Chapter 107: Kemarahan Yang Memuncak

1095 Kata

Chesa keluar dari kantor guru. Tidak disangka sudah ada Keisha yang menunggu di luar sana. Sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk lengkungan indah. Senyum Keisha sukses menular pada Chesa. “Habis ini lo free, kan?” “Free kok,” Begitu Keisha sudah dekat dengan Chesa, tangannya terulur ke pundak Gadis itu—merangkulnya. "Gimana kalau kita pergi?" "Kemana?" _•••••__ "Saaaa! Gila! Tinggi banget sumpahhh!" "AAAAAAKKKKKHHH!" "WOOOOOOO!" Semoga saja kupingnya tidak jadi tuli! Kalau Keisha sudah teriak, speaker masjid mah sudah kalah kali. Antara menyesal dan senang. Itulah yang Chesa rasakan. Mau menutup kedua telinganya, tidak bisa. "Kei, berisik." peringat Chesa, suaranya meredam karena teriakan orang di depan serta belakangnya. Alhasil berakhir percuma. Puluhan menit, a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN