Tak kuasa dengan pemandangan di depannya, Alesha segera pergi meninggalkan kamar Agam. Tak peduli seberapa banyaknya anak tangga, ia terus berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya langsung di atas tempat tidur. Air matanya kembali mengalir.
"Kurangajar! Tak sopan sekali dia. Masuk tanpa permisi, lalu menyampah di kamarku!" gerutu Agam di sela ciumannya yang tertunda.
Yaps. Saat itu Agam tengah bermesraan dengan wanita lain di dalam kamarnya. Jelas saja, Alesha sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kau tak melarang dia untuk masuk ke kamarmu?" tanya wanita yang kini masih di dalam pelukan Agam.
"Aku sudah melarangnya. Tapi, kenapa dia bandel sekali! Huh! Aku harus memberinya pelajaran!" kata Agam yang langsung bangkit dari duduknya.
"Hei! Tunggu aku!"
Wanita itu segera mengekor di belakang Agam dengan wajah tanpa dosa.
BRAKKK!
"Hei, kau! Wanita tak tahu malu! Berani-beraninya masuk kamar saya tanpa izin!" bentak Agam dengan menggebrak pintu sangat keras.
"Saya sudah memperingatkan kamu untuk tidak lagi menginjak kamar saya! Apa kau tidak punya telinga, hah?"
Agam menarik tubuh Alesha dengan keras, lalu menghempasnya ke atas lantai.
"Awwwsss," ringis Alesha.
Air mata Alesha semakin membanjiri wajahnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu yang sudah di luar batas.
"Sekali lagi saya peringatkan! Jangan mengurusi hidup saya! Jangan coba-coba mau melayani saya sebagaimana kau adalah istri saya! Dan jangan menginjakkan kaki di area atas! Paham?"
Agam menarik jilbab yang Alesha kenakan, membuat Alesha meringis. Matanya melotot tajam dan sangar.
"Kenapa kau yang marah? Harusnya aku yang marah, Mas. Kamu membawa wanita lain ke dalam rumah ini! Wanita yang jelas bukan halalmu, Mas!" ucap Alesha disertai isakan tangisnya.
"Kamu gak berhak mengatur hidup saya. Ini rumah saya! Jadi, terserah saya mau melakukan apa pun di sini!"
"Tapi, apa yang kamu lakukan itu di luar batas, Mas. Ingat! Kamu sudah punya istri, istri sah!"
"Heh! Jangan harap saya akan mengakuimu sebagai istri! Kamu itu cuma istri bayaran, jadi kamu gak ada wewenang apa pun di sini!"
Alesha melirik pada wanita yang tengah berdiri di belakang Agam dengan tatapan sinisnya. Dengan tanpa merasa berdosa, wanita itu langsung merangkul Agam dan membawanya keluar dari dalam kamar.
"Ingat apa yang sudah saya bilang!" tegas Agam.
Seperginya Agam dari dalam kamar Alesha, tangis Alesha semakin memuncak. Hal itu memancing bi Sumi untuk masuk ke dalam. Ia nampak merasa iba.
Bagaimanapun juga, bi Sumi meruntukki perlakukan Agam pada Alesha.
"Nyonya! Nyonya yang sabar, ya," ucap bi Sumi mencoba menenangkan.
Alesha nampak memeluk bi Sumi dengan erat, menumpahkan seluruh air mata kepedihannya.
"Maaf kalau bibi lancang. Tapi, melihat sikap Tuan Agam pada nyonya seperti ini, bibi benar-benar tak tega. Bisa-bisanya Tuan berbuat seperti itu. Padahal, bibi tahu, Nyonya itu wanita yang baik."
Tak tahan melihat semua yang terjadi dengan majikannya, bi Sumi pun turut meneteskan air matanya. Turut merasakan apa yang diderita Alesha.
"Bi, apa salah saya pada mas Agam. Sampai dia tega berbuat seperti ini pada saya?" ucap Alesha diiringi isakan tangisnya.
"Tidak, Nya. Kau tidak bersalah. Menurut bibi, Tuan Agam saja yang tak punya hati. Bisa-bisanya dia memperlakukan Nyonya seperti itu," bela bi Sumi.
"Aku tak tahu lagi, Bi. Tak tahu mesti berbuat apa." Alesha memeluk bi Sumi dengan semakin erat.
Bahunya semakin bergetar karena tangis yang semakin kencang. Nampak sekali, hatinya benar-benar rapuh.
"Nyonya Alesha tenang saja, Nyonya gak sendiri. Bibi bakal selalu ada buat Nyonya, karena bibi tahu gimana perasaan Nyonya sekarang." Bi Sumi membalas pelukan Alesha dengan tak kalah erat.
Merasa sudah sedikit tenang, Alesha segera melerai pelukannya. Lalu menghapus jejak air mata yang membasahi wajahnya.
"Enggak, Bi. Saya gak boleh lemah seperti ini. Bagaimana pun, mas Agam adalah suami saya. Jadi, saya harus bisa membuat dia takluk dan mau menerima saya sebagai istri sahnya."
Entah dorongan dari mana, seolah ada kekuatan yang membuatnya untuk tetap semangat dalam menjalani hidupnya yang menyakitkan.
Wajah Alesha kini tengah kembali menampakkan senyuman khasnya yang biasa ia tunjukkan.
Hal itu membuat bi Sumi menggelengkan kepalanya. Pasalnya, siapa wanita yang kuat jika menghadapi perlakuan seperti yang telah dilakukan oleh Agam. Dirinya sendiri, jika berada di posisi Alesha sudah pasti akan memilih pergi dari rumah j*****m itu, karena tak kuasa dengan perlakuannya.
Wajah bi Sumi memandangi Alesha nanar. Di sisi lain ia kasihan akan majikannya itu, tapi di sisi lain juga, ia salut karena Alesha bisa kuat menghadapi perlakuan suaminya.
"Bibi salut. Apapun keputusan Nyonya, bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik. Kalau nyonya butuh apa-apa, teman curhat misalnya. Bibi siap, Nya," ucap bi Sumi.
"Iya, Bi. Makasih ya. Kalau begitu, sebaiknya bibi istirahat saja. Saya juga mau bersih-bersih dulu," kata Alesha.
"Baik, Nya," timbal bi Sumi.
Seperginya bi Sumi, Alesha terdiam sejenak. Air matanya kembali jatuh dengan tanpa aba-aba. Pandangannya polos menatap ke depan.
"Ayo Alesha, kamu harus kuat! Bagaimanapun juga, mas Agam sudah menyelamatkan nyawa ayah. Jadi, bagaimanapun perlakuan mas Agam, aku harus terima. Walaupun itu pahit yang harus aku rasakan."
Sejenak Alesha memejamkan matanya, mencoba melupakan segala hal yang telah terjadi. Seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu dengan rumah tangganya.
Entah mengapa, Alesha yakin, jika dirinya bisa bersabar semua akan indah pada waktunya.
Seketika terlintas sesuatu dalam benaknya. Kedua sudut bibirnya terangkat, lalu mengambil ponsel yang sempat ia letakkan di atas meja riasnya.
Setelah mengetik sesuatu, Alesha segera mengambil handuk dan membersihkan tubuhnya.
***
Sebuah aroma masakan mengganggu Indra penciumannya. Entah mengapa, Agam begitu tertarik untuk menciumnya. Hingga, dengan penuh rasa penasaran ia pun mengikuti arah aroma itu berasal.
Hingga tiba di dapur, keningnya langsung berkerut heran saat melihat pemandangan di depannya.
Seorang wanita dengan rambut panjang tergerai, mengenakan dress di atas lutut membuat Agam bertanya-tanya pada dirinya.
"Siapa dia?" batin Agam.
Tanpa ada arahan, Agam berjalan mendekati wanita itu. Tepat pada aroma masakan yang tengah mengganggu Indra penciumannya. Ya, rupanya wanita itu tengah memasak masakan kesukaan dirinya.
Agam berjalan semakin mendekat, hingga kini tak lagi ada jarak di antara keduanya. Nampak sekali wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Agam yang tiba-tiba. Terlebih saat Agam memeluk pinggangnya yang ramping dengan posesif. Jelas saja, deru nafas Agam dapat dirasakan oleh wanita itu.
"Mas Agam?"