Adam masih terbaring lemah sampai matahari tenggelam. Wajahnya masih tampak ketakutan sama seperti tadi.
Bayang-bayangan dari nenek tua itu masih terbayang dalam pikiran Adam walaupun dalam keadaan tidur.
Ashlyn juga sangat khawatir dengan kondisi Adam sekarang, apalagi Damian mengungkapkan kalau nenek tua yang merasuki tubuh Adam adalah arwah yang tidak tenang dan jahat. Arwah nenek tua itu juga adalah arwah yang meminta pertanggung jawaban dan dendam yang mendalam ketika hidup dan ketika dia meninggal, arwahnya tidak akan pergi meninggalkan dunia sebelum dia bertemu dengan seseorang. Ya, sekarang nenek itu sudah menemukannya yaitu Adam.
"Saya sangat prihatin. Mungkin besok saya akan kesini dan melihat dia lagi." Ucap Damian.
"Terus apa yang saya harus lakukan ketika dia seperti itu lagi?" Tanya Ashlyn.
"Hmmm.... taburkan saja garam." Jawab Damian.
"Garam? Adakah hal lain selain itu?" Tanya Ashlyn.
"Hmm... kalau tidak itu. Coba jangan matikan lampu kamarnya. Mungkin dia phobia atau semacamnya?" Tanya Damian lagi.
"Saya rasa dia tidak mempunyai phobia atau semacamnya, tapi dia selalu bermimpi buruk." Jawab Ashlyn.
Damian mengangkat satu alisnya. "Mimpi apa?" Tanya Damian dengan nada serius.
Ashlyn mengangkat bahunya tanda tidak tau.
Damian memijat pelipisnya yang berdenyut. Sungguh Adam sudah terancam. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Adam dan ada seseorang yang melindungi Adam dari kejauhan. Damian tahu betul kalau Adam mempunyai sesuatu yang harus dia lakukan. Seperti melanjutkan sebuah misi. Tapi sayangnya, Damian tidak tahu akan hal itu. Dia tidak bisa menerawang lebih jauh lagi karena ada yang mengganjalkannya. Damian berpikir kalau dia harus membantu Adam, bagaimana pun itu caranya.
***
Sudah 4 hari Adam di rumah. Keadaanya sudah membaik. Damian selalu datang ke rumah untuk melihat keadaan Adam.
Adam memikirkan tentang mimpi yang selalu menghantuinya. Mimpi yang selalu membuat malamnya terjaga. Alexandra selalu saja muncul. Kadang-kadang ketika Alexandra datang mukanya begitu cantik tapi ketika mendekat, mukanya berubah menjadi sangat menyeramkan seperti ketika dia meninggal.
Alexandra meninggal karena virus berbahaya. Ketika meninggal wajahnya sangat pucat bahkan ada di bagian tubuhnya yang berlubang-lubang. Dalam otopsi 2 hari sebelum penguburannya, wajahnya menjadi sedikit berlubang. Entah apa yang keluar dari kulitnya itu.
Sebelum dia meninggal dia sudah merasakan sakit yang memenuhi seluruh tubuhnya. Awalnya hanya memar-memar berwarna biru, tapi lama-kelamaan berubah menjadi merah mengeluarkan nanah dan darah. Sudah terlihat ketika 2 minggu lamanya, kulit tangannya berlubang. Alexandra bahkan harus memakai sarung tangan ke sekolah untuk bisa menutupi lubang itu.
5 bulan bertahan hidup, akhirnya Alexandra meninggal dunia di rumah sakit. Teman-temannya juga terkena penyakit yang sama dan meninggal secara berurutan. Sungguh itu adalah hal yang tidak masuk akal. Semua orang tidak percaya kalau Alexandra telah pergi untuk selama-lamanya. Adam yang sangat dekat dengan Alexandra harus berhenti sekolah dan datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk melihat Alexandra untuk terakhir kalinya. Bahkan Adam sampai ingin bersekolah di Indonesia agar dia bisa leluasa pergi ke rumah Alexandra.
Adam mengacak rambutnya. Dia masih belum bisa melupakan Alexandra. Menjadi salah satu dari orang yang diamanahkan untuk melanjutkan penelusuran dari Alexandra, membuatnya harus berpikir keras.
Bibi Fana menyiapkan sarapan untuk Adam. Ashlyn pergi ke luar negeri selama 3 minggu karena ada pekerjaannya. Gara-gara Adam, Ashlyn jadi harus bolak-balik ke Amerika untuk bekerja walaupun kebanyakan dia bekerja sambil bersantai di rumah.
"Den.. ini makanannya." Ucap bibi Fana yang menyadarkan Adam dari lamunannya.
Adam mengangguk dan memakan bubur itu secara perlahan.
Tak lama kemudian, Damian datang dengan membawa beberapa berkas. Ya, Damian akan membantu Adam untuk menuntaskan semuanya.
"Hey Adam. Bagaimana kabarmu?" Sapa Damian.
Adam menoleh lalu tersenyum tipis. "Baik." Jawab Adam ketika Damian duduk di depannya.
Damian mengangguk lalu mengambil gelas untuk minum. Dia melihat berkas-berkas yang dia pegang dan membacanya.
"Jadi, apa mimpi mu?" Tanya Damian tanpa memandang Adam dan fokus terhadap kertas yang dia pegang.
Adam mengernyitkan dahinya. "Maksudnya?"
Damian menatap Adam. "Maksudku, mimpi yang selalu membuatmu terjaga. Mimpi apa itu?"
"Aku tidak tau."
"Ayolah... saya akan membantumu. Saya tahu kau punya banyak masalah tentang mimpimu itu." Ucap Damian.
Adam hanya diam, tidak mau berbicara dan melanjutkan makannya. Hening. Tidak ada yang berbicara. Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sekitar 10 menit Adam berhenti makan karena sudah tidak nafsulagi, akhirnya dia pergi ke taman belakang dan duduk disana sambil memandang jembatan kecil diatas kolam renang dan bunga mawar yang menghiasi taman rumah ini.
Pikirannya langsung terfokus pada Alexandra. Tidak ada lagi yang Adam pikirkan kecuali memikirkan Alexandra dan misi yang Alexandra kasih kepadanya. Misi? Bukan misi tapi penelusuran.
"Adaaaammmm!!!" Teriak seseorang dari luar. Siapa lagi kalau bukan Taylor. Adam tidak mendengarnya karena lamunannya yang tidak pernah berhenti itu.
"K-kamu D-Damian, kan?" Tanya Taylor dengan tergagap ketika melihat Damian yang duduk di meja makan. Well, Damian memang terkenal walaupun jarang ada di televisi tapi buat orang yang suka dengan horror atau paranormal mereka pasti tahu siapa Damian itu. Damianlah yang menjadi paranormalnya.
Damian mengangguk dan berdiri lalu menjabat tangan Taylor.
"Siapa namamu, kid?" Tanya Damian.
"T-Taylor, sir." Jawab Taylor yang masih tergagap.
Damian tersenyum. "Ayolah... jangan panggil saya 'sir'. Panggil saya Mr.Damian." Ucap Damian dan memegang pundak Taylor.
Damian melihat kalau Taylor mempunyai kepribadian yang bagus dengan sifat yang selalu ceria walaupun banyak orang yang memyakitinya. Taylor juga termasuk orang yang dekat dengan Adam.
Damian melepaskan tangannya dari punggung Taylor. Dia berpikir kalau Taylor bisa memberi tahukan banyak tentang Adam dan apa yang membuat Adam selalu bermimpi buruk.
"Mr kenapa?" Tanya Taylor.
Damian tersenyum. "Saya rasa kau bisa membantu saya." Ucap Damian yang membuat Taylor bingung.
"B-bantu apa?" Tanya Taylor lagi.
"Bantu aku untuk membuat Adam menjadi lebih baik." Jawabnya.
Sungguh! Taylor tidak mengerti apa maksud dari ucapan Damian. 'Membuat Adam menjadi lebih baik'? Hah! Taylor bahkan lebih bodoh daripada Adam.
"Hey! Taylor!" Damian menyadarkan Taylor dari lamunan bodohnya.
Taylor langsung tersenyum cengengesan. "E-eh.. saya mau ketemu Adam, Mr." Ucap Taylor.
Damian tersenyum. Apalagi dia mengingat kalau dia kesini untuk melihat keadaan Adam. Damian mengangguk.
"Okay... saya juga harus pergi sekarang. Ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." Ucap Damian lalu membereskan kertas-kertas yang ada di meja makan dan pergi meninggalkan Taylor.
Taylor mengangguk dan segera berlari ke taman bekakang, dimana Adam berada. Dia tersenyun ketika melihat Adam yang sedang melamun. Sifat jahilnya muncul seketika.
Taylor mengendap-endap masuk layaknya seorang pencuri. Cowok berkacamata dengan tubuh tinggi dan athletis ini sangat suka mengagetkan Adam kalau dia sedang melamun.
Ketika sudah dekat dengan Adam....
"Woyy!! Adam!!!!!" Teriak Taylor yang membuat Adam kaget setengah mati.
Adam mendengus kesal lalu mengusap dadanya karena saking terkejutnya.
"Damnit! Bisa tidak lo sekali aja nggak ngagetin gue?" Ucap Adam dengan nada marahnya. Kali ini memang dia marah.
Taylor mengangkat tangannya seperti orang yang akan ditangkap. "Sorry mas bro! Gue kesini karena ada kabar baru dari Alexandra." Ucap Taylor sambil ketawa kecil.
Adam mengangkat satu alisnya setelah mendengar nama Alexandra. "Alexandra sudah meninggal, jadi kabar baru dari dia nggak akan pernah ada, Taylor oon." Ketus Adam.
Taylor langsung tertawa ketika dia ingat kalau dia salah ucap. Taylor memang begitu orangnya, rada-rada gila.
"Oopss.. maksudnya gue itu... ada berita baru tentang Alexandra." Ucap Taylor cengengesan.
Adam mengangguk. "Oh." Jawab Adam sesingkat-singkatnya.
"Mau denger atau nggak?"
Adam mengangguk dengan malas.
Taylor menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan dan mukanya berganti dengan muka serius. "Jadi gini.. kak Alexandra pernah bilang sebelum dia meninggal di rumah sakit kalau dia pernah menyebutkan nama lo sampai ketika dia sekarat. Dan kemungkinan besar adalah lo yang akan melanjutkan penelusurannya."
Adam menaikkan satu alisnya. "Siapa yang kasih tau lo?"
"Gue ketemu mamanya kemarin. Dia kunjungin office kemarin dan ketemu sama om Irfan."
"Terus? Apa yang lo dapat lagi?" Tanya Adam yang sangat ingin tahu dengan nada seriusnya.
"Hmm... gue juga dapet berita berbentuk artikel tapi udah lama banget. Di artikel itu menyebutkan kalau Alexandra itu telah gagal di misinya yang di rumah sakit angker di daerah Bandung itu. Bahkan karena kegagalannya, rumah sakit itu makin angker bahkan banyak warga sekitar yang melihat penampakan langsung dari penunggu di rumah sakit itu. Dalam artikel itu juga menyebutkan sekitar 30 warga dalam satu hari mengalami kesurupan massal..."
"..... banyak juga warga yang pindah karena mereka takut tinggal di sana. Disana katanya sudah tidak aman. Banyak gangguan terutama dari nenek tua penghuni rumah sakit sana. Gila nggak?" Jelas Taylor panjang lebar.
Adam mengernyitkan dahinya lalu memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia pusing karena banyak sekali yang dia harus urus. Dia juga sudah berpikir kalau dia harus melanjutkan penelusuran dari Alexandra. Itu semua hanya untuk Alexandra.
"Jadi apa yang harus gue lakukan?" Tanya Adam sambil memijat pelipisnya yang sangat berdenyut.
"Gue rasa kita harus menyelasaikan misi di rumah sakit itu." Jawab Taylor.
Adam mengangguk. "Tapi.. kita harus tuntaskan dulu misi di sekolah kita. Gue rasa ada sesuatu yang ganjil disana." Ucap Adam.
"Sekolah?"
**********