"What i like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce."—Karl Lagerfeld
.
.
.
22 Oktober, 2011
Dibandingkan mengerjakan soal matematika aljabar yang membuat kepalanya mumet setengah mati, Gema lebih memilih untuk mengobrak-abrik isi lacinya. Anak laki-laki itu mencari sesuatu di dalam sana, dan matanya berbinar tatkala benda yang ia cari ditemukan.
Sebuah foto polaroid yang masih bersih, karena ia mendapatkannya baru kemarin sore. Itu adalah hasil jepretan pertamanya. Dan sedikit... membuatnya bangga. Objeknya adalah potret seorang gadis, berambut hitam kecokelatan sebahu, kulitnya putih dan senyumnya sangat manis ke arah kamera. Kalau Gema melihatnya lebih lama, maka ekspresi itu seakan hidup, seakan potret gadis yang termuat dalam foto polaroid itu sedang tersenyum ke arahnya.
Gema yakin, anak perempuan ini adalah orang yang sama dengan yang ia temui kemarin. Sikapnya boleh jadi berbeda, tapi Gema masih mengingat betul bentuk wajahnya, terutama bola mata hazelnya. Untuk kali pertama ia melihat lensa mata seseorang yang sangat bersinar dan memiliki sorot yang begitu lembut.
Gema masih mengingat dengan jelas hari itu. Seminggu yang lalu, bahkan Gema melingkari kalender tanggal lima belas bulan ini untuk mengingat hari ulang tahun gadis itu sekaligus hari pertama mereka bertemu.
"Lagi apa?" Gema juga masih ingat bagaimana anak perempuan itu menghampirinya, sambil memerkan sebuah kamera polaroid mini yang tergantung di lehernya. "Eh, lo tau nggak? Papa baru aja beliin ini buat hadiah ulang tahun gue loh."
Kesan pertama Gema untuknya, anak perempuan itu benar-benar aneh. Mereka nggak pernah bertemu sebelumnya, dan tiba-tiba saja gadis itu mengajaknya berbicara seolah mereka sudah saling mengenal sejak lahir. "Bodo amat, lo siapa lagi? Nggak kenal."
"Ih, lo itu yang suka naik sepeda tiap sore lewat depan rumah Oma gue, kan?" Anak perempuan itu mulai mengoceh, nadanya terdengar sok tahu. "Oh iya, temen lo pada kemana? Kok tumben hari ini nggak main sepeda lagi?"
"Bosen."
"Yah, kok bosen, sih? Gue aja yang liatnya nggak bosen."
"Ya itu sih elo liatnya nggak bosen, gue sih yang naiknya bosen. Mana keliling komplek mulu lagi."
"Makanya keluar komplek dong, keliling jakarta gitu, kan asik." Katanya dengan tawa jenaka, saat anak perempuan itu tersenyum, Gema tidak mau mengakui kalau senyumnya adalah hal pertama yang membuat dunianya teralih. "Atau ke rumah gue lah, bisa kali naik sepeda, hehe."
"Rumah lo dimana lagi, dah?" Tanya Gema, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar ingin bertanya. Anak laki-laki itu kemudian membawa bola sepaknya yang sudah kotor karena lumpur dan mulai mengambil posisi untuk menendangnya ke arah gawang buatan yang ia tandai dengan dua buah batu bata yang saling bersebrangan sekitar satu setengah meter.
"Di tangerang, main yuk ke rumah gue! Lo yang boncengin!"
"Buset, jauh bener."
"Enggaklah, segitu masih deket."
"Jauh, kan pake sepeda! Gimana, sih? Kalau pake pesawat sih iya, deket banget."
"Emang ada ya dari Jakarta ke Tangerang naik pesawat?"
Saat itu, Gema mengerutkan dahinya menanggapi kalimat yang tak masuk akal dari anak perempuan yang berdiri di sampingnya. Ia menolehkan kepala ke sekitar dan menyadari bahwa hanya ada mereka berdua di lapangan gersang sore itu.
"Lupain, deh. Bikin pusing aja." Desahnya, sebelum akhirnya ia menendang bola dengan sekuat tenaga tepat ke arah gawang buatan.
"Yeay! Goal!" Teriakannya terdengar nyaring, bahkan menggema di langit sore yang mulai berubah oranye. Entah itu karena lapangan ini luas, gersang dan kosong, atau mungkin entah karena memang anak perempuan itu memiliki suara tinggi hingga delapan oktaf.
Waktu itu, Gema memandanginya dengan tatapan sinis, heran, dan aneh. Namun tanpa disadari, ia telah menyunggingkan senyum ketika anak perempuan itu menambah teriakannya dengan tepuk tangan yang keras.
"Kalau udah besar, lo mau jadi pemain bola ya, kan?"
Mendengarnya saja, Gema merasa pertanyaan itu langsung mengantam sisi terdalam dirinya. Maka, Gema menggeleng. "Mama bilang, dokter nggak nyaranin gue buat olah raga yang berlebihan, itu artinya jadi atlet bukan cita-cita yang cocok buat gue."
"Oh, ya?" Kedua alisnya naik, dan Gema menyukai ekspresi polos gadis itu. "Tenang aja, lo masih punya banyak waktu buat tentuin apa cita-cita lo. Gue aja ganti cita-cita gue setiap hari."
"Emangnya boleh kayak gitu?"
"Boleh dong, cuma Papa bilang, suatu saat nanti, lo harus berhenti punya banyak cita-cita dan fokus sama satu tujuan."
"Cita-cita lo hari ini apa?"
"Photographer!" Suaranya keras, ada semangat yang terkandung dalam nada bicaranya. "Eh, gue hampir lupa! Tadinya gue mau minta lo fotoin gue."
"Apaan?" Saat itu Gema masih kebingungan, tapi ketika anak perempuan itu menyerahkan kamera polaroid itu padanya. Gema tidak bisa menolak.
"Di situ, ya?" Tunjuk gadis itu, kemudian mendekati sebuah semak kecil yang ditumbuhi bunga-bunga yang kebetulan sedang mekar sore ini.
Gema terdiam cukup lama, memandangi kamera polaroid di tangannya cukup lama, lalu menatap anak perempuan yang saat itu sudah siap berpose di depan lensa. Gema terpaku pada senyum manis anak itu, rasanya ia seperti bocah t***l. Namun kalau boleh jujur, Gema bisa saja menyamakan anak perempuan itu dengan sinar matahari sore ini. Bersinar dan hangat.
Gema baru berkedip ketika orang yang sedang ia pikirkan ternyata benar-benar menghampirinya. "Lo belum pernah pegang kamera, ya? Sini gue ajarin, jadi ini tuh buat—"
"Udah tau!" Potong Gema, cepat. "Papa punya banyak yang kaya beginian. Sana lo cepetan! Abis ini gue mau pulang, nih."
"Yee, galak banget, sih." Gerutunya, lalu kembali ke tempat semula, berdiri di depan semak dengan beberapa bunga liar yang sedang bermekaran dan mulai tersenyum dengan giginya yang sudah tumbuh sempurna.
Gema mulai mengangkat kamera polaroid itu ke wajahnya, untuk melihat objek dari viewfinder. Namun tiba-tiba saja objek yang akan difotonya berpindah tempat. "Eh, sebelah sini, deh. Disitu banyak sampah, Ntar keliatan jelek."
Gema memutar bola mata, lalu kembali menyiapkan kamera polaroid itu di wajahnya sebelum mulai memotret. Baru ketika Gema akan menekan tombol shutter, anak perempuan itu bergerak lagi. "Sebelah sana dikit, deh. Eh atau di situ—"
"Udah diem disitu! Jangan pindah-pindah lagi! Sama aja."
Lo sama aja tetep cantik, tambah Gema dalam hati.
"Iya, Iya.." Anak perempuan itu menyerah, menghentikan gerakannya untuk berpindah ke tempat lain. Lalu mulai berpose ketika melihat Gema mendekatkan mata kanannya pada viewfinder untuk ke sekian kalinya.
"Satu... dua... tiga..."
Setelah menghitung mundur, kemudian terdengar suara shutter.Gadis berambut hitam kecokelatan itu menghentikan posenya dan berjalan mendekat ke arah Gema sampai selembar kertas foto keluar dari bagian atas kamera polaroid itu. Gema mengambilnya dengan hati-hati, mengibaskannya sejenak sampai lembaran hitam itu berubah menjadi rangakaian warna. Lalu, Gema memberikannya pada anak perempuan dihadapannya.
"Nih," Saat dia meraih selembar foto itu, senyumnya kembali mengembang, bahkan lebih lebar dari senyumnya yang tercetak di foto.
"Ih, keren," Pujinya, dan hal itu nyaris membuat Gema tertegun untuk beberapa saat. "Hasilnya bagus! Gue suka! Makasih, ya?"
Gema mengangguk, lalu menyerahkan kembali kamera polaroid itu pada pemiliknya yang masih memuji betapa cantik dirinya sendiri dalam selembar foto itu. Anak itu kemudian mengalihkan perhatiannya dan mengangkat wajah untuk menatap Gema lama, lalu menyerahkan lembar foto polaroid itu pada anak laki-laki yang masih termenung tanpa ekspresi. "Nih, buat lo."
"Apa?"
"Ini, fotonya lo simpen aja." Katanya, lalu menempelkannya pada telapak tangan Gema, karena ia tak kunjung menerima pemberiannya. "Jangan dibuang, ya! Awas aja kalo nanti gue nemuin itu di tempat sampah."
"Kok gue yang nyimpen?"
"Karena di foto itu gue keliatan cantik! DAAAN, HARI INI GUE ULANG TAHUN!!" Katanya penuh semangat, namun hanya dibalas kerutan dahi oleh Gema.
"Lah, Terus kenapa—" Gema belum menyelesaikan kalimatnya sampai seorang Pria berkemeja putih menghampiri mereka berdua.
"Ayah?" Pria itu tersenyum, ke arah anak perempuan di hadapannya sekaligus ke arahnya. Gema tidak heran ketika ia memanggil pria itu dengan sebutan ayah, karena gadis itu langsung menempel erat pada seseorang yang baru bergabung di perbincangan singkat mereka. "Gimana? Mobilnya udah bisa jalan?"
"Udah, kok. Dari tadi Papa cariin kamu, ternyata di sini." Kata Pria setengah baya yang kini berdiri diantara mereka. "Kita pulang sekarang, ya. Keburu malem, kamu juga besok harus masuk sekolah, kan?"
Saat gadis itu mengangguk, ada sorot kekecewaan terpancar dari matanya. "Gue pulang dulu, ya."
"Pulang kemana?" Tanya Gema, polos. "Rumah lo emang bukan di sini?"
Mendengar itu, anak perempuan di hadapannya tertawa singkat. "Kan tadi udah bilang, gue tinggal di Tangerang. Lo kalo mau main, kesana aja pake sepeda! Gue tunggu, hehe."
Pria itu menggandeng anak perempuannya, lalu mengusap rambut Gema ramah. "Nanti, ya. Kalian main lagi kalo ketemu."
"Iya, rumah Oma gue di komplek sini! Ntar kalo gue main ke rumah Oma, kita ketemuan di sini, ya?" Kata anak perempuan itu, menambahkan.
Entah mengapa, saat itu tidak ada yang bisa Gema lakulan selain mengangguk. Hatinya tiba-tiba seperti sedang menahan beban ketika lambat laun, Pria itu menggandeng anak gadisnya menjauhi lapangan dan menghilang dari jarak pandang Gema. Percakapan mereka memang tak lebih dari belasan menit, namun meninggalkan efek hingga berhari-hari.
Sejak sore itu, Gema selalu berharap bisa menemui anak perempuan itu lagi. Dan ketika permintaannya terkabul, mereka bertemu di halaman belakang rumah sakit beberapa hari yang lalu. Ternyata, gadis polos yang penuh aura positif itu ternyata sudah berubah menjadi gadis arogan dan pesimis.
Padahal ia tak tahu, bahwa kata-kata bijak yang ia lontarkan saat pertama kali mereka bertemu begitu membekas dipikiran Gema, sekaligus merubah cara pandang Gema terhadap hidup, terhadap dunia.
"Orang kayak lo itu harus sering rileks dan have fun."
"Boleh dong, cuma Papa bilang, suatu saat nanti, lo harus berhenti punya banyak cita-cita dan fokus sama satu tujuan."
Segelitir kalimat itu terus menerus membayangi otaknya. Bentuk katanya sederhana, namun berhasil menekan sisi paling inti pada dirinya. Gema memandangi potret wajah seorang anak perempuan pada cetakan foto polaroid itu sekali lagi, bahkan kali ini ia berusaha tidak berkedip.
"Duh, nama lo siapa, sih?!" Gema memukulkan lembar polaroid itu berulang-ulang pada kepalanya. Berharap ia akan mengingat sesuatu, mungkin saja anak perempuan itu sempat menyebutkan nama tapi Gema sedang tidak menyadarinya.
Aksinya langsung terhenti ketika seorang wanita yang sudah mengenakan piyama tidur membuka pintu kamarnya. Gema langsung menoleh ke arah pintu dan tersenyum kikuk ke arah Sandra. "Eh, Mama?"
Saat Sandra mendekat, Gema lansung menyelipkan selembar foto polaroid itu pada buku matematika-nya, dan menerima segelas s**u vanilla hangat dari wanita itu. "Rasa vanilla, lagi?"
"Kenapa, nggak enak, ya?" Tanya Sandra, sambil mengelus pucuk kepala putra semata wayangnya. "Besok, deh. Mama janji, bakal ganti rasa. Soalnya sayang s**u vanilla yang ini belum abis."
Gema mengangguk, lalu tanpa basa-basi lagi anak laki-laki itu langsung menghabiskan s**u vanillanya sampai tetes terakhir dan menyerahkan kembali gelas kosong pada Sandra. "Papa nggak pulang ya, Ma?"
Sandra hanya tersenyum, tapi Gema bisa menyerap kerapuhan di ekspresi wajahnya. "Papa sibuk, sayang. Banyak job diluar kota."
"Ya elah, kenapa nggak buka studio foto di rumah aja, sih? Jadi, nggak perlu keluar kota buat pemotretan sana-sini!" Gema menggerutu, lalu ekspresi wajahnya kembali melembut saat menatap Sandra. "Mama tidur sendiri, dong?"
Sandra hanya mengangkat kedua bahunya. "Nggak papa, kok. Kamu tidur gih, udah malem. Bukannya ngerjain PR! malah liatin apaan tadi, tuh?"
"Enggak, bukan apa-apa." Gema segera menyingkirkan buku matematika miliknya dari meja dan menumpuknya dengan buku lain. "Mama kalo takut tidur sendirian, tidur di sini aja."
"Ah, ini mah kamu kali yang takut?"
"Ye, malah ngebalikin. Mau nggak, nih?"
Sandra mengacak rambut Gema gemas. "Enggak usah, Mama tidur di kamar aja. Kamu cepetan tidur, besok Mama berangkat lebih pagi soalnya ada kelas tambahan."
Gema memutar bola matanya. "Ya udah kalo gitu, terserah."
"Have a nice dream my prince!" Bisik Sandra, sebelum benar-benar membuka pintu kamar Gema dan keluar dengan gelas kosong di tangannya.
"Yeah, good night my queen!" Balas Gema.
Malam itu, sama seperti malam biasanya. Rumah ini hanya di huni oleh dua orang yang bahkan tidak selalu menghabiskan waktu penuh di dalam rumah. Sandra tidur sendiri, Gema juga. Anak laki-laki itu harus memisahkan diri dari kamar orang tuanya ketika berumur sepuluh tahun dan mulai belajar untuk tidur sendiri.
Untuk Sandra, Gema adalah pangeran kecilnya. Dimata Sandra, Gema masih anak kecil yang butuh pelukan hangatnya setiap waktu tak peduli meskipun nanti tinggi badannya akan bertambah. Dan bagi Gema, Sandra adalah seorang ratu.
Sandra adalah seorang ratu yang selalu menangis setiap malam, berharap bahwa sang raja akan cepat kembali ke singgasana dan mengisi kekosongan yang selalu ia rasakan. Gema selalu tahu, Mamanya menangis setiap malam karena menunggu kabar dari Papanya yang bahkan Gema sendiri tidak tahu persis apa yang pria itu lakukan di luar sana.
Tepat ketika pintu kamarnya tertutup, Gema menghela napas, lalu ia kembali membuka buku matematikannya dan mengambil sebuah lembar polaroid yang tadi sempat ia selipkan. Sekali lagi, matanya memandangi potret wajah anak perempuan itu dan kali ini cukup lama. Sampai akhirnya, Gema mengambil sebuah spidol oranye dan menuliskan sesuatu di balik lembar foto polaroid itu dengan tulisan tangannya yang berantakan.
hey buat lo yang di sana, gue yakin, gue bakal tau nama lo kalau kita ketemu lagi suatu hari, di suatu tempat.
p.s. selamat ulang tahun meskipun udah lewat tanggalnya, hehe. lo polos, tapi sekarang galak sih, eh tapi tetep cantik lah;) —nama gue, Gema.
***
.
.
Jakarta, 2016.
"Baso satu mangkok ya, Pak!"
"Lo beli apaan?"
Yang ditanya langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling berusaha menentukan menu makanan apa yang akan mengisi perutnya siang ini. Kebetulan, kantin tidak terlalu padat di jam istirahat kedua dan hanya di waktu seperti ini Amanda bisa makan dengan tenang.
"Bakso juga, deh. Tapi di bening, sama Es Teh manisnya satu." Kata Amanda, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku seragam.
"Lagi nge-chat siapa, tuh?" Tsabina, teman sebangku sekaligus bestie-nya dari SMP itu memandangi Amanda dengan tatapan penuh selidik.
Amanda kemudian memiringkan ponselnya supaya gadis itu tidak bisa melihat layarnya. "Kepo,"
"Ya elah, nggak salah lagi dah. Bang Gema, kan?"
Amanda melotot, "Ih dibilangin! Jangan manggil abang! Dia bukan tukang ojek!"
"Apa bedanya anjir, dia suka nganter-jemput lo gitu tiap hari. Kalau bukan tukang ojek ya apaan? Sopir Gr4b? atau abang G0-jek?"
"Terserah lo, ah rese!" Sungut Amanda, ia masih tetap memainkan ponselnya tanpa memperdulikan ocehan Tsabina yang duduk di hadapannya.
"Lagian ya, dia kapan nembaknya, sih? Kalian tuh udah kayak orang pacaran, tapi giliran ditanya status malah jawabnya nggak tau," Tsabina mulai mengomel lagi. "Dari jaman waktu masih MOS sampe sekarang udah berapa bulan, tuh? Masa belum ada status juga, sih? Cowok-cowok udah ngantri buat lo, tapi lo nya aja masih kekeh sama Bang Gema!"
"Sembarangan banget kalo ngomong! Lo kira gue beras raskin apa? sampe banyak yang ngantri! Gue nggak sereceh itu!"
"Ya maksud gue tuh, harusnya dia jadi cowok juga mikir! Yang mau sama lo itu banyak, jadi kudu cepet diresmiin, Biar jelas! Kalo kata Nyokap gue nih, cowok itu harus gercep. Kalo yang lelet itu dia nggak gentle, alias lekong," Kata Tsabina dengan nada sinis. Rasanya Amanda ingin menjahit bibirnya seperti hantu papan Ouija. "Terus, emang lo nggak takut apa? Kalau dia taunya kepincut sama cewek lain? Dia ganteng, coy! Banyak yang demen"
"Jangan ngomong gitu, ah!" Amanda menyimpan ponselnya di meja ketika pesanan mereka di antar oleh pemilik kios kantin, ia tersenyum sekilas sampai orang itu pergi. "Gue nggak mikir macem-macem, sih. Jadi positif aja, dan lagi pula, apa pentingnya status kalau kita udah tau hati masing-masing?"
Tsabina memutar bola matanya. "Status itu mengikat, maksudnya bukan dalam artian mengekang lo buat kenal sama cowok lain. Tapi seenggaknya dengan status, resiko lo buat kena php itu lebih kecil. Modal kepercayaan doang itu nggak ngejamin apa-apa. Kalo hubungan tanpa status kaya gini, lo nggak punya hak marah kalau seandainya nanti Gema punya cewek lain!"
Amanda memotong baksonya menjadin dua bagian, lalu berdecak. "Ah, bodolah! Lo jadi bikin gue mikirin yang enggak-enggak, Bin!"
"Gue, sih cuma ngingetin. Sebagai sahabat lo yang cantik dan kece ini," Tsabina nyengir, ia kemudian memasukkan bakso yang paling kecil ke dalam mulut, lalu mengunyahnya. Matanya langsung membola ketika melihat dua orang laki-laki yang mulai berjalan melintasi meja dan kursi kantin yang berjajar, ia pun menendang kaki Amanda di bawah meja. "Eh, siapa, tuh?"
"Mana?" Amanda melihat ke sekitar, lalu begitu lensa matanya menangkap objek yang sama dengan apa yang dilihat Tsabina, gadis enam belas tahun itu langsung mengambil tissue dari wadah dan mengela bibirnya yang sedikit berminyak.
Seperti perkiraan, Gema dan Arbani berjalan ke arah mereka berdua. Amanda menarik gelas es teh manisnya, dan menyeruputnya untuk menutupi rasa gugup yang terlalu kentara. Kalau ada Gema, sebisa mungkin Amanda harus tetap stay cool.
Gema tersenyum, lalu mengacak rambut Amanda dan mengambil kursi dari meja sebelah untuk duduk di sampingnya. "Bakso boleh juga, tuh."
"Nih," Amanda tertawa kecil, lalu mendorong mangkuk baksonya ke arah Gema, membiarkan Gema mencomot makan siangnya. "Kok ke kantin? bukannya barusan di chat bilang lagi ngerjain tugas, ya?"
"Laper gua," Kata Gema, sambil berusaha menelan kunyahan bakso dalam mulutnya. "Ohiya, ntar gue nggak bisa nganterin lo balik, dah."
"Iya, nggak papa," Amanda mengangguk, penuh pengertian. "Eh, emang mau kemana? ada kerja kelompok, ya?"
"Bukan, tapi Mama minta jemput hari ini."
"Oh, gitu." Amanda mengangguk sekali lagi, dan menarik mangkuk baksonya kembali.
"KACANG, KACANG, KACANG!" Tiba-tiba perhatian Gema dan Amanda teralih dengan seruan Arya yang cukup keras dengan nada menyindir. Gema memutar bola matanya, ia lupa bahwa ia ke kantin bersama Arya tadi.
"TELOR, TELOR, TEL—Adaw! Sakit, anj4y!" Tsabina mengelus betisnya yang ditendang Amanda di bawah meja. Tak peduli bahwa kini Amanda melotot padanya dengan tatapan maut.
"Gue ke kantin mau nyetor ke perut, bukan mau liatin orang yang lagi ngapel!" Arya mulai menggerutu, lalu saat itu juga Gema langsung berdiri dari kursinya.
"Bacot lu!" Gema meninju perut Arya pelan. Ia kemudian tersenyum pada Amanda. "Udah, ya gue mau beli somay dulu, babon sebelah gue emang rada bawel kalo lagi laper."
Amanda hanya tertawa, sementara Tsabina berusaha mengabaikan mereka dengan fokus pada bakso isi telurnya. "Eh, lo nggak makan di sini?"
Gema yang sudah melangkah dan mendorong bahu Arya akhirnya kembali berbalik, "Enggak, gue makan di kelas aja. Tugas Ekonomi gue belum selesai soalnya."
"Semangat!" Seru Amanda, ia berhasil menarik perhatian hampir seisi kantin dan Gema membalasnya dengan acungan jempol dan senyum yang sangat lebar.
"Jijik lo, iyuh!" Amanda melotot ketika tiba-tiba rambutnya ditarik usil dari belakang, lalu ketika mencari siapa pelakunya, ia menemukan seorang anak laki-laki yang setingkat dengannya sedang meledek Amanda dengan menepuk p****t dari kejauhan.
"Brengs3k, Nichol!"
"Si anj1r, HAHA." Tsabina justru ikut tertawa, sebelum akhirnya ia tersedak bakso yang belum sempat ia kunyah.
"Sukurin!" kata Amanda, ia tak membiarkan Tsabina meminum es teh manisnya meskipun wajah sahabatnya itu sudah memerah dan matanya berair. Namun pada akhirnya Tsabina berhasil merebut minuman itu, dan Amanda juga membiarkannya.
"Jahat lo anjyr, kalo gue mati keselek gimana?" omel Tsabina, ia menepuk-nepuk dadanya karena merasa masih ada yang mengganjal pada kerongkongannya.
"Ya ngga papa, malah lebih bagus kalo masuk Line T0DAY. Terus headline-nya, seorang siswi SMA mati karena keselek bakso di kantin. Gue, sih bangga, temen gue ada yang masuk Line T0DAY." Kata Amanda, enteng.
"Apaan, dah? Receh banget lo!"
.
(TBC)