"It's like deja vu all over again." —Yogi Berra
.
.
"Amanda?"
Gema masih menahan napas dan memilh untuk tetap menutup mulutnya. Perempuan itu mundur selangkah, ketika mencium aroma seorang laki-laki di dekatnya. Alga tidak terlalu mengenali aroma ini, namun ia yakin orang yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki.
"Amanda... kamu udah pulang?" Alga bersuara lagi, ia harus memastikan siapa orang asing yang ada di dapur bersamanya kali ini.
"Amanda nggak di sini." Alga berjengit ketika mendengar suara berat di dekatnya. Perempuan itu mundur selangkah demi selangkah sampai akhirnya berbalik untuk menghindar. "Gue nggak—EH ITU AWAS KESANDUNG!"
Kaki Alga tanpa sengaja menyandung sebuah kursi yang ada di ruang makan, Gema kemudian membantunya berdiri. Tangannya begitu dingin. "Hati-hati, itu belakang lo ada kursi."
Alga hanya mengangguk, lalu berusaha untuk berdiri tegak. "M-Makasih."
"Iya, lain kali hati-hati kalo ketemu gue nggak usah mundur-mundur gitu, gue nggak gigit."
"Maaf, c-cuma gue kaget aja ada cowok di sini. Lo... temennya Amanda?" Tanya Alga, wajahnya masih menunduk, membuat Gema harus ikut menundukkan kepalanya pula agar bisa melihat wajah perempuan ini.
"Iya, nih." Jawab Gema, ia menepuk bahu Alga sekali dan berhasil membuat wajah perempuan itu terangkat. "Kenapa lo nunduk-nunduk gitu, biasa aja kali, gue juga nggak bakal ngapa-ngapain."
Alga menggeleng. "Bukan gitu, gue cuma..." Suaranya mengecil, lalu Alga menarik napas, "Yaudah gue tinggal dulu, deh. Kalau ada apa-apa panggil aja Bi Endah."
Sebelum Alga benar-benar pergi, Gema menarik lengan baju perempuan itu yang sedang mengenakan kaus ungu berlengan panjang. "Kok main tinggal pergi gitu aja? Gue tamu, loh di sini."
Alga mengepalkan tangannya, ia mengulum bibirnya hingga menjadi satu garis lurus. "Ya udah, sih. Kan tadi gue udah bilang, kalau ada apa-apa panggil Bi Endah aja. Selesai."
"Gue mau minum,"
"Emang Bi Endah belum nyuguhin minum?"
"Udah, sih. Tadi barusan Teh manis."
"Tuh, kan udah."
"Tapi gue mau minum air putih."
"Tinggal ambil lah, pake repot segala."
"Ambilin, dong."
"HEH!"
Gema berkedip dua kali, telingannya tidak salah dengar bahwa perempuan yang ia kira lugu, kalem dan anggun ini baru saja berteriak padanya. Tapi kemudian Gema tertawa geli, "Galak ya lo."
"Bodo amat, gue mau ke kamar." Kata Alga, dingin. Ia kemudian berbalik arah dan berjalan lurus karena ia percaya jalan yang lurus adalah jalan yang benar. Namun ia melotot ketika merasakan bahunya di tahan.
Gema memutar tubuh mungil Alga sembilan puluh derajat ke arah kanan. "Lewat sini, neng. Depan lo itu kulkas."
"HIIIH, JANGAN PEGANG-PEGANG!"
Gema langsung melepaskan tangannya dari bahu Alga dan membiarkan perempuan itu berjalan sesuai instingnya. "Ya udah, sih. Gue mah niatnya juga baik! Galak bener, dah."
Alga tidak menanggapi komentar laki-laki itu, untuk kategori orang yang baru ia temui, menurut Alga laki-laki itu sangat menyebalkan. Bahkan merusak kesan pertama Alga terhadap laki-laki itu. Nyebelin, Seenaknya, Nggak sopan dan m***m. Itu adalah beberapa kesan yang langsung ia berikan kepada Gema saat Alga mendengar suaranya.
"Hati-hati ya eH ITU AWAS ADA TANGGA—Nah, kan jatoh kan!" Gema buru-buru langsung menghampiri Alga yang terjatuh di undakan tangga kecil yang menghubungkan dapur dan ruang keluarga.
Untuk ke sekian kalinya Gema membantu Alga berdiri. Wajah dan telinga perempuan itu memerah, ia berusaha untuk menggapai apapun agar bisa menjadi tumpuannya untuk berdiri tapi ia justru menemukan sebuah lengan yang membantunya memperoleh keseimbangan. Hari ini Alga juga tidak tahu, kenapa ia sampai dua kali terjatuh. Biasanya ini jarang terjadi. Jantung Alga berdegup kencang, ia lupa kali terakhir dirinya berinteraksi dengan seorang laki-laki, yah kecuali Kang Asep.
"Lepasin, gue mau jalan sendiri." Alga menyingkirkan tangan Gema yang masih memegangi lengannya.
"Yakin, lo?"
"Udah sana, lo temennya Amanda, kan? Di sini lo mau nugas, kan? Jadi nggak usah ngurusan yang macem-macem."
"Nggak, gue disini cuma buat neduh bentar. Ntar gue pulang kalo hujannya udah berhenti." Jelas Gema, namun Alga sama sekali tidak peduli. Perempuan itu kembali melanjutnya langkah pelannya. "Lo mau gue anterin ke kamar lo?"
Alga berhenti sejenak, lalu setengah berteriak. "ENGGAK, dasar c***l lo."
Mendengar itu Gema membulatkan matanya dan dahinya langsung berkerut, ia kemudian hendak mengambil langkah menyusul Alga yang sudah hampir menggapai kenop pintu kamar letaknya di sebelah tangga utama. "Apaan tadi dia bilang? Gue c***l? Main-main nih orang!"
Saat Gema mendekat, ia memegang pergelangan tangan Alga, "Heh, lo kalau ngomong—"
"Apa?! Mau apa lagi lo?!" Alga sekarang berani mengangkat wajahnya, bahkan ia tidak peduli kalau laki-laki itu melihat matanya. Toh, semua orang yang melihat Alga juga tahu kalau perempuan itu tunanetra.
Begitu melihat wajahnya, Gema diam sebentar. Kali ini ia melihat dengan sangat jelas. Ekspresinya menantang, tapi bukan itu yang Gema pedulikan. Ia sedikit merasa... de ja vu, mungkin? Seperti wajahnya sangat familiar. "Eng-Enggak, Nggak jadi."
"Ya udah lepasin, lah." Alga menggoyangkan lengannya, berharap Gema mau melepaskan kontak fisik dari perempuan itu.
"Eh, bentar," Saat Alga sudah mendorong pintu kamar, lagi-lagi tangannya ditahan. "Gue kayak pernah liat lo, tapi dimana, ya?"
"Apaan?" Tanya Alga, nada bicaranya mulai tak sabar.
"Eh, kita pernah ketemu nggak, sih?"
"Ya mana gue tau! Lepasin, ih!" Alga menghempaskan tangan Gema, dan ia buru-buru masuk ke kamarnya, sebelum laki-laki itu menahannya lagi.
"Eh, tunggu bentar, nama lo siap—"
Pintu ditutup.
Gema memejamkan mata, ia terpaksa harus menelan kembali kalimatnya. Wajahnya begitu dekat dengan pintu kayu cokelat tua itu. Laki-laki itu kemudian berbalik dan langsung mendapati Amanda menatapnya dari anak tangga dengan tatapan bingung.
"U-Udah, mandinya?"
Amanda mengerutkan dahi, "Yaa... lo liat, kan?"
Gema mengusap bagian belakang tengkuknya, harusnya ia tidak usah menanyakan hal tersebut karena sudah terlalu jelas. Amanda kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dan menghampiri Gema. Bajunya sudah berganti menjadi sebuah piyama tidur dengan motif beruang. Lagipula, Amanda tidak akan pergi kemana-mana malam ini, jadi ia tidak perlu berganti pakaian lagi sebelum tidur.
"Tadi ada apaan, sih? Kayaknya berisik banget? Terus lo ngapain deh, Kak berdiri di situ?"
Gema kemudian berjalan mendekati Amanda. "Enggak, sih. Cuma tadi itu siapa sih, sodara lo, ya?"
"Sodara apaan?" Amanda mengerutkan dahinya. "Di sini nggak lagi ada tamu yang nginep perasaan."
"Terus itu siapa yang barusan masuk ke situ?" Wajah Gema sudah mulai berubah parno, segelintir hantu yang ada pada film horror langsung membayangi otaknya.
Amanda kemudian tersenyum jahil, "Lah, siapa? Nggak ada, ah."
"Serius gua,"
"Gue juga serius,"
"Itu cewek yang barusan masuk kamar yang itu, tuh. Kakinya tadi napak lantai kok, sumpah! Malah tadi gue liat dia jatoh! Masa iya ada setan keseleo?" Gema tetap keras kepala bahwa ia baru saja berinteraksi dengan perempuan tadi.
Amanda kemudian tertawa keras, "Lucu lo, haha! Itu mah barusan kakak gue!"
Ekspresi Gema kemudian langsung tak terkontrol, antara ingin tertawa tapi juga speechless. "Beneran?"
"Iya ih! Itu Kakak gue!" Amanda kemudian menghabiskan tawanya yang masih tersisa sampai mulai sedikit reda. "Beneran, beneran, deh Kak... Itu kakak gue. Nggak bercanda ini serius, kok!"
"Yee, kurang ajar lo yaa!!" Gema langsung menarik Amanda dan mengapit kepala gadis itu diantara ketiaknya. "Nih, cium, nih ketek gue!"
"IHH BAU BANGET ANJIR LO NGGAK PAKE DEODORAN APA GIMANAA?!"
***
Meskipun hujan sudah mulai reda, Gema masih belum ingin pulang ke rumah. Lagipula, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika sampai di sana. Sandra mungkin akan pulang terlambat, jadi nggak ada makan malam di rumah kecuali Gema harus memesan lewat Go-Food. Akhirnya, Gema bertahan lebih lama di rumah Amanda. Keduanya duduk di ruang tamu sambil menonton acara gossip di salah satu televisi. Ini, sih sebenarnya lebih kepada Amanda yang menonton TV.
"Lo laper nggak, kak?" Tanya Amanda, ia memeluk kaleng berisi keripik kentang sementara Gema duduk bersandar di sofa sambil memainkan game dalam ponselnya.
Gema mengangkat wajahnya sebentar, "Lo laper? Mau jajan keluar?"
"Males, ah habis hujan. Lagian gue udah pake baju tidur kayak gini," Kata Amanda, ia kemudian melirik ke dapur. "Mie Instan aja, mau nggak? Kemarin Bi Endah baru belanja sekardus."
Gema kemudian mengangguk, ia mengeluarkan aplikasi game yang belum selesai dan meletakkan ponselnya di meja kaca. "Boleh."
Pada akhirnya mereka memasak Mie Instan berdua, meskipun Bi Endah sudah menawarkan diri memasak untuk mereka. Selama di dapur, Gema dan Amanda membagi tugas. Gema yang menyobek bumbu dan minyaknya di mangkuk, sementara Amanda merebus Mie-nya sampai matang.
"Lo mau pake telor nggak?"
"Nggak usah, deh." Gema menggeleng, sementara Amanda hanya diam dan sesekali memeriksa apakah Mie-nya sudah terebus sempurna.
Setelah tugas bagian Gema beres, laki-laki itu memanfaatkan kesempatan untuk melirik kamar yang terletak dekat tangga utama. Kamar dengan pintu kayu yang sejak tadi tertutup itu sangat membuatnya penasaran. Lebih tepatnya, Gema penasaran dengan orang yang menghuni kamar itu.
"Oh iya, tadi gue lupa mau nanya,"
Amanda menoleh ke kiri, "Nanya apaan?"
"Lo, kok nggak pernah cerita kalau lo punya Kakak?"
Di situ, Amanda diam sebentar. Ia juga mengakui kalau selama bersama Gema, dirinya memang tidak pernah membicarakan sesuatu tentang Alga. Yang ada justru ketika Amanda bersama Alga, ia akan terus-menerus membicarakan soal Gema. "Emang iya, ya?"
"Makanya, tadi gue kira itu sodara lo yang kebetulan lagi main apa gimana, eh ternyata Kakak lo."
"Iya, itu Kakak gue. Kita selisih dua tahun."
"Seumuran sama gue, dong?"
Amanda berpikir sejenak. "Iya kali, ya? Gatau juga, sih. Kalau nggak salah pertengahan bulan Oktober dia delapan belas tahun."
"Oh berarti tuaan dia dikit, gue baru akhir bulan Oktober delapan belas tahunnya." Komentar Gema, ia kemudian menusuk pipi Amanda dengan telunjuknya. "Inget tuh, ntar akhir bulan Oktober Hari Gema Nasional."
"Apaan, dah?" Amanda menyingkirkan tangan Gema dari pipinya dengan sendok. "Penting banget nginget hari gituan."
"Pentinglah," Gema berkacak pinggang, ia menatap Amanda lama. "Menyangkut seberapa pentingnya gue buat lo."
Amanda menatap Gema sebentar, sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya lagi dan mematikan kompor. Gema langsung tertawa gemas melihat tingkah gadis itu. "Nih, lo yang tuangin ya! Gue mau ke kamar Kakak dulu, kali aja dia mau bikin Mie Rebus."
"Ajak sekalian tuh biar makan bareng!" Teriak Gema dari arah dapur.
"Itu mah maunya lo aja!" Balas Amanda, tak kalah kerasnya.
***
Alga bilang, ia sudah makan. Maka dari itu, Amanda dan Gema menyantap Mie buatan mereka sendiri di ruang tengah dengan duduk di atas karpet hangat. Jam menunjukkan pukul lima sore, Hana mungkin sebentar lagi akan pulang. Televisi menanyangkan acara berita petang yang agak membosankan. Gema fokus makan, sementara Amanda nggak bisa menahan diri untuk nggak mengupdate Instastory-nya berkali-kali dengan semangkuk Mie Instan dan Gema tentunya.
Notifikasi ponselnya selalu jebol, makanya Amanda malas membukanya. Lumayan banyak yang mengomentari setiap fotonya mulai dari Kakak kelas atau teman SMP-nya dulu. Followers akun instagramnya langsung menanjak begitu ia mengupload foto bersama Gema untuk pertama kalinya. Dia cantik, memang. Itu sebabnya banyak anak perempuan seangkatan dan yang senior langsung tahu diri begitu mereka tahu Amanda dekat dengan Gema. Ada juga yang kurang setuju, sampai memakinya habis-habisan karena dinilai sok cantik. Yah, Amanda itu bisa dibilang tipikal adik kelas yang banyak haters bahkan di hari pertama Masa Orientasinya.
Tsabina : ena ya
Tsabina : ngedate di rumah sambil makan indomi
Tsabina : murah meriah:(
Amanda hanya tersenyum membaca chat dari Tsabina yang langsung masuk ke ponselnya. Gadis itu tidak langsung membalasnya. Amanda meletakan ponsel di atas meja kaca, di samping mangkuk Mie Instan dan mencolek lengan Gema sekali. "Kak, itu kerupuk tolong dong,"
Gema menyuapkan satu suapan pada mulutnya sebelum bergerak untuk mengoper kaleng kerupuk kepada Amanda. "Thank you, bro."
"Lagi makan, jangan hape mulu." Gema berkomentar ketika melihat Amanda kembali menyentuh ponselnya.
"Cuma bales chat si beby doang, Elah." Balas Amanda, sambil menggigit kerupuknya, sementara tangannya mengetikan pesan di ponsel.
"Baby? Siapa tuh?"
Amanda memutar bola mata, lalu menyimpan ponsel dan memegang garpu. "Beby Ya Allah! bukan baby... Itu ih, si Tsabina! Nama panjang dia kan Beby Tsabina!"
"Oh, kirain."
Gema terkekeh, kemudian fokus kembali pada Mie Instan-nya yang masih cukup banyak. Sementara Amanda mungkin sebentar lagi akan mengosongkan mangkuknya. Tidak ada percakapan yang berarti selama mereka berada di ruang tengah.
"BUNDA HANAAA!!"
Perhatian mereka langsung teralih dengan suara teriakan dari pekarangan rumah yang menggema sampai ke ruang tengah.
"Aduh, Ujang... Jangan teriak-teriak atuh kasep, gandeng... berisik ke tetangga..." Suara Bi Endah juga terdengar, wanita itu coba menghalau anak laki-laki yang dengan santainya masuk ke ruang tamu.
"Bunda Hana mana, Bi? Itu diluar motor siapa?"
"Ibu mah belum pulang, nanti jam tujuh. Kalau neng Amanda lagi makan di dalem, sok aja masuk tapi jangan berisik ah."
"Itu siapa, sih?" Tanya Gema penasaran. Karena percakapan di ruang tamu terdengar sampai ke ruang tengah.
"Alah paling itu mah si Nichol!" Jawab Amanda keki. Lalu, orang yang baru ia sebutkan itu muncul dan berjalan mendekati mereka.
"Eh, ada Mas Gema!" Mata Nichol langsung berubah terang ketika melihat ada Gema di sini. "Pantes, kayak kenal motor scoopy di luar."
"Nape, lu?" Tanya Gema, nggak kalah keki. Memang sepertinya setiap orang yang berbicara dengan Nichol bawaanya sensi terus.
"Berisik lo! masuk ke rumah orang bukannya salam malah teriak-teriak kaya mau demo di gedung DPR!" Omel Amanda.
"Wih, indomi boleh juga," Nichol justru salah fokus dengan semangkuk Mie Instan di meja, ia kemudian mendekati Amanda dan bersiap akan mengambil alih mangkuk gadis itu sebelum kepalanya di dorong menjauh.
"IH JANGAN MINTA PUNYA GUE!"
Nichol kemudian pindah posisi ke sebelah kanan, "Ya udah punya Mas Gema, aja!"
"Abisin, noh!" Gema menyerahkan mangkuknya pada Nichol. "Penuh banget perut gue."
"Selalu ada tempat untuk makanan sisa, hehe." Nichol nyengir.
Amanda memutar bola mata, "Ngemis mulu dia mah kalo ke sini."
"Biarin, yang penting gratis," Kata Nichol, ia mengangkat mangkuk Mie Instan milik Gema dan berpindah duduk di sofa. Nichol selalu punya prinsip, anggap aja rumah sendiri.
Sekedar informasi, Nichol dan Amanda sudah berteman sejak lima tahun yang lalu. Dulunya rumah yang keluarga Hana tempati sekarang adalah rumah milik Oma-nya, dan rumah di depannya adalah Rumah keluarga Nichol. Namun, Rumah Nichol dijual dan kelurganya pindah ke blok yang berada tak jauh dari sini. Amanda mengenal Nichol karena sering berkunjung ke rumah Oma-nya, semasa ia dan keluarga masih tinggal di Tangerang dan belum pindah ke Jakarta. Mereka nggak sering ketemu, mungkin seminggu sekali itu pun kalau Nichol ada di rumah.
Kalau dihitung pertemanan mereka sudah berlangsung sejak mereka duduk di bangku kelas 5 SD. Dulu, Nichol senang, saat tahu Amanda pindah ke Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengannya. Lalu mereka juga melanjutkan ke SMP yang sama, dan sekarang mereka satu sekolah lagi.
"Eh, lo bawa apaan, nih?" Amanda terkejut ketika melihat sebuah paper bag yang tanpa sadar ditaruh Nichol di atas meja.
"Itu... tadi gue ke sini di suruh nganterin itu sama Nyokap gue, katanya isinya martabak manis sama bika ambon, gitulah. Buka aja." Jelas Nichol, ia kembali fokus menghabiskan Mie Instan milik Gema.
"Amanda, gue minta air putih dong." Pinta Gema, perutnya terasa nyeri, mungkin karena kekenyangan.
Amanda mengangguk, "Iya, ntar sekalian ke dapur, gue mau naruh ini di piring."
"Gue juga, ya! Kopi tapi!" Sahut Nichol.
"oGAH. Bikin sendiri, noh." Jawab Amanda, ia kemudian berjalan ke arah dapur dengan paper bag yang dibawa Nichol tadi.
"Dih, anying. Gitu, ya? Doi sama temen mah beda."
"Sabar, mas bro." Gema menepuk lutut Nichol pelan, laki-laki itu sedikit menahan tawa dan menunjukan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
Gema kemudian pindah duduk ke atas Sofa, di sebelah Nichol yang belum juga menghabiskan Mie yang tadi tidak ia habiskan. Laki-laki itu mengambil remote TV, dan mengganti channel. Sementara Nichol hanya memperhatikan layar yang berganti-ganti.
"Udah ini aja! acara Rumpi-nya Kak Ros! Yah, ketinggalan dah gua. Udah mau selesai kan?"
Gema hanya tertawa kecil mendengar ocehan Nichol, "Demen banget lu nonton ginian? Ini mah tontonannya ibu-ibu arisan!"
"Biarin, biar nggak kudet."
"Serah lo, anying."
"Eh bang, lo harus tau,"
Gema mengalihkan perhatiannya dari layar TV kepada Nichol, "Tau apaan?"
"Harusnya Amanda jadi cewek gue sekarang..."
Gema kemudian tertawa getir, "Kok gitu?"
"Iyalah, kalau lo nggak nyuri start duluan mah sekarang Amanda langgeng kali sama gua." Kata Nichol dengan nada sinisnya.
"Ya elah, gue nyuri start aja belom. Lo kalau mau deketin, ya deketin aja sih. Kita bersaing secara sehat, Bray."
Nichol memutar bola matanya, ia kemudian menaruh mangkuk yang belum juga habis sejak tadi itu di meja dan merubah posisi duduknya menghadap Gema. Tatapannya serius, tapi wajahnya seperti sedang mengajak Gema bercanda. Laki-laki itu bahkan ingin tertawa, namun ia menahannya. "Lo ngajak saingan disaat semua orang tau kalau lo yang bakal jadi pemenang? Bang*sat lu!"
Saat itu juga Gema tertawa keras, ia kemudian mendorong wajah Nichol dengan satu tangannya, "Ahh, udah lo tuh sekolah dulu aja yang bener! Jangan mabal mulu! Nongkrong di warkop gitu emang nggak ngabisin duit?"
"Bacot ah! Gue masih laper!" Nichol mendesah frustasi, ia kembali mengangkat mangkuk Mie Instan dan kali ini benar-benar menghabiskannya dengan cepat, lalu bersendawa keras.
"Like a boss banget idup lo! Makan udah gratis, sekarang malah enak-enakan gitu! Berasa kayak rumah sendiri, ya?" Amanda mengomel sesaat setelah ia baru keluar dari dapur dengan membawa sepiring Bika Ambon yang dibawa Nichol, dan segelas air putih sesuai permintaan Gema. Gadis itu menendang kaki Nichol yang sedang selonjoran sampai ke meja.
Amanda menyerahkan segelas air putih yang dibawanya pada Gema, "Nih, Kak. Tadi katanya minta air putih?"
Gema mengangguk, "Thanks, ya."
Nichol mengangkat tangannya yang membuat gerakan seperti sedang memalak orang di pasar dan sukses membuat Amanda menaikkan satu alisnya, "Apaan?"
"Gue mana? Kan, tadi gue pesen kopi!"
"BIKIN SENDIRI! Ini rumah gue, bukan warkop! Ya Allah, jadi pengen nyiram pake air panas, deh!"
"Iya duh, ampun sayang!"
"Sayang, sayang, congor lu!" Gema kemudian memukul kepala Nichol dengan remote TV pelan sebelum akhirnya cowok berambut agak gondrong itu beringsut untuk berjalan ke dapur.
"Emang ya, orang ganteng kudu tabah!"
"Gue sih nggak harus tabah, udah ganteng!" Sahut Gema dari ruang tengah.
"Bodo amat, nying!" Desis Nichol emosi, lalu matanya membola saat ia sadar bahwa ia salah menuangkan gula.
"Amanda, ini yang di wadah kuning itu gula apa garem?"
"Yang kuning garam! Kalo gula itu yang ijo!"
"Anjeng."
Sepertinya memang Nichol harus lebih banyak istighfar hari ini.
***
"Jadi yang tadi itu Gema?!"
"Iya,"
"Yang sering kamu ceritain itu?!"
"Iya, ih. Emang kenapa, sih?"
"AH MAMPUS."
Amanda mengerutkan dahinya tidak mengerti, karena setelah itu Alga langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan menendang-nendang tak tentu arah.
"Kenapa, sih Kak?"
Setelah puas menendangi selimut, Alga meyingkirkan selimut sampai sebatas dadanya. Matanya seperti memandang langit-langit kamar, meskipun kenyataannya Alga tidak melihat apapun. "Dia cerita apa aja sama kamu?"
"Enggak, sih. Cuma nanya doang itu cewek yang masuk kamar tadi siapa, terus ya aku bilang itu Kakak, terus aku bilang lagi kita selisih dua tahun," Amanda mengambil jeda sementara Alga masih mendengarkan. Masalahnya, Amanda bercerita sambil sesekali fokus ke ponselnya.
"Terus gimanaaa, heh?"
"Ya... gitu, dia bilang kalian seumuran. Udah, sih gitu doang. Emang kenapa, sih? Keliatannya rempong banget."
"Dia nggak nanya nama aku siapa, kan?"
Amanda mengingat-ingat, "Enggak, deh kayaknya. Emang tadi pas di dapur kalian nggak kenalan?"
"Enggak,"
"Kenapa?"
"LAH, NGAPAIN?"
"Nambah temen kek, gitu. Lagain dia itu, kan anaknya Bu Sandra?"
Mata Alga melotot, "Masa?!"
"Eh, dibilangin... Emang aku belum cerita ya?"
"Kapan kamu cerita?! Gitu ya kamu sekarang?! Mulai nutup-nutupin!"
"Lah, aku kira juga Kakak udah tau."
"Ah, Bodo amat lah! Aku mau tidur! Kamu sana pindah cepet!" Alga mendorong tubuh Amanda yang sedang duduk di sisi ranjang dengan kakinya.
Bukannya berdiri, Amanda justru berbaring di sebelah Alga. "Nggak ah, aku mau tidur sini."
"Sempit!"
"Biarin, AC di kamar rusak belom dibenerin!"
Karena gagal mengusir adiknya, Alga pun menyerah. Ia berbalik memunggungi Amanda dan menarik selimutnya sementara otak perempuan itu mengingat-ingat apa saja kalimat yang ia lontarkan untuk Gema tadi siang.
"Tinggal ambil lah, pake repot segala."
"HEH!"
"HIIIH, JANGAN PEGANG-PEGANG!"
"Apa?! Mau apa lagi lo?!"
"ENGGAK, dasar c***l lo."
Alga berteriak, bersikap kasar, dan memaki Gema tadi siang. Dan kalimat yang terakhir itu rasanya membuat Alga ingin lenyap saja dari dunia ini. Iya, Alga malu. Sangat malu dengan Gema dan dirinya sendiri.
.
(TBC)