Sisi Lain

1182 Kata
Hari itu, Rangga tidak masuk sampai jam pelajaran berakhir. Dhira sedikit mengkhawatirkannya namun ia mencoba untuk tak peduli. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa itu bukanlah urusannya. Namun, sia-sia. Semenjak ia meminta maaf pada Rangga, pria itu berubah dingin, pendiam, bahkan ia tidak lagi mengganggu Dhira seperti biasanya. Ia jarang masuk dan sering bolos pelajaran, bahkan ia juga jarang latihan band. Dhira membenci fakta bahwa apa pun yang Rangga perbuat seolah menjadi fokusnya saat ini. Saat jam istirahat, beberapa anak pria masuk ke kelasnya menemui Rangga. “Hey, Ga! Lihat ini! Bulan depan ada festival rock. Pemenangnya dapat 10 juta terus bakal dijadiin artis di bawah naungan RK Entertainment. Join yuk! Kita gak boleh kalah Ga, ini impian lo dari dulu, kan?” Rangga melihat brosur yang dibawa temannya. Ia menatapnya seperti berpikir, entah apa. Sementara Dhira, ia tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya. Lihat, kan? Sekarang pria itu benar-benar menarik fokusnya. “Hayo ... ketahuan! Lagi merhatiin Rangga ya,” goda Karen. “Apaan sih!” sergah Dhira agak gelagapan dan menghindar dari Karen. Hari ini, semua murid kelas 12 IPA 3 berada di lab komputer. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Dhira, ide untuk membantu Rangga. Ia membuka email dan bermaksud mengirimkannya pada Rangga. Dhira sendiri tidak mengerti kenapa ia sampai mau repot-repot melakukan hal ini. Membantu Rangga? Sungguh tak pernah ada dalam daftar kamusnya. Sepertinya, ia merasa sangat bersalah pada Rangga. Ya, pasti karena itu, kan? Apa lagi memangnya? Ia menarik napas sejenak lalu mulai mengetikkan sesuatu di badan email. “Salam. Ga, aku ingin meminta maaf lagi padamu. Jangan salah paham, aku tidak ada maksud apa-apa mengirim pesan ini padamu. Kau sangat kacau akhir-akhir ini, dan itu menggangguku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku harus melakukan sesuatu. Walau aku tak bisa membantumu, setidaknya aku bisa memberimu sedikit nasihat. Ga, aku tahu ini sulit bagimu. Tapi ini bukan akhir, kamu masih punya perjalanan untuk kamu tempuh. Kamu masih punya mimpi, kan? Aku dengar kamu ingin menjadi penyanyi Rock terkenal, yah walau aku merasa itu bukan hal yang bagus. Kamu bisa menyumbangkan suaramu untuk hal yang lebih berguna. Kita sudah 18 tahun, artinya kita sudah beranjak dewasa dan itu berarti kita akan lebih sedikit untuk tersenyum. Bukan masalah waktu, tapi keadaanlah yang akan membuat kita dewasa. Kehilangan sesuatu yang berharga bukan berarti kita kehilangan segalanya. Masih ada orang yang peduli padamu. Perjalananmu masih panjang. Kamu masih harus menemukan jalanmu. Kamu harus tahu, Ga. Ibumu tidak akan bahagia melihatmu seperti ini.” Setelah membaca e-mail yang dikirim Dhira, Rangga menoleh untuk menatap Dhira sejenak lalu kembali melihat pesannya. Ia menatap kalimat terakhir dari Dhira lamat-lamat. Jalanku, ya? batinnya. Lalu ia tercenung. Nampak merenungi setiap kalimat yang ditulis oleh perempuan yang selalu menarik perhatiannya. Saat semuanya sudah bubar, Rangga menahan Dhira. Namun, Dhira segera melepaskan genggaman tangannya. “Maaf, aku hanya ingin berterima kasih.” Sejujurnya, Dhira agak malu setelah mengirim pesan itu. Tapi ia berusaha bersikap normal. “Itu bukan apa-apa. Aku melakukannya untuk menebus rasa bersalahku.” “Kenapa kamu repot-repot mengirim e-mail untukku?” tanya Rangga merasa belum puas dengan alasan rasa bersalah dari Dhira. Dhura menghela napas sejenak. “Karena kamu selalu menggangguku, kamu terlihat aneh saat tak melakukan apa-apa. Kamu seperti orang sakit,” ujarnya asal. Perkataan Dhira membuat Rangga tersenyum. Dhira bingung, apa itu lucu baginya? “Ahh ... aku tahu, kamu pasti merindukanku, kan? Jujur saja, kamu pasti kesepian karena aku tidak mengganggumu, iya kan?” goda Rangga dengan percaya dirinya. “Apa?” Dhira terbelalak. ”Yang benar saja. Bukan itu maksudku ... ah sudahlah, aku harus cepat-cepat ke musala.” Dhira segera berjalan menjauhi Rangga dengan sedikit tergesa. Ia bergumam kalau Rangga yang tidur sepertinya telah bangun. Kemudian bertanya-tanya, apa ia salah melakukan ini? Sementara Rangga tersenyum menatap tingkah Dhira. “Mungkin kamu benar. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus melanjutkan hidup. Dan perjalananku masih panjang.” Rangga menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. “Aku akan mulai mencari jalan itu, Ra ... melewati dirimu,” gumamnya. *** Seperti yang Dhira katakan, sepertinya Rangga yang tidur kini telah bangun, ia kembali menjadi Rangga menyebalkan yang selalu mengganggu Dhira dan berbuat onar. Selain itu, ia juga sering latihan untuk mengikuti Rock Festival. Dhira tidak mengerti, tapi ia senang melihatnya kembali seperti dulu. Dhira menonton pertandingan basket dari koridor atas tempat biasa ia berdiri. Ia bisa melihat Rangga bermain dengan sangat baik di lapangan. Setelah mencetak poin dengan melakukan lay up, Rangga menatap Dhira dan melempar sebuah senyuman yang sangat manis sambil melambaikan tangan. Senyuman yang mampu meluluhkan hati wanita. Dhira agak terkejut, dan hal itu membuatnya salah tingkah. Masalahnya, semua orang melihatnya. Bukannya membalas, ia malah membalikkan tubuh. Memainkan jarinya karena gugup. Dia pasti hanya menggodaku seperti biasa! “Ra.” Tiba-tiba seseorang memanggilnya, Dhira mendongak dengan sedikit terkejut. Rupanya itu adalah Latifah. Ia menatap Dhira penuh arti, menggelengkan kepala seolah ia tahu apa yang tengah Dhira pikirkan. “Kamu tahu itu tidak boleh terjadi. Hapus perasaanmu, Ra ... sebelum terlambat,” ucap Latifah lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Dhira dalam kebingungan. Dhira terdiam. Perasaan? Lalu ia kembali melihat ke arah Rangga. “Cieee ... yang udah deket lagi sama Rangga, cepet banget marahannya,” goda Karen yang tiba-tiba datang. Dhira tak menggubris celotehan Karen, ia menatap lurus ke depan tanpa mengatakan apa pun. Memikirkan perkataan Latifah dan memikirkan tentang apa yang ia rasakan. Usai salat Zuhur, Dhira terdiam di musala. Perkataan Latifah masih terngiang-ngiang di telinga, menempel dalam pikiran. Seolah meminta perhatian lebih untuk dipikirkan. “Perasaan ....” Dhira memegang dadanya. Lalu ia menertawakan dirinya sendiri. “Jangan bodoh, Ra ....” Ia keluar setelah merasa tenang. Ia begitu terkejut karena Rangga berada di luar, menunggunya. Ini memang bukan pertama kalinya, tapi hari ini Dhira lebih lama di musala dan pria itu masih saja menunggunya. “Aku sudah bilang jangan menungguku lagi. Aku tidak ingin pulang bersamamu,” tukas Dhira. “Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa bersamamu sampai gerbang depan. Dan memastikan kamu pulang dengan aman.” Sejenak, Dhira terdiam. Apa maksudnya itu? Dhira menggeleng pelan untuk mengenyahkan pikiran aneh di kepalanya, lalu menghela napas panjang. Ia membiarkan Rangga berbuat sekehendaknya. Mereka pun berjalan bersama menuju gerbang sekolah. “Kenapa?” tanya Dhira memecah hening. “Huh?” Rangga yang sedang bermain ponsel, menyahut tanpa menoleh. “Kenapa kamu melakukan ini?” “Menunggumu?” “Ya.” Rangga menyimpan ponsel ke saku celana. “Hm ... kenapa, ya? Coba kupikirkan.” Rangga memegang dagu seolah berpikir keras. “Apa yang kau lakukan di tempat itu begitu lama? Apa kau tidak bosan?” Rangga malah bertanya hal lain. Dhira menghela napas. “Tidak. Itu adalah rumah Tuhanku. Aku tidak pernah bosan mengadu pada-Nya.” “Rumah? Mengadu? Ahh ... maksudmu, tempat itu seperti gereja, ya?” Rangga mengangguk paham. “Kamu sering berbicara pada-Nya, ya?” “Ya. Itu membuatku lebih tenang.” “Hm ....” Dhira menoleh pada pria di sampingnya. “Kenapa? Kamu tertarik?” “Ya, aku tertarik. Aku selalu tertarik pada hal apa pun yang menyangkut dirimu.” Dhira mematung. Membuatnya tertinggal langkah oleh Rangga. Menyadari Dhira tidak di sampingnya, Rangga pun berhenti dan berbalik. “Kenapa?” “Jangan main-main.” Dhira menatap Rangga tak suka. “Aku tidak sedang bermain-main. Kenapa kamu berpikir begitu?” Rangga maju selangkah di depan Dhira. Memperpendek jarak. Lalu kembali berujar, “Aku selalu penasaran pada apa yang kamu sembah, apa yang kamu yakini, apa yang membuatmu begitu taat? “Apa bacaan yang bisa membuatku damai sekaligus merasa pilu, yang selalu kudengar darimu itu? Jalan apa yang sebenarnya kamu lalui? Apa aku pun bisa menemukan jalan itu? Apakah kamu mau membantu?” Dhira terpana. Waktu pun seolah terpaku. Ia seolah menemukan sesuatu yang sangat langka. Sangat langka hingga ia sulit percaya. Apakah orang yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama? ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN