10. Americano dan 11 IPA 1

2462 Kata
"Woy! Beliin kita americano gece." Cowok culun berkaca mata itu terperanjat, buku yang ia pegang hampir jatuh ke dalam kolam ikan sangking kagetnya, bukan bukan, bukan kaget, lebih tepatnya takut. Pasalnya ngga ada angin ngga ada hujan Christian si preman sekolah tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya keras. Cowok yang memang sangat culun dan beberapa kali jadi korban bullying ringan itu tentu saja takut bukan main, ia yakin tidak pernah mencari gara-gara dengan Christian, ditambah dengan adanya Jonathan dan salah satu teman mereka disebelahnya membuat cowok itu semakin merinding. Aura dari Jonathan dan Christian memang tidak main-main. Tapi, mereka ngga cuman berdua. Ada satu cowok yang tersenyum riang lagi bareng mereka, tapi tetap sama, sama-sama menyeramkan. "Di-dingin?" Christian mengernyit heran melihat tingkah laku cowok dihadapannya. Iya mengangguk pelan dan menyuruh cowok itu agar cepat. "Bawain ke sini, kalo ngga ada bawa ke lapangan basket belakang atau kelas, kalo ngga ada juga buat Lo aja." Setelah ucapan Christian selesai, lelaki yang diketahui seangkatan dengannya itu menunduk dan pergi. Christian bahkan sampai geleng-geleng kepala melihatnya. "Cowo ko modelannya begitu, ngga malu apa dibuli sama cewe." Memperhatikan bayangan cowok itu yang mulai hilang di belokan, Jonathan hanya tersenyum tipis, sangat tipis, mendengar penuturan Christian. "Ngapa Lo? Udah ayo lah ke lapangan. Tangan gua udah gatel." Hendak berjalan, Christian hampir saja mengumpat kencang saat suara nyaring terdengar dari belakang. "EXCUSE ME MISTER CHRIS." Christian hampir jatuh ke kolam ikan kalau Jonathan tidak dengan sigap menariknya menjauh, fyuh, untung saja. Kalo beneran jatuh image Jonathan sebagai preman kampus bisa hancur dan ia akan diketawain olah semua warga sekolah. Bisa-bisa ia tidak ditakuti lagi. Miss Maylisa atau yang kerap disapa Miss Mel melangkah mendekat, suara high heels yang bergesekan dengan tanah terdengar nyaring. Christian, Jonathan, dan temannya spontan membalikan badan melihat Miss Maylisa jalan dengan terburu-buru sambil menarik tangan seorang siswa yang menunduk takut. Itu cowok yang disuruh Christian tadi. Mereka lupa, Miss Maylisa adalah guru piket hari ini. "WHAT IS THIS?!" Miss Maylisa sampai dan langsung mendorong lelaki itu cukup kuat, membuatnya berhadapan langsung dengan dua pangeran sekolah. Mampus, kena lagi. Miss Mel ngamuk. Menatap datar Miss Maylisa, Christian hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Dia manusia Miss." Berbeda dengan Christian dan Jonathan yang tampak santai, cowok disebelah Christian kaget mendengar jawaban temannya itu, dan Miss Maylisa tentu menatap mereka dengan murka. "MISTER CHRIS!" Dan suaranya pun menggelegar membuat banyak siswa bisa mendengarnya. "APA-APAAN INI? WHY KALIAN NYURUH-NYURUH ANAK ITU BUY AMERICANO?!" Cowok tadi hanya menunduk takut. Takut dengan hawa tidak mengenakan dari dua orang di depannya, dan takut karena suara Miss Maylisa yang terlampau kencang. Miss Maylisa maju selangkah membuat dirinya sejajar dengan cowok culun itu. "HEH YOU! NGOMONG DONG! DON'T DIEM-DIEM AJA! YOU HAVE MULUT KAN?!" Tak kunjung mendapat jawaban, Miss Maylisa geram, tapi ia menoleh pada cowok paling pinggir. Tidak biasanya mereka bertiga, dan lagi, siapa orang ini? "Hey you, Who are you? Why you bareng mereka?" Seakan sigap, cowok itu segera tersenyum manis dan mengambil tangan Miss Maylisa yang menunjuknya tadi, Salim. "Saya Kinan Miss, salam kenal." Christian dan Jonathan berusaha mati-matian menahan diri agar tidak mengumpat dan muntah saat ini. Cowok dengan name tag Kinan itu baru saja ngomong dengan nada yang manis, tidak serasi dengan fitur wajahnya yang b****k. Miss Maylisa melotot kaget, "OH MY GOD, YOU ARE KINAN?" Christian, Jonathan, Kinan, juga cowok culun itu mengusap telinga bersamaan karena suara Miss Maylisa benar-benar bisa membuat gendang telinga pecah. "Yes Miss, I'm Kinan." "Why Kinan? Why you play with mereka? No, no, you should jauh-jauh dari mereka." Kinan mengernyitkan dahi, bingung dengan campuran bahasa yang dipakai Miss Maylisa. "Oh, it's okay Miss." Bodoh. Jonathan dan Christian mengumpat dalam hati mendengar jawaban asal dari mulut Kinan. "Hah? Apa sih kamu? Oh iya, ini kalian ngapain nyuruh-nyuruh this child untuk buy-buy minum, hah?" Miss Maylisa kembali pada alasan utama mengapa ia menemui dua orang ini. Sambil menunjuk marah cowok culun yang masih nunduk. "Gini Miss, tadi ini anak lagi diem, karena kita sibuk so kita suruh deh dia beliin kita americano. Lagian sisa duitnya ntar buat dia ko." Diam-diam Kinan memuji skill Christian yang bisa dengan mudah menjawab pertanyaan Miss Maylisa. Untungnya Miss itu percaya, membuat Kinan bersorak dalam hati karena tidak jadi kena hukum. "Ini pasti ulah you kan, Mister Chris? Sudah berapa kali i say kalo you jangan seenaknya on here." "Ya terus?" Miss Maylisa benar-benar sudah geram dengan bocah bernama Christian ini. Tidak peduli apa resikonya nanti, tangannya segera meluncur menarik rambut Christian kencang, membuat laki-laki berteriak kesakitan. Peduli amat dia anak siapa, yang penting rasa gemasnya selama ini bisa tersalurkan dengan jambakan luar biasa ini. "AAHKH MISS! SAKIT MISS!" "Whatever, i udah so kesel sama you, jadi i should jambak you." Aksi Jambak menjambak itu berlangsung cukup lama. Untungnya ini tempat yang lumayan sepi, hanya ada beberapa orang yang menyaksikan kejadian memalukan itu dan tidak ada yang berani merekam. Kinan tertawa puas saat Miss Maylisa semakin mengencangkan jambakannya dan Christian yang terus teriak sakit. Sedangkan Jonathan hanya menikmati pemandangan ini dengan tenang tanpa berniat memisahkan atau menambahkan. Ia hanya tertawa dalam hati. Sedangkan anak culun itu sudah kaget setengah mati melihat guru hebring di sekolah mereka berani menjambak anak dari petinggi dan donatur sekolah. "Hah... Puas i jambak you tau nggak. Next time kalo you ketauan sama i nyuruh-nyuruh orang again, i bakal langsung nyeburin you di kolam fish ini!" Dengan napas ngos-ngosan, Miss Maylisa pergi dan menarik anak culun itu agar menjauh dari tiga orang berandal. Meninggalkan Christian yang masih memegangi kepalanya yang nyut-nyutan. "Sakit banget anjing! Gila kali itu guru ya." Kinan tertawa mengejek, ia memukul kepala Christian tepat di bekas jambakan Miss Maylisa keras-keras. "Ahahah mampus b**o! This teacher is dog, yes?" Jonathan tertawa kecil melihat bagaimana Kinan gantian dijambak Christian tanpa ampun. "Lo juga dog, yes!" Mereka bertiga berjalan masih dengan Kinan dan Christian yang berantem saling adu mulut atau saling pukul bahkan saling memiting kepala. Saat melewati koridor kelas yang sudah cukup sepi, netra jonathan tidak sengaja menangkap Bianca yang sedang membaca novel di depan jendela yang sepi. Membuatnya berhenti sejenak guna menikmati wajah serius Bianca yang sesekali tersenyum membaca tiap kalimat yang terlampir pada novel itu. Christian dan Kinan menyadari kalau Jonathan tiba-tiba berhenti, sontak mereka menghentikan aksi berantem yang sudah terjadi dari tadi. "Jo, Jo! Lo ngapa dih?" Bingung karena Jonathan tetap diam walau sudah dipanggil berkali-kali, Kinan menoleh meminta penjelasan dari satu lagi laki-laki disini. "Bro, kenapa dia?" Tanya Kinan. Sedangkan Christian hanya menaikan bahu tak mengerti, matanya tetap memperhatikan Jonathan dan Bianca secara bergantian. Bagaimana cara sahabatnya itu menatap gadis yang sedang membaca novel di bawah sinar matahari. "Gila, cewenya cantik banget, bro. Mulushh" Jonathan menoleh dan langsung memberikan tatapan tajam pada Kinan, membuat laki-laki berambut sedikit gondrong itu diam tak berkutik. "Ngapain Lo ngeliatin dia? Jalan." Perintah Jonathan tak bisa dibantah. Kinan sempat kaget mendengar nada tak suka yang keluar dari mulut Jonathan, namun ia hanya cuek dan mengikuti langkah temannya berjalan kembali ke kelas, melewati gadis mungil yang masih setia membaca novel dengan senyumannya. Diam-diam Christian memikirkan apa yang terjadi dengan Jonathan. Kenapa laki-laki itu bisa sedekat ini dengan Bianca? Kenapa Jonathan berhenti hanya untuk melihat Bianca baca novel. Ada apa antara keduanya? Kenapa Jonathan kelihatan begitu tertarik dengan gadis itu? Christian melotot kaget, kemudian menggeleng tak percaya saat menemukan satu jawaban yang terlintas di otaknya. Jonathan... Suka sama Bianca? *** "Ca, masuk. Bentar lagi guru masuk." Bianca terperanjat kaget saat Nathaniel menepuk bahunya lumayan keras. "Hah? Ohh, iya-iya." Nathaniel hanya tersenyum singkat dan diam memerhatikan Bianca yang mulai merapikan seragamnya yang lecek karena kelamaan duduk. Fyi, Bianca baca novel sambil dengerin musik lewat earphone, jadi dia agak lama karena harus menggulung earphonenya serapih mungkin. Bianca bukan tipe cewe yang suka berantakan. "Lama amat buset, tinggal masukin kantong itu. Cepetan deh, Ca. Kita udah ditungguin anak-anak." Bianca menoleh bingung, "hah? Ditungguin kenapa?" "Lah? Lo lupa?" Dengan polos Bianca mengangguk. Nathaniel lantas menepuk jidatnya tak habis pikir, bagaimana bisa Bianca melupakan hal sepenting ini? "Ck, sekarang jamnya Bu Sonya, b**o! Itu anak-anak lagi pada siap-siap!" Bisik Nathaniel sedikit gemas. Mendengar itu, Bianca langsung memasukkan hp dan earphonenya ngasal lalu lari membawa novel, meninggalkan Nathaniel yang merenggut tak suka. "Emang kurang ajar, gua yang jemput gua juga yang ditinggal." Bianca dan Nathaniel sama-sama berlari menuju kelas. Bianca memang tidak membaca novel di dekat kelasnya, melainkan di koridor sepi yang ada jendela besar di daerah kelas sepuluh. Karena anak kelas sepuluh masih pada polos, tidak ada yang berani membolos, sehingga Bianca bisa dengan mudah membaca tanpa khawatir kena gombalan bocah. Bel memang sudah berbunyi dari tadi, tapi guru belum juga datang ke kelas mereka, jadi Bianca memanfaatkan kesempatan itu dengan membaca novel sambil mendengar musik. Nathaniel dan Bianca sengaja melewati jalan yang lebih jauh agar bisa memastikan bahwa Bu Sonya, guru Bahasa Indonesia yang nyebelinnya nauzubillah bisa bikin nyebut berkali-kali. Sesaat setelah sampai di kelas, Bianca bisa melihat Vanesha yang duduk di meja guru sambil menyuruh beberapa siswa untuk melakukan perintahnya. Sang adik, Vernand, juga sibuk menggambar abstrak di papan tulis. Franky yang notabenenya cowo usil dengan otak brilian sedang menaruh sesuatu di sudut-sudut lantai. Sedangkan Leon, anak itu lagi asik nyanyi di atas meja menggunakan sapu sebagai mic nya bersama para gadis lain, entah untuk apa. Suasana kelas 11 IPA 1 benar-benar hancur, dan jika dilihat dari luar, siapa yang percaya bahwa kelas ini adalah kelas unggulan? Derap langkah kaki terdengar jelas dan semakin lama semakin terasa dekat, semua anak-anak IPA 1 segera berlarian menuju tempat duduknya masing-masing. Ibu Sonya masuk dan langsung memberi mereka semua tatapan yang sangat mereka benci. Iya, kelas IPA 1 ngga suka sama guru Bahasa Indonesia itu, begitupun sebaliknya. Baru saja Reyhan –cowok berperawakan tinggi dan kekar dengan wajah imut– selaku ketua kelas hendak memberi salam, guru Bahasa Indonesia itu terlebih dulu menghentikannya. Membuat Reyhan yang sudah berdiri kembali duduk dengan wajah masam. "Ngga usah salam-salam segala, langsung aja." Bu Sonya langsung meletakan beberapa buku di atas meja, lalu mulai menatap nyalang para murid yang sudah duduk dengan tenang. "Di pertemuan terakhir ibu ada kasih tugas kan? Ayo, sekarang cepat dikumpul." Mengambil penghapus papan tulis dan memukulnya dengan keras ke meja beberapa kali, Bu Sonya tersenyum remeh saat melihat wajah murid-muridnya mulai pucat pasi. Tanpa sadar, di bangku paling belakang tempat dimana Leon duduk, cowok itu sedang mengeluarkan botol plastik kecil dari dalam jasnya, kemudian membuka botol itu hingga sesuatu terbang keluar. Melihat Leon sudah mulai menjalankan aksinya, Vernand yang juga duduk di bangku paling ujung juga ikut mengeluarkan sesuatu dari saku jas dalamnya, kemudian melemparkan benda kecil berwarna abu-abu ke depan, lalu mengeluarkan remote kecil dari saku celananya. Franky yang duduk dibarisan tengah pun ikut mengeluarkan botol plastik bening dari bawah kolong mejanya. Menatap geli pada botol itu dan dengan takut-takut mengeluarkan isinya, membiarkan isinya itu mengelilingi kelasnya. Melempar pensilnya ke arah pintu, semua mata di kelas itu langsung tertuju pada Reyhan. "Ups, maaf Bu, jatoh, hehe." Dengan senyum bodohnya Reyhan jalan dan mengambil pensil tersebut. Tapi sebelum berdiri, cowok itu sempat menempelkan sesuatu di lantai tempat pensilnya jatuh. Sesuatu yang lengket. Lalu setelah menempel dengan benar Reyhan segera berdiri dan kembali ke tempat duduknya, memberi jempol pada anak sekelas. Bu Sonya mendengus kesal, "kenapa diam aja? Cepet kumpulin, setelah itu kita lanjut ke bab selanjutkan." Final guru itu. Melihat semua sudah siap, Nathaniel langsung berdiri dan berteriak heboh, membuat satu kelas kaget, terutama Bu Sonya yang hampir terkena serangan jantung. "NATHAN!" Marah Bu Sonya, namun belum sempat Bu Sonya melanjutkan omelannya, Nathaniel lebih dulu menyela dan kembali berteriak, "LEBAH BU, LEBAAAHHH!" Semua orang di kelas IPA 1 langsung berteriak heboh begitu melihat beberapa lebah berterbangan di langit-langit kelas. Kelas heboh, semua sibuk menyelamatkan diri dari lebah-lebah di atas mereka, termasuk Bu Sonya yang sudah bersembunyi di bawah meja. Namun kehebohan kelas itu bertambah kala Bu Sonya berteriak kencang dan kepalanya terantuk meja hingga mengeluarkan suara yang nyaring. "TIKUSSSSSSS!" Pekik guru itu sambil berusaha mengeluarkan diri dari bawah, membiarkan kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Suasana kelas benar-benar hancur sekarang. Meja dan bangku banyak yang berjatuhan dan teriakan terus keluar dari mulut anak-anak itu. Setelah Bu Sonya berhasil berdiri di atas bangku, ia segera mengambil penggaris panjang yang ada di dekat meja guru, namun sesuatu yang lengket mengenai tangannya. "Hueek, apa ini?" Pekik Bu Sonya. Salah satu anak kembali berteriak membuat Bu Sonya hampir melompat kaget. "BU KECOA TERBANG BU! AWASS!" Kecoa itu hinggap di kepala guru wanita cantik yang sedang berdiri di atas kursi tersebut, membuat Bu Sonya panik luar biasa dan tanpa pikir panjang loncat, menyebabkan dirinya jatuh terpeleset, walau pelan, tetap sakit itu. Namun belum sempat guru bahasa itu menikmati sakit di pinggulnya, Bu Sonya langsung dikejutkan dengan tikus yang tiba-tiba muncul di sebelahnya, lari dan berusaha menaiki tangannya. "WAAAAAAAAAAA!!" Segera Bu Sonya berdiri dan melompat-lompat sambil menepuk-nepuk badannya, memastikan bahwa tidak ada hewan yang nempel di tubuhnya. Bu Sonya langsung lari keluar kelas, belum sempat melewati pintu, kaki sebelah kanan Bu Sonya terasa agak berat, ada sesuatu lengket yang menempel di sepatunya. "HUAAA KECOANYA TERBANG!!" "TIKUS ANJIM TIKUSSSSSSS!" "WOI LEBAHNYA TURUN, SAT! LARIII!" "JANGAN LOMPAT-LOMPAT b**o! JATOH!" Mendengar teriakan heboh dari anak-anak kelas membuat Bu Sonya tidak peduli lagi dengan sepatunya. Ia langsung lari memaksa kakinya bergerak cepat. Tapi karena sesuatu yang lengket itu membuat langkah Bu Sonya sedikit sulit, kaki kanannya selalu menempel pada lantai tiap kali terpijak. Entah apa itu. Melihat guru bahasa Indonesia itu sudah keluar dengan kaki terseok-seok, seluruh murid IPA 1 hening sejenak, sebelum akhirnya mereka tertawa kencang sambil tos satu sama lain. "Hahahah, mampus anjing mampus! Suruh siapa nyebelin!" Keki Reyhan disahuti tawa dari yang lain. Masih dengan suasana ricuh dan meriah, mereka memunguti hewan-hewan itu dan mencuci lem bau yang ada di ujung penggaris, itu lem yang dicampur dengan air bekas pel-an dan air seni dari tikus juga kodok. Reyhan kembali ke depan pintu kelas, mengambil permen karetnya lalu mengelap lantai dengan kain yang sudah dibasahi carian pembersih. Iya, itu tadi Lima permen karet bekas yang sengaja dimakan olehnya. Franky yang memang dasarnya penakut dan gelian ngga mau disuruh mungut kecoa lagi, alhasil anak cewek lah yang terpaksa teriak-teriakan ngambil kecoa. Tapi, kebahagiaan mereka rusak karena Leon tiba-tiba berteriak, membuat kelas kembali ricuh dan heboh. "ANJIR! GUA DISENGAT LEBAH, BABI!" Kelas yang awalnya mulai rapih kembali berantakan karena anak-anak mulai berlarian menyelamatkan diri. Vanesha yang baru balik setelah membersihkan penggaris dari kamar mandi langsung melempar penggaris itu dan lari menjauhi kelasnya. Tidak lupa dengan teriakan dahsyatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN