Keluarga

1342 Kata
Hari ini Dhira pulang bersama Karen, karena ia sedang berhalangan, jadi ia bisa langsung pulang. Ia berniat memberi tahu Karen tentang kepergiannya. Jadi, ia mengajak Karen untuk menginap di rumahnya malam ini. Sekaligus mengerjakan tugas kelompok Seni Budaya. Sementara itu, Rangga menunggunya di depan musala. Meski ia sendiri pun tidak yakin karena tak melihat Dhira sejak tadi. Saat melihat Latifah, ia menanyakan keberadaan Dhira. Latifah menjelaskan kalau Dhira sedang berhalangan jadi ia tidak salat. Namun sepertinya Rangga tidak mengerti apa yang dikatakan Latifah. “Intinya, Dhira tidak di sini sekarang. Ia sudah pulang bersama Karen,” jelas Latifah. Rangga mengangguk paham dan berkata akan segera pergi. Lagi-lagi, ia kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Dhira. “Rangga,” panggil Latifah membuat Rangga menghentikan langkahnya. Menghadap Latifah. “Kamu ... sebaiknya jangan menyukai Dhira. Kalian tidak akan bisa bersama,” ucap Latifah tiba-tiba. Rangga nampak tertegun untuk sesaat. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Aku pergi dulu,” ucapnya sedikit terbata. Lalu kembali berbalik dan berniat segera pergi. Namun, satu panggilan kembali membuatnya menghentikan langkah. Ia berhenti tanpa menoleh. “Dengar. Hentikan semua permainanmu. Aku mohon jangan mengusik hati Dhira. Biarkan dia, kamu hanya akan menyakitinya lebih jauh.” Rangga berbalik. “Terima kasih atas nasihatmu. Tapi kamu tidak berhak mengatur hidupku. Kamu tidak berhak mengatur hatiku.” Rangga menatap Latifah tanpa ragu, lantas segera pergi dari hadapannya. **** “Assalamu'alaikum, Mi ...,” ucap Dhira saat sampai di hadapan Umi kemudian mencium punggung tangannya. “Wa'alaikumussalam, kenapa baru pulang?” tanya Umi. Pasalnya, Dhira baru pulang pukul empat sore. Tidak seperti biasanya. “Maaf Mi, tadi Dhira ke rumah Karen dulu. Malem ini dia mau tidur di sini, sekalian ngerjain tugas kelompok. Nggak papa kan, Mi?” Belum sempat Umi menjawab, Karen sudah menyapanya lebih dulu. “Halo Tante, saya Karen, teman sebangkunya Dhira sekaligus teman dekatnya Dhira,” sambung Karen sambil tersenyum lebar. Umi Dhira tersenyum melihat perilakunya. Ia tahu tentang Karen, Dhira sering bercerita tentangnya. “Oh, jadi ini yang namanya Karen ... persis seperti yang Dhira bilang,” ujarnya masih dengan senyum ramah. “Tentu saja boleh. Dhira juga sendirian kok di sini.” “Loh? Dhira sering ceritain aku ya, Tante? Dia bilang apa aja, Tan? Gak bilang yang aneh-aneh, kan?” tanyanya terlihat serius membuat Dhira dan Umi terkekeh pelan. “Udah! Mau tau aja. Mending sekarang kita ke kamar aku. Let's go! Sister!” seru Dhira merangkul sahabatnya dan membawa Karen menaiki anak tangga menuju kamarnya sambil berceloteh riang. Uminya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Namun, ia juga senang karena Dhira memiliki teman dekat seperti itu. Mereka sampai di kamar Dhira. Kamar yang cukup luas dengan dinding dicat berwarna putih; ditempeli kaligrafi serta beberapa hiasan dinding lainnya. Benar-benar rapi. “Hahh ... kayaknya aku bakal betah di sini,” desah Karen yang hanya disambut senyuman kecil dari Dhira. “Oh ya, Abi kamu belum pulang kerja, yah?” “Iya. Sebentar lagi juga pulang. Abi selalu pulang sebelum Magrib agar bisa sembahyang berjamaah di rumah. Kalau di Bandung, Abi selalu pergi ke masjid,” jelas Dhira. Karen mengangguk mengerti. “Aku mau mandi dulu ya, sekalian mau bersuci. Nanti gantian kamu yang mandi, oke?” Karen mengacungkan satu jempolnya. Lalu Dhira menuju kamar mandi setelah membawa pakaian ganti. Saat waktu Magrib tiba, Abi mengetuk pintu kamar Dhira untuk mengajaknya sembahyang. Dhira terpaksa meninggalkan Karen sendirian dan menyuruhnya menunggu sampai Isya. Karena biasanya setelah salat Magrib, mereka akan zikir dan tilawah bersama. Karen tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Dhira pun pergi ke musala yang ada di dalam rumahnya. Sudah lima belas menit berlalu. Karen merasa bosan menunggu sendiri, ia pun berjalan ke luar kamar, melihat-lihat rumah Dhira hingga sampai di musala tempat Dhira dan orang tuanya sembahyang. Ia melihat Dhira mencium tangan kedua orang tuanya dengan penuh hormat dan rasa sayang. Mereka berzikir bersama dipimpin oleh ayah mereka. Karen tersenyum melihatnya. Ia melihat kedamaian dan kebahagiaan menyelimuti keluarga sahabatnya. Setlah puas melihat, Karen memutuskan ke kamar andai saja ia tidak mendengar lantunan indah yang mengisi ruangan tempat keluarga Dhira berada. Ia pun kembali mengintip, ia bisa melihat mereka membaca sebuah, buku? Ah, mungkin itu yang Dhira sebut Al Qur'an. Karen sering melihat Dhira membawanya. Tapi baru kali ini ia mendengarnya. Begitu indah dan damai. Menenteramkan hati siapa pun yang mendengarnya. Karen tersenyum mendengar ayat demi ayat yang dilantunkan keluarga Dhira dan tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu saja. Ia bingung, ia benar-benar menangis. Ia mengusap air yang mengalir pelan di pipinya lalu memutuskan kembali ke kamar Dhira. Usai salat Isya, Dhira menghampiri Karen yang berada di kamarnya. “Karen. Maaf ya, kamu jadi nunggu lama,” ucap Dhira tidak enak. “Iya. Nggak papa kok Ra, tenang aja!” Karen mengedipkan sebelah matanya. “Umi dan Abi nyuruh kita ke bawah untuk makan malam. Kamu juga belum makan, kan? Yuk!” “Nggak usah Ra ... aku nggak lap—” Ucapan Karen terhenti karena suara yang berasal dari perutnya terdengar mengerikan. Dhira terkekeh pelan, sementara Karen hanya nyengir kuda. Dhira dan Karen pun sampai di meja makan dan disambut hangat oleh orang tua Dhira. Mereka benar-benar orang yang hangat—itulah yang Karen pikirkan. “Nah, Nak Karen, makan yang banyak ya ... tapi jangan sampai kekenyangan, tidak baik,” ucap Umi lembut. “Iya Tante, makasih.” Mereka pun mulai makan, dan terjadi obrolan-obrolan kecil di sana. “Nah, ini lauknya dimakan juga.” Umi menaruh daging ikan—yang sudah dia buang durinya—ke dalam piring nasi milik Karen, juga milik Dhira. Karen tertegun. Berbeda dengan Dhira yang terlihat senang. “Makasih, Mi ...,” ucap Dhira disambut senyuman hangat dari Uminya. “Loh? Nak Karen kenapa? Tidak suka makanannya, ya?” Kali ini Abi yang berbicara. Ia merasa heran, karena Karen diam saja sambil menundukkan kepala setelah menerima daging ikan dari Umi. Namun Karen menggelengkan kepala, membantah perkataan Abi. “Terus kenapa? Nggak enak, ya? Atau alergi?” tanya Umi. “Karen ....” Dhira memegang bahu Karen dan mencoba melihat wajahnya. Lalu ia mendengar isakan kecil dari Karen. “Aatagfirullah ... Karen, kamu nangis? Kenapa?” tanya Dhira dengan lembut, mulai cemas. Karen mengangkat kepala, mengusap air matanya. “Karen nggak papa kok Ra, Om, Tante.” Karen tersenyum menatap keluarga Dhira. “Karen cuma ngerasa iri melihat keluarga ini, kalian terlihat sangat akrab dan hangat. Tidak seperti keluarga Karen. Karen bahkan tidak pernah makan bersama seperti ini ....” Semuanya terdiam mendengar penuturan Karen. Karen yang menyadari situasi menjadi canggung pun cepat-cepat minta maaf. “Tidak papa, kamu boleh kok sering main ke sini, ikut makan seperti ini lagi, iya kan, Bi?” ucap Umi menyenggol suaminya dan langsung diberi persetujuan. Karen tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih. Dhira menatap sahabatnya dan tersenyum senang. Lalu melanjutkan makan dengan tenang. Setelah mengerjakan tugas Seni Budaya, kini Dhira dan Karen telah bersiap untuk tidur. Mereka membaringkan tubuh di ranjang dan menutup sebagian tubuh dengan selimut. “Ra ...,” Karen memulai percakapan. “Makasih ya ... untuk hari ini.” Dhira tersenyum mengiakan. “Aku juga makasih ya, Ren ....” “Untuk?” tanya Karen bingung. Ia merasa tak melakukan apa-apa untuk sahabatnya ini. “Karena kamu udah mau jadi temen aku,” tukas Dhira sambil tersenyum. “Ya elah, kirain apaan,” decak Karen. “Ren ... aku akan pergi minggu depan.” “Pergi? Ke mana? Kok nggak ajak-ajak?” “Aku akan pindah ke Bandung.” Penjelasan Dhira membuat Karen terdiam. Sepertinya dia baru mengerti maksud sahabatnya sekarang. “Apa? Kenapa? Kenapa tiba-tiba sekali? Lalu aku bagaimana?” tanya Karen cemas memiringkan badannya agar menghadap Dhira. “Maafin aku Ren ... aku juga tidak menginginkannya. Tapi apa boleh buat, aku nggak bisa menolak permintaan orang tuaku,” ucap Dhira sedih. Terlihat bahwa Karen pun merasa sedih. Ia harus kehilangan teman sebangkunya, sahabatnya. Karen memeluk Dhira dari samping. “Aku pasti akan merindukanmu, Ra ... jangan lupain aku, yah?” Dhira tersenyum lembut. “Mana mungkin aku melupakan gadis cerewet sepertimu, Ren. Gak ada duanya deh, kamu.” Karen mencebik. “Kamu tuh muji atau ngehina sih, sebenernya?” Lalu mereka pun tertawa. “Ra ....” “Hm?” “Boleh aku nanya?” Dhira mengernyit heran. Aneh. Biasanya juga Karen langsung nyerocos tanpa harus minta izin Dhira. “Kenapa?” tanya Dhira. “Soal Rangga ....” “Aku nggak mau membahasnya,” pangkas Dhira memiringkan badannya—memunggungi Karen. Mencoba tak peduli apa pun yang ingin disampaikan sahabatnya tentang pria itu. “Dia pasti punya alasan Ra, kasihan dia. Kamu nggak lihat betapa dia berusaha minta maaf sama kamu?” Dhira tidak menjawab. Ia memejamkan matanya. Anggap saja dirinya sudah tidur. Ia benar-benar sedang tidak mau membahas orang itu. Karen menghela napas. “Ya sudah kalau begitu. Aku harap kalian kembali seperti dulu. Night.” Dhira tak mendengar lagi Karen berbicara, mungkin dia sudah tidur. Pikirnya. Mau tak mau Dhira jadi kepikiran. Ia menghela napas. Seperti dulu? Untuk apa? Toh, aku akan pergi juga. Tak akan mengubah apa pun. Dan tak akan ada yang berubah di antara aku dengannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN