Usai melihat kepergian Dhira, bukannya kembali pada teman-temannya, Rangga malah pergi ke makam ibunya. Ponselnya ia matikan karena tidak berhenti berdering sejak ia pergi. Ia tahu, teman-temannya pasti kebingungan, khawatir, kesal atau bahkan kecewa padanya.
Namun, Rangga sudah tak peduli lagi dengan semua itu. Ia tidak peduli lagi akan band-nya, teman-teman atau mimpinya. Keinginan meraih mimpi itu seolah lenyap bersamaan dengan kepergian Dhira dari hidupnya.
Berpuluh-puluh menit, Rangga hanya duduk di depan makam sang ibu tanpa melakukan apa pun.
“Bu ... aku sungguh tak mengerti.” Rangga mulai bermonolog. “Kenapa aku bisa sangat menyukainya? Saat melihatnya pergi, aku merasa dia membawa separuh nyawaku pergi bersamanya. Tapi ....
“Dia bahkan seolah tak peduli padaku. Apa aku sebegitu buruk di matanya?” Rangga menarik napas panjang, “Bu, apa yang harus aku lakukan?”
Rangga kembali termenung. Menghabiskan waktu berjam-jam di sana hingga seorang penjaga menegurnya. Menyuruhnya pulang.
Rangga akhirnya bangkit. menatap batu nisan sang ibu terakhir kalinya. “Bu, aku pamit.”
***
Keesokan harinya, saat akan memasuki kelas, Rangga dicegah teman-teman grup band-nya.
“Lo berhutang penjelasan,” ujar pria dengan tubuh tegap dan jangkung. Dia adalah Beni, drummer di band-nya.
Rangga tentu paham maksud temannya itu. Namun, ia memilih tak acuh dan melenggang begitu saja. Tentu saja, Beni tak membiarkannya lolos. Ia sigap menahan tangan Rangga. “Kemaren lo ke mana? Jawab, Rangga!”
Rangga mengentakkan tangan Beni. “Bukan urusan lo,” tukasnya dingin, lalu hendak kembali berjalan.
Beni yang geram karena tanggapan Rangga, menarik kerah cowok itu sekuat tenaga. Ia memiliki fisik yang lebih unggul dari Rangga. Sehingga Rangga pun dibuat tak kuasa melawan. Teman-temannya yang lain langsung waspada. Takut jika terjadi hal-hal di luar kendali.
“Lo bilang apa? Bukan urusan gue?” Beni mendengkus tak percaya. “Lo maen pergi ninggalin kita gitu aja, semua panggilan kita diabaikan, kita nekat tetap pergi karena berharap lo ada di sana. Tapi nyatanya? Lo nggak dateng sama sekali! Gara-gara lo, kita didiskualifikasi!
“Lo sadar nggak sih, kalo lo udah ngebuang mimpi lo sendiri, hah? Emang apa yang lebih penting dari itu? Dan asal lo tahu, ini bukan cuma mimpi lo! Tapi ini mimpi kita semua, Ga! Dan lo udah ngancurin semuanya!”
Meski Beni mengatakan itu semua dengan penuh emosi, Rangga tetap bergeming. Lalu berucap dengan wajah datar, “Meskipun kita ikut audisi itu, kita nggak bakal menang hanya dengan kemampuan rendah kalian semua.”
Bugh!
Sebuah layangan tinju mendarat di wajahnya. Rangga tersungkur. Beni siap menerjang lagi jika saja teman-temannya yang lain tidak menghentikannya.
“Beni! Tenang, Ben!”
“Dia udah ngehina kita, Rex!” Beni kalap. Ia benar-benar dikuasai emosi. “Dan kalian lihat, kan? Dia sama sekali nggak merasa bersalah. Apa kalian enggak marah? Nggak kecewa? Nggak sakit hati, hah?!”
“Tentu aja, Ben! Tapi apa dengan begini, kita bisa mengembalikan keadaan?” Rexy lalu beralih menatap Rangga. “Kita cuma mau tahu alasan lo ngebuang kita dan mimpi lo, Ga. Karena mungkin aja lo punya alasan yang bisa membenarkan sikap lo kemaren. Tapi kalau lo emang udah nggak peduli lagi, lo boleh pergi.”
Semua teman-temannya terdiam, menanti reaksi Rangga. Rangga yang terduduk perlahan bangkit, membersihkan bajunya yang kotor tanpa kata. Lalu berbalik begitu saja, mengabaikan teman-temannya.
Melihat itu, Beni kembali ingin menghajar Rangga, namun Rexy menghentikannya. “Udah, Ben. Cukup.”
Rexy melihat Rangga yang berjalan menjauh dengan tatapan sedih. “Gue kecewa sama lo, Ga.”
Sementara itu, Rangga terus berjalan sambil mengepal tangannya kuat-kuat. Menahan sesak yang terasa mencekat tenggorokannya. Seperti ini lebih baik.
Baru saja tiba di kelas, ia sudah dihadang lagi oleh seseorang. Rangga menghela napas. ada apa dengan orang-orang hari ini? “Ada apa la—“
“Ya ampun, Rangga! Wajahmu kenapa? Kamu abis berantem? Pagi-pagi gini? Seriously?”
“Berisik. Minggir,” tukas Rangga melewati gadis itu.
“Enggak, enggak. Tunggu dulu.” Karen kembali menghadang Rangga. “Kemaren kamu jadi nemuin Dhira?”
Rangga diam.
“Ah, sebaiknya lukamu diobati dulu. Ayo, kita ke UKS. Biar aku obatin.” Karen meraih tangan Rangga, namun segera dientakkan oleh cowok itu. “Ga usah.”
Karen berdecak. Mengikuti Rangga yang berjalan menuju mejanya.
“Jadi gimana? Kemarin ketemu Dhira enggak?”
“Emangnya kalau iya, kenapa? Mau mengasihani gue?”
Karen terdiam. “Bukan gitu ....” Ia menunduk, merasa bersalah. “Aku nggak tahu kalau Dhira ternyata nggak pamit sama kamu. Waktu itu aku lihat kalian ngobrol, aku pikir Dhira ngasih tahu kamu,” Karen menghela napas. “Tapi memang aneh sih, kalau Dhira memberitahumu, kamu nggak bakal setenang kemarin.”
“Semuanya sudah terjadi. Dia udah pergi. Dan mungkin memang aku nggak pernah berati apa-apa baginya. Kayak yang orang-orang bilang, kita berbeda, kita nggak akan pernah bisa bersama,” Rangga tertawa sinis. Ia baru sadar kalau memang sepertinya semesta pun tak memberikan restu padanya.
Karen menggeleng cepat. “Enggak. Aku tahu, Dhira juga suka sama kamu, Ga. Aku yakin, hal ini juga pasti berat buat Dhira. Dia juga tidak bisa apa-apa saat diberi tahu akan pindah oleh keluarganya.”
Rangga mengabaikan ucapan Karen. Ia malah sibuk merasakan sakit di wajahnya. Ia mengerang, “s****n si Beni, sakit banget.”
Karen mengalihkan pandangan ke wajah Rangga. “Emang kamu habis ngapain? Berantem sama siapa?”
“Kepo banget sih lo. Udah sana. Jangan ganggu gue.”
Karen mencebik sebal. Namun ia menurut untuk membiarkan Rangga sendiri.
Setelah Karen pergi, Rian—teman sebangku Rangga sekaligus teman satu band-nya—memasuki kelas. Ia menatap Rangga tak bersahabat. Alih-alih menuju kursinya, ia menghampiri bangku lain.
“Oy, tukeran duduk sama gue.”
Pria itu menatap Rian heran. “Emangnya kenapa?”
“Gue alergi duduk sama orang yang nggak bisa tepatin janji. Buruan!”
Meski sedikit tidak rela, pria itu menurut. Ia sih, tidak masalah duduk dengan siapa juga. Ia lantas duduk di samping Rangga. “Kalian lagi berantem?” tanyanya pada Rangga.
Alih-alih menjawab, Rangga malah bangkit dan berjalan ke pintu untuk meninggalkan kelas. Mengabaikan guru yang baru saja masuk dan meneriaki namanya.
Rangga sudah tidak mood mengikuti pelajaran. Ia pergi ke atap sekolah dan berbaring di sana sambil memandangi langit yang tampak cerah. Sekarang, ia sudah tak lagi mempunyai teman. Ia sadar, ia sudah membuat teman0temannya kecewa. Bahkan tadi pagi ia sengaja membuat teman-temannya benci padanya. Tapi tetap saja, rasanya menyebalkan melihat tingkah teman sebangkunya tadi.
Rangga menghela napas. Teman-temannya benar, ia sudah menghancurkan segalanya. Karena itu, ia merasa tak pantas lagi berada dalam satu grup bersama teman-teman band-nya.
“Ra ... aku membuang mimpiku demi dirimu. Aku sudah tak memiliki apa-apa lagi. Sehancur ini aku dibuatmu, Ra.”