Mobil Diaz memasuki halaman rumah bergaya minimalis. Ia turun dari mobil sambil memainkan kunci mobil. Diaz memegang gagang pintu, sayangnya di saat pintu terbuka sebuah bola basket mendarat di pipinya. Sontak Diaz menatap geram pemuda yang berdiri di hadapannya itu.
"Alvar!!!"
Diaz langsung melemparkan bola basket pada Alvar. Sementara Alvar sigap menangkap bola dari Diaz.
"Udah pulang bro. Gimana hari pertama pindah kuliah? Pasti nggak ada temennya kan. Makanya jadi cowok yang cool, penyayang dan romantis," cerocos Alvar.
"Bukan urusan kamu. Aku mau mandi," sahut Diaz datar lalu melangkah pergi.
"Jangan pindah kampus lagi ya. Ntar mami kamu stez mikirin kamu pindah kampus terus." Suara Alvar naik satu oktaf. Ia terkekeh lalu berjalan keluar.
Diaz menoleh dan memandang kepergian Alvar yang menghilang di balik pintu. Alvar ini memang selalu membuat Diaz kesal dalam segala urusannya. Walaupun Alvar sepupu Diaz yang paling jahil, namun Diaz mempercayakan Alvar mengetahui semua rahasianya. Apalagi Alvar pernah menghadirkan sosok perempuan yang pernah Diaz cintai sepenuh hati.
Namun kisah cinta Diaz yang membahagiakan itu berubah menjadi kenangan pahit. Kenangan dimana Diaz harus menerima kalau cintanya di khianati. Dan putusnya cinta Diaz mengubah kepribadian Diaz menjadi pemuda yang dingin dan angkuh.
Banyak perempuan yang ingin menjadi kekasih Diaz, namun mereka harus penerima penolakan Diaz. Sebenarnya Diaz masih mempunyai hati untuk mengerti perasaan kaum hawa yang ia sakiti, namun rasa kasihan itu sudah dikubur bersama kenangan manis bersama cinta pertamanya.
Diaz pernah bertaruh dengan Alvar, jika ada seorang perempuan yang mampu menggali kotak berisi kenangannya itu, ia berjanji akan kembali membuka hati. Sayangnya sampai sekarang belum ada perempuan yang mampu dan tahu dimana Diaz mengubur kenangan itu.
“Cinta itu ibarat bola api, saat kita asyik bermain bola tetapi api itu bisa menjalar dan membunuh kita saat itu juga,” pikir Diaz.
***
Diaz menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia menarik napas panjang beberapa kali, berusaha menetralkan pikirannya yang tak menentu. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangannya, lalu mengambil kunci motor.
"Mau kemana lagi bro?" Alvar berdiri di ambang pintu sambil memakan potato balado.
"Balapan," sahut Diaz singkat.
"Nggak bosen apa balapan terus? Atau jangan-jangan cuma modus." Suara Alvar mengejek.
Diaz tak menanggapi komentar Alvar. Ia memakai jaket dan kacamata hitamnya. Diaz hendak keluar dari kamar, tapi di tahan Alvar. Alvar memposisikan Diaz di atas bed cover dan menyerahkan gitar Diaz. Alvar juga menyita kunci motor Diaz.
"Tadi mami kamu telfon nyuruh kamu istirahat. Tante Mila nggak mau tifus kamu kambuh lagi," ucap Alvar bijak.
"Tapi aku harus balapan. Ada cewek balap yang nantangin aku," sahut Diaz menatap Alvar.
"Mending kita main gitar aja. Ehmm besok bakalan aku traktir deh, asal kamu buatin lirik lagu buat aku." Alvar mengambil secarik kertas dan bolpoin lalu duduk di samping Diaz.
"Oke, tapi jangan campuri urusan aku selama satu bulan," tantang Diaz bangga.
Alvar mengangguk. "Oke, siapa takut."
Senyum Diaz mengembang. Tak berapa lama ia memetik gitar dengan alunan lembut.
Hati ini resah tanpamu bunga Aku rapuh dan butuhkan dirimu Cinta kita kenangkan dunia
"Udah segitu aja. Aku mau balapan,” ucap Diaz, dia mengenakan jas kulit andalannya saat balapan.
"Rese kamu. Bantuin kok setengah-setengah," gerutu Alvar.
Mendapati kekesalannya tidak di hiraukan Diaz, Alvar memilih keluar dari kamar Diaz. Sementara Diaz terkekeh melihat sepupunya menahan kesal. Makanya nggak usah sok jadi Edward cullen yang romantis, Diaz membatin.
Diaz memang hobi menjahili Alvar. Apalagi semenjak Alvar menamai dirinya Edward Cullen yang pandai membuat kaum hawa terpesona. Ia tidak mau Alvar sukses membuat wanita terkesima karena lirik lagu buatannya yang di nyanyikan Alvar.
“Jangan sampai telat, pengen liat siapa cewek yang berani nantang aku balapan.” Diaz mengambil kacamatanya, dia mengenakannya dan keluar dari kamar.
***
“Hey, mana cewek yang berani nantang gue balapan?” tanya Diaz di arena balap. Dia penasaran seperti apa sosok cewek pemberani itu.
“Gue yang nantang lo!” ucap seorang perempuan di belakang Diaz.
Diaz menoleh ke belakang, dia turun dari motor gedenya dan menatap tajam mata perempuan itu. Diaz tak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker, belum lagi perempuan itu mengenakan kacamata sehingga sulit dikenali. Diaz menelan ludah, ternyata ada anak pembalap yang mengikuti gayanya mengenakan masker dan kacamata sebagai pelindung menjaga identitasnya.
“Lo yakin berani nantang gue? Lo tahu kan seberapa luas daerah kekuasaan gue di Jakarta.” Diaz berucap sombong, dia meremehkan perempuan di hadapannya.
“Gue paling nggak suka cowok yang omong besar. Buktikan seberapa besar kekuasaan lo di jalanan,” sahut perempuan itu tak kalah sinis.
Perempuan itu tampak kesal karena kesombongan Diaz. Perempuan itu adalah Alana, sebenarnya Alana ingin mengetahui siapa sebenarnya laki-laki pembalap di hadapannya. Namun, baik Alana dan Diaz tak saling mengenal karena sulit dikenali.
“Kita mulai sekarang,” ucap Diaz dengan nada tinggi. Pertanda pada semua orang bahwa balapan segera dimulai.
Suara penonton menderu mengalunkan nama ‘Diaz.’ Sementara itu, deru suara knalpot motor besar Diaz dan motor besar sang penantang menggema di setiap sudut jalan Ibukota.
Setelah sang pemandu menerbangkan benderanya, Diaz dan sang lawan tancap gas. Diaz dan sang lawan saling salip menyalip seolah tak ada yang mau mengalah. 2 motor besar itu melenggang seenaknya sendiri karena jalanan ibukota yang sepi, bagaimana tidak. Balap liar yang dilakukan Diaz termasuk balap motor, namun Diaz dan gengnya berhasil kabur setiap polisi melihat aksi balap liarnya.
“Sial,” Diaz mengumpat di balik helmnya saat mendengar sirine mobil polisi. Sudah pasti itu polisi patroli yang mengetahui aksi balapnya. Diaz putar arah dan melaju dengan kecepatan kencang diikuti sang lawan yang tak kalah kencangnya.
“Gagal gue kalahin orang sombong itu! Tapi, siapa si dia? Berani banget nantang gue,” umpat Diaz setelah menepikan motor gedenya di tepi jalan. Pikirannya menerka-nerka siapa sang lawan.
***
"Eh guys, Diaz maen basket lho! Lihat yuk" teriak seorang cewek kepada teman-temannya sambil berlari terburu-buru.
Mendengar nama Diaz, Alana langsung menutup buku yang sedari tadi ia baca. Kemarahannya pada Diaz memuncak sampai ke ubun-ubun karena kehadiran Diaz menggeserkan popularitasnya di kampus. Bahkan tadi pagi Diaz sempat menggagalkan aksinya menjaili Vanes. Akibatnya ia harus menahan malu di depan mahasiswa karena kalah debat dengan Diaz.
"Alana, kita lihat Diaz maen basket yuk," pekik Vita menghampiri Alana di susul Keyla.
"Ogah! Males!" jawab Alana singkat.
"Ayo dong... Aku denger Diaz itu pandai segala hal. Masa kamu nggak penasaran si. Please..." Keyla memohon dan menarik-narik tangan Alana.
Vita dan Keyla langsung menarik paksa Alana untuk melihat hebatnya permainan Diaz ketika memegang bola basket. Alana menurut karena Vita dan Keyla terlalu erat memegang tangannya.
Setelah sampai di lapangan basket, Alana dan kedua sahabatnya mencari tempat yang pas untuk melihat pertandingan basket. Vita dan Keyla berdecak kagum karena seluruh sisi lapangan sudah penuh ditempati cewek-cewek yang tergila-gila pada Diaz. Mereka bersorak heboh memuji Diaz.
"Aduh, telat kita. Udah penuh semua tempatnya," keluh Keyla mengerucutkan bibir lima senti.
"Kalian berlebihan. Diaz itu biasa aja dan nggak ada istimewanya," ucap Alana penuh penekanan.
"Kamu kok aku lihat kaya benci sama Diaz si?" tanya Vita menatap Alana.
"Hati-hati loh, ntar malah jadi cinta," sambung Keyla cengengesan.
Deg! Perkataan Keyla membuat Alana gugup. Ia yang tadinya sudah menyiapkan kalimat untuk mengejek Diaz, seketika hilang dari pikirannya. Apalagi Vita dan Keyla memandangnya dengan tatapan penuh arti.
Alana menghela napas berat. "Aku tau caranya biar cowok belagu itu nggak menguasai kampus kita." Alana mengalihkan pembicaraan sekaligus menetralkan pikirannya yang kacau.
"Gimana caranya?" tanya Vita penasaran.
Seulas senyum merekah di bibir Alana. Ia lalu memandang Diaz yang asik mendrible bola, setelah itu ia mengarahkan pandangannya pada Vita dan Keyla yang di selimuti penasaran.
Bukk!!
Belum sempat Alana mengutarakan rencananya memberikan Diaz peringatan, Sebuah bola basket mendarat mulus di kepala Alana. Alana hampir saja kehilangan keseimbangan kalau tidak di tangkap Keyla.
Bola mata Alana membulat tatkala ia melihat Diaz yang melempar bola ke kepalanya. Tangannya mengepal menahan emosi.
Sementara Diaz tanpa rasa bersalah berjalan cool menghampiri Alana. Ia memandang Alana dengan tatapan aneh dan membuat Alana menelan ludah. Namun dengan cepat Alana mendorong bahu Diaz dan meminta pertanggungjawaban.
"Maksudnya apa pake lempar bola ke kepala aku?! Pokoknya aku mau kamu tanggung jawab!" Alana maju selangkah menghadap Diaz dan menatapnya geram.
"Kamu pasti tau kan aku anak Dekan? Harusnya kamu sopan dan menghormatiku kalau nggak mau di DO," ucap Diaz berwibawa.
"Ogah, aku nggak bakalan tunduk sama kamu. Harusnya kamu yang tunduk sama aku," sahut Alana sinis.
"Aku denger kamu di takuti disini. Ehmm aku akan tunduk sama kamu kalau aku kalah tanding basket," pekik Diaz menantang.
Tantangan Diaz untuk Alana membuat mahasiswa bahagia. Ada yang berdoa agar Diaz menang dan mereka semua bisa terbebas dari kejahilan Alana. Dan, hal itu membuat Alana kesal dan menatap Diaz penuh kebencian.
"Diaz, kamu harus menang ya dan bebasin kami dari kejahilan Alana." Vanes menghampiri Diaz dan memegang tangan Diaz memelas.
"Iya, tapi nggak usah pegang-pegang," sahut Diaz seraya menepis tangan Vanes.
"Kita lebih ikhlas nurut sama kamu di banding Alana," sambung teman Vanes yang berambut pendek.
Sebenarnya Alana ingin meninggalkan lapangan yang membuat emosinya memuncak. Namun kalau ia pergi, semua orang pasti akan menginjak-injak harga dirinya. Apalagi dari tatapan Diaz yang seakan ingin bermusuhan dengan Alana. Aku harus ladeni tantangan cowok belagu itu, Alana membatin.
"Alana, mending kita damai aja sama Diaz," bisik Vita pada Alana.
Alana tidak menanggapi bisikan Vita. Ia malah mengulurkan tangan ke arah Diaz, pertanda bahwa ia menerima tantangan Diaz.
"Aku terima tantanganmu," ucap Alana mantap.
"Oke." Diaz menyambut uluran tangan Alana.
Alana dan Diaz mulai bertanding basket. Diaz bermain fantastis. Badannya sangat atletis dan bersemangat. Wajah dinginnya membuat gerakannya sulit dipahami Alana. Alana kesulitannya menebak permainan Diaz. Namun Alana tidak menyerah, sekuat tenaga ia berusaha mengambil bola dari tangan lincah Diaz. Sampai-sampai ia kehilangan keseimbangan. Untunglah Diaz sigap menahan tubuh Alana sebelum Alana terjatuh.
Sementara Alana mematung dalam dekapan Diaz. Baru kali ini ia merasakan kehangatan dalam dekapan seorang laki-laki. Untuk beberapa detik Alana dan Diaz berpandangan. Dan, tatapan tajam Diaz mampu membuat hati Alana berdesir hebat. Tuhan... apa arti ini? Batin Alana
"Lebih baik kamu akui aja kalau kamu juga tergila-gila sama aku," ucap Diaz bangga.
Alana melepaskan tubuhnya dari tubuh Diaz. "Kamu bukan tipe aku."
Beberapa detik berikutnya Alana melihat Diaz lengah. Dengan sigap Alana merebut bola dari tangan Diaz. Rupanya Diaz tahu gerak-gerik Alana sehingga ia berhasil merebut kembali bola dari Alana.
"Diaz... Ayo menangin pertandingan! Wee love you Diaz," teriak Vanes girang, membuat semua orang bertepuk tangan menyemangatkan Diaz.
Alana menelan ludah. Diaz benar-benar telah membuatnya malu dan menyingkirkan kepopularitasnya. Sial. Dia udah rebut hobi spesialku ngerjain orang-orang, batin Alana.
Sejurus kemudian Alana kembali fokus melawan pertandingan Diaz. Sayangnya pertandingan dimenangkan Diaz. Kemenangan Diaz membuat semua mahasiswi bangga dan menjerit histeris penuh kebahagiaan. Sampai ada yang menuliskan 'Ngampus merdeka tanpa di kerjain Alana' dan dilemparkan ke udara. Kaum hawa pun langsung berlarian menghampiri Diaz.
Sementara Alana hanya menekuk wajah melihat Diaz dikerubungi kaum hawa. Dalam hatinya hanya ada satu keinginan terbesarnya. Yaitu balas dendam pada Diaz.
"Diaz, please bilang ke Alana biar dia nggak ngerjain kita lagi." Vanes memohon seraya menangkupkan ke dua tangannya ke arah Diaz.
Diaz hanya menganggukan kepala, lalu melangkah menatap Alana.
"Sekarang kamu janji nggak akan ngerjain mahasiswa disini," ucap Diaz lantang.
"Aku nggak akan gangguin mereka lagi," jawab Alana datar.
Diaz hanya memandang Alana tanpa berkomentar. Lagi-lagi tatapan elang Diaz membuat hati Alana bergetar. Ia akhirnya memilih pergi untuk menghindari tatapan tajam Diaz. Namun baru beberapa langkah, suara Diaz sudah menggema.
"Alana, je suis desole,” ucap Diaz penuh rasa bersalah
Alana tidak menghiraukan Diaz. Ia berlalu pergi di susul Vita dan Keyla.
***