Jam kuliah berakhir, Diaz sudah menunggu Alana di depan kelas. Kehadiran Diaz di fakultas kedokteran membuat cewek-cewek iri dan ingin Diaz yang menunggu mereka. Sementara Alana malah murka dan menghampiri Diaz dengan tatapan kebencian.
"Ngapain kamu kesini?!" tukas Alana.
"Aku mau ngantar kamu pulang," jawab Diaz entang.
"Ogah aku pulang bareng kamu," tolak Alana sinis.
"Ehm, Diaz, Alana mau kok. Kebetulan aku sama Vita mau pergi berdua," ucap Keyla ceria.
"Aku bisa pulang sendiri, Key." Alana menatap Keyla kesal.
"Aku paling nggak suka penolakan." Diaz langsung meraih lengan Alana dan membawanya pergi.
Alana gelisah jemarinya menyatu dengan jemari Diaz. Apakah perlakuan Diaz suatu tanda kalau Diaz tengah mengadakan pendekatan kepada Alana? Ataukah Diaz mempunyai rencana untuk kembali mempermalukan Alana? Entahlah, yang pasti perlakukan Diaz mampu membuat hati redup Alana mulai bercahaya.
"Ini helmnya," ujar Diaz saat tiba di parkiran motornya. Ia menyodorkan helm pada Alana.
"Thanks," jawab Alana jutek.
"Kenapa si kamu harus menjadi orang lain? Lebih baik jadi pribadi sendiri dan nikmati hidup," seru Diaz membuat Alana terperanjat.
"Ma maksud kamu?" Alana tidak menyangka Diaz berkata seperti itu.
"Aku tahu pasti kamu lagi banyak masalah. Makanya kata mami aku kamu mahasiswi suka buat onar." Diaz memakai helmnya lalu menaiki motor Ninja merahnya.
Alana menggigit bibir bawahnya gusar. Ada rasa malu di hatinya karena Diaz mengetahui kelemahannya selama ini. Ia yakin pasti Dekan Mirna selalu menceritakan pada Diaz perihal kenakalan Alana di kampus.
"Sok tau kamu," elak Alana.
"Hidup itu harus dinikmati. Kalau kamu butuh diary, aku siap kok jadi diary kamu," ucap Diaz membuat pipi Alana merona.
Terpancar kebahagiaan dari mata Alana, kebahagiaan yang sudah lama hilang di saat ke 3 masalahnya menerpa hidupnya, dan meninggalkan luka yang teramat dalam di hatinya.
Ternyata walaupun selama ini ia menutupi kelemahannya dari orang-orang, Diaz yang baru beberapa hari dikenalnya mampu membuka tabir kerapuhan Alana. Apakah aku harus menjadi pribadi sendiri? Alana membatin.
"Pegangan dong, ntar jatuh," gumam Diaz membuyarkan lamunan Alana.
"I Iya." Alana memegang erat pinggang Diaz.
Diaz tersenyum, mengukir kedua lubang indah di kedua pipinya. Tak berapa lama ia menancap gas. Motor Diaz melesat meninggalkan gedung Universitas Paramadina.
***
Alana menghembuskan napas panjang. Memandang wajahnya di cermin. Wajahnya tampak ceria. Ia bahagia karena walaupun Diaz sosok pemuda dingin dan angkuh, tetapi Diaz berbaik hati mengantarnya sampai ke rumah. Bahkan Diaz bersikap ramah pada mama Alana – Rista -. Alana pikir Diaz juga tidak akan menghormati orang yang lebih tua namun ternyata dugaannya salah. Diaz justru ramah dan sopan pada orang yang lebih tua darinya.
"Alana." Bu Rista membuka pintu kamar Alana, ia masuk dan duduk di samping Alana.
"Ternyata kamu punya teman laki-laki yah. Kok mama nggak di kasih tau si," seru Bu Rista seraya meletakan orange jus di meja rias Alana.
Alana terkekeh. "Aku baru kenal dia ma. Tapi dia ngeselin, dia sudah permaluin aku," gerutunya.
Bu Rista membelai rambut panjang Alana. "Tapi mama lihat dia naksir kamu. Hmm mungkin kamu bisa melupakan masalah kamu selama ini karena dia."
Alana jadi salah tingkah lantaran perkataan mamanya. Ia berusaha menutupi kegelisahannya dengan minum orange jus.
"Oya, katanya ada yang mau mama bicarain sama aku." Alana berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya nak. Selama seminggu ini mama ada tugas di luar kota. Jadi mama mau titipkan kamu ke rumah Paman Darma. Kamu nggak keberatan kan." Bu Rista berkata dengan hati-hati. Tidak ingin menyakiti hati putrinya.
"Enggak si ma, cuman kan rumah paman udah pindah," jawab Alana lesu, "Ehm, aku minta alamatnya aja deh, ntar biar aku nyari alamat paman bareng Vita dan Keyla," lanjutnya mantap.
"Iya boleh nak. Maafin mama ya, sebenarnya mama nggak mau ninggalin kamu," keluh Bu Rista.
Alana tersenyum. "Nggak papa kok ma. Kan Vita sama Keyla bisa nginep disini."
"Ya udah kamu tidur gih," perintah Bu Rista.
Bu Rista mengecup kening Alana. Setelah ia menyelimuti putrinya, ia mematikan lampu kamar Alana dan berjalan keluar.
Alana menghidupkan lampu tidur. Ia menatap langit-langit kamar. Entah mengapa bayangan wajah Diaz bersemayam dalam pikirannya.
Entah mengapa kehadiran Diaz mampu menggetarkan hati Alana. Tatapan Diaz dan ucapannya membuatnya merasakan kehangatan dan kasih sayang dari seorang laki-laki yang selama ini ia rindukan. Apakah sudah sepatutnya Alana memilih menyingkirkan ego dan dendamnya, dan menjalani kehidupan seperti apa yang pernah dikatakan Keyla dan Vita.
"Hidup itu pilihan, Alana. Di saat kamu mampu mengenal cinta maka kamu harus mampu menanggung apapun resikonya," ucap Keyla saat Alana berjanji tidak mau lagi jatuh cinta.
Alana tersenyum perih. "Terus aku harus pasrah dan masih mengharap cinta walau ia udah sakitin aku, gitu?" tanya Alana menitikkan air mata.
Keyla dan Vita terdiam. Mereka tahu sahabatnya ini baru saja kehilangan ayah dan cinta pertamanya
"Alana, aku pikir kamu buka hati kamu untuk cowok lain. Lupain cinta pertamanya kamu itu," pinta Vita dengan hati-hati.
Alana menggelengkan kepala. Ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Vita, cinta pertama atau cinta selanjutnya pastilah hanya akan mengukir luka.
"Kamu lebih sayang diri kamu atau cinta kamu itu?" tanya Keyla serius.
"Ya lebih sayang diri akulah," jawab Alana kesel.
"Kalau gitu tetap membuka hati. Dirimu membutuhkan pelindung dan kasih sayang." Keyla memegang bahu Alana dan melemparkan seulas senyum.
"Aku tidak mau kenal cinta lagi. Aku hanya mau mengenal persahabatan, karena ialah yang ngertiin aku," seru Alana tegas.
"Sahabat memang selalu ada. Tapi cinta juga dibutuhkan untuk hidup. Cinta yang menghadirkan pernikahan dan anak-anak kita kelak," timpal Vita menatap Alana.
Sejenak, Alana kehilangan kata-kata. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa pengkhianatan ayah dan cintanya mengukir luka yang mendalam. Ia telah mencoba berkali-kali melupakan masalah itu. Tapi, hasilnya sama. Hanya menorehkan sakit hati yang teramat dalam.
Keyla menepuk bahu Alana. "Kita cuma pesen, di saat cinta itu datang kamu harus mengejarnya. Sebelum cinta itu nggak akan datang lagi.
Alana diam. Ia tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini.
"Tuhan punya rencana. Aku yakin ada pangeran yang akan membahagiakan kamu," ucap Vita tersenyum manis.
Alana tersenyum. Ia mengambil lukisan ilalang Buatan sang ayah.
"Aku akan ikhlas menerima kenyatan, yah. Tapi bukan berarti aku mudah menerima cinta tanpa aku tahu sosok dia." Alana tersenyum seraya membelai bingkai lukisan itu.
***
Hari minggu, Alana dan ke dua sahabatnya mengunjungi sebuah ruangan yang bergaya minimalis dan di ruangan itu terpampang lukisan-lukisan indah. Mereka bahagia karena dapat mengikuti les melukis gratis yang di adakan oleh seorang pemuda bernama Brian.
Alana melihat seorang laki-laki berjalan, laki-laki itu berpenampilan keren dan tampak ganteng. Laki-laki itu tersenyum ramah dan tampak berjabat tangan dengan para pengunjung. Dia pasti Brian, Alana membatin.
"Alana, itu Brian udah dateng. Keren banget ya," ucap Keyla girang.
"Aku mau banget jadi pacar dia." Vita tersenyum, ia terus memandang kemana arah Brian berjalan.
Alana tersenyum saat Brian memandang ke arahnya. Sementara Brian berjalan menghampirinya. "Hay, kamu pasti Alana. Kenalkan, aku Brian," ucap Brian ramah seraya mengulurkan tangan.
"Iya, aku Alana." Alana menyambut tangan Brian, "Maaf, kok kamu tau nama aku?" Brian tersenyum. "Keyla dan Vita yang cerita kalau kamu ingin belajar melukis."
Seketika Alana menahan amarah mendengar penjelasan Brian. Ke dua sahabatnya memang selalu membuatnya jadi serba salah dan tidak berdaya. Awas aja kalian, batin Alana.
Setelah itu Brian mengumpulkan peserta les melukis untuk mendengarkan arahan maupun penjelasannya. Sambutan hai, halo dan perkenalan pun terjadi agar suasana les tidak kikuk. Mata Alana tidak lepas dari Brian, saat Brian memberikan arahan. Alana merasa kalau Brian adalah sosok penyayang dan sabar. Entah mengapa ia bahagia bisa bertemu dengan Brian. "Dia manis banget," gumam Alana.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Vita dan Keyla kompak, kemudian mereka terkekeh.
"Kalian apa-apan si. Ayo fokus lesnya," sahut Alana salah tingkah.
Tak terasa, les sudah berjalan 4 jam. Dan, sekarang saat istirahat sebelum akhirnya melanjutkan les lagi satu jam. Keyla dan Vita langsung mengajak Alana berkenalan lebih jauh dengan Brian. Hati Alana langsung mencelos ketika Brian yang sedang di cari ternyata ada di belakang Alana.
Alana menggaruk pipinya yang tak gatal, Kemudian tersenyum malu pada Brian.
"Aku dengar, kalian nyari aku ya?" tanya Brian memastikan.
Keyla terkekeh. "Iya. Kita boleh kenalan lebih nggak sama mas Brian?" tanya Keyla mengharap.
Alana memegang lengan Keyla. "Keyla, apaan sih. Bikin malu tau," bisiknya geram. Brian tersenyum. "Boleh kok. Kalau gitu kita mulai darimana?"
"Ehm, kita foto berempat terus ngobrol ya mas," seru Vita bersemangat, "Ehmm, sama minta no hp mas Brian biar bisa hubungi mas kalau kita kesusahan belajar ngelukis di rumah," lanjut Keyla antusias.
Alana tidak dapat berbuat apa-apa melihat kelakuan Vita dan Keyla. Ia hanya bisa menahan amarah dengan jantung yang berdetak tak menentu karena malu.
Sejurus kemudian, Keyla mengeluarkan ponselnya. Terjadilah selfie dalam jumlah banyak diantara mereka. Di salah satu selfie, Brian tampak menoleh ke Alana dan tersenyum.
Seusai berselfie, Brian memberikan kartu nama pada Keyla. Kemudian ia memandang Alana, seperti memberi kode agar Alana tidak merasa malu karena tingkah Vita dan Keyla. "Aku harus pergi. Maaf yah, kita ngobrolnya lain kali ya." Brian meminta maaf seraya menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Loh, terus yang ngajarin kita nglukis siapa, mas?" tanya Vita cemberut.
"kan ada mas Anton dan mba Vega, mereka patner aku. Mereka lebih berpengalaman kok," sahut Brian menenangkan. "Yah, nggak seru dong nggak ada guru ganteng," timpal Keyla.
Alana melototi Keyla dan Vita, kemudian tersenyum pada Brian. "Nggak papa kok mas. Kita oke aja di ajar siapa. Yang penting kita belajar melukis. Brian tidak berkomentar. Ia hanya membalas Alana dengan senyum khasnya. "Kalau begitu, aku permisi ya," pamit Brian, kemudian berlalu.
Alana memandang kepergian Brian yang menghilang di balik pintu. Kehadiran Brian mampu menyita perhatiannya. Ia tidak menyangka selain Diaz yang menyita perhatiannya, sosok Brian yang ramah dan lembut juga mampu membuatnya gelisah.
***