir.
"Nggak ada kok Kak," sahut Alana berbohong.
"Alana, Aku udah mengenal Kamu dan mengetahui kepribadianmu. Kalau Kamu nggak ada masalah apapun, Kamu mudah menghadapi para preman itu. Tadi Aku liat Kamu nggak semangat dan pasrah menghadapinya."
Alana menghela napas panjang, dia menyeka air mata yang menetes dengan punggung tangannya. Dia bimbang apakah harus menceritakan masalahnya pada Brian atau tidak.
"Ceritain sama Aku ya, Aku janji nggak akan menghujatmu. Justru Aku akan berusaha melindungimu."
"Diaz salah paham dan mutusin Aku gara-gara Aku nggak jemput dia pas nolong Kamu Kak," ucap Alana lirih.
"Apa? Gara-gara masalah sepele itu Kamu di putusin?! Dia emang keterlaluan. Harusnya dia maklum dengan keadaan saat itu," sahut Brian emosi.
"Makanya Aku sedih dan nggak semangat ngapa-ngapain Kak. Aku nggak tahu harus jelasin kaya apa ke Diaz."
Brian mengepalkan tangannya, sorot matanya penuh amarah karena Diaz berani menyakiti hati Alana. Laki-laki itu tak pantas mendapatkan hati Alana, seandainya Alana lebih memilih Brian semuanya tak akan seperti ini.
"Tapi Aku nggak marah Kak, Aku cuma sedih kenapa Diaz malah mutusin hubungan di saat Aku udah buka hati. Bertahun-tahun Aku menutup hati, kenapa dia malah ninggalin aku."
"Diaz emang nggak punya perasaan. Seenaknya aja dia mutusin Kamu, Kamu nggak pantas mengemis cinta sama dia."
"Kalau Kak Brian berkenan, tolong Kak bantu Aku supaya Diaz maafin Aku," pinta Alana memelas.
Brian menghela napas berat, hatinya sesak karena Alana malah meminta pertolongannya. Padahal Brian ingin memenangkan hati Alana, namun dia paling nggak bisa melihat Alana murung dan berbahaya seperti itu.
"Aku akan coba ya, sekarang Aku antar Kamu pulang," sahut Brian pasrah.
"Aku pakai motor Kak."
"Yaudah, aku ikutin kamu dari belakang."
"Oke Kak, sekali lagi makasih ya Kak."
Brian mengangguk seraya mengulum senyum, lalu beranjak menuju motor bersama Alana.
"Kak Brian nggak papa nih nganterin aku?" tanya Alana seraya menaiki motornya.
"Tentunya, Aku nggak akan biarin Kamu sedih. Walaupun Kamu nggak menerima cintaku, Aku nggak akan nyerah sampai Aku lelah."
DEG!
Ucapan Brian membuat Alana gusar, dia tak menyangka Brian masih memperjuangkan cintanya. Namun, Alana tak bisa membalas cinta Brian, cintanya hanya untuk Diaz. Walaupun Diaz menyakiti hati Alana seribu kali pun, entah mengapa Alana tak bisa membenci Diaz.
"Udahlah, ayo pulang," ucap Brian lagi, lalu menuju motornya.