02. Bumped Into Her

3022 Kata
"Do you ever wish you had a second chance to meet someone again for the first time?" . . . Sudah sekitar satu jam lebih, hujan mengguyur. Beberapa saat deras, kemudian sedikit mereda, lalu kembali deras seperti sekarang. Langit Jakarta terlihat mendung saat wanita yang kini sudah berkepala empat itu memandangnya lewat sebuah dinding kaca yang berembun akibat hujan di luar sana. Pesan singkat terakhir dari Gema yang diterima, katanya ia sedang dalam perjalanan ke sini, namun anak lelakinya itu belum juga menampakkan batang hidungnya. "Duluan ya, San." Seorang wanita menepuk pundak Sandra sembari tersenyum ke arahnya, sebelum akhirnya kembali fokus menuntun seorang perempuan tunanetra yang sedang memegang tongkatnya. "Eh iya, Mbak Hana. Hati-hati, ya." Sandra balas tersenyum ramah. "Tumben kamu yang jemput, sopirnya mana?" Wanita berambut pendek yang di panggil Hana itu menoleh sebentar. "Sopirnya lagi pulang kampung, katanya anaknya yang di sana sakit. Jadi di rumah sepi, San. Kapan-kapan ayo main ke rumah!" "Iya, iya! Ntar saya sempetin, deh!" Kata Sandra. "Loh, Han. Diluar masih hujan deres gitu. Yakin mau pulang sekarang?" "Mau gimana lagi? Habis nganterin Alga ke rumah, harus ke kantor lagi. Masih ada meeting." Sandra mengangguk paham, "Oh gitu? Ya udah, hati-hati ya nyetirnya." "Duluan ya, San." Hana pamit sekali lagi. Lalu merangkul bahu anak perempuannya dan menuntunnya menuju pintu keluar. Sandra sempat melihat Alga tersenyum sambil menundukkan kepala sopan meskipun ke arah lain, namun Sandra yakin sikap itu ditujukan kepadanya. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil jazz hitam berhenti di area parkir. Tak lama seorang laki-laki dengan kemeja flanel merah keluar dari dalam sana dengan sebuah payung kuning untuk sampai ke pintu utama. Gema dapat melihat Sandra melambaikan tangan ke arahnya dari dalam gedung sekolah musik itu. Karena terlalu semangat, Gema berjalan cepat, menyimpan payung di tempat khusus penyimpanannya dan membuka pintu hingga tanpa sengaja menabrak bahu seorang perempuan dan membuat sesuatu di tangannya jatuh ke lantai. Sebuah tongkat. Gema dengan gesit langsung mengambil tongkat itu dan memberikannya pada tangan perempuan yang tadi ia tabrak. "Sorry, tadi nggak sengaja." Perempuan itu hanya mengangguk, Gema tak bisa melihat ekspresi apapun dari wajahnya karena rambut hitamnya menjuntai menutupi sebagian area pipinya. Gema pun gantian tersenyum sopan pada wanita berambut pendek yang menuntun perempuan tadi dan Gema bersyukur karena wanita itu membalas senyumnya. Lagipula, Gema benar-benar tidak sengaja menabrak perempuan yang sepertinya juga hendak keluar dari gedung lewat pintu utama. "Kamu kalau jalan hati-hati, ah! Liat tuh jadi nabrak orang gitu!" "Iya tadi kan udah minta maaf, Ya elah... lagian nggak sengaja juga." "Nanti lagi kalau jalan pelan aja, nggak usah rusuh kayak tadi." Gema hanya memutar bola mata mendengar omelan Mamanya itu, tanpa basa-basi lagi Sandra melangkah keluar diikuti Gema yang berjalan di belakangnya. Wanita itu mengambil payung yang tadi dibawa Gema dari tempat penyimpanan, dan merangkul anak lelakinya itu agar bisa terlindungi dari rintik hujan. Karena tinggi Gema yang kini lebih unggul, Gema harus menunduk karena Sandra memegang payung itu lebih rendah. Gema kemudian mengambil gagang payung itu dari tangan Sandra dan gantian merangkul Mamanya untuk sampai ke dalam mobil. "Udah biar Gema aja yang pegang, Ma." Gema mengantar wanita itu sampai menghampiri pintu kiri mobil. Wanita itu tidak terkena basahan karena hujan sudah mulai mereda dan tidak sederas tadi. Saat masuk ke dalam mobil, Ia mendapati anak tunggalnya itu juga langsung masuk, menutup pintu lalu menyimpan payung yang basah itu di jok belakang. Ia kemudian beralih memilih lagu dari ponsel yang terhubung dengan tape mobil. "Udah makan belum?" Tanya Sandra, suaranya tidak kalah dengan suara musik yang mulai mengalun dari tape. "Udah, kok tadi." Jawab Gema, sembari mulai memutar setir dan sesekali melirik kaca spion. Ia meluncurkan mobilnya untuk membelah jalanan Ibukota yang seperti biasanya menjadi langganan macet, belum lagi setelah hujan turun—membuat beberapa jalan di tutup karena banjir. "Obatnya udah diminum?" "Udah, pas tadi abis makan." Jawab Gema, Lalu detik selanjutnya Sandra mengangguk lega dan mulai menaruh perhatiannya pada kaca mobil. "Gimana di sekolah?" Gema menoleh, melirik Sandra yang kini mulai mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas-nya. Gema tahu betul, Sandra suka membaca buku entah itu buku tentang musik, novel fiksi atau ensiklopedia lain. Bahkan di dalam dashboard mobil ada beberapa buku yang masih tersimpan. "Ya gitu, tadi dapet tugas ekonomi banyak banget. Ehiya, tadinya sih kalau nggak jemput Mama, aku bisa pulang bareng Amanda." Sandra mengalihkan pandangannya sejenak dari sebuah novel chick-lit yang sedang ia baca, "Terus gimana? dia pulang bareng siapa, dong?" "Aku udah minta tolong Arya buat nganterin. Soalnya dia bilang sopirnya lagi pulang kampung, dan nggak ada yang bisa jemput." "Iya emang, tadi Tante Hana bilang gitu." Gema mengerutkan keningnya, "Tante Hana siapa, Ma?" Mendengar itu, Sandra langsung menutup novelnya setelah menandai bagian terakhir yang ia baca. "Ih, masa kamu nggak tau Tante Hana?" "Siapa emang?" "Itu Mamanya Amanda, ih gimana, sih?" "Ya mana aku tau kalau namanya Hana, ketemu aja nggak pernah." "Jadi selama kamu nganter jemput Amanda ke rumah belum pernah salim sama Mamanya?" "Orangnya jarang di rumah kali, soalnya tiap aku kesana itu cuma ketemu Amanda sama orang-orang yang kerja di rumah dia." Kedua alis Sandra bertaut, "Ah, masa? Sesibuk-sibuknya Tante Hana, dia itu pasti ada di rumah. Kamu kali nggak pernah main ke rumah Amanda, cuma nganter-jemput doang, iya kan?" Gema menggaruk belakang lehernya, "Hehe, iya sih. Abisnya gimana, aneh aja gitu main di dalem rumah cewek." Sandra tertawa remeh, "Ya selama kamu nggak macem-macem nggak ada salahnya masuk aja ke dalem kalo emang disuruh, salim sama orang tuanya biar keliatan sopan. Jangan cuma nganter-jemput terus kalo main di luar. Kali-kali main di rumah Amanda juga." "Ngapain, ah. Gabut kalau main di dalem rumah doang. Mendingan juga nongkrong, makan, jalan malam mingguan gitu jadi kan nggak ngebosenin!" Sandra memutar bola matanya, lalu kembali membuka halaman novel yang sudah ia tandai beberapa saat yang lalu, "Emang, ya. Pacaran anak jaman sekarang udah beda." "Aku nggak pacaran," Gema mengkoreksi. Ia menginjak tuas rem ketika sampai di perempatan lampu merah. Sandra mengangkat wajahnya, menatap Gema dengan tatapan penasaran. "Serius kamu?" "Enggak, aku sama Amanda nggak pacaran. Kita yaa... cuma deket." "Kenapa?" Sandra mengangkat kedua alisnya, "Mama nggak ngelarang, kok. Selama itu nggak ngaruh sama nilai kamu di sekolah." Gema tersenyum samar, ia menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Di atas sana, masih tertera angka sekitar 110 hitungan mundur sampai lampu merah nanti akan berubah hijau. "Ya enggak aja." Mendengar itu, Sandra menghela napas. "Mama, sih nggak mau ikut campur. Cuma, ya... saran Mama kamu jangan biarin hubungan tanpa status kaya gini itu terlalu lama. Nggak baik loh, nak. Kasian Amanda juga, perempuan itu butuh kepastian. Apalagi kalian udah deket lumayan lama." Gema sebenarnya mendengarkan nasihat yang Sandra berikan, ia bukan anak yang menganggap setiap perkataan ibunya itu hanya angin selewat, Gema selalu mencernanya dan Sandra juga tahu, diamnya Gema bukan karena anak itu tidak mendengarkan kalimatnya. Gema sedikit terkejut, ketika kaca mobilnya di ketuk pelan, laki-laki itu menurunkan kaca mobilnya dan memberi seorang pengemis yang masih bisa diperkirakan berumur belasan tahun itu dengan uang receh yang sering ia taruh di dashboard mobil, biasanya Gema menggunakan uang receh itu untuk membayar tukang parkir liar di jalanan. Pengemis itu pergi setelah Gema memberinya uang koin seribu perak dan kembali menaikkan kaca mobilnya. Melihat itu Sandra mencibir, dan mulai berkomentar, "Yang kaya gituan mah nggak usah dikasih, ntar malah jadi makin males cari kerja!" Gema menolehkan kepalanya sebentar, "Ya Allah, Ma... pelit banget, sih. Yang namanya rejeki itu makin ngalir kalau kita sering sedekah." "Eee, bukan pelit itu namanya ngedidik!" Omel Sandra, ia mulai berapi-api. "Umur segitu tadi sebenernya masih bisa sekolah. Mama liat juga badannya masih normal, nggak cacat apa gimana-gimana. Kalau emang nggak ada biaya buat sekolah, ya cari kerja yang layak! Itu emang udah dasar anaknya males aja. Paling ntar uang yang tadi kamu kasih buat beli lem aibon tuh!" Gema menggosok-gosok telinganya yang mulai panas, "Ah, udah deh! Mama berisik banget hari ini! Mau menopause apa, ya?" Sandra langsung melotot, ia kemudian memukulkan novel cukup tebal yang sedang ia pegang ke kepala Gema dengan pukulan pelan. "Sembarangan kamu! Umur Mama masih empat puluhan ya! Masih seger gini dibilang mau menopause!" "Ya lagian, ngomel-ngomel terus kaya udah punya anak cucu lima! Tuh, kalau mau ngomel sama pengemis yang tadi! Bukan sama Gema!" Protes Gema sambil mengusap kepalanya. Sandra menarik napasnya, ia berusaha mengendalikan diri agar tensi darahnya tidak naik. Bisa-bisa kulitnya keriput kalau sering terpancing emosi seperti sekarang ini. "Mama cuma kadang kesel aja, nggak ngerti sama anak yang suka mangkal di lampu merah kaya gitu! Dikasih badan sehat tanpa cacat bukannya sekolah! Coba liat tuh Alga, biarpun tunanetra, punya kekurangan, tapi semangat belajarnya tuh masih ada! Heran Mama sama anak itu, optimis banget!" Gema memutar bola matanya, lalu kembali memegang setir kemudi dan melajukan mobilnya ketika tak terasa lampu merah sudah berubah menjadi hijau. "Alga siapa lagi, dah?" "Itu, tuh... murid di kelas Mama! Dia padahal nggak bisa liat, tapi main pianonya bisa ngelebihin orang-orang normal." Gema menolehkan kepalanya sejenak, "Emang bisa main piano sambil nggak liat partitur musiknya?" "Bisa lah, itu dia buktinya udah hampir dua tahun setengah masuk kursus musik di tempat Mama bisa kok ngikutin," Kata Sandra, entah mengapa sebagai guru yang membimbing anak itu sendiri ia merasa bangga. "Ketajaman feeling, itu yang paling penting!" "Umur berapa? Pasti masih anak-anak, kan? Wajarlah, biasanya anak kecil lebih gampang buat belajar." Gema berkomentar. "Eh enggak, kata siapa? Dia seumuran sama kamu, kok kalau nggak salah," Sandra mengoreksi. "Mama masih inget, dulu waktu nganter kamu MOS SMA itu pas Alga daftar buat ikut kursus di tempat Mama!" "Emang iya?" Tanya Gema meyakinkan. "Orangnya yang mana, sih? kok aku nggak pernah liat?" "Ah, kamu! Boro-boro Alga yang nggak pernah keliaran di gedung kursus, staff sesama guru musik di sana yang suka mondar-mandir aja kamu nggak kenal!" "Ya nggak ada untungnya juga buat aku ngapalin muka sama nama orang di sana kali, Ma." Gumam Gema, matanya masih fokus pada jalanan yang lenggang kali ini. Gema tadinya ingin membahas lebih lanjut. Namun ia terlalu malas jika nanti Sandra malah membahas hal yang lebih tidak penting. Jadi Gema lebih memilih untuk diam, meskipun dalam dirinya ada rasa penasaran yang membuncah. Sandra kembali melanjutkan bacaannya yang sempat dijeda karena sibuk berdebat dengan Gema selama diperjalanan. Wanita itu bahkan tidak menyadari bahwa Gema sebenarnya sudah berpapasan dengan dua orang yang mereka bicarakan hari ini. *** Sama seperti hari kemarin, hari ini mendung. Gema baru saja menyelesaikan catatan sejarahnya ketika Amanda memunculkan kepalanya di ambang pintu kelas yang sudah kosong kecuali tinggal Gema seorang yang tersisa. Laki-laki itu tertawa manis, ia langsung semangat membereskan bukunya, lalu keluar sambil menggandeng Amanda ke parkiran. "Langsung pulang, ya? Keburu gerimis, gue nggak bawa jas hujan soalnya." Kata Gema, sambil memakaikan helm pada kepala Amanda dan mengaitkan pengait yang ada di bawah dagu gadis itu. "Udah?" "Udah, sip." Balas Amanda, setelah ia menemukan posisi yang nyaman untuk duduk di boncengan motor Gema. Sekolah sudah mulai sepi karena jam menunjukkan hampir pukul lima sore. Amanda baru saja menyelesaikan kegiatan OSIS-nya yang kali ini lebih sibuk, dan sekedar informasi, ia baru saja dilantik menjadi Sekertaris I di masa bhakti tahun ini. Gema pernah ada di organisasi yang sama, ia pernah menjadi Wakil Ketua OSIS pada masanya, dan sekarang ia sudah lengser karena kelas 12 memang sudah semestinya fokus pada Ujian Nasional yang akan datang kurang dari empat bulan lagi. "Gue ngebut, ya? Gerimisnya udah mulai kenceng, nih." "Iya, Kak. Ngebut aja, bentar lagi nyampe sih." Kata Amanda, ia mengeratkan sweater tipis yang ia kenakan karena ternyata rintik hujan sudah mulai turun lebih banyak. "Mau neduh dulu nggak, nih?" Tanya Gema, ia mengeraskan suaranya yang mulai teredam oleh bising jalan raya dan suara hujan. "Lo gimana?" "Gue, sih nggak papa. Lo yang gimana? Takutnya kalo gue terusin lo nanti malah sakit." "Udah tanggung lagian, nggak papa terusin aja. Bentar lagi nyampe, kok." Seperti dugaan, begitu Gema menghentikan motornya di halaman rumah Amanda mereka dalam keadaan basah kuyup. Amanda langsung turun dari boncengan Gema dan berlari ke arah teras lalu memanggil Bi Endah untuk membawakan mereka handuk. Gema langsung menyusulnya setelah mencabut kunci motor. "Lo basah banget, Kak?" Gema melihat dirinya sendiri, ia pun mengangguk. "Iya lumayan, lah. Tapi nggak papa, ntar di rumah langsung ganti baju." "Mending lo ganti baju di rumah gue aja, hujannya masih deres. Lo pasti nunggu lama, daripada ntar masuk angin, lo masuk dulu aja deh." Gema mengacak rambutnya yang basah dan mulai lepek. "Engga, Engga usah. Di rumah aja, malu gua." "Ya elah, kayak ke siapa aja, sih! Lo ganti baju juga gue nggak bakal liatin kali!" "Bukan gitu, anjir." Gema tetap keras kepala. "Beneran gue nggak papa, gue ganti di rumah aja." "Ini, Neng. Handuknya." Bi Endah keluar dengan dua buah handuk kering dan memberikannya pada Amanda. "Pada masuk ke dalem dulu aja atuh, ntar saya bikinin teh anget." "Tuh, dengerin!" Kata Amanda, ia berhenti menggosok-gosok rambutnya yang basah dan menarik tangan Gema. "Udah masuk aja! Kali-kali kek main ke rumah gue!" Mau tak mau, pada akhirnya Gema menginjakkan kaki di ruang tamu milik keluarga Amanda untuk kali pertama. Selama delapan bulan mereka saling mengenal, Gema belum pernah sampai duduk di sini. Bisanya Gema akan menunggu di depan gerbang, atau paling mentok duduk di teras rumah Amanda. "Nyokap lo mana?" Kali ini Gema bertanya, ia teringat apa yang Sandra katakan kemarin. "Masih ngantor, pulangnya ntar paling jam tujuhan. Kenapa? Tumben nanyain." Gema menggeleng, ia menggantungkan handuk putih itu di lehernya. "Ya enggak, cuma gue hampir nggak pernah ketemu Nyokap lo aja." "Iyalah, Bunda berangkat duluan sebelum lo ngejemput, pulangnya malem abis lo nganterin gue pulang. Jadi ya wajar aja nggak pernah ketemu," Kata Amanda terus terang. "Eh iya, baju lo basah, kan? Lo nggak bawa baju ganti ya, Kak?" "Enggak," Gema menggeleng. "Makanya gue bilangin, gue ganti baju di rumah aja sekalian." "Nggak, ah jangan," Amanda tetap menolak, ia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas yang kebetulan berbahan waterproof jadi isinya tetap aman. "Apa gue telfon Nichol aja gitu, ya? Suruh pinjemin baju buat lo?" "Dih, apaan, nggak usah!" Gema menggelengkan kepalanya tegas. "Lo pikir rumah Nichol depan rumah lo apa?" "Ya maksudnya, kan lumayan deket gitu di blok sebelah. Gue telfon dia suruh ke sini bawain baju. Jadi lo ntar kalo di sekolah ketemu, lo tinggal balikin aja." "Enggak, ah! Tuh anak mana mau?" "Ya harus mau, lah atau gue aja yang ke rumah dia, nggak terlalu jauh lagian." "Enggak, Amanda. Nggak usah." Kata Gema, penuh penekanan. "Ya terus lo gimana, dong? Masa mau pake seragam basah kaya gini?" "Gue ganti baju di rumah aja, paling bentar lagi juga reda," Gema melirik keluar pintu rumah yang masih terbuka setengahnya. Hujan masih mengguyur pekarangan rumah Amanda, jauh dari perkiraan Gema ternyata hujan justru semakin kencang disertai angin. "Lagian ngerepotin Nichol kalau lo nyuruh dia ke sini, siapa yang butuh, siapa juga yang datengin. Apalagi kalo sampe lo yang nyamperin ke sana pas hujan deres gini, bisa ancur harga diri gue." "Terus giman—" "Aa', Eneng, ini Teh sama Kue-nya mangga atuh ditampi," Bi Endah datang, menaruh dua cangkir Teh hangat dan toples kue kering. Wanita itu mempersilahkan mereka mencicipi suguhan yang ada dengan logat sunda-nya yang kental. "Oh iya! Lo pinjem bajunya Kang Asep aja!" Seru Amanda, ia seperti baru saja mendapat lampu neon di atas kepalanya. Ia melirik Bi Endah yang masih kebingungan. "Boleh, kan Bi?" "Kumaha, neng?" Tanya Mbak Endah, masih kurang paham. Tapi begitu melihat laki-laki jangkung dengan seragam yang lembab membuatnya langsung paham maksud Amanda tadi. "Oh, ya udah atuh,  Pake bajunya Kang Asep aja. Dari pada ntar masuk angin, bisi rariweh." Amanda mengangguk-angguk sambil tersenyum, sementara Gema terlihat ragu, "Nggak papa emang, Bi?" "Nya teu nanaon atuh, kasep!" Bi Endah tertawa kecil, wanita itu kemudian tersenyum lembut ke arah Gema. "Bentar yah, biar saya ajah yang ngambilin." "Pinjemin kaos polos sama celana training aja ya, Bi!" "Siaap, neng!" Bi Endah membalasnya dengan acungan jempol sebelum berbelok ke kamar belakang dekat dengan ruang makan dan dapur. Gema tertawa, ia memang cukup sering melihat Bi Endah di rumah Amanda, namun Gema baru tahu kalau wanita yang umurnya mungkin sama dengan Mamanya itu bisa seenerjik ini. Rumah Amanda pasti ramai dengan adanya orang-orang yang bekerja disini. "Eh, bukannya waktu itu lo bilang sopir lo lagi pada pulang kampung? Anaknya lagi sakit, kan? Kok ini Bi Endah masih ada di sini?" Amanda mengangguk, "Kang Asep emang lagi pulang ke Garut, tadinya Bunda mau biarin mereka pulang barengan soalnya kasian juga anak mereka pasti kangen sama orang tuanya. Tapi Bunda juga mikir lagi, ntar tugas rumah siapa yang ngurusin? Jadinya ya... Kang Asep dulu yang pulang, Ntar kalau Kang Asep udah balik ke Jakarta, gantian Bi Endah yang ke kampung." "Gitu, ya?" Kata Gema, menanggapi. Amanda tersenyum, "Oh iya, lo tunggu di sini ya sampe Bi Endah bawain baju ganti, gue mau ke atas dulu, mau mandi." Gema mengangguk, "Eh, ntar gue ganti baju dimana?" "Di kamar mandi deket dapur aja, nanti juga ditunjukin sama Bi Endah, kok." "Ya udah, sip." Gema mengangguk, paham. Ia kemudian duduk di sofa sambil menunggu Bi Endah. Kurang dari lima menit seorang wanita datang sambil membawakan satu setelah baju ganti untuknya. Gema mengucapkan terima kasih, dan Bi Endah menunjukkan Gema letak kamar mandi supaya ia bisa berganti pakaian. *** Alga melepaskan kedua earphone yang menancap di telingannya selama hampir satu jam. Ia terduduk di sisi ranjang setelah merasakan tenggorokkannya kering. Tangannya secara perlahan meraba pinggiran meja kecil yang sudah ia ketahui letaknya. Alga bisa merasakan kalau piring kotor dan gelas kosong sisa makan siangnya itu masih disana, maka ia membawa keduanya untuk keluar kamar dengan hati-hati. Kebiasannya yang sering berjalan-jalan sendirian di sekitar rumah membuatnya terbiasa, hingga Alga bisa mengetahui dengan tepat kemana arah ruangan yang akan ia tuju tanpa harus menggunakan bantuan tongkat. Matanya boleh jadi sudah tidak berfungsi, tapi yang harus di garis bawahi, indera lain yang ia punya masih berungsi dengan baik. Alga segera menyimpan piringnya di bak cuci piring, tangannya meraba bagian atas keran untuk menyalakan air dan membasuh tangannya disana. Setelah itu ia berjalan tiga langkah ke samping untuk mengambil gelas kosong yang sempat ia simpan di meja pantry. Selangkah ke samping kiri, ada sebuah kulkas, dimana Alga bisa mendapatkan botol air dingin. Gema memutar pintu kamar mandi, ia keluar dengan setelan kaus oblong dan celana training hitam. Pakaian milik Kang Asep itu terlihat pas di tubuhnya. Laki-laki itu kemudian menggosokkan telapak kakinya pada keset beberapa kali sebelum kepalanya mendongak kedepan dan menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang—nyaris membuat dadanya nyeri karena saking kagetnya—ketika melihat sosok perempuan dengan rambut sebahu memunggunginya. Baru setelah perempuan itu membuka kulkas, Gema percaya kalau dia adalah manusia. Maksudnya, bukan mahkluk ghaib yang baru saja memenuhi pikirannya. Gema diam di tempat, tidak menggerakkan kakinya sama sekali, kecuali tatapan matanya yang terus bergerak mengikuti kemana perempuan itu melangkah. Dan sejauh ini, entah Gema yang merasa dia pura-pura tidak menyadari keberadaannya, atau memang benar-benar nggak sadar kalau ada seorang laki-laki yang berdiri sekitar enam meter darinya. Lalu, Gema semakin yakin kalau ternyata dia memang benar-benar tidak melihatnya, setelah Gema mendekat dan melambaikan-lambaikan tangan di depan wajahnya ketika perempuan itu sedang menuangkan botol air dingin ke dalam gelas. Gema terpekur untuk beberapa saat, setelah mengetahui sesuatu, kalau perempuan ini tidak akan pernah menyadari keberadaannya, sebelum Gema bersuara. Namun, ketika dihadapkan dalam dua pilihan, maka Gema memilih untuk tidak bersuara, memandangi Alga yang berjalan bebas melewati tubuhnya tanpa menyadari sesuatu. Lalu ketika tanpa sengaja Alga menabrak dadanya, percakapan pertama mereka pun dibuka. "Amanda?" Gema diam, tidak menjawab. Meskipun ia tahu jawabannya. Perempuan ini, Algania, adalah orang yang selama ini membuat rasa penasarannya bangkit sedemikian rupa. (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN