11. Setelah Kejadian itu...

2305 Kata
Kantin. Disinilah Bianca dan Vanesha terdampar sekarang. Setelah kejadian yang tak terduga, —Leon disengat lebah— Vanesha langsung menarik Bianca untuk ikut bersamanya ke kantin, meninggalkan kelas yang masih ribut. "Hahahaha." Dari tadi dua gadis itu tertawa kencang membuat banyak pasang mata memperhatikan mereka, ada yang risih, tidak suka, ada yang hanya menikmati. Maklum, Bianca adalah kesayangan sekolah, sedangkan Vanesha selebnya sekolah, mereka berdua terkenal, jadi wajar aja ada banyak fans dan yang ngga suka. "Gila ya anjir, ide siapa sih ini awalnya?" Tanya Vanesha terbata-bata, dia masih sibuk menetralkan tawanya agar tidak kembali meledak. Bianca juga sama, ia masih tertawa mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. "Gua ngga tau, adek Lo kali, dia kan sedeng." Vanesha kembali tertawa renyah, ia tidak marah kalau adik kembarnya itu dihina seperti tadi, karena pada kenyataannya memang Vernand sedikit miring. "Gila anjir, kayanya anak cowo semua ikutan deh, ampe si Reyhan aja ngikut coy. Diakan biasanya cuman diem menikmati hasil aja." Vanesha tertawa, namun diakhiri dengusan sebal mengingat ketua kelasnya itu memang sangat pemalas dan tidak mau ikut bekerja sama. "Kayanya sih udah direncanain lama. Haha, kasian sih sebenernya, tapi yaa gimana gua juga kesel sama dia." Vanesha mengangguk heboh, menyetujui kalimat Bianca barusan. "Iya bener. Gua juga rada kasian ngeliatnya, tapi ngakak juga haha." "Sampe jatoh gitu dong, untung ga keras, ga nyampe bunyi lah." Bianca masih tertawa, kejadian di kelas barusan seakan terputar di otaknya, ia bisa melihatnya secara jelas. "Iya, haha. Ya tapi mau gimana lagi, dianya nyebelin sih, ngga ada kasian-kasiannya sama kita, gua juga gondok sama dia anjir. Masa ngasih tugas sampe 20 halaman begitu, sedangkan kelas lain jarang dikasih tugas. Sekalinya tugas yang dikit malah disuruh pidato di lapangan, kan minta di santet." Bianca tertawa ringan mendengar penuturan penuh dengkian dari Vanesha, tapi apa yang dibilang gadis itu memang seratus persen benar. Guru bahasa mereka memang sangat menyebalkan, pilih kasih. "Main-main dia sama kelas kita." Tawa kedua gadis itu kembali pecah, menarik perhatian banyak orang, termasuk tiga laki-laki yang sedang duduk santai memainkan ponselnya di paling ujung. "Ngeliatin apa Lo?" Tanya laki-laki berambut gondrong dengan warna sedikit cerah. Yang ditanya hanya diam sambil terus memperhatikan objek yang dari tadu menarik perhatiannya. "Buset, boss. Dijawab atuh, punya mulut tuh dipake." Kesal laki-laki itu. Sedangkan yang lainnya hanya mendengus malas mengetahui kemana arah pandangan temannya itu. "Oalah cewe tadi toh, naksir Lo ya?" Pertanyaan asal yang keluar dari bibir si gondrong dapat menarik kembali perhatian temannya itu. "Apa sih, ngga jelas." Biarin aja lah, dia juga ngga jelas. Kembali pada dua gadis tadi, mereka masih asik cekikikan sambil menceritakan hal yang baru saja mereka alami. "Tapi Lo gapapa kan? Ngga kena sengat lebah?" Tanya Vanesha. Bianca sudah seperti adik baginya, walau terkadang Bianca bisa menjadi kakak yang baik juga untuknya. Bianca menggeleng pelan, menatap Vanesha seolah berkata bahwa ia baik-baik saja. "Santai, gua ditutupin jaket Nathan tadi, untungnya adek Lo ngga ngarahin tikus itu ke gua, jadi ngga perlu heboh kaya yang lain." Vanesha mengangguk paham, kemudian menyeruput es jeruk yang sempat dipesannya tadi. "Eh pesenan kita mana dah? Baksonya?" Tanya Bianca membuat Vanesha tersadar bahwa mereka juga sempat memesan bakso tadi, tapi yang datang minumannya duluan. "Em, bentar. Gua aja deh yang ngambil, Lo duduk sini aja, jagain tempatnya." Vanesha bangkit dan berjalan mengambil pesanan bakso mereka pada ibu kantin. Bianca hanya diam. Sambil menunggu Vanesha dan pesanannya datang, Bianca lebih memilih memainkan ponselnya dari pada diam sampai bosan. Tak lama, seseorang menduduki bangku di depannya. Awalnya Bianca pikir itu Vanesha, tapi setelah mendongak dan melihat siapa oknum yang telah berani duduk dihadapannya, wajah Bianca yang awalnya tersenyum menjadi datar. "Wow wow wow... Cuek sekali cantik." Cowo gondrong yang sama sekali tidak Bianca kenal berucap, mengompori Jonathan. Iya, yang dihadapan Bianca kini adalah Jonathan, Christian, dan satu lagi temannya. Membuat mood Bianca tiba-tiba meluncur bebas ke bawah. Bianca hanya menatap cowok dengan rambut berwarna agak terang itu datar. Apa-apaan dia, kenal aja ngga tiba-tiba ngomong begitu. Cih, sok kenal dasar. "Waw, menarik." Kinan, cowok gondrong itu menarik senyum simpul yang membuat Bianca ingin muntah. Senyum menggoda yang menjijikan. "Berisik." Kesal Bianca. Ia berdoa dalam hati agar Vanesha segera datang, lagian ngambil pesanan aja kenapa selama ini sih? "Galak banget, Jo." Goda Kinan. Sedangkan Jonathan hanya diam terus memperhatikan Bianca. Membuat gadis itu risih dan balas memelototi Jonathan. "Jangan saling tatap-tatapan gitu dong, nanti suka lho." Bianca balas menatap Kinan tajam, benar-benar mulut cowok ini. "Aduh, jangan ngeliatin gua gitu banget dong, manis. Nanti kalo jatuh hati berabe." "Apaan sih Lo? Ngga jelas. Pergi." Sungguh, Bianca benar-benar menarik di mata ketiga pria itu sekarang. Banyak gadis yang luluh pada ketiga pemuda itu, bahkan sampai melakukan hal-hal menjijikan demi menarik perhatian mereka, tapi Bianca ini nggak. Dia justru terlihat sangat anti dan berusaha menjauhi mereka. Bianca terlihat tidak menyukai mereka, terutama Jonathan dan Christian pangeran sekolah ini. "Lho, lho? Kenapa nih, Ca?" Vanesha datang dengan membawa nampan berisikan dua bakso panas milik mereka, Bianca berterimakasih dalam hati karena Tuhan segera mengabulkan doanya. Menduduki dirinya disebelah Bianca, Vanesha sedikit mendekat berusaha berbisik agar tidak terdengar tiga cowok itu, "mereka ngapain disini, Ca?" Bianca menggeleng pelan, mendekatkan kepalanya pada Vanesha ikut membisikan kalimat pada gadis itu, "ngga tau juga gua, Nes. Tiba-tiba dateng terus sok asik gitu." Vanesha melotot kaget sedetik kemudian tersadar dan berusaha menetralkan wajahnya agar biasa saja, lalu menjauhkan dirinya berusaha bersikap tenang. "Kenapa nih pada bisik-bisik?" Tanya Kinan. Ya, dia memang memiliki pribadi yang ramah terkesan sok asik. Vanesha bahkan langsung bisa menilai seperti apa cowok asing dihadapannya ini. Mereka berdua sama-sama ilfeel. "Kenapa ngga chat?" Suara berat Jonathan memecahkan keheningan yang sempat terjadi karena dua gadis itu enggan menjawab pertanyaan tak bermutu Kinan. Dan Kinan sepertinya sadar bahwa dua gadis itu tidak suka ditindaki demikian. Sekarang atensi empat orang dimeja tertuju pada Jonathan. Keempat orang itu kaget, kaget karena Jonathan bisa berucap seperti itu, terutama Bianca, mata gadis itu melotot lebar sampai hendak keluar dari tempatnya. "H-hah? Chat, chat apaan deh?" Tanya Bianca. Jonathan tersenyum simpul mendengar nada gemetar dari gadis itu. Gugup. "Gua kemarin ngasih nomer ke Lo, kenapa ngga di chat?" Masih mempertahankan senyum tipisnya, Jonathan dengan santai bertanya tanpa peduli teriakan heboh dari Kinan. "Wah GILAAA... Seorang Jonathan ngasih nomer hp nya ke cewe, cewe cuy, cewe..." Christian ikut tertawa mendengar penuturan Kinan. Laki-laki itu memang tidak bisa serius, dia bahkan tidak tau bahwa gadis yang dimaksud Jonathan tengah menahan gugup dari tadi, temannya shock, dan Jonathan yang memang tidak ada niat bercanda. "A-apaan sih Lo? Engg... Engga ada tuh nomer Lo di gua, iya ngga ada." Jonathan kembali memasang senyum miring. Sudah dibilang, Bianca tidak pandai berbohong. Vanesha bahkan sampai tepuk jidat dibuatnya. Kinan sudah bersorak heboh menyudutkan Bianca. "Bohong tuh, Jo. Bohong." "Brisik, bego." Lama-lama kuping Christian sakit juga mendengar Kinan teriak-teriak ngga jelas di sebelahnya. Kinan hanya memberi senyum anehnya dan kembali menatap Bianca juga Jonathan. Ia berusaha serius sekarang, walau mulutnya gatal pengen ngomporin. "Ada, di buku pink gambar unicorn Lo itu. Kemarin Lo jelas-jelas liat gua ngerobek buku Lo dan masukin nomer itu ke kotak pensil. Lupa atau...?—" Jonathan mencondongkan tubuhnya mendekati Bianca, menempatkan mulutnya tepat di sebelah kuping gadis itu, membuat Bianca bisa merasakan napas hangat Jonathan mengenai kulit lehernya, geli. "—Pura-pura lupa?" Lanjut Jonathan. Bianca bisa merasakan hal aneh pada tubuhnya, geli tapi aneh, apa itu karena Jonathan bernapas tepat di lehernya ya? Vanesha kaget dengan aksi Jonathan barusan. Ia lebih kaget lagi saat tau kalau ternyata Bianca dekat dengan lelaki itu. Christian hanya diam menyimak apa yang akan terjadi, sedangkan Kinan sudah menutup mulutnya dengan tangan menahan agar suaranya tidak keluar, yang justru membuatnya seperti sedang menahan buang angin. "E-engga, ko, engga. I-inget inget. Nomer yang ada di kotak pensil kan? Iya, inget inget. Ta-tapi lupa mau chat semalem." Bianca menyumpahi dirinya sendiri yang bisa-bisanya gugup di depan para cowok ini. Jonathan kembali tersenyum simpul, senyum miring yang bisa membuat para gadis histeris namun justru menyeramkan bagi Bianca. Tiba-tiba ponsel Bianca berdering, membuat atensi kelima orang itu beralih pada ponselnya yang menyala terang menampilkan nama seseorang. 'Lele rombeng?' is calling... Jonathan menghembuskan napas pelan, entah kenapa ia sedikit kurang suka dengan nama yang tertera di layar ponsel Bianca. Apa mereka sangat dekat sampai Bianca menamainya seperti itu? "Eh, maaf, bentar." Bianca izin mengangkat telponnya. Sebenarnya ngga usah izin juga gapapa, tapi demi sopan santun ia rela melakukannya. Walau pada tiga orang yang paling ia tidak suka. Bianca tidak berdiri atau pergi, ia mengangkat teleponnya di tempat ia duduk, suaranya juga tidak ia kecil-kecilknan atau diimut-imutin. "Hallo? Kenapa, Le?" Sapa Bianca. Namun bukannya mendapat sapaan balik atau salam, orang di seberang sana justru teriak sampai Bianca menjauhkan ponselnya dari telinga. "KENAPA LAMA BANGET NGANGKATNYA ANJIR?" Bianca mengusap kupingnya pelan, "kenapa sih? Jangan teriak-teriak, malu, suara Lo kedengeran sampe luar." Lele rombeng alias Leon hanya mendengus tidak peduli, ia kembali berteriak kencang. "LO DIMANA, BIANCAA?!" Bianca mendengus pelan, ini orang kenapa sih? Ko teriak-teriak? "Kantin, why?" "LO JANGAN KEMANA-MANA, OKAY? STAY THERE OR GO KE TEMPAT YANG JARANG DI DATENGIN ANAK KELAS, KE BAGIAN IPS ATAU BAHASA SONO!" Bianca melihat Vanesha yang juga sedang menatapnya bingung, seolah bertanya kenapa Leon bisa sepanik itu. "Emang kenapa sih? Kenapa harus kesitu?" Bukannya jawaban, Bianca justru mendengar suara ketukan dari seberang sana. "IYA MISS! BENTAR. Duh, Ca, pokonya jangan kemana-mana. Lo and Vanesha jaga diri baik-baik." Bianca makin bingung. Ini anak kenapa sih? Apa ini ucapan perpisahannya? Leon mau pergi jauh? Atau.... Ketemu sama Yang Maha Kuasa? "Lo... Ngga mau meninggal kan?" "Ya ngga lah, goblo! Gini, kelas kita ketangkep, suruh ke ruang BK semua, rame banget. Yang berhasil kabur cuman Lo, Vanesha, Auri sama Gilang. Tapi katanya Auri sama Gilang juga udah ketangkep, sisa Lo berdua." "Loh? Kok bisa? Gimana ceritanya?" "Duh, panjang dah. Pokonya jangan sampe ketangkep atau keliatan guru-guru okay? Siapapun itu, ini semua guru lagi pada ngincer kita." "IYA MISS, IYA! INI LAGI RESLETING CELANA! Ca, i can't stay long, lagi di kamar mandi, mana ditungguin sama Miss Mel lagi. Udah ya. Inget, jangan sampe ketangkep, byee!" Sebelum Bianca sempat protes, sambungan telepon keburu di putus sama Leon. Kayanya anak itu benar-benar ngga mau kalo Vanesha sama Bianca sampai tertangkap juga. "Kenapa, Ca? Ko panik? Lele bilang apa?" Tanya Vanesha. Melihat Bianca yang jadi tidak tenang begini membuat tiga lelaki disana juga ikut bingung. "Nes, anak-anak ketangkep semua, gimana dong?" Wajah Bianca benar-benar sudah tidak enak sekarang. Mukanya pucat dan matanya bergerak khawatir. "Heh? Are you serious? Semuanya? All?" Mengangguk lemah, Bianca menunduk entah karena apa, "yes, all. Mereka semua ketangkep, lagi pada di BK sekarang, makanya Lele nyuruh kita buat jaga-jaga, jangan sampe ketemu guru." "Oh my God, gimana bisa? Ada yang lapor kah?" Bianca menggeleng lemah. Dia memang tidak mengetahui apa dan kenapa. "Ngga tau gua, si Lele panik ngga sempet nyeritain." "Wah, gila, yaudah ayo kabur lah kita. Kalo disini terus bisa ketauan lho." Vanesha hendak menarik tangan Bianca untuk pergi ke kelas IPS dimana ada temannya disitu. Namun Bianca lebih dulu menolak, menarik tangan Vanesha agar duduk kembali. "Ngga usah, ngapain kabur sih? Udah kita ke BK aja sekarang." Vanesha mengangkat satu alisnya bingung, berucap histeris sambil menepuk pipi Bianca heboh. "LO GILA? Ntar kita kena hukum b**o, bisa-bisa diskors. Udah lah, Lele juga ngga mau kita ketangkep, ayo gece." "Wow wow, ngga usah teriak-teriak dong cantik, duduk. Calm down." Emang ya Kinan, bener-bener ngga tau situasi. Bianca masih tetap kekeh menahan Vanesha supaya tidak lari. "Jangan, Nes. Ya Lo mau anak kelas dihukum semua?" Diam, Vanesha diam sambil memikirkan ucapan Bianca, menimang-nimang sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Iya juga, mereka kan temen kita ya. Ya udah lah ayo, kita cus ke BK sekarang." Ucap Vanesha sambil menjentikkan jarinya di depan muka Bianca. Akhirnya, Bianca dan Vanesha lari meninggalkan bakso yang tidak tersentuh sama sekali, juga tiga laki-laki yang merenggut kesal, bisa-bisanya mereka ditinggal gitu aja. Apa lagi Kinan, cowok itu benar-benar ngga dianggap sama dua cewek tadi. "Ck, gila kali tuh cewe ya. Bisa-bisanya babang Kinan yang tampan ini ditinggal gitu aja." Serunya kesal. Atensi Kinan beralih pada bakso yang masih hangat, bahkan uap-uapnya juga masih kelihatan sedikit. Mata Kinan berbinar menatapnya. "Makan lah yok, mumpung gratis, euy." Jonathan hanya diam, sedangkan Christian menatap Kinan jijik. Semakin lama Kinan disini Christian bisa tidak ada harga dirinya lagi. Baru sehari aja anak itu sudah bisa berbicara seenaknya. Kinan yang merasa diperhatikan pun berhenti menyuapkan mie bakso ke dalam mulutnya, beralih menatap kedua teman yang juga menatapnya heran. "Kenapa sih? Ngga mau? Ya udah buat gua aja. Lagian porsi bakso disini kecil banget dah." Christian memukul kencang kepala Kinan, membuat lelaki itu mengaduh sakit. "Sakit g****k!" "Mampus, malu-maluin sih Lo." "Lah malu-maluin dari mananya, bos? Ini masih bersih, masih anget juga. Nih makan nih, enak coy, mantep lah bakso kalian." Kinan menyuapkan satu bulatan bakso besar kepada Christian, sebelumnya bakso itu sudah ditiup-tiup dulu agar tidak terlalu panas. "Apaan? Ngga mau, bekas congor Lo, ji—" "Nih makan nih makan congor gua." Kinan langsung memasukkan bakso bulat itu ke dalam mulut Christian yang masih terbuka, membuat laki-laki itu tersedah dan beralih meminum jus jambu bekas Bianca. "Uhuk... Uhuk... Panas b**o!" Marah Christian, masih sibuk mengunyak bakso yang memang ukurannya sangat besar kalau langsung masuk ke dalam mulut. "Enakan? Udah lah makan aja, ngga usah gengsi Lo." Mengambil paksa satu mangkok bakso satu lagi, Christian cepat-cepat menelan bakso yang masih di mulutnya dan menyuapkan mie serta kuahnya. Melihat itu, Kinan hanya tersenyum mengejek sambil menepuk-nepuk punggung temannya tidak sopan. "Nah kan dimakan juga, gengsian Lo mah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN