Seolah tak mengenal kata lelah, Rangga masih berusaha untuk bisa berbicara dengan Dhira. Ia ingin menjelaskan semuanya. Bagaimanapun caranya.“Ra, kita harus bicara.” Rangga menghampiri Dhira. Ia masih berusaha keras agar Dhira mau mendengarkannya. Namun seperti biasa, Dhira selalu menghindar.
Tanpa mengacuhkan Rangga, Dhira melenggang pergi ke luar kelas. Rangga segera menyusul dan menahan tangannya. Dhira kaget, biasanya Rangga tidak akan melakukannya dengan sengaja.
“Lepaskan tanganku, Ga!” Dhira mencoba melepasnya, namun genggaman Rangga begitu kuat.
“Aku tidak akan melepasnya sampai kamu mau mendengarkanku,” ujar Rangga tegas dan tak main-main.
Saat itulah Rangga baru menyadari kalau Dhira sudah tak memakai gelang pemberiannya lagi. Ia nampak kaget, terlihat sorot terluka di matanya. Berikut rasa yang ganjil di dadanya.
“Aku sudah katakan, kalau itu tidak masalah bagiku! Jadi, lepaskan. Aku mohon, Ga!” pinta Dhira. Ia benar-benar sudah tak mempermasalahkan hal itu lagi, dan ia tidak ingin peduli lagi tentang apa pun itu.
“Kak Rangga!”
Liz memanggilnya, tanpa sadar Rangga melepaskan genggaman tangannya. Dhira menggunakan kesempatan itu untuk lari. Rangga terkejut karena Dhira berlari dari hadapannya.
“Ra! Tunggu dulu, Ra!” teriak Rangga berusaha mengejar namun Liz menahannya.
“Kak Rangga, tunggu. Kakak ada urusan apa sih sama cewek itu? Dia seorang muslim, kan? Harusnya Kakak tidak memegang tangannya seperti itu.”
Rangga sedikit terkejut dan bertanya kenapa Liz bisa tahu hal seperti itu.
“Tentu saja. Apa Kakak tidak pernah menonton sinetron? Heh, mereka itu benar-benar naif.”
“Hey, kamu tidak boleh seperti itu,” tegur Rangga nampak tidak suka. Karena yang ia tahu, Dhira tidak seperti itu. Liz pun berkata kalau ia mengerti, tanpa sungguh-sungguh.
Dhira berada di perpustakaan, bermaksud mengalihkan pikirannya. Namun ia kembali teringat saat Rangga menggenggam erat tangannya, lalu melepaskannya saat ada orang lain yang memanggilnya. Dhira menghela napas panjang. Ia tidak mengerti, mengapa semuanya jadi seperti ini. Apa sesuatu terjadi pada hatinya? Kenapa perasaan asing itu semakin menjadi? Ia telah memutuskan untuk menghilangkan perasaan anehnya itu. Tapi nyatanya, Tuhan tidak mengizinkannya.
Hari demi hari berlalu dan semakin memperjelas perasaannya. Semakin ia menahannya, maka semakin besar pula keinginan untuk memilikinya. Semakin ia menghapus perasaannya, semakin besar pula perasaannya tumbuh.
Rangga masih saja mencoba untuk berbicara pada Dhira meski sudah diabaikan berkali-kali. Selain itu, sekarang Rangga sering bersama Liz, entah kenapa Dhira merasa tidak menyukai hal itu. Ia tidak suka jika Rangga bersama wanita lain. Ia tidak suka jika Rangga tertawa karena orang lain.
Selama itu pula, Rangga selalu memperhatikan Dhira. Dan ia sudah tidak tahan lagi melihat Dhira terus menjauhinya. Saat pulang sekolah, Rangga menarik tangan Dhira dan membawanya ke belakang sekolah secara paksa. Tidak memedulikan tatapan orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan penasaran.
“Rangga! Kamu apa-apaan, sih? Lepas!”
Rangga tak memedulikan ocehan Dhira dan terus menyeretnya, hingga sampai di belakang sekolah barulah ia melepaskan tangan Dhira dengan kasar. Dhira sedikit meringis kesakitan. Ia mencoba tak menanggapinya dan melangkah pergi. Namun lagi-lagi Rangga menahannya dan mendorong Dhira.
“Rangga!” bentak Dhira tak habis pikir dengannya.
“Aku hanya ingin berbicara denganmu!” Rangga balik membentaknya. Kesabarannya sudah di ambang batas.
“Tapi tidak seperti ini caranya. Ini bisa jadi fitnah!” Dhira tak kalah berteriak.
“Lalu aku harus bagaimana? Katakan! Saat aku mendekatimu, kau selalu menghindar. Saat aku mengganggumu, kau mengacuhkanku. Saat aku ingin berbicara denganmu, kau mengabaikanku. Bahkan keadaan seolah berkonspirasi menjauhkanmu dariku. Lalu aku harus bagaimana?!” Rangga meluapkan emosinya. Ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan agar gadis di depannya ini mau mendengarkannya.
“Bukankah aku sudah bilang berulang kali kalau itu tidak masalah. Aku tidak peduli tentang semua itu,” ucap Dhira tegas lalu embuang muka; mencoba untuk tak peduli.
“Saat itu aku terpaksa mengatakannya,” Rangga mengaku.
“Bahkan jika yang kamu katakan adalah kebenaran, tetap tidak apa-apa. Jadi jangan khawatir,” tukas Dhira. Lalu ia mencoba pergi lagi, namun Rangga menahannya, lagi.
“Kamu bohong. Lalu kenapa kamu selalu menjauhiku? Mengabaikanku? Bahkan kamu tak ingin bicara denganku! Kenapa?” Rangga tak ingin menyerah.
“Aku hanya tidak ingin berbicara denganmu dan berada di dekatmu. Aku tidak ingin kamu menggangguku lagi. Karena aku merasa tidak nyaman. Apa itu salah?”
“Oke. Kamu memang benar, mungkin caraku memang salah. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu mau mendengarkanku. Dan satu lagi, kenapa kamu tidak memakai gelang itu?”
Dhira terlihat sedikit terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
“Aku tidak menyukainya.” Dhira mengalihkan pandangannya. Keduanya sama-sama memperlihatkan sorot kecewa.
“Tapi kamu sudah berjanji untuk tidak pernah melepaskannya,” ujar Rangga melemah.
“Seingatku, aku tidak pernah membuat janji konyol seperti itu.”
“Tapi tetap saja! Kau tidak seharusnya melepasnya!” Rangga meninggikan suaranya.
Dhira kembali menatap Rangga tajam. “Kenapa? Apa itu masalah bagimu? Apa itu mengganggumu?!” balas Dhira tak kalah berteriak.
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena ... karena, itu pemberian dariku,” nada bicara Rangga kembali melemah.
“Lalu? Kenapa aku harus memakainya jika itu darimu? Kau sungguh aneh!”
Rangga terdiam.
“Kamu tidak bisa menjawabnya, kan?” Dhira pun memutuskan untuk pergi.
“Aku menyukaimu,” ucap Rangga dalam satu tarikan napas. Ia tak bisa menahannya lagi.
Dhira terpaku. Ia sama sekali tak menduga hal ini akan terjadi. Mendadak, gugup melandanya dan ia memutuskan pergi lagi. Namun, kata-kata Rangga menahannya.
“Aku menyukaimu. Dhira Maulidina Saputra,” ulang Rangga. “Sejak pertama, alasan kenapa aku sangat suka mengganggumu karena aku pikir aku menyukaimu, tapi aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Jadi aku putuskan untuk terus mengganggumu dan mengikutimu agar aku bisa memperjelas perasaanku.
“Aku senang saat kau marah padaku. Aku bahagia saat aku bisa membuatmu kesal karenaku. Aku merasa tenang saat melihatmu tersenyum. Aku bahagia saat dekat denganmu dan aku sedih saat kau pergi dariku. Dan sekarang, aku yakin kalau aku memang menyukaimu, Ra ...,” jeda sebentar.
Rangga menarik nafas. “Aku tahu aku pengecut. Aku terlalu takut untuk mengakui itu di depan teman-temanku. Karena itu aku berbohong, sungguh. Kamu tidak seperti apa yang aku katakan waktu itu, kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui, Ra ... selain ibuku.”
Dhira menangis dalam diam. Entah bagaimana menggambarkan perasaan Dhira, setelah mendengar pernyataan laki-laki yang—nyatanya—juga ia cintai. Pertama kali baginya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya; ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Namun ia berusaha menahannya. Rasa bahagia yang amat sangat dan rasa sakit yang teramat pedih. Ia ingin sekali berbalik dan mengatakan hal yang sama. Tapi ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Dan ini sangatlah menyakitkan baginya.
“Kenapa kamu diam saja, Ra? Kamu juga menyukaiku, kan?” lirih Rangga.
Dhira tertegun. Seolah baru saja ada yang menghantam dadanya keras-keras.
Bagaimana bisa ....
Dhira berusaha mengendalikan perasaannya. Menahan isak tangis yang terasa sakit di tenggorokan.
“Tidak. Kenapa kau begitu percaya diri?” Dhira berusaha menjawab dengan tegas tanpa terdengar menangis.
“Pembohong,” tukas Rangga. “Aku mendengar percakapanmu dengan Latifah.”
Dhira terbelalak kaget, jadi ... dia mendengarnya?
“Kalau kamu tidak berbohong, tatap mataku dan katakan kalau kau tidak menyukaiku!”
Dhira tak bisa menahannya lagi, ia berlari menjauhi Rangga. Rangga pun berusaha mengejarnya. Di samping itu, Liz ternyata melihat dan mendengar segalanya.
Rangga terus berusaha menjajarkan langkah hingga akhirnya berhasil mengejar Dhira dan menarik tangannya hingga ia berbalik. Betapa terkejutnya ia mendapati Dhira yang tengah menangis. Melihat itu, dadanya mencelos dan hatinya terasa sakit. “Ra ... kamu ....”
“Aku mohon ... biarkan aku pergi, Ga ...,” lirih Dhira. Namun Rangga enggan melepasnya sebelum ia mendengar jawaban Dhira.
Rangga menatap sorot mata Dhira yang memancarkan kepedihan. Ia seolah ingin mencari sesuatu dari matanya.
“Tolong hentikan semua ini. Aku mohon ...,” pinta Dhira sungguh-sungguh. Dan hati Rangga serasa tersayat-sayat kala itu.
Kali ini Rangga luluh, ia melepaskan tangan Dhira. Dhira pun melangkah pergi dengan langkah pelan. Rangga menatapnya dengan sedih. Hatinya sakit dan terasa remuk melihat gadis yang disukainya menangis seperti itu. Dan itu karenanya.
Rangga mengalihkan pandangannya ke atas dan tanpa sengaja ia menangkap sosok seorang perempuan seperti akan menjatuhkan pot bunga yang besar, tepat di atas kepala Dhira. Dan itu benar-benar terjadi.
Dengan sigap, Rangga berlari secepat ia bisa dan menangkap Dhira untuk menghindar dan menjatuhkannya bersama dirinya. Pot itu pun pecah di atas tanah. Kepala Rangga terbentur sangat keras pada dinding tembok hingga mengeluarkan darah dan membuatnya tak sadarkan diri.
Sedangkan Dhira merasa terkejut dengan kejadian barusan. Semuanya terlalu cepat. Ia selamat, tapi Rangga terluka karenanya. Ia begitu khawatir melihat Rangga pingsan, apalagi melihat darah yang keluar di dahinya. Dengan sisa air mata di wajahnya, ia berteriak minta tolong dan untunglah masih ada guru yang berada di sekolah. Mereka pun membawa Rangga ke rumah sakit sesegera mungkin.