Hari ini tidak ada sesi orientasi kelas, tetapi sesi induksi di masing-masing divisi. Karena akan turun ke laboratorium dan bertemu dengan para petani pembibit, Arimbi memilih untuk memakai pakaian yang lebih casual dan tidak lupa membawa topi untuk perlindungan dari terik matahari ketika berada di area perkebunan nanti.
Setelah sarapan, Arimbi sudah bersiap di lobby mess menunggu staff yang lain kumpul semua sebelum berangkat dengan shuttle ke kantor utama.
"Ari!" panggil Hendra, ketua kelas mereka yang dipilih di hari pertama mereka memulai orientasi. Pemuda tampan ini memang cocok dipilih sebagai ketua. Selain tampilan yang berwibawa serta berkharisma, cowok satu ini juga tegas dan punya jiwa kepemimpinan yang bagus.
"Nanti kamu mau gabung gak..kita mau ke kota plesiran...mau ikut?"
"Jam berapa?" tanya Ari.
"Setelah bubaran jam kantor sebelum jam 4, nanti ngumpul di coffeshop depan minimarket dekat blok 2" jawah Hendra.
"Nanti lihat chatt di group, karena akhir pekan ini kita sudah nempatin house unit masing-masing, pastinya kita akan sibuk beberes unit dan tentu perlu membeli beberapa kebutuhan pribadi dikota, jadi mulai sekarang sudah lihat-lihat toko yang jual kebutuhan nanti" jelas Hendra. Arimbi menyimak informasi dari Hendra lalu bertanya
"Jadi kamu sudah dapat unit?"
Ari merasa banyak informasi yang terlewatkan olehnya. Hendra menatap Arimbi serius dan berkata
"Aku kemarin dan beberapa teman lain sudah dapat notifikasi untuk ketemu pengelola gedung besok, apakah kamu tidak mengajukan permohonan? atau mau tinggal diluar komplek?" tanya Hendra.
Arimbi terdiam dengan pertanyaan itu, namun ia segera menggeleng dan itu membuat Hendra kembali bertanya. "Apakah kamu sudah bertanya ke panitia orientasi?"
"Aku baru tahu ada form pengajuan itu pagi kemarin ketika Tia bertanya padaku, lalu setelah sampai di kelas aku bertanya ke bu Sherin...barulah dia kasih form itu ke aku dengan catatan bahwa akomodasi berdasarkan siapa yang duluan dia yang dapat".
"Besok aku bantu tanya ke bu Sherin ya...siapa tahu ada informasi lebih lanjut tentang pengajuan akomodasi ini" Hendra berkata. "gakk..gak perlu Hen...biar aku aja yang tanya ke bu Sherin...aku gak mau ngrepotin kamu" sanggah Arimbi buru-buru. "Gak repot Ri..aku juga sekalian cek berapa diantara kita yang sudah dapat approval akomodasi" Hendra menjelaskan, "Baiklah, terimakasih ya" ucap Arimbi.
"Hen!"...seseorang memanggil Hendra dari arah tangga. Hendra dan Arimbi serentak menoleh dan terlihat ada Nancy yang sedang berjalan kearah mereka. "Aku nyariin kamu dari semalam, aku pikir kamu masih di ruang makam setelan makan malam, ternyata sudah kekamar kata Doni, aku ketok pintu kamar mu tapi gak dijawab....kamu kemana? aku kan mau ngobrol...eh..eh..besok kita jalan-jalan yuk..kan katanya kamu dulu pernah tinggal disini, jadi pasti tahu dong tempat-tempat asik...ya..walaupun pedesaan...setidaknya pasti ada objek keramaian kan?" celoteh Nancy dengan suara yang mendayu-dayu terkesan manja.
Nancy melirik ke arah Arimbi sambil berkata "Kita berdua aja Hen...kalau rame-rame gak asik" cicitnya sambil mendekat lalu berbisik ke Hendra. Hendra terlihat gak suka dengan tingkah Nancy yang cozy banget nempelin dan manja-manja ke dia. "Kita akan jalan-jalan nanti sore rame-rame...ke PASAR" jawab Hendra dengan memperjelas di kata terakhir yang dia ucapkan, tujuannya agar Nancy dapat menangkap informasi dengan jelas bahwa mereka akan jalan bersama dengan yang lain dengan tujuan ke Pasar.
"ihh...gak asik kalau rame-rame" sahut Nancy.
Hendra lalu menjauh pergi tidak menggubris Nancy.
"Hehh...Ri...kamu lagi pedekate ya ama Hendra?" Arimbi yang sedang mengecek hp nya terkejut dan langsung menatap Nancy. "Aku gak deketin Hendra kok...kebetulan tadi pas aku sampai lobby dia sudah disini dan dia info tentang rencana kepasar karena akhir pekan ini sudah masuk unit housing" Arimbi menjawab Nancy yang terlihat kesal dengan interaksi Arimbi dengan Hendra tadi.
"Well...soalnya cowok satu itu type aku banget..jadi setidaknya aku harus tahu siapa lagi yang lain yang juga deketin dia" jawab Nancy dengan sorot mata yang tajam menatap Arimbi.
Arimbi kaget mendengar perkataan Nancy barusan. Dia tidak terpikir sedikitpun tentang menilai orang apalagi lawan jenis yang menarik perhatiannya. Selama ini mencoba menarik perhatian lawan jenis saja tidak pernah ada dalam kepala, memory ataupun bawah sadarnya, dan dia gadis yang sangat menjaga dirinya jika berhubungan dengan urusan laki-laki.
"Setidaknya aku sdh mengingatkan dirimu, jangan deketin Hendra, aku yang duluan nargetin dia"
"Aku juga gak tertarik sama cowok yang kamu incar, jadi gak perlu cemas"...jawab Arimbi.
Setelah semua kumpul dan duduk dalam bus shuttle, mereka segera berangkat menuju kantor pusat.
***
Ruangan divisi Agroteknologi dan Inovasi Produk atau AIP terlihat masih sepi, belum banyak aktivitas orang. Di pintu masuk lobby ada seorang security yang berjaga, namanya pak Maskur, pria berusia sekitar jelang limapuluhan itu segera berdiri dari kursinya begitu melihat ada yang masuk. "Selamat pagi ibu Ari" sapa pak Maskur sambil tersenyum ke arah Ari.
"Selamat pagi pak Maskur, panggil mba aja pak...saya belum ibu-ibu, jadi aneh aja rasanya dipanggil ibu" jawab Ari sambil ketawa renyah ke pak Maskur.
"Baiklah kalau mba Ari lebih suka dipanggil mba...mulai sekarang gak ada ibu Ari lagi ya...kecuali nanti kalau statusnya sudah ibu-ibu boleh dipanggil ibu ya..." pak Maskur menjawab sambil ketawa.
"Iya pak boleh,....kalau gitu saya naik dulu ya pak" Ari berkata sambil berlalu masuk ke dalam lift menuju keruangannya di lantai 5.
Sesampai dilantai 5 sudah ada pak Budi yang sedang berdiri di depan mesin printer. "Selamat pagi pak Budi" sapa Arimbi. "oh..pagi Ari, sudah datang...sudah siap untuk dilapangan sehari ini?" tanya pak Budi, "Siap pak..saya tinggal tunggu arahan dari pak Budi nih" jawab Ari.
"Kita tunggu bu Dian dan mas Dade ya, karena hari ini kita akan melihat kolom bibit di area 3B yang mana semua kolom bibit teh dibawah pengawasan mas Dade jadi kita tunggu pak RW nya dulu ya," jelas pak Budi sambil tertawa, "Nanti kita juga akan ada kelas lapangan dengan para petani pembibit, minggu ini kebetulan adalah sesi kelas lapangan untuk petani pembibit disemua area, nanti silahkan kalau kamu mau memberi materi...kalau kamu sudah siap aja...saya gak mewajibkan hari ini lho" pak Budi menyambung penjelasannya.
"wahh...saya senang sekali kalau di ijinkan pak, tentu saya mau pak, tentu dengan arahan dari pak Budi pastinya". Arimbi menyambut antusias tawaran tersebut.
"Selamat pagi"...terdengar ada yang masuk dari pintu ruangan. "Selamat pagi mas Dade" balas Ari. "Pagi mba Ari...wahh...senangnya kita hari ini ditemani bintang Hollywood...belum pernah lho dilapangan ada selebritis seliweran...tapi mulai sekarang kita akan temui itu...iyakan pak Budi" komentar mas Dade yang disambut ketawa oleh pak Budi dan juga Arimbi. Arimbi yang di becandain oleh mas Dade hanya bisa ketawa sumringah mendengarnya.
Dade Iskandar adalah kepala unit pembibitan di divisi AIP, ia telah bekerja hampir lima tahun di perusahaan ini. Lelaki yang berusia sekitar 30an tahun itu tipikal periang, easy going dan mengayomi, dia mengingatkan Arimbi kepada kakak sepupunya anak dari pamannya. Sejak awal induksi di divisi AIP ini, mas Dade yang paling banyak mementoring Arimbi, karena pekerjaan Arimbi akan banyak di lakukan di area kerja Dade sehingga mereka akan sering tandem nantinya. Yang membedakan adalah Arimbi bertanggung jawab terhadap mutu serta inovasi dari bibit dan proses pembibitannya.
Setelah semua tim datang, mereka segera berangkat ke area pembibitan. Area bibit ini luasnya sekitar 30 hektar dan sebagian besar di peruntukkan untuk pembibitan teh, sisanya adalah workshop untuk uji coba dan pengolahan bibit mungkin lebih tepatnya seperti laboratorium bibit khususnya teh.
Area bibit ini berbatasan langsung dengan area kantor pusat tepatnya bagian belakang kantor, sedangkan pintu gerbang area bibit tepat di depan jalan raya utama yang biasa ditempuh Arimbi ketika berangkat menuju kantor dari mess karyawan, sehingga lokasi mess, pintu gerbang area bibit dan kantor utama berada di sisi kiri jalan raya utama sedangkan di sisi kanan jalan adalah rumah, sawah dan perladangan penduduk yang tidak terlalu padat.
Setelah memasuki gerbang area bibit sejauh 100 meter dari pinggir jalan, mereka tiba di transit building. Gedung ini terdiri dari 4 lantai. Bagian depan gedung merupakan kantor untuk staff divisi pembibitan sedangkan bagian belakang terdiri dari hall untuk tempat berkumpul, storage untuk alat, logistik kebutuhan area pembibitan dan dom untuk laboratorium bibit.
Sesaat setelah turun dari mobil, pak Budi mengajak semua rombongan kantor pusat untuk naik ke lantai 2, disana didalam ruang meeting sudah berkumpul semua staff lapangan divisi AIP. Ternyata pak Budi selaku asisten manager teknologi dan ujicoba bibit sudah menginfokan sejak kemarin siang bahwa akan ada meeting pagi ini. Setelah semua duduk mengitari meja meeting berbentuk U itu, pak Budi langsung membuka acara meeting dengan menyapa semua staff.
"Selamat pagi semua, terimakasih sudah hadir di meeting yang tidak terjadwal di agenda rutin divisi kita...itu semata-mata karena faktor efisiensi dan urgency saja" pembukaan dari pak Budi.
"Ada 2 hal yang membuat kita harus meeting hari ini, pertama, divisi kita mendapat staff baru, kedua, ada perubahan tugas dan posisi sehubungan dengan yang pertama tadi" jelas pak Budi.
"Mungkin beberapa diantara kita sudah ada yang pernah bertemu, tapi sebagian besar saya yakin belum pernah...perkenalkan saudari Arimbi Gita Pratiwi yang resmi bergabung di divisi kita sejak 2 minggu yang lalu, saat ini masih mengikuti sesi orientasi dan induksi di kantor pusat, jadinya jarang kesini. Senin depan beliau akan sering ketemu disini" penjelasan pak Budi kepada semua yang hadir di ruangan itu. "Mba Arimbi ini akan bertugas di unit teknologi dan inovasi produk, jadi nanti akan satu tim dengan Bu Lilis, Pak Drajat dan Pak Bayu" sambung pak Budi menambahkan informasi. "Silahkan mba Ari, perkenalkan diri langsung" ucap pak Budi.
Arimbi tersenyum sambil berdiri dari kursinya
"Terimakasih pak Budi...selamat pagi bapak, ibu, mba dan mas semua. Ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Arimbi Gita Pratiwi biasa dipanggil Ari, saya berasal dari Jakarta, sebelum diterima di perusahaan ini, saya belum pernah kesini, jadi ini benar-benar pertama kali buat saya, oleh karena itu bantuan, arahan dan kerjasamanya sangat saya harapkan dalam menjalankan tugas saya disini" Ari selesai berkata, lalu tiba-tiba ada yang nyelutuk jahil "Statusnya apa mba?" beberapa orang terkekeh geli mendengar celutukan tersebut, ada yang justru malah ngomelin si yang bertanya tadi. Arimbi ikut tertawa dengan candaan yang dilontarkan dengan gaya yang lucu sehingga tidak membuat dia merasa tersinggung.
Ibu yang bertanya tadi langsung berkata
"Maaf mba Ari, soalnya saya punya ponakan perempuan sepanteran mba, tapi anaknya belum mau berkeluarga sementara ibu bapaknya sudah kebelet mantu, saya penasaran apa gadis-gadis seumuran ponakan saya juga banyak yang belum kepikiran untuk cepat-cepat menikah, umurnya sudah 22 tahun" curcol si ibu. Arimbi menjawab "Saya belum berkeluarga bu, masih baru mulai kerja, jadi belum kepikiran..." Mas Dade nyelutuk "lah kok malah ngeintrogasi mba Ari...nanti dia gak betah loh gabung dengan kita" si ibu yang tadi langsung bilang "Maaf mba...maaf...sekali lagi saya spontan banget tadi karena penasaran" yang lain tertawa melihat si ibu yang salting sendiri.
"Gak apa-apa bu, saya bisa maklum kok" balas Arimbi.
"Baik..kita kembali ke topik ya...jadi karena mba Ari sudah bergabung dengan divisi kita, jadi kemungkinan akan ada unit baru di waktu yang akan datang, kongkritnya akan dibahas di meeting-meeting formal dengan manager AIP dan dewan direksi dalam beberapa minggu kedepan" penjelasan dari pak Budi.
Setelah pertemuan semi formal yang berlangsung sekitar 10 menit, dilanjutkan dengan tur gedung. Pak Budi membawa Arimbi berkeliling mengenalkan unit-unit yang terdapat di divisi AIP ini khususnya unit lapangan.
Di lantai 3 umumnya adalah ruangan para kepala unit dan kepala manajemen dan logistik, di lantai 4 adalah ruangan staff unit lapangan divisi AIP, staff lapangan sebenarnya juga adalah staff kantor pusat, namun aktifitas mereka banyak bersentuhan langsung dengan aktifitas di lapangan. Di unit teknologi dan uji coba bibit ini ada sekitar 20an orang staff sementara untuk pekerja dilapangan di isi paling banyak oleh petani yang bergabung dalam kelompok tani. Untuk petani di area bibit ada sekitar 5 kelompok tani yang masing-masing beranggota antara 10 sampai 15 orang.
******