Keputusasaan

880 Kata
Jika ada yang mengatakan bahwa kesepian bisa membunuh secara perlahan, mungkin itu hal yang benar. Karena itu, kesepian bisa menjadi hal yang paling menakutkan di dunia ini. Kehidupan Rangga semakin kacau setelah kematian ayahnya. Ia kehilangan semua orang yang ia cintai, dimulai dari ibunya, Dhira, lalu sekarang ayahnya. Rangga merasakan ada sesuatu yang mati dalam dirinya. Cahaya yang semula bersinar, perlahan-lahan meredup hingga menyisakan kegelapan. Ia sudah tak memiliki tujuan untuk hidup. Apa pun yang ia lakukan, tak akan ada yang memarahinya, menceramahinya, ataupun membentaknya. Rangga melakukan semuanya sendiri, sekehendaknya. Ia berangkat sekolah hanya ketika ia ingin. Dan saat di sekolah, ia akan belajar saat ia ingin belajar, jika malas ia akan tidur di atap, atau merokok bersama teman-teman barunya. Ia juga sering terlibat perkelahian bahkan tawuran antar sekolah, tak jarang ia keluar masuk rumah sakit dan kantor polisi. Malam itu, Rangga kembali berada di kantor polisi karena ugal-ugalan di jalan raya dalam keadaan mabuk. Keesokan harinya, Pak Dibyo—yang mengurus semua kepentingan sekaligus orang kepercayaan mendiang ayahnya—datang bersama seorang pengacara. Rangga pun berhasil dibebaskan. Begitu keluar dari kantor polisi, Pak Dibyo menghela napas lelah dan menasihati Rangga. “Tuan, saya mohon dengan sangat. Tolong jaga nama baik Tuan.” Rangga tertawa sinis. “Udah capek ngurusin gue? Tinggal berhenti aja, gampang kan?” Ia lalu pergi begitu saja, meninggalkan Pak Dibyo yang hanya bisa mendesah frustrasi. Jika ia bukan orang baik, ia tidak akan mau repot-repot mengurusi anak nakal seperti Rangga dan memilih berbuat curang untuk mengambil alih perusahaan mendiang sahabatnya itu. Namun, ia sudah berjanji pada sahabatnya untuk menjaga Rangga serta menjadikannya ahli waris seutuhnya. *** Sementara itu, pihak sekolah mengadakan rapat membahas perilaku Rangga, karena anak itu berbuat onar di mana-mana. Melanggar aturan pun sudah menjadi hidupnya. Namun, mereka pun tahu, Rangga sudah tak memiliki siapa-siapa. Tidak ada keluarga atau kerabat yang bisa dihubungi, jika ada pun mereka tinggal jauh dengan Rangga. Walinya sekarang hanyalah seseorang yang tidak memiliki kekerabatan dengan anak itu. “Bagaimana jika dia dikeluarkan saja? Dia sudah terlalu banyak membuat masalah. Dia sudah mencoreng nama baik sekolah kita,” usul salah seorang guru perempuan. Semua mengemukakan pendapatnya, kebanyakan mereka setuju untuk mengeluarkan Rangga dari sekolah. Hanya Pak Adi yang sepertinya tidak senang dengan keadaan ini. “Tapi dia sudah kelas tiga, ini sudah semester akhir, sebentar lagi Ujian Nasional, apa tidak papa jika dikeluarkan?” Bu Catrin angkat bicara. “Memangnya kenapa jika dikeluarkan? Tidak akan merugikan sekolah bukan? Ini demi kebaikan sekolah juga, Bu Catrin,” sanggah guru perempuan tadi. Suasana semakin ricuh, hampir semua mengusulkan untuk mengeluarkan Rangga, karena tak ada yang bisa menghentikannya. Sikapnya yang semena-mena dan semaunya itu membuat para guru tidak tahan. “Jika seorang murid dikeluarkan dari sekolah, lalu di mana ia akan belajar?” Pak Adi akhirnya angkat bicara. Semua beralih memandangnya. “Bukankah tugas seorang guru itu mendidik? Apa kalian tidak pernah memikirkan, apa yang sudah kita ajarkan selama ini pada murid kita? Apakah kita sudah berhasil menjadi seorang guru?” tuturnya. Semua terdiam. “Dia memang anak nakal, suka membuat onar di mana-mana, dan dia sudah tidak memiliki siapa pun. Jika kita juga menendangnya keluar, lalu ia akan ke mana? Akan ke mana seorang murid berjalan? Dunia luar terlalu keras untuk seorang murid. Ia mungkin bisa berkelahi, tapi di luar sana banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan perkelahian. “Yang dibutuhkannya sekarang adalah kasih sayang, kita sebagai guru, tugas kita menjadi orang tua kedua baginya. Memberinya kasih sayang dan pengertian. Ia hanya seorang anak yang kesepian.” Pak Adi berhenti sejenak menatap semua jajaran guru yang mengikuti rapat. “Tolong pikirkan dengan baik, dan saya mohon dengan sangat, pertimbangkan kembali untuk mengeluarkannya dari sekolah. Saya akan berusaha berbicara padanya.” Pak Adi sedikit membungkukkan kepalanya, semua yang ada di ruang rapat terlihat malu dengan sikap mereka sendiri. Lalu Pak Adi keluar ruangan, ia sedikit terkejut mendapati Rangga tengah berdiri di dekat pintu. “Apa kamu mendengar semuanya?” tanya Pak Adi. “Ya,” jawab Rangga tak mengelak. “Terima kasih atas pembelaan Anda. Tapi saya tidak butuh belas kasihan Anda,” tukas Rangga melengos pergi. “Rangga,” panggil Pak Adi. Rangga berhenti. “Ikut Bapak sebentar. Bapak ingin bicara.” Rangga diam. Sepertinya kali ini ia tak menolak. *** Rangga dan Pak Adi berada di atap sekolah, duduk di tempat biasa Rangga tertidur. “Ya ampun, ternyata di sini nyaman sekali, pantas kau sering tidur di sini. Aaah ....” Pak Adi membaringkan tubuhnya di sana. Sedangkan Rangga duduk di sampingnya. “Kenapa Bapak membela saya?” tanya Rangga pada akhirnya. Pak Adi diam sejenak lantas bangun, duduk di samping Rangga. Lalu ia merangkul bahu Rangga seperti seorang teman. “Karena aku adalah gurumu, dan kau adalah muridku,” jawab Pak Adi tenang, tersenyum pada Rangga. Senyuman yang bersahabat. Rangga menatap Pak Adi tak mengerti. Baginya tak masalah jika ia dikeluarkan dari sekolah ini, toh tak akan ada yang peduli. Ia bisa melakukan apa pun yang ia mau. “Tetap saja. Aku tidak akan mengubah sikapku.” Rangga bersikeras. “Benarkah? Tapi Bapak merasa kalau kamu akan berubah. Bapak tahu saat ini kamu hanya kesepian, dalam hatimu kamu ingin berari dan menyudahi semuanya. Tapi, kamu masih ingin menemukan sesuatu yang belum bisa kamu temukan. Bukankah kamu masih punya tujuan?” Pertanyaan Pak Adi membuat Rangga terdiam. Tujuan. Tujuan hidup. Apa? “Dia menitipkanmu padaku sebelum pergi. Dasar anak itu,” decak Pak Adi sedikit mendengkus. “Siapa?” tanya Rangga tak mengerti. Pak Adi menatap Rangga lekat. Lalu dengan tersenyum ia berkata dia adalah gadis yang menyukai Rangga. “Dhira.” Rangga tertegun tanpa mengatakan apa-apa, ia hanya menatap gurunya yang tersenyum penuh arti padanya. Dhira. Satu nama yang masih saja menggetarkan hatinya. Menitipkannya? Lalu Rangga tertawa tanpa suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN