Chapter 109: Dukungan

1029 Kata

“Ssst. Udah. Jangan buang waktu. Mending lo samperin aja dia ke halaman belakang.” Hana bersedekap, lantas berjalan dan menyenggol kasar bahu Chesa. Chesa berlari ke tempat yang dibilang oleh Hana barusan. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Dia yakin itu. Ibunya pasti baik-baik saja. “Nak, tolong. Perut Ibu... sa...kit...” mata Chesa langsunv mengarah pada Rumaisa yang kini terduduk sembari memegang perut. Kelopak mata Chesa melebar. Debaran jantungnya meningkat cepat. Dia berjongkok, mengamati tubuh Ibunya itu untuk memastikan. Netra hitamnya kini terpusat pada air yang mengalir di paha Rumaisa. Itu berarti... ibunya akan melahirkan?! “Ibu diapain sama dia? Mana yang terluka? Ibu enggak pa-pa, kan? Sebentar, aku ambil telefon buat kasih tau Ayah.” Chesa hendak berpijak. Rumaisa l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN