Ketiga

1067 Kata
malam berbintang menghiasi langit yang indah bagaikan cahaya menerangi gelapnya dunia tanpa adanya sang bulan disisinya. jam menunjukan tepat jam 10 malam waktunya untuk tidur, namun gadis yang ada di bangku taman dekat dalem ( kediaman bapak nyai dak ibu nyai) masih sibuk yang ada ditangannya, yaitu buku. ia adalah annisa, yang merasa jenuh di dalam kamar. masih setia duduk sendiri menikmati indahnya malam yang nampak terang dihiasi bintang yang berkelip membuat suasana menjadi sunyi seperti hatinya yang sedang kosong. annisa selalu banyak waktu untuk membaca karena itu adalah hobinya. gadis itu membaca buku yang ada ditangannya tanpa mau mengalihkan pandangannya dari buku tersebut, ia memang suka membaca buku, dari buku pelajaran sampai buku berbau islami. Annisa memang pandai, maka teman dan sahabatnya tidak heran kalau ia suka duduk sendiri untuk belajar atau membaca membuat nya melupakan waktu untuk istirahat sejenak. Buku tertulis one day one juz ditangan Annisa menceritakan bagaimana seorang melakukan membaca Alquran dalam satu hari 1 juz, ia juga menghafalkan setiap hadits didalam buku tersebut agar selalu ingat ketika lupa pada keadaan sekitar. disekitar taman tersebut sudah mulai sepi, santri-santri lainnya sudah mulai masuk kekamar masing-masing untuk mulai beristirahat. tinggal Annisa yang duduk sendirian disana. namun Annisa tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari kejahuan. orang itu masih setia duduk di dekat jendela sambil tersenyum memperhatikan gadis yang sibuk membaca buku. ia merasakan sesuatu yang aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. ia tak mengerti mengapa jantung nya berdebar-debar saat melihat seseorang perempuan, apakah ini yang namanya jatuh cinta. selama ini ia tak pernah mengerti apa itu jatuh cinta, ia hanya fokus belajar dan belajar. " ternya manis juga gadis itu kalau lagi serius" ucapnya dalam hati. lalu ia pun tersadar bahwa yang ia lakukan salah lalu beristigfar didalam hatinya. Annisa menyudahi membaca bukunya lalu ia melihat kelangit, disana ada banyak bintang namun sayang bulannya bersembunyi di balik awan hitam. "apa malam ini mau hujan?" tanyanya dalam hati. Annisa masih setia melihat bintang sambil berkata-kata. " bintang sampaikan kepada Allah bahwa aku sangat merindukan ibuku" kata Annisa lirih. Semilir angin berhembusan membuat kulit siapa saja akan berdiri, namun Annisa tak merasakan itu, ia meratapi kesendiriannya yang sangat merindukan sang ibu membuatnya tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya, segera ia menghapus air mata itu. "sangatlah berat bagiku menjalani semua ini"ucap annisa lirih. "apalah dayaku yang selalu mengeluh kepada-Mu ya Allah, apakah masih pantas hamba memohon kepada-Mu" ucap annisa. tetes demi tetes air mata itu jatuh membasahi pipi mulus milik annisa. ia menundukkan kepalanya yang merasa malu pada dirinya sendiri tak sekuat yang ia kira selama ini. Annisa mencoba menenangkan dirinya sendiri ia tak mau seseorang melihat dirinya serapuh ini. akhirnya ia menghapus air matanya dan mulai duduk tegap untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah. Annisa tak menyadari bahwa ada orang yang masih setia memperhatikan gerak-geri Annisa yang mulai gelisah. "kenapa gadis itu kelihatan sedang menangis?" dalam hati bertanya -tanya. orang itu mulai merasakan ada sesuatu yang difikirkan oleh gadis duduk sendirian. ia jadi teringat tentang kejadian tadi siang antara gadis itu dengan ibunya tadi. apakah ia mempunyai masalah pikirnya. "kenapa aku jadi penasaran sama gadis itu" ucapnya. rumah dalem dan taman memang tidaklah jauh, bisa dibilang 5 meter dari dalem. tempat ini memang pas untuk menyendiri. biasanya para santriwati yang lainnya juga suka tempat ini buat hafalan Alquran. tapi mereka suka menghafalkan Al-Qur'an pada pagi atau pun sore hari. berbeda dengan Annisa, ia paling suka ketika malam hari karna bisa mencurahkan hatinya ditempat ini. dulu sebelum adanya Nafa ia selalu berteman sepi, tapi sekarang berbeda Annisa bisa mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya itu. tapi tidak sepenuhnya Annisa menceritakan kehidupannya pada sahabatnya itu. ia masih butuh menyendiri untuk menenangkan hatinya. kalau ia sudah tidak mampu lagi maka ia akan mencurahkan isi hati kepada sang penciptanya. " sampai kapan ia disitu, ini udah mau jam 11 malam, apa ia tidak takut duduk sendirian" tanya-tanya dalam hati orang yang masih setia menemani annisa dari kejauhan. Tiba-tiba lampu padam dan yang masih di sekitaran asrama santriwati pun mulai masuk untuk mencari lilin di kamar masing-masing. " ya Allah kenapa lampunya mati" kata Annisa. ia bingung antara mau masuk ke kamar tapi tidak bisa jalan kesana sedangkan disini ia merasa takut, lalu ia mulai beranjak dari duduknya. " duh kok gelap banget ya, walau masih ada bintang tapi gak ada bulannya" ucapnya sedih. "masak aku tidur disini" ucapnya lagi. tanpa ia sadari sudah ada seseorang yang udah berdiri di belakangnya. ketika Annisa hendak berbalik ia pun langsung berteriak. "ahhkk. . . ." langsung Annisa terdiam. karena mulutnya sudah di bungkam seseorang. orang itu adalah Gus Hasan. ketika lampu padam ia tidak tega melihat Annisa yang sendirian di taman. tanpa menunggu lama ia keluar menemui gadis itu. "shuuttt diam ini aku Gus hasan" ucap Gus Hasan. Annisa hanya bisa mengangguk pasrah. melihat Annisa sudah tenang akhirnya Gus Hasan melepas tangan yang membukam mulut Annisa. " maaf saya tidak tau kalau ada panjenengan Gus" ucap Annisa yang merasa bersalah. "iya gak apa-apa, kenapa malam - malam masih ada disini, apa kamu tidak tau ini waktunya tidur?" omel Gus Hasan. Annisa hanya bisa menunduk tanpa mau menjawab Gus Hasan. sedangkan Gus Hasan yang tak mendapatkan respon ia tersenyum. " ya sudah sekarang kamu kembalilah ke kamarmu" ucap Gus Hasan. "nggih, saya permisi Gus Hasan assalamualaikum. . ." jawab Annisa. " walaikumsalam. . ." jawab Gus Hasan. Annisa mulai berjalan kembali kekamarnya, tak sekalipun ia melihat kebelakang yang masih ada Gus Hasan yang memperhatikannya. setibanya annisa di kamar ia merasa heran kenapa jantungnya berdetak tak beraturan. " jatungku serasa mau copot" ucap Annisa. " kenapa bisa Gus Hasan ada disana ya, apa jangan-jangan ia mengintip lagi" sambil menggelengkan kepalanya. "kenapa jadi berfikir seperti itu sih nis, emang Gus Hasan kurang kerjaan apa ngintip kamu" jawab Annisa dalam hati. Annisa melihat sekelilingnya ternyata teman-temannya sudah tidur, ia berjalan berlahan-lahan agar tak membangunkan temannya yang mungkin sudah mimpi indah. Annisa sebelum tidur ia kekamar mandi untuk wudhu terlebih dahulu dan setelahnya ia menuju ketempat tidur disebelah nafa dan segera ia ber do'a agar tidak di ganggu oleh jin. namun ketika ia memejamkan matanya sesaat bayangan kejadian di taman membuat ia mulai terjaga dari tidurnya " sejak kapan Gus hasan ada disana ya" pikir annisa dalam hati. " aduh kenapa otakku ini" ucap annisa sambil mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. "astaghfirullah. . . astaghfirullah. . ." ucap Annisa sambil memejamkan matanya tanpa terasa akhirnya masuk kealam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN