Bab 54

1231 Kata
Di perjalanan, Brian sengaja mencegat motor Diaz. Insiden itu membuat Diaz murka, namun enggan turun dari motornya. Sementara Brian turun dari motornya dan menghampiri Diaz penuh kemarahan. “Dasar laki-laki pengecut, kalau loe nggak beneran cinta sama Alana bisa lepasin dia. Gue akan terima Alana dengan kedua tangan gue,” ucap Brian dengan nada tinggi. Diaz tak menjawab ucapan Brian, dia turun dari motor dan berdiri dihadapan Brian. Sorot matanya sama-sama penuh amarah, namun keduanya masih menahan serangan tangannya. “Kalau loe jadiin Alana hanya pelarian atau apa, lepasin dia. Biarkan dia mendapat laki-laki terbaik yang tulus mencintai Alana,” ucap Brian lagi. “Jadi, loe masih berharap memiliki Alana? Loe pengen menjalin hubungan sama dia?” tanya Diaz mengejek. “Sangat. Gue sangat mencintai Alana dan nggak akan pernah nyakitin dia sedikitpun, tapi loe yang dipilih Alana malah buat dia sakit hati. “Hei, loe nggak usah ikut campur urusan gue. Mau gue nyakiti Alana atau nggak itu urusan gue, nggak ada hubungannya sama loe,” ucap Diaz, nada suaranya naik satu oktaf. “Jelas itu urusan gue karena loe nyakitin wanita yang sangat gue cintai. Gue rasa loe nggak bisa kasih perhatian dan kebahagiaan buat Alana, hanya penderitaan yang loe berikan buat dia,” cerca Brian, membuat Diaz emosi dan mengepalkan tangan. Diaz semakin emosi karena Brian menatapnya di titik kerendahan, saking emosinya dia menonjok pipi Brian. Brian pun tak terima, tak ayal terjadi perkelahian antara Diaz dan Brian. Mereka saling menghindari serangan dan sama-sama terluka, sampai akhirnya Brian tersungkur karena pukulan Diaz sangat keras. “Loe boleh pukul gue semau loe, tapi jangan pernah sakiti Alana. Gara-gara mikirin loe yang mutusin dia, dia hampir kehilangan kehormatannya sebagai wanita,” ucap Brian penuh emosi, dia bangkit dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya. “Loe nggak usah mengada-ngada deh, maksud loe apa Alana hampir kehilangan kehormatannya?” tanya Diaz heran. “Gue rasa percuma ngomong sama cowok yang nggak bisa jaga kekasihnya, cowok yang membiarkan sang kekasih larut dalam kesedihan sampai akhirnya dia tak mampu melindungi dirinya sendiri.” Diaz semakin geram dengan ungkapan teka-teki yang Brian lontarkan. Diaz mencengkram kerah Brian dan menatapnya penuh kemarahan. “Katakan dengan jelas, apa maksud loe sebenarnya?” tanya Diaz penuh penekanan. “Kalau aja gue nggak datang kemarin, Alana udah kehilangan kesuciannya,” sahut Brian tegas menatap Diaz geram. DEG! Diaz langsung melepaskan kerah Brian karena mendadak seluruh kekuatannya hilang mendengar ungkapan Brian. Mungkinkah yang dikatakan Brian benar mengenai Alana yang hampir dijahati? Tapi, kenapa itu bisa terjadi? “Kalau loe mau mutusin Alana, harusnya lo intropeksi diri dulu siapa yang sebenarnya bersalah. Alana nggak bisa jemput loe karena dia nolongin gue, tapi loe malah mutusin dia sepihak. Tentunya keputusan loe sangat menyakitkan Alana.” Wajah Diaz pucat pasi, mengapa masalahnya semakin melebar dan Alana hampir mengalami kejadian buruk. Padahal dia menjadi kesalahan Alana sebagai alasan mengakhiri hubungan agar Alana membencinya, Diaz ingin Alana berhenti mencintainya dan tak mengetahui penyakitnya. “Kalau loe cowok gentle, jangan jadikan kesalahan wanita sebagai alasan. Bersikaplah tegas dan mengambil keputusan tepat, jangan jadikan Alana sebagai kambing hitam loe,” ucap Brian tegas, lalu pergi. Diaz menatap kepergian Brian menggunakan motor gedenya, meninggalkan bunyi deru yang perlahan menjauh. Diaz merasa dadanya teramat sakit, dia tak menyangka Alana mengalami kejadian ini. Padahal dia sudah berjanji akan menjaga Alana apapun yang terjadi. “Ya Tuhan, apa keputusanku mengakhiri hubungan dengan Alana salah? Aku harus gimana menghadapi kondisi ini. Apa pernikahan itu harus terjadi dan aku biarkan Alana merawatku yang penyakitan ini,” ucap Diaz lirih. Diaz naik motor dan hendak mengenakan helm, namun ponselnya berdering. Diaz menelan ludah saat menatap nama sang mami tertera di layar ponselnya, dia bimbang apakah panggilan sang mami harus diangkat atau tidak. “Mami pasti udah tahu kejadian yang menimpa Alana, gimana ya? Angkat atau enggak,” ucap Diaz menimang-nimang. Diaz menghela napas panjang, sang mami terus saja memanggil sampai 11 kali. Diaz pun terpaksa mengangkat panggilan dan menempelkan ponsel di telinga kanannya, membiarkan sang mami membuka obrolan. “Dimana kamu sekarang? Ke rumah Alana sekarang juga,” ucap Bu Maria tegas di seberang sana. “A-aku di jalan Mi,” sahut Diaz ragu. “Mami tunggu di rumah Alana sekarang juga.” Diaz membelalakan mata karena sang mami langsung memutuskan sambungan telepon setelah meminta Diaz ke rumah Alana. Diaz menggigit bibir bawahnya kejam, dia memiliki firasat masalahnya dengan Alana akan panjang. “Kenapa jadi melebar gini sih? Bukan ini yang aku pengen. Aku pengen Alana hidup bahagia tanpa bayang-bayang Diaz yang penyakitan,” ucap Diaz frustasi. Diaz memasukkan ponsel ke dalam saku jeansnya, lalu mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Alana. Setelah menempuh perjalanan 3 menit, motor Diaz memasuki halaman rumah Alana. Dia melihat mobil sang mami terparkir di halaman, hatinya gelisah karena memikirkan apa yang akan terjadi di dalam rumah Alana. “Bismilah deh, semoga semuanya bisa dikendalikan. Jangan sampai ada masalah besar,” ucap Diaz menyemangatkan dirinya sendiri, lalu masuk ke rumah Alana. Di sana, Diaz melihat sang mami tengah duduk bersama Alana dan Bu Rista. Tatapan ketiga wanita itu tampak garang dan membuat nyali Diaz ciut, namun Diaz berusaha tenang dan mengulum senyum. “Assalamu’alaikum Mi, Tante.” Diaz mencium tanga sang mami dan Bu Rista lembut, kemudian duduk di samping sang mami. Sesekali Diaz melirik Alana yang wajahnya sembab dan enggan memandangnya, sepertinya saat ini Alana marah dan tak ingin melihat wajah Diaz. “Darimana aja kamu?” tanya Bu Maria dingin. "A-aku dari rumah temen Mi," sahut Diaz ragu. "Mami nggak nyangka kamu tega melakukan ini pada Alana. Kamu yang membujuk Mami merestui kalian nikah muda, tapi kamu malah mutusin hubungan. Maksud kamu apa? Keputusan kamu bahkan buat Alana hampir mengalami hal buruk." "Aku sadar Mi, aku salah. Maafin Aku Alana, Tante." Diaz menatap Alana dan Bu Rista penuh penyesalan. Sementara Alana enggan memandang Diaz, dia memilih mengalihkan pandangan maupun menunduk menghindari sorot mata Diaz. "Sebenernya apa alasan kamu mendadak mutusin Alana? Jangan jadikan Alana nggak dateng jemput kamu sebagai kesalahan fatal. Jelaskan pada Mami sekarang juga," ucap Bu Maria emosi. "Sudahlah Bu, jangan menyudutkan Diaz. Kita bicarakan saja kedepannya, mana yang terbaik buat anak kita. Melanjutkan ke jenjang pernikahan atau selesai sampai disini," sahut Bu Rista mengulum senyum getir. "Aku pasrah Tante, Mama. Aku serahin semuanya sama Diaz, aku nggak mau ambil keputusan sepihak," ucap Alana pasrah. Diaz memandang Alana getir, dia beranjak dan duduk di samping Alana. Memegang tangan Alana penuh cinta, kemudian mencium tangannya. Diaz tanpa rasa malu melakukan itu dihadapan sang mami dan Bu Rista. "Maafin aku Alana, aku yang salah karena biarin kamu menderita. Aku udah tahu semuanya, aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu," ucap Diaz merasa bersalah. "Jadi kamu udah tahu," sahut Alana malas. "Udah, aku janji nggak akan nyakiti kamu Alana. Aku ingin menjaga dan membahagiakan kamu sampai aku mati." DEG! Alana terpengarah mendengar ucapan Diaz, hatinya sakit mendengar ungkapan Diaz mengenai kematian. Alana pun memegang tangan Diaz erat dan memandang Diaz. "Jangan pernah bicarain kematian, walaupun kita nggak diharuskan mengingat untuk intropeksi diri tapi hal itu membuat semangatku menurun. Aku nggak mau kamu ninggalin aku karena aku maunya bersamamu sampai tua," ucap Alana lembut. "Iya sayang, maafin aku ya." Alana mengangguk, dia bernapas lega karena sudah baikan dengan Diaz. Sementara Diaz memandang sang mami dan Bu Rista tegas. "Kita bicarain masalah pertunangan saat ini juga ya Mi, Tante," ungkap Diaz yakin. "Iya Nak," sahut Bu Rista mengulum senyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN