Mengikhlaskan bukan hanya sekadar perihal melepaskan, namun juga untuk memeluk luka. Di hari pertemuannya dengan Taufiq, Rangga benar-benar sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia sudah siap melepas dan menerima luka. “Gila, ya. Ga kerasa banget. Berasa baru kemaren kita sering nongkrong gini di kantin kampus,” kata Doni terkekeh. “Malah sekarang lu udah punya bini aja, Fiq.” Taufiq membalas dengan senyuman, “Benar kata kamu, Don. Kebahagiaan memang selalu terasa singkat.” “Kalian kapan nyusul?” lanjut Taufiq kemudian sambil menahan senyum.a “Nyusul apa, Fiq? Emang kita lagi balapan?” sahut Doni dan mereka terkekeh. Rangga pun hanya ikut tersenyum. Sampai kedua temannya menatap dia heran. Sadar diperhatikan, Rangga pun bertanya, “Kenapa?” “Lu yang kena

