Adila sudah agak mendingan setelah dua hari yang lalu ia mengalami pusing dan penyakit asmanya yang kambuh. Selama itulah ia memutuskan untuk istirahat dirumah dan tidak pergi ke butiknya. Berbeda dengan Devian sendiri yang disibukkan oleh profesinya dirumah sakit di tambah pekerjaannya di klinik dokter bersama. Suara pintu pagar terbuka. Adila beranjak dari duduknya yang sejak tadi berada didepan meja rias. Ia menoleh kearah jam dinding yang menunjukan pukul 23.00 malam. Adila menyibak tirai kamarnya. Ia baru saja melihat mobil Devian memasuki halaman rumahnya. Adila kembali menutup tirainya dan terdiam sejenak sambil berpikir. Suaminya itu dokter yang sudah bekerja keras dirumah sakit, di klinik bahkan saat merawat dirinya. Ia bisa melihat jelas bagaimana raut wajah Devian yang l

