“Kau sedang menulis apa?” Rangga yang baru selesai olahraga menghampiri Dhira—yang sedang menulis sesuatu di note book merahnya—dan mengganggunya. Dhira pun segera menutup bukunya.
“Kau pasti sedang menceritakan aku ya? Benar, kan?” tanya Rangga dengan senyum usil.
Dhira berdecak. “Sepertinya kau harus menurunkan sedikit rasa percaya dirimu itu.”
“Aku anggap itu pujian,” tukas Rangga tersenyum manis.
“Pergi sana. Kau bau keringat!” usir Dhira.
“Masa? Penggemarku bilang keringatku sangat wangi,” ujar Rangga dengan percaya dirinya.
“Heh. Kau pasti bercanda.” Dhira bangkit dan meninggalkan Rangga yang tersenyum senang.
Dhira tak habis pikir. Obrolan saat pulang sekolah waktu itu seolah tak pernah terjadi. Setelah mengatakan semua hal yang ‘bukan Rangga banget’ baginya itu, cowok itu tak pernah lagi terlihat ingin membahas tentang keyakinan atau apa pun itu.
Padahal, Dhira terus menerus memikirkannya. Memikirkan apa maksud perkataannya, atau apa yang laki-laki itu inginkan sebenarnya. Namun, mungkin dia yang terlalu berlebihan menanggapi celotehannya. Sepertinya, cowok itu hanya main-main saja.
***
Keesokan harinya, Dhira baru saja masuk ke kelas bersama Karen. Sebagian teman-temannya juga sudah hadir di sana, tapi Dhira tidak melihat batang hidung milik Rangga yang biasanya langsung menghampirinya saat ia masuk kelas.
“Wow! Apa ini?” Karen berseru heboh begitu tiba di bangkunya—tempat duduknya bersama Dhira.
“Ada apa?” tanya Dhira ikut penasaran. Lalu, keningnya mengernyit heran ketika mendapati setangkai bunga mawar merah dan sebuah kotak kado berukuran agak kecil berwarna biru, dengan pita bunga berwarna pink di atasnya. Tergeletak dengan cantik di atas mejanya—dan meja Karen.
Siapa kira-kira orang yang melakukan hal seperti ini?
Dhira melihat ada post it menempel di atas kotak kado cantik tersebut. Ia pun mengambil lalu membaca pesannya.
“Happy Brithday Dhira! Moga suka ama kadonya yaa .... Salam manis, Rangga sang pujangga cinta.”
Mata Dhira terbelalak seketika. Apa-apaan cowok itu! Benar-benar kurang kerjaan.
“Ciyeee ... yang dapet kado dari Rangga, ciyeee ....” Karen menyikut lengan Dhira dan menggodanya. “Buka dong Ra, penasaran nih, dia ngasih apa?”
Dhira pun membuka kado tersebut, ia juga penasaran apa yang diberikan cowok super nyebelin itu padanya. Begitu ia membukanya, seekor tikus kecil putih yang kebanyakan dibenci kaum hawa meloncat dari dalam kotak tersebut.
“Huaaaaaaaa!! Tikuuuuss!!”
Dhira dan Karen menjerit sekeras-kerasnya setelah membuka kado cantik yang mereka lihat tadi, yang sekarang sudah terkulai jatuh di lantai dengan mengenaskan. Tikus itu berlarian ke sana kemari membuat seisi kelas ikut kocar-kacir. Dhira pun sampai naik ke atas meja. Dia terlihat sangat jijik dengan binatang kecil itu.
Saat itu pula Dhira mendengar seseorang tertawa, ia menoleh dan mendapati Rangga yang terbahak-bahak di ambang pintu kelasnya. Kali ini Dhira benar-benar sudah naik pitam. Bisa-bisanya dia mengerjai Dhira sampai seperti itu.
“Ranggaaaaaa!!” pekik Dhira.
“Ups. Keceplosan.” Rangga menutup mulut. “Sepertinya gue harus siap-siap nih,” ucapnya terlihat santai dan malah meregangkan otot-ototnya seperti melakukan pemanasan saat akan olahraga.
“Jangan harap lo bisa kabur dari gue! Diem di sana!” teriak Dhira emosi. Karen sampai kaget mendengarnya.
Bukannya takut atau apa, Rangga malah tersenyum senang dan lari di tempat. Dhira siap turun dan menerjang Rangga jika saja pria itu tidak segera melarikan diri. Ya, dia lari di tempat untuk melatih otot kakinya, bersiap untuk lari sprint.
“Rangga! Jangan kabur lo!”
Dhira terus mengejar Rangga tanpa ampun, rasanya ia ingin sekali mengenyahkan makhluk menyebalkan itu dari muka bumi yang ia tinggali ini.
Merasa lelah, Rangga menghentikan aksi larinya. Ia sudah tak sanggup lagi berlari, begitu pula dengan Dhira. Mereka sama-sama ngos-ngosan, menyimpan telapak tangan di atas lutut dan membungkukkan badan. Mengatur napas mereka agar kembali normal.
“Oke. Gue nyerah,” ucap Rangga menegakkan tubuh, masih mengatur napas.
“Iya. Karena lo, nggak bisa ke mana-mana lagi,” tukas Dhira putus-putus.
Dhira pun menegakkan tubuh. Membenarkan kerudungnya yang berantakan akibat terus berlari tanpa henti. Lalu ia berjalan dengan langkah cepat dan panjang ke arah Rangga.
Rangga tak bisa lari ke mana-mana lagi, jalan di hadapannya buntu. Hanya benteng dengan pecahan kaca di atasnya. Ya, karena mereka berada di belakang sekolah, tempat paling sepi dan jauh dari keramaian siswa SMA Bekasi ini.
Bukk!
“Akh!” Rangga mengangkat sebelah kaki kanannya sambil meringis kesakitan. Pasalnya, Dhira menendang tulang kering kakinya dengan sangat keras.
“Sakit tahu, Ra ...,” lirih Rangga dengan wajah melasnya. Terlihat sangat kesakitan.
“Salah sendiri. Gue pikir itu balesan yang cukup buat lo!”
Tunggu, Dhira menyadari sesuatu, kenapa ia bisa berbicara begitu kasarnya? Dan sekarang, lo-gue? Dhira segera beristigfar dalam hati. Ia benar-benar telah diliputi amarah.
Dhira berdeham canggung. “Sorry,” ucapnya lantas melenggang pergi dari hadapan Rangga yang kesakitan.
“Happy Birthday! Dhira Maulidina Saputra,” Rangga berseru membuat langkah Dhira kwmbali terhenti. Lantas berbalik menatap Rangga.
“Aku serius mengucapkan itu. Sorry buat kado pertamanya. Aku sengaja,” ujarnya cengengesan. Alis Dhira bertaut, mencerna setiap kalimat yang Rangga ucapkan.
Dia bilang sengaja? Termasuk membawaku ke tempat ini? Dan dari mana dia tahu hari ini aku ulang tahun? Dhira membatin.
“Oh, come on, Dhira. Jangan tanya kenapa gue bisa tahu hari ini ulang tahun lo.”
Dhira terperangah. Bagaimana dia bisa tahu? Ajaib.
“Aku nggak nanya, kok. Makasih! Tapi asal kamu tahu, aku nggak suka dengan yang namanya perayaan hari ulang tahun atau apa pun itu. Jadi, kalau kamu punya rencana lain selain ini, stop it. Ulang tahun itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan atau dirayakan, tapi harus direnungkan.”
Rangga menggaruk belakang kepala, tak mengerti dengan apa yang Dhira bicarakan.
“Yee ... ge-er banget sih jadi orang,” elak Rangga. Padahal dalam hatinya ia mendesah kecewa. Semua kejutan yang sudah dia siapkan akan sia-sia. Sangat disayangkan.
“Kalau gitu ya bagus deh. Awas aja kalau lo—khem, kalau kamu ngelakuin hal kayak tadi lagi. Aku nggak jamin bisa maafin kamu. Ngerti?” Setelah mengucapkan itu, Dhira kembali berbalik, ia tidak mau lama-lama bersama makhluk menyebalkan itu.
“Tunggu, Ra!” seru Rangga.
“Apa lagi?” tanya Dhira berbalik dengan kesal.
“Aku udah capek-capek bawa kamu ke sini, kamu mau pergi gitu aja? Tega banget,” ucap Rangga memasang tampang sedih.
“Aku nggak pernah minta kamu ngelakuin hal ini ya, Ga.”
“Oke. Oke. Aku tahu. Tapi tolong tunggu sebentar, aku ingin minta tolong sama kamu,” ucap Rangga terlihat serius.
Kening Dhira mengernyit, “Apa?” tanyanya.
Bukannya menjawab, Rangga malah melangkah maju mendekati Dhira dengan tatapan yang mengintimidasi. Membuat Dhira memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit. Terlihat di wajahnya, kalau ia mulai merasa takut. Di sini sepi, bagaimana kalau Rangga macam-macam? Dan berbagai pikiran aneh lainnya hinggap di kepala Dhira.
“Stop! Rangga! Jangan macem-macem, ya!” Dhira mengangkat satu tangannya menyuruh Rangga berhenti mendekat ke arahnya. Namun, Rangga seolah tak mendengar, ia terus mendekati Dhira.
Dhira pun semakin ketakutan saat Rangga berjarak beberapa senti saja dan mendekatkan wajah padanya. Menatap Dhira yang kini menahan napas, lalu beberapa detik kemudian tawa Rangga membahana.
“Wajah lo lucu banget, Ra! Gak kuat gue. Astaga!” Rangga malah tertawa sambil memegangi perutnya yang sepertinya sakit. Menurutnya, wajah Dhira yang ketakutan dan tegang itu sangat lucu. Mana mungkin dia berani macam-macam pada gadis di hadapannya ini?
Dhira sadar kalau Rangga hanya main-main. Lagi-lagi dia dibuat kesal. “Rangga! Ini nggak lucu! Kalau nggak ada lagi yang mau di omongin, aku pergi sekarang.”
Mendengar itu, Rangga segera berhenti tertawa dan menahan Dhira untuk pergi. “Oke. Sorry. Lagian aku nggak mungkin macem-macem sama kamu, Ra ....”
“Siapa yang tahu, kan?” desis Dhira. “Ya udalah, mau apa si? Sampe harus bawa aku ke sini segala?” Dhira akhirnya menanyakan itu juga. Jujur saja, dari tadi ia sangat penasaran. Apa maksud Rangga melakukan semua ini padanya.
“Eumm ... aku pengen ngasih kamu sesuatu, tapi kamu harus janji kamu nggak boleh nolak. Yah, barangnya nggak mahal sih ... tapi—”
“Kenapa?” pangkas Dhira. “Kenapa aku nggak boleh nolak?”
“Kamu sendiri yang bilang kalau kita itu nggak boleh menolak pemberian orang lain,” balas Rangga meyakinkan. Lagi-lagi kening Dhira mengernyit, seingatnya ia tidak pernah mengatakan hal itu pada Rangga.
“Kapan aku mengatakannya?” tanya Dhira bingung.
“Dulu. Aku jelas masih ingat. Aku yakin kamu pasti lupa,” ucap Rangga. Dalam hati ia berkata Dhira tak mungkin ingat, karena memang Dhira tak pernah mengucapkan hal itu padanya. Dia ingin sekali tertawa melihat wajah Dhira yang kebingungan. Tapi menahannya mati-matian.
“Ya udahlah, Ra ... kamu tinggal nerima aja. Kamu nggak lihat, lingkaran hitam di mata aku? Aku membuatnya semalaman tahu!”
Dhira berdecak tak percaya. Sementara Rangga mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sepertinya ia tak bermaksud mengatakannya, tapi ia sudah terlanjur.
“Membuatnya sendiri? Seorang Rangga?” tanya Dhira tak percaya.
Rangga menghela napas berat. Dan berkata ia tak bermaksud mengatakannya. Lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang Dhira lihat seperti sebuah gelang berwarna merah dan hitam.
“Dulu, ibuku membuatkan gelang ini untukku. Ibuku bilang, sesuatu yang kita buat sendiri akan lebih berkesan dan berharga daripada membeli barang mahal. Kau tahu? Gelang ini terbuat dari tali sepatu yang aku anyam persis sama seperti yang ibuku lakukan. Warnanya merah dan hitam. Ia bilang, warna merah ini melambangkan benang merah yang mengikat sebuah takdir, antara aku dan ibuku,” tutur Rangga. “Ia menambahkan warna hitam sebagai variasi saja,” imbuhnya.
Dhira sedikit tertegun. Kedua kalinya, ia menemukan sisi Rangga yang lain. “Lalu?” tanya Dhira masih tak mengerti apa tujuan Rangga menceritakan hal itu padanya.
“Aku membuatkannya untukmu,” jawab Rangga agak salah tingkah.
“Kenapa?” tanya Dhira lagi.
Rangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia terlihat sedikit canggung dan bingung menjawabnya. “Emm ... hadiah ulang tahun?” ucapnya tak yakin. Membuat Dhira mengernyit heran.
“Aku tidak tahu. Hanya saja, aku ingin membuatkannya untukmu. Aku merasa kamu berhak memilikinya. Kamu adalah orang yang telah membuatku terbangun dari keterpurukan saat ibuku meninggal. Bagiku, kamu seperti penggantinya.” Rangga berhenti sejenak.
“Aku sangat menyayanginya. Saat kehilangannya, aku sangat sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku pikir itulah akhir hidupku. Tapi kamu datang dan mengulurkan tanganmu. Aku tidak akan pernah lupa, Ra ... thank you,” ucap Rangga diakhiri senyuman. Terdengar sangat tulus.
Dhira sendiri merasa jadi canggung dan tak tahu harus berbuat apa setelah mendengar semua perkataan Rangga barusan. Selain itu, ia kaget karena Rangga bisa mengatakan hal pribadi sebanyak itu padanya.
Rangga kembali tersenyum melihat tingkah Dhira yang menurutnya lucu itu. Lalu mendekat ke arahnya. Dhira sedikit kaget saat melihat Rangga sudah berada tak jauh di hadapannya.
“Tenang. Aku tidak akan macam-macam, kok. Aku menghormatimu lebih dari apa pun. Ulurkan tanganmu,” perintah Rangga. Namun Dhira malah diam menatap Rangga. “Ra?”
Dhira masih tertegun mendegar kalimat yang baru saja Rangga lontarkan. Tentang bahwa pria itu menghormatinya lebih dari apapun.
“Dhira? Are you okay?” tanya Rangga cemas. Barulah Dhira tersadar dan bertanya ada apa pada Rangga.
“Aku memintamu mengulurkan tangan kirimu,” ulang Rangga.
“Oh. Untuk apa?”
“Ulurkan saja. Aku tidak akan macam-macam. Sungguh.”
Dengan ragu, Dhira mengangkat tangan kirinya. Rangga tersenyum lalu memasangkan gelangnya di tangan Dhira.
“Kamu tidak boleh menghilangkannya. Aku akan sangat marah jika kamu melakukannya,” ucap Rangga setelah selesai memakaikannya pada lengan kiri Dhira. Ia tersenyum puas. Terlihat pas dan cantik.
“Hey! Aku belum bilang mau menerimanya!” protes Dhira.
“Tapi kau sudah memakainya. Aku juga memakainya,” ujar Rangga bangga, menunjukkan gelang pemberian sang ibu yang melingkar di tangan kirinya sambil tersenyum lebar namun tetap terlihat manis.
Senyum itu. Dhira tertegun untuk beberapa saat. Tiba-tiba jantungnya berdebar sangat cepat. Ia pun mengalihkan pandangannya. Tanpa sengaja, ia melihat jam tangan yang ia pakai, membuat matanya terbelalak kaget.
“Oh tidak! Ini gawat.”
“Kenapa, Ra?” tanya Rangga heran melihat ekspresi Dhira.
“Sekarang sudah pukul delapan Ga! Gara-gara kamu, sih!” ujar Dhira cemas.
“Aku? Memangnya kenapa?” Rangga menarik satu alisnya ke atas, tak mengerti kenapa Dhira menyalahkannya.
Dhira mendesah tak percaya. “Ini sudah lewat jam masuk pelajaran, Rangga!” teriaknya kesal.
Barulah Rangga tersadar. Ia menepuk jidatnya sendiri. “Oh My God! Gue lupa! Terus sekarang gimana dong?”
“Ya ke kelaslah, ngapain lagi? Cepet!” Dhira hendak berlari menuju kelas mereka tapi Rangga lagi-lagi menahannya.
“Apa lagi sih, Ga?” tanya Dhira kesal.
“Kamu yakin? Kita berdua?” tanya Rangga, baginya sih tidak papa, tapi ia ragu dengan Dhira. Dhira memejamkan matanya, rasanya sekarang ia sulit sekali berpikir jernih.
“Oke. Aku ke kelas duluan. Kamu datang 5 menit kemudian. Aku nggak mau orang-orang salah paham,” ucap Dhira pada akhirnya.
“Oke,” jawab Rangga. Tak masalah baginya walau dia tidak masuk sampai jam istirahat sekalipun. Lalu ia sadar ia masih memegang tangan Dhira.
“Sorry,” ucap Rangga seraya melepaskan genggaman tangannya. Dhira tak menggubris dan langsung pergi meninggalkan Rangga.
Rangga sangat bahagia sekali. Ia tak berhenti tersenyum walau Dhira sudah tak berada dalam jangkauan pandangannya.