Setelah berkeliling dan berkenalan dengan staff di dalam gedung, Arimbi beserta Pak Budi, Mas Daden dan beberapa staff lainnya bersiap untuk turun ke area pembibitan, tepatnya dikolom bibit blok 3B. Kolom bibit adalah deretan tanaman teh yang ditanam memanjang sejajar satu sama lain dengan panjang masing-masingnya sekitar 200 meter. Jika petani sedang memetik teh, maka mereka terlihat seperti berbaris dan bergerak kearah yang sama.
Proses inilah yang sedari dulu selalu membuat Arimbi tertarik dengan teh. Dulu ketika kecil, Arimbi sering dibawa melewati perkebunan teh jika akan berlibur ke vila pamannya. Tanaman teh yang berjajar tersusun rapi membuat mata tak lepas memandang, termasuk mata Arimbi kecil ketika itu.
Sesampai dikolom bibit mereka bertemu dengan sekelompok petani yang sedang memetik daun teh. Jumlah mereka ada 10 orang, sebagian mereka adalah ibu-ibu, hanya 2 orang laki-laki. Salah seorang laki-laki yang terlihat paling tua diantara petani tersebut datang menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh sambil tersenyum. "Selamat pagi bapak ibu" sapa lelaki itu. "Selamat pagi pak Wito, sudah setengah jalan pak metiknya?" tanya mas Daden.
"Sudah pak Daden, ini lagi mau misahin yang daun putih dulu setelah itu baru yang hitam" Pak Wito menjelaskan.
"Wah..benar-benar gercap kelompok pak Wito ini ya, baru jam 10 sudah selesai tahap pertama, istirahat dulu pak, hari ini adalah blok terakhir dari 30 blok yang ada, jadi kerja besarnya sudah kelar sebenarnya" ucap Daden.
"Ayo pak...bawa ngaso dulu sini kelompoknya" panggil Daden sambil menunjuk gazebo yang ada ditengah kebun. Pak Wito segera memanggil anggotanya yang sedang mengeluarkan hasil petikan mereka dari keranjang masing-masing, semua ibu-ibu itu terlihat gembira, mereka bekerja sambil bersenda gurau untuk menghilangkan kebosanan karena ritme pekerjaan mereka yang monoton. Setelah daun teh hasil petikan mereka dipisahkan semua, ibu-ibu itu segera mendekat dan mengambil tempat duduk mengelilingi meja yang ada di gazebo.
Pak Budi sudah berdiri ditengah-tengah untuk menyampaikan sesuatu "Selamat pagi jelang siang semua, terimakasih sudah bekerja dengan penuh semangat, hari ini seperti yang sudah di infokan sebelumnya kita seperti biasa ada kelas lapangan dan kebetulan hari ini saya akan memperkenalkan staff baru kita yang mana nantinya ibu bapak semua akan banyak mendapatkan arahan dari beliau, mari mba Ari" Pak Budi memanggil Arimbi untuk berdiri disampingnya.
"Perkenalkan ini mba Ari, lengkapnya Arimbi Gita Pratiwi, beliau ini adalah tenaga ahli untuk teknologi dan inovasi produk terutama keahliannya di bidang Teh. Nanti mba Ari akan mengkomandoi penanaman jenis tanaman yang akan ditanam di area ini hingga proses produksinya, dan pak Daden yang kemarin-kemarin bertugas segala hal dari A sampai Z, sekarang bisa berbagi dengan mengawasi operasional area kebun bibit ini...kesimpulannya pak Daden tetap sebagai pak RW nya sini" papar pak Budi kepada semua yang berkumpul di gazebo tersebut.
"Silahkan Pak Wito untuk memperkenalkan kelompoknya" ucap pak Budi. Pak Wito sebagai ketua kelompok tani ini berdiri di samping pak Budi dan menyalami pak Budi dan Arimbi yang berada disamping pak Budi.
"Selamat datang bu Ari, perkenalkan saya Suwito, saya ngumpulin teman-teman saya ini dari beberapa desa disekitar perkebunan sehingga akhirnya kami membuat kelompok tani ini, Alhamdulillah kami bisa diterima bergabung di kebun bibit ini sehingga teman-teman dan saya masih bisa menghidupi keluarga kami, buat Pak Budi dan pak Daden saya juga ingin mengucapkan terimakasih walaupun sudah sering, karena berkat kebijakan dan arahan dari bapak-bapak, kami bisa memperbaiki diri untuk bekerja dengan benar sesuai dengan yang telah diajarkan terutama tentang cara memetik Teh yang baik. Saat ini kelompok kami berjumlah 12 orang tapi yang 2 lagi sakit jadinya gak kerja hari ini, semoga besok sudah bisa kerja lagi, tadi pagi saya lihat mereka sudah mulai bersih-bersih rumah...katanya biar gak pusing kalau kelamaan tidur" penjelasan panjang pak Wito.
Arimbi yang mendengarkan dengan seksama tertarik dengan informasi yang disampaikan pak Wito. "Ini bapak dan teman-temannya ini tinggal dekat sini?" tanya Arimbi, "kami numpang bu.." jawab seorang ibu yang duduk persis disamping Arimbi berdiri. Arimbi langsung menoleh dan bertanya langsung ke ibu tersebut "numpang?"... Pak Wito langsung menyela "teman-teman ini numpang di tempat saya bu" Arimbi kembali melihat ke pak Wito dengan tatapan bingung, tetapi segera sadar dan mengalihkan pembicaraan supaya tidak berlama-lama karena ada hal yang juga penting untuk dia sampaikan.
"Baiklah...ibu bapak semua, seperti yang sudah di sampaikan pak Budi tadi, saya Arimbi biasa dipanggil Ari. Saya baru bergabung dengan perkebunan ini sejak 3 minggu yang lalu. Saya bertugas untuk divisi Agroteknologi dan Inovasi Produk, lebih tepatnya saya bertugas untuk merencanakan, mengawasi dan membuat terobosan untuk produksi terutama produksi Teh. Saya nanti akan banyak bekerja dengan bapak ibu semua...mohon kerjasamanya ya bapak ibu semua. Nanti kita akan sama-sama belajar untuk membuat inovasi atau terobosan dalam memproduksi Teh dan variantnya" jelas Arimbi kepada kelompok tani ini.
"Saya merencanakan untuk mempelajari pola dan operasional sistem tanam di kebun bibit ini dalam 2 minggu kedepan, hal ini penting dilakukan untuk merancang inovasi yang bisa kita lakukan untuk membuat terobosan produk Teh kita. Oleh karena itu saya dalam 2 minggu kedepan akan banyak memerlukan informasi dari kelompok tani dan tentunya dari pak Daden sebagai orang yang paham dan telah lama mengelola kebun bibit ini. Kita selama ini dikenal di pasar global sebagai pemegang produksi untuk teh hitam atau black tea dengan export nomor satu ke banyak negara, teh hitam kita sudah bisa ditemui dibayak tempat namun kita tidak boleh berpuas diri, karena negara produsen teh lainnya juga selalu membuat terobosan untuk meningkatkan produksi mereka" penjelasan Arimbi. Semua yang hadir tampak menyimak dengan seksama.
"Baik...nanti berarti kita masih perlu untuk ngumpul lagi ya dengan bapak ibu kelompok tani kita..." sambung Daden sambil melihat kepada semua dan berakhir melihat ke arah Arimbi.
"Betul pak Daden...namun saya juga akan turun langsung menemui kelompok tani dan melihat kebun bibit untuk memeriksa kualitas tanaman yang kita punya saat ini...mungkin nanti saya butuh bantuan pak Wito ya...untuk menemani saya keliling melihat kebun. Kalau untuk perencanaan tanam nanti kita bisa diskusi ya pak Daden" jawab Arimbi.
Tanpa terasa sudah lebih satu jam mereka berdiskusi dengan kelompok tani, karena besok Arimbi ada kelas, maka setelah menyudahi penjelasannya yang panjang lebar kepada kelompok tani, Arimbi bertanya ke pak Wito untuk koordinasi waktu untuk turun dan keliling guna mengecek situasi kebun bibit dan tanaman bibit yang sedang di tanam saat ini.
Mas Daden mendampingi pak Wito untuk bisa mengarahkan jadwal yang sebaiknya dipilih untuk menemani Arimbi turun ke kebun. Mas Daden menyarankan untuk turun pagi karena kalau sudah siang selain panas juga tidak bisa leluasa bertemu dengan petani pemetik yang umumnya mulai bekerja sebelum matahari mulai naik, tujuannya selain tidak kepanasan kalau kesiangan, juga untuk mendapatkan pucuk yang masih fresh ketika dipetik.
Setelah menyepakati jadwal untuk meninjau kebun dengan pak Wito, Arimbi beserta pak Budi dan mas Daden balik ke kantor utama setelah sebelumnya makan siang di kedai makan saung dekat kebun bibit.
***
Sesampai di kantor pusat tepat di pukul 2.15 Arimbi bergegas ke ruangan dimana meja kerjanya berada yaitu di lantai 5. Diruangan ini Arimbi seruangan dengan 4 orang lainnya termasuk mas Daden.
Arimbi duduk di kubikalnya untuk membuat beberapa catatan dari kegiatannya hari ini dan kemudian bersiap untuk bergabung dengan teman-temannya untuk bersama-sama jalan ke kota kabupaten.
Sekitar pukul 3.30 Arimbi pamit ke mas Daden untuk pulang duluan, setelah itu dia menuju coffeshop yang ada di area kantor pusat untuk bergabung dengan teman-temannya.
Di coffeshop Arimbi belum melihat satupun temannya, dia akhirnya memutuskan untuk duduk di area outdoor pelataran coffeshop sambil mengecek handphone nya.
Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya beberapa teman Arimbi sudah datang dan area outdoor terlihat sedikit ramai dipenuhi oleh para staf baru sekitar 8 orang.
Nancy adalah yang paling ramai diantara mereka, dia lebih ke caper...cari perhatian...kepada 4 rekan cowok yang sudah hadir disana...terutama kepada Hendra si ketua.
"Sepertinya yang lain akan nyusul belakangan, karena masih belum kelar dengan unit mereka masing-masing" suara Hendra mengumumkan kepada mereka semua.
Setelah berdiskusi singkat, akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan shuttle bus kantor menuju pasar yang terletak di ibukota kabupaten, jarak dari kantor pusat sekitar 7 km.
Dari ngobrol dengan teman-temannya ini, Arimbi tahu bahwa semua mereka sudah mendapat notifikasi unit untuk housing. Arimbi merasa sedikit resah dengan kenyataan tersebut. Dia berencana untuk menemui bu Sherin besok untuk menanyakan status pengajuan housingnya.
Hendra melihat ke arah Arimbi sambil bertanya "Ri...gimana? apa sudah ada info tentang pengajuan housing?" Arimbi kaget karena dia tadi sempat melamun ketika otaknya blank memikirkan tentang tempat tinggalnya nanti.
" Ehh...aakku...gak..ehh..maksudnya belum ketemu bu Sherin...tapi aku besok berencana menemui beliau" jawab Arimbi. "Besok aku temani ya...biar jelas status pengajuannya". sahut Hendra. Arimbi hanya mengangguk kepada Hendra. Nancy yang melihat dan mendengar interaksi Arimbi dan Hendra tadi hanya mendengus kesal dengan situasi tersebut, ia merasa Hendra tertarik kepada Arimbi...hal itu membuat Nancy merasa Arimbi sebagai rival terberatnya untuk mendapatkan Hendra, walau dia sendiri tidak yakin dengan pemikirannya tersebut.
****
Pasar kabupaten ini cukup bagus karena tertàta dengan rapi serta bangunannya yang cukup modern dibanding pasar rakyat sejenis di tempat lain, ini tentu tak lepas dari campur tangan Will Agro Global Industries yang membangun fasilitas publik yang modern ini untuk masyarakat sekitar perusahaan. Terdapat 3 kelompok bangunan besar yang masing-masingnya seukuran lapangan sepak bola, setiap bangunan punya peruntukkan yang berbeda, satu bangunan untuk pusat jual beli bahan pangan, satunya lagi untuk pusat penjualan sandang, pecah belah dan kebutuhan sekunder lainnya dan bagunan lainnya adalah area parkir dan warung jajan, penataan yang direncanakan dengan baik.
Mereka berkeliling di area penjualan pecah belah, beberapa teman Arimbi membeli kebutuhan alat masak dan kebutuhan dapur lainnya, lalu ada yang mencari kebutuhan untuk perlengkapan kamar tidur dan lain-lain.
Arimbi memisahkan diri untuk melihat ke pasar pangan, kebetulan bus mereka parkir tidak jauh dari pasar pangan tersebut.
Ketika sedang asik melihat-lihat jenis jualan yang dijual, tiba-tiba ada yang menegurnya dari samping, Arimbi sontak terkaget karena ada yang tiba-tiba memanggil namanya.
"Pak Wito"...sapa balik Arimbi kepada orang yang menegurnya tadi. Ternyata pak Wito yang menegurnya, dia terlihat bersama seorang remaja laki-laki berusia sekitar 16an tahun.
"Saya tadi agak ragu...apa ini benar bu Ari...setelah dekat ternyata betul bu Ari" jelas pak Wito. "Bu Ari belanja apa?" tanya pak Wito.
"Ndak belanja pak..hanya melihat-lihat saja, saya dan beberapa teman lagi jalan-jalan ke pasar karena teman saya mau beli perlengkapan untuk kebutuhan di perumahan staf karena akhir minggu ini mereka sudah akan pindah kesana" jelas Arimbi. Pak Wito mendengarkan penjelasan Arimbi. "Wah...bu Ari enak...sudah disiapkan rumah disana, jadi gak repot untuk cari kontrakan, selain itu disekitar kantor itu ndak ada kontrakan yang sekelas perumahan staf...adapun seperti rumah saya yang hanya pantas untuk petani saja" sambung pak Wito sambil tertawa sungkan.
"Saya belum dapat unit pak, masih menunggu pengajuan saya disetujui, makanya saya jalan-jalannya di pasar sayur ini bukan di sebelah di pasar pecah belah bareng dengan teman-teman saya" jelas Arimbi. "Tadi pak Wito bilang kalau dekat kantor gak ada kontrakan, maksudnya gimana pak?" tanya Arimbi. "Iya bu...kalau dekat-dekat kantor kontrakan yang pas untuk orang seperti bu Ari itu agak jarang, kalaupun ada sudah pasti penuh, paling arah ke pasar ini yang agak rame tentu jaraknya agak jauh dari kantor selain itu angkotnya gak rame yang lewat kantor itu bu...karena yang perlu ke arah kantor adalah para petani dan kami selalu berangkat dengan kendaraan yang di siapkan oleh kantor dengan jenis pick up karena kami juga harus bawa perlengkapan kerja di kebun" papar pak Wito.
"Tadi bapak bilang seperti rumah bapak yang pantas untuk petani...apa ada petani yang tinggal dengan bapak? bapak punya tempat untuk petani?" cecar Ari kepada pak Wito.
"Anu bu...anu...saya gak enak jelasinnya ke ibu" sahut pak Wito.
"Gak apa-apa pak, cerita aja, jangan sungkan gitu" jawab Arimbi.
"Baiklah...jadi gini bu...saya punya rumah mendiang mertua saya yang letaknya pas didepan rumah saya, jaraknya hanya 5 meter dari pintu rumah saya, dulu waktu saya baru berkeluarga saya dan istri masih tinggal dengan mertua saya, lalu ketika anak pertama saya lahir saya mulai sedikit-sedikit nabung untuk buat rumah sendiri. Alhamdulillah rumah mertua saya tanahnya cukup luas sehingga kami tidak perlu beli tanah karena mertua saya yang minta agar kami tinggal dekat dengan mereka. Dan rumah itu baru selesai setelah anak pertama saya masuk SMA...rejekinya sedikit-sedikit hingga lama baru kelar bu" penjelasan pak Wito panjang lebar. "Semenjak mertua saya sudah gak ada, rumah itu saya sewakan untuk teman kelompok tani saya yang tadi siang ketemu ibu, karena mereka gak datang dari desa ini sehingga mereka butuh tempat untuk mereka tempati disini, jadilah saya tawarkan rumah mertua saya itu. Sewanya juga gak saya patok bu...mereka ngasih sesuai keadaan keuangan mereka yang mereka kumpulkan setiap bulan, saya sebenarnya gak enak menerima, tapi karena mereka juga memaksa, akhirnya saya terima dengan syarat mereka jika sedang kesulitan keuangan saya larang untuk bayar sewa...bagi saya selain membantu mereka, biar rumah mertua saya gak kosong dan masih tetap terawat" ujar pak Wito lagi.
"Jadi tadi semua rekan kelompok tani pak Wito tinggal dirumah bapak semua?" tanya Arimbi.
"Betul bu...ada 3 kamar di tempat saya, kebetulan 2 kamar ukurannya cukup besar bisa menampung 10 orang tidur berjejer dengan kasur lipat. Kamar yang ukuran kecil di pakai bapak-bapak yang besar untuk para ibu-ibu" jelas pak Wito.
"Wah...kedengarannya seru ya...kalau tinggal rame-rame seperti itu...kalau masih ada kamar saya juga mau pak ikut gabung" seloroh Arimbi pada pak Wito. Pak Wito terkejut mendengar selorohan Arimbi. "Waduh...masak bu Ari mau ikut tinggal bareng kami, gak cocok bu...belum lagi harus jalan ke kantor" ujar pak Wito.
"Nanti bisa bareng saya kok...kalau saya berangkat ke sekolah" tiba-tiba anak remaja disamping pak Wito ikutan bicara.
"Hushh...gak sopan...ikutan nimbrung kalau orang tua lagi ngomong" semprot pak Wito ke anak tersebut. "Aduh..maaf bu Ari...ini anak lanang saya, kadang suka ikut-ikut nimbrung kalau dia gak di ajak ikut ngomong. Ayo Bayu...kasih salam dulu sama bu Ari" perintah pak Wito ke anaknya yang bernama Bayu tersebut. Si anak segera membungkuk sambil menyalami Arimbi dengan takzim.
"Sudah kelas berapa sekolahnya?" tanya Arimbi. "Baru kelas 1 SMA bu" jawab Bayu. "Kamu bawa kendaraan ke sekolah?" lagi Arimbi bertanya. "Terpaksa bu...karena sekolahnya lumayan jauh dari rumah, kalau naik angkot bisa terlambat karena lewatnya jarang itupun seringnya penuh dan saya kalau pagi gak bisa ngantar karena sudah ke kebun...dan karena dia sudah bisa bawa motor sejak SMP, maka terpaksa di ijinkan bu" jelas pak Wito buru-buru gak enak hati.
"Karena keadaan yang memaksa terkadang kita harus membuat keputusan yang berbeda...yang penting berhati-hati dijalan dan taati peraturan berlalu lintas ya" pesan Arimbi pada anak pak Wito itu.
********