Aku langsung muntah-muntah saat bangun. s****n. Spreiku kotor. Eh sebentar, aku di mana sekarang? Ruangan dengan gorden hijau menyekatku. Aku terbaring di ranjang putih seperti pria lumpuh tak sadarkan diri. Melalui indera pendengaran, aku dapat mendengar suara sayup-sayup di sekeliling. Kepalaku masih pusing, aku seolah berada di dalam kapal yang membuat oleng, diterjang oleh ombak. Tetapi sebuah suara membuatku terkejut. "Woi!" Aku refleks mengelus d**a. Andaikan sekarang aku tengah meminum air pastilah aku tersedak hingga air itu keluar melalui lubang hidungku. s****n Iron. Dia menyibak gorden dan menampilkan gigi rapinya di hadapanku. Wajahnya seolah tanpa dosa padahal dia sudah mengejutkan anak tak bersalah sepertiku ini. "Apaan sih?" Aku mengerutkan kening, berujar ketus. Namun,

