Verga menatap ke dalam mata Lizi. Sekali lihat, Verga langsung tahu bahwa Lizi gadis yang arogan, mendewakan jabatan serta kekuasaan dan hal itu sudah tak asing lagi bagi Verga. Memang sudah menjadi sifat manusia ketika diberi sedikit kelebihan, maka akan jumawa. Diberi jabatan, tak jarang akan menyalah gunakan. Tangan Verga bergerak, menyingkirkan tangan Lizi yang memegangi dagunya lalu berkata dengan pelan namun mengandung ketegasan. "Pertama, aku sudah meminta maaf. Jika kamu tidak memaafkan, itu adalah urusanmu. Bukan urusan ku." Verga berhenti sejenak. Menarik napas perlahan kemudian kembali bicara," Dan yang kedua adalah aku memang karyawan baru. Tapi, aku tidak takut pada mu Nona Sekretaris Manager pemasaran," lanjut Verga lagi dengan mantab dan terdengar setengah nengejek. Tak

