Setelah kepergian Dhira, Rangga kembali menjadi seperti pada saat ibunya meninggal. Tanpa semangat, tanpa ambisi. Ia lebih banyak diam dan melamun. Sering bolos pelajaran, bahkan tidak mengikuti ulangan. Ia juga sering kali membuat masalah. Hukuman pun sudah menjadi makanan sehari-harinya. Semua orang tahu, Rangga dekat dengan Dhira. Semua orang tahu dia suka mengganggu Dhira. Semua orang tahu penyebab Rangga seperti ini juga karena Dhira.
Terlebih, Rangga pun sudah kehilangan teman-temannya. Ia menutup diri dari semua orang. Bertingkah agar dibenci semua orang.
Malam itu, ayahnya menunggu Rangga di ruang tamu dengan perasaan cemas. Karena tak biasanya anak semata wayangnya itu kelayapan setelah pulang sekolah sampai larut malam. Hingga pukul sebelas malam, Rangga baru pulang. Tapi Rangga bahkan tak memandang ayahnya sama sekali. Ia hanya melewatinya begitu saja.
“Rangga!” panggil ayahnya.
Rangga berhenti namun enggan berbalik. Penampilannya tidak ada kesan rapi sama sekali: seragam acak-acakan, rambut berantakan, dan wajah kusut.
“Kamu dari mana saja? Kamu tahu sekarang pukul berapa?” Rangga mendengkus keras. “Sampai kapan kamu akan seperti itu, hah!?” Grada sedikit membentaknya. Akhir-akhir ini Rangga selalu pulang larut. Entah apa yang ia lakukan di luar sana. Padahal sebelumnya, Rangga tak pernah pulang sekolah lebih dari jam enam sore.
“Ayah tidak usah khawatir. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku bukan anak kecil lagi, Yah,” ucapnya malas lalu kembali berjalan.
“Ayah minta maaf,” tukas ayahnya, membuat Rangga menghentikan langkah. “Ayah hanya khawatir. Cuma kamu satu-satunya yang ayah punya sekarang.” Grada merendahkan suaranya.
Rangga sempat berhenti, namun ia kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya. Tak memedulikan sang ayah yang mengkhawatirkannya.
***
Hari telah berganti, lagi, tapi langit masih sama. Tak ada yang berubah di hidupnya. Dunia tempatnya tinggal telah meninggalkannya. Ia hanya menjalani kehidupan sesuai keinginannya. Tidak ada tujuan, tidak ada mimpi, tidak ada ambisi. Ia hidup hanya sekedar hidup saja.
Rangga terdiam di atap sekolah seperti biasa, memandang langit kosong. Bagaimana pun ia mencoba tidak memikirkan Dhira, gadis itu selalu hadir di benak Rangga. Semua kenangan saat bersamanya seolah layaknya film yang tak pernah berhenti diputar.
Aku merindukanmu. Sungguh, aku tidak menyangka kalau aku bisa jatuh terlalu dalam padamu.
Rangga menghela napas panjang.
Kau sedang apa, Ra?
Ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Ia pun membukanya.
Ayah:
Kamu ingin hadiah apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?
Rangga kembali menaruh ponselnya, lalu memejamkan mata. Malas membahas hal tidak penting seperti itu. Tapi tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering tanda panggilan masuk. Nama Ayah tertera di layar. Ia pun segera menjawab panggilan itu dengan kesal.
“Aku tidak membutuhkan hadiah! Aku bukan anak kecil yang meminta diberikan hadiah saat ulang tahun! Simpan saja uangmu untuk hal yang lebih berguna!” sentaknya, lalu mematikan ponsel setelah baru saja mengatakan penolakan kasar pada sang ayah. Tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
Membuang napas kasar, ia kembali menutup mata, menyimpan lengan kanan di atas mata, hanya sekadar untuk menghalangi sinar matahari yang cukup menyilaukan. Juga berusaha menghalau bayangan perempuan yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya. Lelah dengan semua pikiran, ia pun tertidur.
Rangga mengerjap saat seseorang membangunkannya, ia pun membuka mata dan mendapati Liz duduk di sampingnya, menatap Rangga dengan tatapan prihatin yang—baginya—memuakkan. Sedekat apa pun dulu ia dengannya, ia bisa begitu membencinya hanya karena satu perbuatan buruknya. Lantas, Rangga bangkit dan hendak pergi, tak tahan berlama-lama dekat dengannya.
“Kak Rangga!”
“Jangan panggil namaku atau muncul di hadapanku lagi,” tukas Rangga. Saat ia berniat kembali pergi, Liz mengatakan sesuatu tentang ayahnya.
“Ayah,” suara Liz tercekat. “Maksudku, Om Grada ....” Kalimatnya menggantung begitu saja. Ia terdengar menghela napas sejenak. Dan Rangga menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
“Ada apa dengan ayahku?” tanya Rangga ketus tanpa berbalik.
Tiba-tiba Liz memeluk Rangga dari belakang dan terisak.
“Liz!”
“Om Grada baru saja meninggal, Kak ....”
Satu kalimat itu mampu membuat Rangga terpaku. Ia terhenyak. Meninggal, dia bilang?
Rangga bisa mendengar tangisan lolos dari bibir gadis itu. Lalu tersenyum ketir. Melepas tangan yang melingkar di perutnya dan berbalik menatap Liz. “Jangan bercanda. Mana mungkin dia yang beberapa waktu lalu baik-baik saja menghubungiku, menanyakan hadiah ulang tahun untuk anaknya, dan sekarang kamu bilang dia meninggal dunia? Sungguh lucu.” Rangga tertawa sinis. Berharap kalau yang dikatakan Liz hanyalah kebohongan. Meski ia tak bisa mengelak kalau saat ini jantungnya terus berdebar-debar ketakutan.
“Aku tidak bercanda, Kak! Ayah baru saja memberitahuku, kalau Om Grada mengalami kecelakaan,” isaknya.
“Kecelakaan?” ulang Rangga.
Liz mengangguk. “Pihak rumah sakit sudah mencoba menghubungi Kakak, tapi ponsel Kakak tidak aktif,” ujarnya.
Ya, Rangga memang mematikan ponselnya setelah terakhir kali mendapat telepon dari ayahnya.
“Kata Ayah, Om Grada baru saja membelikan hadiah ulang tahun untuk Kakak, dan saat ia akan kembali, mobilnya kecelakaan dan ....”
Kepala Rangga berdengung hebat. Ia tak bisa mendengar apa yang dikatakan Liz selanjutnya.
Hadiah? Ulang tahun? Sudah kubilang aku tak membutuhkannya! batinnya meracau tak jelas. Rangga mengepalkan tangan kuat-kuat.
Kenapa ....
“Dan baru saja, Om Grada ....”
“Pergi,” tukas Rangga penuh penekanan memenggal kalimat Liz. Ia sudah tak mau mendengarnya lagi. Tapi Liz masih terdiam.
“Aku sungguh tidak berbohong, Kak! Om Grada—”
“Aku bilang pergi!” bentak Rangga, menatapnya penuh kilatan amarah. Liz nampak terhenyak kaget, kemudian ia pergi sambil terisak.
Rangga memejamkan mata, menahan emosi, menahan rasa takut yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Lalu ia berlari, terus berlari tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang padanya. Ia mengambil motor dan melajukannya dengan kecepatan penuh, yang ia pikirkan hanyalah sampai di rumah sakit secepatnya.
Rangga berlari dengan tergesa di sepanjang koridor rumah sakit. Bodohnya, ia tidak bertanya di mana ruangan ayahnya. Ia hanya tahu berlari. Lalu ia melihat Michael—ayah Liz. Ia pun segera berlari menghampirinya.
“Ayah ... di mana Ayah?” tanya Rangga frustrasi.
“Kamu harus menerima semua ini dengan lapang, Rangga ...,” ucap Michael prihatin. Menepuk pundak Rangga, mencoba memberinya kekuatan. Dia adalah orang terdekat ayahnya
Rangga menepis tangannya lalu masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di sana, kakinya kaku, tak mampu lagi melangkah untuk mendekat saat ia dapati sang ayah tergeletak tak berdaya, dan dokter baru saja menutup kepalanya dengan kain berwarna putih. Tatapannya kosong dan nanar.
Jadi, benar? Ayah ....
Matanya memanas, terasa perih sekali. Kumpulan air sudah mengenang di pelupuk matanya. Dadanya terasa sakit dan sesak, seperti ada yang mengganjal di tenggorokan, ia sulit bernapas. Hingga air mata itu jatuh begitu saja, bersamaan dengan lutut yang jatuh luruh ke lantai.
“Tidak mungkin,” lirih Rangga lebih pada dirinya sendiri.
“Aku baru saja berbicara padanya. Tidak. Aku baru saja membentaknya. Bagaimana bisa ....”
Ia tak mampu lagi melanjutkan kata-kata, rasanya sulit sekali bahkan hanya untuk bernapas.
“Ayah ....” Dan akhirnya ia menangis. Pertahanannya roboh.
Aku, sendirian sekarang. Sendiri.
Ayah ....
Andai ia tahu, jika panggilan tadi akan menjadi panggilan terakhir dari ayahnya. Jika pembicaraan tadi akan menjadi obrolan terakhir dengannya. Ia akan berbicara lebih baik. Kalimatnya bukan sebuah kalimat yang bagus yang bisa didengar oleh seorang ayah, tapi kalimat yang mungkin saja menyakitinya. Ia bahkan tak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Kenapa? Kenapa kau juga ...?
Rangga terisak, berteriak. Tanpa peduli tatapan iba dari semua orang yang ada di sana.
****
Rangga terduduk sendirian di samping makam ayah juga ibunya. Lalu tertawa pahit.
“Tuhan sangat tidak adil padaku. Dunia begitu kejam padaku. Memang apa salahku? Katakan! Kalian semua, apa kalian begitu membenciku? Hingga kalian meninggalkanku sendiri seperti ini?” Rangga meracau sendiri. Ia berusaha tidak menangis. Tapi ....
“Ayah, maafkan aku ... maafkan aku, Yah ... maaf ....”
Tangisan itu kembali pecah. Penuh penyesalan dalam dirinya, jika saja ia bisa sedikit lebih baik saat berbicara terakhir kali dengannya. Jika saja ia memberi kesempatan sang ayah untuk berbicara dan mendengar suaranya untuk yang terakhir kalinya.
“Ayah ... kenapa ...? Apa kau benci punya anak sepertiku? Maafkan aku, Ayah. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa ....”
Rintik air jatuh di atas kepalanya, ia menengadahkan kepala, memandang langit yang diselimuti awan gelap. Hujan turun, ia tersenyum getir dengan air mata yang masih mengalir di pipi. Tapi hujan menyembunyikannya. “Apa kau kasihan padaku? Kau menangis untukku? Begitu? Kalian semua sama saja!”
Ia kembali menundukkan kepala. Tiba-tiba tubuhnya terlindungi dari air, Rangga mendongak dan mendapati seseorang memayunginya. Dia, Karen.
“Kalau kamu di sini terus, kamu bisa sakit, Ga,” ucapnya prihatin.
“Ngapain lo ke sini? Nggak usah peduliin gue, mau gue sakit atau mati pun bukan urusan lo,” jawab Rangga sinis kembali mengalihkan pandangan.
“Aku tahu ini sangat berat buat kamu, Ga. Aku cuma mau ngasih ini, aku nggak tahu ini akan membantumu atau nggak, tapi aku rasa kamu berhak memilikinya.”
Rangga kembali menatapnya. Karen memberinya sebuah buku. Dan Rangga mengenal buku itu, yang tak lain adalah buku harian milik Dhira.
Rangga terdiam. Karen lalu menaruh buku itu dan payungnya.
“Kamu tidak sendirian Ga, ini bukan akhir segalanya. Aku harap kamu bisa kuat. Aku pergi dulu.” Setelah mengucapkan itu, Karen pun pergi, seseorang terlihat menjemput dan memayunginya.
Sementara Rangga masih terdiam, memandang buku harian yang selalu dibawa Dhira setiap hari, kemudian ia teringat pesan yang dulu pernah Dhira sampaikan padanya. Bahwa semuanya belum berakhir, masih ada impian yang harus diraih, masih ada jalan yang harus ia temukan.
Rangga tertawa.
Impian?
Pada kenyataannya, aku sudah membuang impian itu.
Menemukan jalan?
Bagaimana aku bisa menemukan jalan, jika sebuah tujuan saja aku tidak memilikinya?
Tidak sendirian?
Nyatanya, tidak siapa pun di sampingku.
Aku sudah kehilangan segalanya.