"Kita mau kemana?" Arvino diam tak banyak berkomentar. Apalagi saat ini ia semakin erat menggenggam tangan Aiza karena merasa Aiza miliknya. "Mas. Kita kemana?" Arvino tidak menggubris. Ia membuka pintu mobilnya untuk Aiza dan memasangnya safety beltnya. Aiza merasa bingung. Arvino benar-benar susah ditebak. Apalagi saat ini Arvino sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Aiza ketakutan. "Mas. Istighfar. Jangan ngebut di jalan." Dan Arvino menyadari hal itu. Ia pun menarik napas lalu menghembuskannya dan beristighfar dalam hati. Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan Aiza bernapas lega hingga akhirnya Arvino menghentikan mobilnya begitu lampu merah sedang menyala. Dari samping kaca mobil Aiza, terdapat sebuah kedai es cream yang terkenal enak. Aiza

