12. Solidnya kelas Bianca

2345 Kata
Vanesha dan Bianca masih menyusuri koridor. Lari-larian di koridor kelas yang sepinya kebangetan. Ngga tau deh kenapa koridor kelas IPA itu selalu sepi, apa lagi yang mau arah ke BK atau ruang guru. Ngga ada yang lewat sama sekali. Sekolah mereka emang besar banget, terlalu besar malah. Banyak jalan yang biasa dipake dan ramai, itu bikin beberapa jalan jadi sepi banget karena hampir ngga pernah dilewatin. Tapi baru setengah jalan, Bianca dan Vanesha ngeliat Leon yang lari di paling depan, lalu disusul Reyhan, Vernand, dan Franky yang mengejarnya. "LELE JANGAN LARI ANJING!" Seru Reyhan. "NGGA MAU GUA b*****t! INI TANGAN SAMA JARI GUA ABIS DISENGAT LEBAH, MALAH MAU DIPUKUL SAMA GURU GILA ITU!" Bianca dan Vanesha berhenti, dibelakang mereka ternyata ada Pak Joko, satpam sekolah dan Pak Hendra, guru olahraga kelas dua belas. Melihat Bianca dan Vanesha, Leon berhenti sejenak, mengambil napas sebanyak mungkin lalu menatap mereka nyalang. "Kenapa kesini? Udah gua bilang ke IPS atau bahasa aja, nyari mati Lo pada ya?!" "Ya ngga bisa lah, anjir! Kita nih setia kawan, jadi kalo Lo pada dihukum ya kita juga ikut lah." Kesal Vanesha sambil memukul keras kepala Leon. "Halah setia kawan. Setia kawan Lo itu ngga dibutuhin sekarang, monyet!" Baru saja Vanesha ingin membalas ucapan kasar Leon, suara Franky dan beberapa guru membuat mereka diam. "LE YA ALLAH, GUA CAPEK!" "ARDOLPH LEON! BERHENTI SEKARANG!" Leon langsung menggeleng dan lari dari situ secepat kilat. "Lari bodoh, jangan sampe ketangkep Pak Hen!" Bianca dan Vanesha yang masih tidak mengerti situasi akhirnya ikut lari bersama Leon, namun mereka memutuskan berpencar di depan lorong. "Bentar, hosh... Bentar, Nes. Cape.. hosh...hosh... Cape banget gua." Vanesha mengiyakan dan mereka berhenti sejenak guna mengatur napas. Tapi tak lama, beberapa teman cewek sekelas mereka datang. "Ca, Nes. Ampun dah untung ketemu kita." Belum sempat mereka berbincang apa-apa, beberapa guru langsung datang dan menghadang mereka, membuat mereka tidak bisa lari kemana-mana lagi. Dan disinilah mereka sekarang. Ruang BK yang gedenya kebangetan. Semua anak IPA 1 yang jumlahnya tiga puluh bahkan muat disini. Dihadapan mereka ada Bu Denise, Bu Renita, dan Bu Siti, para guru BK dari kalas sepuluh, sebelas, dan dua belas. Ada juga guru-guru yang tidak berkepentingan di ruangan ini, cuman mau ikut-ikutan marah dan menambah hukuman mereka. Dan yang pasti Bu Sonya, guru bahasa Indonesia yang kena ulah IPA 1. Ruangan begitu hening dan dingin. Semua guru menatap mereka tajam, dan yang bisa dilakukan hanya diam menundukkan kepala. Serem, ngeri coy. Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan pak Joko juga pak Hendra yang sedang menarik paksa Leon, diikuti Reyhan selaku ketua kelas dan Franky anak kepercayaan Bu Siti. Brak... Bu Renita bangkit dan membanting meja kasar. Ia menatap murid-muridnya dengan ganas. Dia guru yang galak. "Kalian semua tau kenapa kalian dipanggil kesini?" Tanya guru itu dengan nada menyeramkan. Dijawab anggukan kepala oleh tersangkanya. "Kalian tau kalo kalian salah?" Masih sama, ngga ada yang berani menjawab selain menganggukkan kepala. "TERUS KENAPA KALIAN LARI?!" Kaget, semua orang yang ada di ruangan itu terperanjat kaget. "Kalian tuh kelas unggulan, kenapa buat onar seperti ini?" Marahnya. Reyhan selaku ketua kelas, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi anggota kelasnya. "Siapa yang membuat onar, Bu? Kita ngga tau kalo bakal ada kejadian seperti itu, bahkan tangan Leon kena sengat." "Heh kamu, menjawab!" Bu Siti ikut andil. "Kamu mau ibu suruh bersihkan sekolah selama sebulan?" Begitupun Bu Denise. Bu Renita, Bu Siti, dan Bu Denise adalah perpaduan yang sempurna. Mereka kuat dan tahan menjadi guru BK karena sifat mereka yang saling melengkapi. Bu Renita yang tegas dan berwibawa, Bu Denise yang kejam saat memberi hukuman, dan Bu Siti yang cerewet juga selalu berkeliling mencari anak-anak yang tidak patuh aturan. Menjadikan mereka guru yang cukup dihindari anak-anak, terutama kalau mereka kedapatan sedang bersama, auranya serem cuy. Bu Renita menggeram marah, kelas ini memang kelas yang susah untuk ditaklukan. "Kalian kan yang bawa masuk hewan-hewan itu?" "Bukan Bu, ngapain kita bawa-bawa kecoa sama lebah? Sedangkan kita juga takut sama hewan itu." Lagi, Reyhan menjawab. Satu kelas menatap takjub padanya, Reyhan memang pemalas dan tidak seusil mereka, tapi Reyhan selalu mau melindungi mereka, seperti sekarang. Itu kenapa ia dijadikan ketua kelas dari awal masuk sekolah. "Terus tikus mainan itu? Bisa dijelaskan?" Tanpa ragu Reyhan menjawab, "kita mau latihan drama, Bu. Bu Tuti ngasih kami tugas untuk bikin drama, dan tikus mainan itu salah satu media kami." Bu Tuti, guru seni budaya kaget namanya disebut, namun berusaha mengontrol wajahnya. "I-iya Bu. Mereka memang udah ngasih tau kalo mereka akan pakai tikus mainan di dramanya nanti." Bu Tuti bahkan gugup karena ditatap intens oleh Bu Renita, guru BK kelas dua belas itu memang memiliki aura yang sangat mengintimidasi, ditambah julukannya sebagai guru senior membuat banyak guru segan dengannya. "Kenapa latihannya di sekolah? Kenapa ngga di rumah aja?" "Ngga sempat, Bu. Rumah kita berjauhan semua, dan tugas lain juga harus segera diselesaikan." "Kalo untuk drama kenapa bisa berkeliaran saat jam Bu Sonya?" "Iya maaf Bu, kami akui itu memang kesalahan kami. Tadi kami sedang coba tikus mainannya, berfungsi apa tidak. Tapi Bu Sonya keburu masuk, jadi kami panik dan kelupaan soal tikus itu." Satu lagi yang bikin Reyhan diangkat menjadi ketua kelas, ia pandai berbicara dan mencari alasan. Alasan yang ia pakai pun selalu masuk akal. Karena itulah kelas mereka jarang terkena hukuman. Reyhan adalah pelindung 11 IPA 1. Menghela napas panjang, Bu Renita menatap mereka jengah. Sudah berapa kali kelas ini dipanggil ke BK, tapi mereka juga selalu berhasil lolos dengan selamat tanpa hukuman, ya paling-paling hukuman ringan seperti menulis beberapa lembar full permintaan maaf. Bukan cuman Reyhan yang selalu melindungi kelasnya, adakalanya ia benar-benar malas untuk sekadar berbicara. Sesekali Franky ikut membela. Leon juga, walau dia cuman sewot marah-marah di depan, kadang Vernand yang dengan tengilnya berusaha membela sambil menggoda para guru. Tapi memang selalu diakhiri oleh Reyhan, karena hanya dia yang bisa menjawab pertanyaan dengan logis. Di kelas memang ada cctv-nya, tapi mereka bisa melakukan sesuatu tanpa terekam cctv. Dan kebetulan sekali, cctv kelas mereka mati selama seharian penuh, entah karena apa. Kelas 11 IPA 1 itu kelas tersolid dan yang paling susah ditembus. Circle terkuat yang ada di sekolah ini. "Bagaimana Bu Sonya? Puas dengan jawaban mereka? Apa mau ditindak lanjuti?" Tanya Bu Renita menatap guru bahasa itu sambil menggeleng lemah. Mencebik malas, Bu Sonya menatap tajam semua murid IPA 1 yang menunduk, kecuali Reyhan yang hanya menatapnya datar. Anak itu tidak takut apapun. "Kasih hukuman Bu, hukuman apa saja yang paling berat." Ucapnya penuh penekanan. Kan udah dibilang, guru bahasa Indonesia itu dan kelas IPA 1 memang kemusuhan. Mereka saling membenci. Bu Sonya yang tidak suka karena kelas mereka terlalu nakal dan tidak bisa dibilang juga IPA 1 yang ngga suka karena Bu Sonya bertindak semena-mena pada mereka. Tapi mereka tetaplah kelas unggulan dengan nilai terbaik di sekolah ini. Kalau dari kelas sepuluh sampai dua belas nilainya diurutin, maka 11 IPA 1 pasti menempatkan posisi pertama. Peringkat pararel pun kelas ini selalu menghiasi sepuluh besar sampai dua puluh besarnya. "Huh, ya sudah. Kalian tulis permintaan maaf, masing-masing lima lembar." Final Bu Renita. Ia bangkit dan duduk di mejanya. Jadi, ruang BK mereka ini luas banget, tapi dibagi menjadi dua, dipisahkan dengan sekat yang bisa digeser. Di depan untuk menangani kasus dan di dalam ruang kerja ketiga guru. Mengembangkan senyum bahagia, semua murid IPA 1 langsung keluar dengan tawa menghiasi wajah mereka. Mereka tau akhirnya pasti akan seperti ini. "Haha, liat ngga tadi mukanya Bu Sonya? Gedeg banget dia itu." Tawa Vanesha. Mereka bahkan belum jauh dari ruang BK, dan dipastikan guru-guru di dalam sana bisa mendengar teriakan Vanesha. Tapi ya bodo amat, mereka ngga peduli dan lanjut ketawa. Udah biasa masuk ruang BK itu rame-rame. Sementara di tempat yang berdekatan, Jonathan, Christian, dan Kinan baru saja keluar dari kamar mandi. Bertiga. Iya, bertiga. Jangan salah paham dulu, ini keterpaksaan. Benar-benar terpaksa. "Aduh, anjir. Sakit banget perut gua sialan." Keluh Kinan. Ia sedang memegangi perutnya sambil jalan terseok-seok. Christian juga sama aja, ngga beda jauh dari Kinan. Tapi, anak itu hanya diam menikmati rasa sakit di perutnya, jaim. Jonathan? Entahlah, dia bahkan bisa berjalan dengan tegak sekarang. Tidak terjadi apa-apa padanya. "Jo, kurang ajar emang cewe Lo. t*i gua rasanya mau keluar terus, anjing lah." Itu alasan kenapa setiap lewat semua mata langsung tertuju pada mereka, Kinan selalu berbicara tidak jelas, asal ceplos, dengan suara yang sangat nyaring. Setiap ada murid yang lewat dekat mereka, Kinan akan langsung meracau dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang tentu membuat Jonathan dan Christian malu setengah mati. Menatap Kinan tajam, Christian memukul kencang kepala cowok itu, lalu memegang kembali perutnya karena terasa seperti ketarik. "Berisik g****k, semua orang ngeliatin kita." Kinan hanya mendengus, tangannya masih sibuk meremas perut yang terasa sangat nyeri dan kakinya berusaha jalan layaknya seorang pangeran. Tapi percuma, Kinan justru kelihatan kaya orang yang lagi nahan BAB. "Jalan yang bener, Nan. Lo malu-maluin." "Bodo amat, ngga peduli gua. Ini perut gua rasanya kaya dililit, ahk." Jonathan memutar bola matanya malas. Kelakuan kedua temannya ini memang aneh, apa lagi si Kinan. Apa yang keluar dari mulutnya sangat tidak mencerminkan bahwa ia adalah orang penting disini. Berjalan terus menyusuri lorong, mata Christian yang memang sangat jeli tak sengaja melihat segerombolan, atau bahkan satu kelas sedang berjalan sambil ketawa-tiwi, sesekali saling melempar candaan dan memukul satu sama lain. Rusuh banget. "Jo, Jo. Itu bukannya cewe yang tadi?" Menepuk bahu Jonathan pelan, Christian menunjuk Bianca yang sedang bergurau dengan beberapa temannya menggunakan telunjuk. "Cewenya Jonathan? Mana, mana?" Bukan Jonathan, melainkan Kinan yang menjawab dan ikut melihat gerombolan kelas Bianca yang masih asik dorong-dorongan. "Wah anjir emang, bisa-bisanya dia asik ketawa sana-sini setelah bikin perut kita jadi begini, Yan." Kinan menoleh pada Christian, lalu menunjuk Bianca dengan heboh. "Ayo lah kita labrak." Kaget dengan penuturan Kinan, Christian yang masih merasakan nyeri di perutnya hanya bisa memandang tajam pada Kinan. Labrak? Apa-apaan itu? Christian tidak pernah melabrak orang. "Gila Lo ya!" Seru Christian, matanya memberi isyarat diam pada Kinan sambil melihat Jonathan yang masih terdiam. Kinan hanya mengangguk paham, biarin aja lah. Padahal mulutnya udah gemes banget pengen teriak-teriak depan cewek itu. Berani-beraninya diam. Fokus Christian dan Kinan beralih pada Jonathan. Entah apa yang terjadi, sahabat mereka itu hanya diam sambil terus menatap lurus pada Bianca. "Temen Lo kenapa, Yan?" Kinan menyenggol tangan Christian cukup keras, namun berbicara dengan sangat pelan, "ya mana gua tau." Sampai keduanya terlonjak heran saat Jonathan dengan tiba-tibanya berjalan dengan cepat dan menarik tangan Bianca. Membuat gadis yang masih asik tertawa bersama teman-temannya itu diam karena kaget. Apa lagi yang datang itu Jonathan, Ice Prince nya Starlight High School. Christian dan Kinan semakin dibuat heran saat Jonathan dengan tiba-tiba (lagi) menarik tangan Bianca untuk keluar dari kerumunan. Namun aksi teman mereka itu terhalang oleh anak kelas Bianca. "Apa-apaan Lo?!" Seru Vernand. Saat melihat Jonathan mendekat dengan tatapan seram seperti tadi, Vernand dengan cepat pasang badan di depan Bianca. Insting pria ini cukup kuat hingga ia bisa langsung menghempas tangan Jonathan sebelum cowok itu berhasil menyentuh tangan sahabatnya. Jonathan mendengus kesal, orang ini yang apa-apaan. "Minggir." "Dih, ngga ya! Enak aja Lo asal narik-narik temen gua. Ngga bisa ngga bisa." Jonathan tidak peduli, dengan cepat tangannya menarik pergelangan tangan Bianca, membuat cewek itu sedikit meringis karena pergerakan Jonathan yang sangat cepat. "Apa sih? Lepas!" Pekik Bianca. Saat ini tangannya tengah digenggam erat, sangat erat, oleh Jonathan. Jonathan hanya diam memperhatikan usaha Bianca yang masih mencoba untuk melepas genggamannya, tapi tentu saja percuma. Tenaga Jonathan jauh lebih besar dari Bianca. Saat hendak menarik Bianca, tangan Jonathan tertahan oleh salah satu teman gadis itu. "Et et et, enak aja Lo asal narik-narik anak orang. Ngga boleh!" Leon, walau anak itu kelihatan seperti cowok-cowok lebay, usil, dan ceroboh, Leon tetaplah laki-laki yang sangat menyayangi teman-temannya. Ia juga sangat berusaha agar bisa menjaga semua temannya, terutama yang cewek. Dan walau yang di hadapannya kini adalah Jonathan, orang terpenting di sekolah ini, Leon tidak akan takut, ia tidak akan membiarkan Bianca dibawa oleh cowok macam Jonathan. Jonathan hanya diam. Menunggu aksi selanjutnya dari cowok itu. Merasa tidak akan mendapat reaksi, Leon dengan segera menarik Bianca agar mendekat, namun genggaman cowok itu terlalu kuat, sangat kuat, sampai tangan Bianca rasanya mau patah ditarik-tarik ngga jelas oleh Leon. "Lepas, anjir! Lo ngga ngotak ya?!" Lagi, Jonathan hanya diam. Ia tidak peduli dengan semua ucapan yang dilontarkan pria itu. Melihat kondisi yang mulai tak terkendali, Nathan, selaku orang yang paling bisa diandalkan dalam kelas itu akhirnya turun tangan. Apa lagi saat melihat tangan Bianca sedikit memerah, ia kesal, sangat kesal.. "Berhenti-berhenti." Seru Nathan cukup lantang, mampu membuat Vernand dan Leon berhenti menarik tangan Bianca. "Jangan ditarik lagi, itu Biancanya kesakitan." Ucapnya sambil menatap Jonathan tajam. Merasa disindir —padahal tidak— Jonathan segera mengalihkan pandangannya pada Nathan. Cowok gagah dengan wajah tampan dan rambut tertata rapih. Nathan terlihat seperti anak IPA pada umumnya, namun aura nakal yang terpancar dalam dirinya pun sangat kuat. "Lepasin tangan Bianca." Jonathan mengangkat satu alisnya, tersenyum miring dan melangkah mendekati Nathan. "Lo siapa nyuruh-nyuruh gua?" "Gua? Gua temen Bianca. Dan Lo siapa berani-beraninya narik tangan Bianca kasar begini?" Wow, Jonathan cukup terkejut dengan respon Nathan yang berani. Dan Jonathan tidak suka itu. "Lo cuman temennya, dan gua bisa dengan bebas narik tangan Bianca sesuka hati. Lo ngga bisa larang-larang gua." Cuih, melihat Jonathan tersenyum sinis, Bianca ingin muntah saat ini juga. "Hah, Lo itu cuman anak dari petinggi sekolah, bukan petinggi sekolahnya. Lo ngga bisa seenaknya disini, Lo tetep murid, bukan orang penting." Wow wow wow. Semua anak IPA 1 menyaksikan bagaimana Nathan mengucapkan kalimat terlarang itu dengan santai, terlalu santai. Merasa ada kesempatan, Nathan segera melepas tangan Jonathan kasar dan menarik Bianca agar bersembunyi di balik badannya. Jonathan hanya tersenyum sinis melihat itu semua, melihat bagaimana Bianca menggenggam tangan Nathan erat seolah meminta perlindungan, Jonathan benci itu. Jari-jari Nathan mengelus pelan punggung tangan Bianca, membuat amarah Jonathan tak terkendali seketika. Bugh...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN