“Aku—“ jawab Erin yang merasa bingung, jawaban apa yang harus dia berikan kepada pria itu, karena selama ini dia mencintainya, meski tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. “Kau kenapa?” tanya Adam bingung. Erin menoleh dan menatap pria yang duduk di hadapannya sambil menyeruput air jahe buatannya. Pria itu sangat tampan dan baginya tidak ada yang dapat menyainginya melebihi apapun. Setitik cairan bening mulai memenuhi tepi pelupuk matanya, lalu kedua tangan wanita itu terulur mengarah ke wajah tampan dengan rahang tegas yang ditumbuhi sedikit bulu halus. Wangi tubuhnya yang khas sangat menyukakan penciuman Erin. Perlahan dia membelai wajah Adam dan mengaku, “Aku menyukaimu sejak lama, itulah mengapa aku rela memberikan diriku padamu. Aku tahu ini mustahil dan aku bukanlah tipe wanita

