Ini Tidak Mungkin!

1079 Kata
Semakin dekat jarak antara keduanya, jelas saja membuat jantung Alesha berdisko ria. Ditambah dengan aroma segar dari tubuh Agam, membuatnya semakin tergoda. Alesha nampak memejamkan matanya, berharap jika suaminya itu akan melayangkan ciuman pertamanya. Yaps, seperti itulah harapan Alesha. Lain hal dengan Agam, melihat Alesha memejamkan mata membuat sebelah sudut bibirnya terangkat. Kini ia tengah tersenyum sinis, memandang jijik wajah istrinya itu. "Kau pikir, dirimu menarik untuk kucium? Tidak! Jangan mimpi, wanita kelas rendahan!" bisik Agam tepat di telinga Alesha. BUGH! Satu bogeman keras menghantam d**a Alesha. Hatinya terasa sakit saat baru saja mendengar bisikan Agam. Bahunya bergetar tiba-tiba, seperti akan menumpahkan kembali air matanya. Melihat itu, sama sekali Agam tampak tak peduli. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Alesha, dan keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Alesha yang masih berdiri di tempat dengan air mata yang menghujani pipinya. "Ya Tuhan ...." Lutut Alesha terasa lemas, membuatnya tak kuat untuk menyangga tubuhnya agar tetap berdiri. Ia pun menjatuhkan dirinya ke atas lantai, diiringi air mata yang terus saja mengalir membasahi wajahnya. "Ayah ... aku tak kuat dengan semua ini," jerit batin Alesha. "Tapi, aku lebih tak kuat jika melihat tubuh ayah yang terbaring lemah." Alesha meremas bajunya. Kali ini ia benar-benar tak kuasa dengan apa yang sedang dirinya hadapi. Pernikahan yang seharusnya menjadi suatu kebahagiaan untuknya, justru malah berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sesungguhnya. "Ya Tuhan ... kumohon, berikanlah yang terbaik untuk hidupku, rumah tanggaku. Engkau yang maha mengatur segalanya," ucap Alesha lirih. Matanya kini tengah memandangi langit-langit kamar. Sesekali Alesha menghela napas. Mencoba memberi kekuatan untuk dirinya. Kedua tangannya, kini ia gunakan untuk menghapus jejak air mata pada wajahnya. "Ayo Alesha! Semangat! Kamu pasti bisa melalui ujian ini. Itu tandanya, Tuhan sayang sama kamu. Semangat Alesha!" ucapnya menyemangati diri, seraya menghapus sisa air mata yang masih menempel. Perlahan, ia bangkit. Lalu, mengambil barang-barang dirinya yang masih tersimpan di samping ranjang besar milik Agam. Alesha memandangi setiap sudut ruangan itu, sebelum akhirnya keluar dari balik pintu kamar. Di tengah ruangan, langkah Alesha terhenti saat memandangi sebuah foto yang menempel di dinding. Foto seorang pria dengan setelan kemeja hitam, dibalut dengan jas berwarna senada. Nampak wajahnya tengah tersenyum begitu manis. Ya, jelas Alesha mengenali wajah pada foto itu. Siapa lagi jika bukan suaminya, Agam. Jelas sekali wajahnya berbeda dengan saat Agam memandanginya. Agam yang dingin, sangar, tidak ada nampak senyuman sedikit pun diberikan pada Alesha. Berbanding terbalik dengan di foto itu. Senyum di wajah Alesha terbit. "Manis sekali." Alesha teringat, saat pertama kali dirinya bertemu dengan Agam. Tepat saat Agam langsung memberikan penawaran untuk menikahinya dan berjanji akan membiayai seluruh pengobatan sang ayah hingga sembuh. Kala itu, Agam nampak sangat manis dan tulus padanya. Sehingga Alesha mantap dan yakin, jika Agam akan bisa menjadi suami yang baik untuknya. Namun, kenyataan, sangat jauh di luar perkiraan Alesha. "Aku tak menyangka, jika wajah manismu itu hanya sekedar manipulasi. " Alesha tersenyum miring. "Tapi, tak masalah. Justru aku sangat bersyukur telah mengenalmu, Mas. Jika tidak, aku tak tahu bagaimana nasib ayah saat ini," ucap Alesha, sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus bagian wajah pada foto Agam. "Ya. Aku tak boleh lemah. Saat ini, aku adalah istrinya. Jadi, bagaimanapun juga, aku harus bisa memikat hatinya. Harus! Semangat Alesha!" Ia terus saja menyemangati dirinya. Walaupun kenyataannya, hatinya sangat begitu rapuh. Melihat Alesha yang masih memandangi foto Agam, bi Sumi memandangnya dengan penuh rasa iba. Ia merasakan apa yang saat ini sedang majikannya rasakan. "Nyonya, biar saya bantu angkat barang-barangnya ya," tawar bi Sumi. Alesha sedikit tersentak kaget, saat mendapati bi Sumi yang entah sejak kapan berdiri di sana. "Eh—tidak usah, Bi. Biar saya sendiri saja. Oh ya, mas Agam kemana ya?" tanya Alesha. "Bibi kurang tahu, Nya. Tapi, tadi pergi keluar bawa mobil," jawabnya. "Oh, iya. Terimakasih, Bi. Kalau begitu, saya istirahat dulu ya." Setelah pamit, Alesha masuk ke dalam kamarnya yang sudah disediakan. Ia mencoba untuk terus berpikir positif tentang Agam. Drrrttt ... drrrttt .... Terdengar bunyi getaran dari ponsel Alesha. Ia tersenyum saat melihat sebuah nama kontak yang muncul di layar ponselnya. "Halo, Ayah." Alesha nampak sumringah saat mendengar suara sang ayah di balik telponnya. "Alesha baik, kok. Kalau ayah gimana kabarnya?" "Syukurlah," Alesha terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari sang ayah. Ia nampak sedikit berpikir akan sesuatu. "Emm ... baik kok. Mas Agam baik, Alesha bersyukur banget bisa dapat suami seperti mas Agam. Pokoknya, Ayah doakan yang terbaik ya buat Alesha dan juga mas Agam." "Iya Ayah. Terpenting sekarang, ayah cepat sembuh ya," "Iya, Yah." Tut tut tut. Telepon terputus, beriringan dengan air mata Alesha yang terjatuh begitu saja. Ia menggenggam dengan kuat ponselnya. Dadanya amat sangat begitu sesak. "Maaf Ayah. Maafin Alesha ... Alesha udah bohongi Ayah. Maafin Alesha ...." *** Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Alesha nampak sedikit risau saat dirinya belum kunjung bertemu dengan sang suami. "Bi, mas Agam belum pulang?" tanya Alesha. "Emm ... sudah, Nya," jawab bi Sumi dengan nada kaku. "Kok saya gak tahu?" "Emm ... tadi, emm ... anu, Tuan masuk lewat tangga depan." "Kenapa gak bilang? Ya sudah, saya akan bawakan dia makan. Pasti mas Agam lapar, belum makan," kata Alesha, seraya bergerak mewadahi makanannya. Entah mengapa, bi Sumi nampak khawatir akan terjadi sesuatu. Ia tak tega jika harus membiarkan Alesha yang mengantarkan makanannya ke dalam kamar Agam. "Nyonya, biar bibi saja yang antar makanannya ke atas," ucap bi Sumi. "Tidak apa-apa, Bi. Saya kan istrinya, jadi tidak ada salahnya kalau saya yang bawa." Alesha nampak tersenyum begitu manis, seakan tak terjadi apa-apa di dalam rumah tangganya. "T-tapi, Nya—" Belum sempat bi Sumi menghadangnya, Alesha sudah pergi dengan membawa sebuah nampan berisi makanan dan juga minumnya untuk Agam. Melihat kaki Alesha melangkah menaiki satu persatu anak tangga, entah mengapa bi Sumi seperti tengah kepanasan. Ia merasa tak tenang, seakan bakal terjadi sesuatu. "Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?" ucap bi Sumi. Tangannya terus mengibas. Alesha tersenyum manis. Ia tak peduli akan respon apa yang ia terima dari Agam. Terpenting baginya, ia harus tetap melayani sang suami, walaupun Agam sudah melarangnya. Semakin dekat dengan pintu kamar Agam, senyum Alesha semakin mengembang untuk dipersembahkan pada suaminya. Tok tok tok! Suara pintu diketuknya. Namun, tak nampak Agam membukakan pintunya. "Mungkin mas Agam sedang mandi," ucap Alesha berpikir positif. Tanpa mengulur waktu lagi, dengan perlahan ia memutuskan untuk memutar knop pintu. BRAAAKKK! Matanya membulat kaget. Nampan yang dipegangnya terjatuh ke lantai begitu saja. Alesha tak lagi dapat berkata-kata. Ia hanya ternganga seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini tidak mungkin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN