"Ahk, sakit heh!"
"Sakit, Jo! Lepash!"
Itu ringisan-ringisan yang keluar dari mulut Bianca. Gadis itu sekarang tengah ditarik oleh Jonathan entah kemana.
Bianca sebenarnya ngga masalah ditarik-tarik gini, tapi masalahnya Jonathan nariknya itu ngga ngotak, dia pikir dia lagi narik kambing yang mau kabur kali ya sampe sekencang ini. Tangan Bianca rasanya sampai mau putus.
"Lepas ngga?!" Ancam Bianca. Walau tau tidak akan didengar, Bianca tetap berusaha berontak agar tangannya terlepas. Ngga usah mikirin kabur dulu deh, tangannya yang lebih penting.
Jonathan berhenti, membuat Bianca mengernyit heran, namun setelah itu Bianca kembali meringis sakit sekaligus kesal kala cowok itu menghempaskan tangannya dengan kencang, membuat tubuh Bianca ikut terhempas.
"Apa sih Lo, anjir? Udah narik seenaknya, gua asal dilempar lagi!" Marah Bianca.
Disinilah mereka sekarang, di taman belakang sekolah yang sepinya melebihi kelas pas lagi dirazia.
Masih sibuk memegangi tangannya yang sakit, Bianca dikejutkan dengan Jonathan yang mendekat ke arahnya, membuat jarak diantara mereka sangat sempit. Dan anehnya, Bianca tidak mundur, jangankan mundur, menggerakkan kakinya saja Bianca sulit.
Seakan terhipnotis, Bianca hanya diam saat tangan Jonathan memegang bahunya, merendahkan sedikit badannya dan mempersempit jarak antara wajah mereka. Bianca tidak bisa protes, tatapan tajam Jonathan mampu membuatnya diam tak berkutik.
Untung taman ini sepi, ditambah sekarang adalah jam belajar membuat taman ini menjadi jauh lebih sepi. Ngga ada orang lain selain mereka berdua disini. Oh, kecuali para ikan di kolam ujung.
"A-apaan Lo?" Dasar mulut, ngga bisa diajak kompromi banget sih. Ini juga jantung, bisa-bisanya berdetak sekencang itu. Padahal cuman ditatap begitu sama Jonathan, Bianca bisa langsung salting gini.
"Jangan deket-deket sama mereka."
Sumpah ya, Bianca ngga ngerti kenapa Jonathan tiba-tiba datang terus narik dia seenaknya, Bianca ngga mau jelas, tapi Jonathan justru nonjok Nathan, Vernand, dan Leon dengan keras. Untung aja tadi Rayhan tidak malas untuk memisahkan mereka, jadi acara berantemnya bisa berhenti.
Dan sekarang? Cowok aneh ini malah ngomong ngga jelas, ngaco banget, bikin Bianca bingung aja.
"Mereka apaan sih? Mereka siapa? Jangan deket-deket sama siapa?"
Jonathan semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak antara mereka, membuat hidung mereka hampir bersentuhan. Membuat jantung Bianca hampir berhenti berdetak.
"Temen-temen Lo yang tadi, terutama yang paling tinggi."
Membentuk kerutan di dahinya, Bianca kemudian sadar siapa yang dimaksud oleh cowok ini. Ya siapa lagi kalau bukan teman sekelasnya tadi?
"Siapa? Nathan maksud Lo?" Jonathan mengangkat bahunya acuh tak acuh, ia tidak peduli siapa nama laki-laki itu, yang Jonathan mau hanya Bianca menjauhinya.
Bianca mendengus kesal mendapat respon tidak jelas dari cowok di hadapannya kini. "Kenapa sih? Kenapa gua harus ngejauhin mereka?"
"Jauhin, gua ngga suka."
Mendelik tidak suka, Bianca menatap Jonathan tajam. "Ngga. Mereka temen gua, ngga akan gua jauhin."
Sekarang gantian Jonathan yang mendengus malas mendengar respon Bianca. Gadis itu tidak mengerti apa ya? Jonathan tidak mau gadis itu dekat dengan cowok-cowok tadi, terutama Nathan. Jonathan ngga suka, Jonathan ngga suka saat melihat Bianca bercanda ria dengan mereka, apa lagi saat mereka dengan santainya menyentuh bahkan merangkul Bianca.
"Jauhin, Bianca!" Jonathan sengaja menekankan dua kata itu, guna membuat gadis ini takut. Namun bukannya takut, Bianca justru dengan berani membalas tatapan Jonathan tak kalah tajam.
Dan Jonathan juga bukannya mengancam atau apa lah, cowok itu justru hanyut dalam tatapan tajam Bianca, asik menyelami lautan hazel milik Bianca, mengangumi manik indah gadis ini.
Bianca terus menatap Jonathan dengan tajam, namun saat laki-laki ini dengan seenaknya mendekatkan wajah, membuat hidung mereka bersentuhan, membuat jarak antara mereka benar-benar sempit, dan sukses membuat pipi gadis itu memerah padam.
Jonathan semakin merendahkan badannya, menatap dalam Bianca, tangannya juga meremas kuat bahu Bianca.
Jonathan asik menatap Bianca, tidak menyadari bahwa gadis itu sudah memerah sempurna dan menahan napasnya dari tadi. Jonathan emang ngga peka.
"Jauhin. Mereka. Bianca." Menyungging senyum miring yang menggoda, Jonathan mengucapkan tiga kata itu dengan tekanan sebelum akhirnya menjauhkan badan mereka, membiarkan Bianca menarik napas dengan rakus.
"Baru digituin aja udah salting, dasar baperan."
Bianca membulatkan matanya tak percaya mendengar perkataan Jonathan. Matanya melotot, mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan, Bianca menatap sengit pada Jonathan. Ia marah pada laki-laki itu.
Jonathan hanya terkekeh pelan melihat reaksi gadis itu. Tangannya bergerak mengelus lembut surai halus Bianca. Mengacak-acak rambut gadis itu pelan.
Bianca yang diperlakukan seperti itu semakin merasa kesal, tangannya yang mengepal ia layangkan untuk memukul perut Jonathan sekeras mungkin. Walau tidak ada artinya dibandingkan dengan perut kotak-kotak Jonathan. Justru Bianca yang kesakitan.
Persis seperti saat pertama mereka bertemu.
"Ck, ahk..."
Jonathan kembali terkekeh melihat Bianca yang meringis karena memukul perutnya. Netranya tak sengaja melihat pergelangan tangan Bianca yang sangat merah. Segera ia menarik lembut gadis itu dan mendudukkannya di bangku yang tersedia.
"Sakit, Jo. Pelan-pelan." Bianca kembali meringis saat pergelangan tangannya yang memerah karena ulah cowok itu ditekan cukup kuat. Ngga begitu keras sebetulnya, cuman karena emang udah sakit jadi ditekan dikit rasanya langsung sakit banget.
"Eh, maaf. Gara-gara gua ya?" Tanya Jonathan. Ia menatap khawatir pada Bianca, rasa bersalah menyelimutinya saat tahu bahwa lingkaran merah ini tercipta karena ulahnya.
"Iya lah, menurut Lo? Tangan gua kelilit ular gitu sampe merah gini?" Bianca sewot. Iya lah, siapa yang ngga sewot dengar pertanyaan Jonathan yang jelas-jelas dia sudah tau jawabannya.
Jonathan tidak mengindahkan ucapan Bianca, ia sibuk mengelus pergelangan tangan Bianca sepelan dan selembut mungkin, tidak ingin membuat gadis itu kembali merasakan sakit.
Bianca cukup terkejut melihat bagaimana Jonathan mengkhawatirkan dirinya. Bagaimana tatapan khawatir dan perlakuan Jonathan padanya. Walau hanya luka kecil seperti ini, reaksi Jonathan terbilang cukup lebay, namun Bianca dibuat bingung sekaligus senang.
"Masih sakit?" Bianca hampir pingsan mendengar nada bicara Jonathan yang sangat lembut. Terlalu lembut, malah.
"Eh? U-udah ngga ko." Bianca kelimpungan sendiri saat Jonathan menatapnya dengan pandangan khawatir namun dalam.
Jonathan tersenyum tipis dengan respon Bianca yang terbata-bata begitu. Dirinya dibuat gemas hanya karena gadis itu gugup menjawab pertanyaannya. Hanya karena itu Jonathan gemas. Ia mati-matian menahan supaya ngga mencubit pipi tembam Bianca.
Jonathan membalikan badannya menghadap depan, begitupun dengan Bianca. Suasana hening karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Lo... Gapapa bolos begini?" Jonathan merutuki dirinya sendiri karena bertanya hal bodoh seperti itu. Bianca anak baik-baik, kebanggaan sekolah, tentu saja masalah baginya. Tapi mau gimana, pertanyaan itu keluar begitu saja karena ingin memecah keadaan canggung tadi.
Bianca menolehkan kepalanya dengan cepat, "BOLOS?" Melihat jam di hpnya kemudian membulatkan mata kaget.
Cepat-cepat ia berdiri dan hendak berlari, namun cepat-cepat juga Jonathan menahan tangannya agar tidak pergi.
"Ck, duduk aja. Lo udah telat juga, ngga akan dibolehin masuk, diusir iya, Lo."
Menghela napas pelan, Bianca kembali mendudukkan bokongnya dengan lesu. "Gara-gara Lo nih gua ampe bolos. Kalo ketauan bisa abis gua sama ayah."
Jonathan kembali terkekeh melihat wajah cemberut Bianca. Gadis itu benar-benar terlihat menggemaskan dimatanya.
"Bibirnya ngga usah dimonyong-monyongin gitu, jijik." Ucap Jonathan sambil menarik bibir Bianca yang tadi mengerucut lucu.
Bianca menghempaskan tangan Jonathan dengan kasar lalu mengelus pelan bibirnya yang sakit akibat ulah cowok itu. Emang ya Jonathan, tenaganya itu kuat banget sampai bibir Bianca aja rasanya doer begini.
"Sakit, bodoh!" Kesal Bianca. Ia menatap Jonathan penuh amarah.
Jonathan hanya tersenyum simpul, "bodo amat. Abis gua jijik liatnya."
"Tangan Lo bau, abis cebokan ngga langsung cuci tangan kan Lo?" Tuduh Bianca. Ia masih sibuk memegangi bibirnya karena sumpah ini sakit banget coy.
"Iya deh kayanya, kok Lo bisa tau?" Jawab Jonathan tidak acuh.
Bianca kembali menatap Jonathan kaget, "HEH? BENERAN?!" Pekiknya heboh. Segera Bianca mengusap mulutnya menggunakan punggung tangan dengan kasar, sesekali melepeh karena merasa jijik.
Jonathan lagi-lagi hanya menampilkan senyum tipisnya, sangat tipis hingga Bianca tidak sadar bahwa laki-laki itu tengah tersenyum sekarang.
"Engga deh, becanda."
Pergerakan Bianca melambat, namun ia masih mengusap mulutnya kasar. "Serius!"
"Eh, engga deh, beneran, serius."
"Ah, sakit b**o!" Jonathan memekik sakit saat ujung sepatu Bianca tepat mengenai tulang keringnya dengan sempurna. Iya, gadis itu baru saja menendangnya dengan keras.
"Mampus. Ngga jelas sih, Lo."
"Kalo ngga jelas ya jelasin lah. Ahhk, sakit anjing! Diem!" Jonathan kembali memekik saat Bianca mencubit tangannya menggunakan tenaga dalam. Sakit banget cuy.
Emang ya Bianca itu, galak banget. Bener-bener deh, cewek mana yang tega nendang terus cubit Jonathan kaya gitu selain Bianca? Ngga ada. Emang itu cewek unik, beda sendiri. Bahkan hanya dia yang ngga tertarik dengan pesona maut yang Jonathan miliki. Gadis ini bahkan tidak menyukainya.
"Heh omongannya! Kasar banget, ngga suka."
Jonathan menoleh menatap Bianca saat gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Heran aja, kenapa dari pertama kali ketemu Bianca selalu mempermasalahkan ucapan kasar Jonathan? Padahal itu bukan kata yang sangat kasar, itu kata yang biasa dipakai anak SMA zaman sekarang, kan? Kenapa Bianca protes? Apa teman-temannya se-suci itu sampai ngga ngomong kasar?
"Kenapa? Lo ngga suka?" Tanya Jonathan pada Bianca yang memalingkan sedikit wajahnya, marah.
Emang ya cewek, suka banget marah-marah ngga jelas. Kaya Bianca sekarang nih, marah-marah mulu dari tadi.
"Ya engga lah, gimana sih."
"Lo ngga suka cowo kasar?"
Bianca menggeleng pelan, ia menatap Jonathan datar. "Ngga. Siapa yang suka cowo kasar?"
Jonathan mengembangkan senyumnya mendengar jawaban Bianca. Meski singkat, secara tidak sadar cewek itu sudah memberi tahu salah satu tipikal cowok idamannya.
Ngga suka cowok yang kasar. Oke, Jonathan catat itu.
Mengacak rambut Bianca singkat, "ngga usah marah gitu, bentar." Jonathan berucap sebelum berdiri hendak pergi. Namun Bianca menahannya dengan memegang tangannya erat-erat.
"Mau kemana?" Tanya gadis itu.
"Ke sana bentar."
Bianca menggeleng pelan, ia semakin menggenggam erat tangan Jonathan. "Ngga mau, ngga mau sendirian." Ucapnya sembari menatap sendu pada Jonathan.
Sekarang posisinya Bianca tengah terduduk sambil mendongak menatap Jonathan yang berdiri dengan tangan menggenggam erat tangan cowok itu dan mata yang memandangnya sendu. Jonathan jadi teringat saat cowok itu menyelamatkan Bianca dari dua preman dekat sekolah.
Padahal belum lama, belum lewat seminggu tapi Jonathan merasa sudah sangat lama. Dramatis.
"Ngga jauh, Ca. Bentar doang, ko." Ucap Jonathan mencoba agar gadis itu melepas tangannya. Namun Bianca kembali menggeleng, sekarang semakin keras. "Ngga! Ngga mau!" Tegasnya.
Menghela napas pelan, Jonathan menarik tangan gadis itu agar ikut berdiri. "Ya udah, iya, Lo ikut gua." Ajaknya, dan tentu dibalas anggukan semangat dari Bianca.
Mereka berjalan bersama dengan tangan saling bertautan. Jonathan tersenyum simpul melihat Bianca yang tidak mempermasalahkan tautan tangannya, dan cara jalan gadis itu yang sesekali berjalan lucu dengan tidak menginjakkan kaki di garis-garis lantai.
"Yang bener jalannya, ngga usah petakilan, ntar jatuh."
Bianca hanya menganggap ucapan Jonathan sebagai angin lalu, ia sibuk melihat bawah dan berusaha agar tetap menginjak lantai keramiknya saja.
Tidak sadar, bahwa mereka sudah sampai pada tempat yang dimaksud Jonathan. Di depan sebuah pintu kecil di bawah lantai. Pintu itu ngga akan terlihat dari jauh, dari dekatpun tidak akan ada yang sadar karena pintu ini tertutup beberapa barang dan lemari buku.
"Ini tempat apaan, Jo?" Jonathan menoleh, melihat Bianca yang juga menatapnya heran.
Mengalihkan pandangannya, Jonathan beralih menatap pintu cokelat tersebut sebelum menempelkan jarinya pada gagang pintu sebagai kunci. Dan tak lama pintu tersebut terbuka menampilkan sebuah ruangan yang cukup luas dan tertata dengan rapih.
Saat masuk, hal pertama yang Bianca pikirkan adalah, mewah.
Tempat ini mewah namun tidak berlebihan, minimalis. Terdapat beberapa sofa hitam dengan meja kecil di tengahnya, satu tv besar, dan beberapa komputer mewah yang biasa digunakan untuk bermain game juga PlayStation yang menghiasi ruangan ini.
Ruangan ini lebih terlihat seperti kamar atau tempat khusus untuk bersantai dan bermain game.
Tempatnya cukup terpencil, membuat orang-orang tidak menyadari keberadaan ruangan ini. Padahal ukurannya sangat besar kalau dibilang ruang rahasia.
Bianca terpukau dengan kamar sederhana ini. Tata letak yang tepat membuat kamar ini terlihat jauh lebih luas. Walau dari luar terlihat sederhana bahkan seperti gudang, namun kamar ini sangat mewah dan diisi dengan barang-barang mahal.
Lihat saja komputer khusus gamenya, bahkan untuk satu orang bisa menggunakan sampai tiga monitor. Mechanical keyboard yang dapat menyala, dan beberapa peralatan lain yang tidak Bianca ngerti.
Gila bukan?
"Masuk cepetan, ntar ada yang liat." Jonathan menarik tangan Bianca agar cewek itu tidak berdiam diri di depan pintu sambil menganga menatap kagum kamar ini.
"Gila, Jo. Ini ruangan siapa?" Tanya Bianca masih mempertahankan ekspresi kagetnya. Jonathan sampai kelepasan tertawa melihat wajah Bianca.
"Ngga usah gitu, santai aja mukanya." Jonathan berjalan dan menyalakan pendingin ruangan. "Duduk cepetan." Titahnya.
Bianca hanya menurut dan cepat-cepat duduk disalah satu sofa panjang. Gila coy, Sofanya empuk banget. Ini mah bisa dijadiin kasur kali.
"Ini ruangan siapa?" Tanya Bianca lagi. Jonathan hanya diam dan mengambil gitar yang berada di pojok depan. Bianca bahkan tidak sadar ada gitar dan beberapa alat musik disitu.
Jonathan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Bianca, tangannya sibuk memetik dan fokusnya berpusat pada gitar yang sedang ia mainkan.
"Ini kamar, tempat gua sama Christian bolos." Jawab Jonathan masih sambil memetik gitarnya pelan-pelan.
"Kamar rahasia gitu?"
Jonathan mengangguk, "Kenapa? Kaget ya ada kamar beginian di sekolah?" Sekarang fokus Jonathan terpecah, matanya menatap Bianca dan tangannya tetap memetik gitar.
"Iya lah kaget. Emang ngga ada yang tau kamar ini?"
Menggeleng, "engga, kan ketutupan. Lo aja ngga tau ada pintu dari depan kan?"
Mengangguk pelan, Bianca kembali memperhatikan sekitarnya. Semakin dilihat, semakin membuat Bianca kagum.
Jonathan terkekeh pelan melihat bagaimana Bianca sangat terkejut. "Ngga usah gitu ngeliatinnya, norak Lo."
Bianca mendengus malas mendengar perkataan Jonathan. Entah kenapa, ia sudah biasa saja mendengar ucapan Jonathan Bianca tidak merasa tersinggung atau apa.
"Ngapain ngambil gitar?"
Jonathan kembali menatap tangannya berusaha mencari kunci yang pas. "Gapapa, pengen aja main gitar."
"Halah, sok-sokan. Emang bisa main gitar?"
Jonathan langsung menatap Bianca sengit, "dengerin." Serius deh ya, Jonathan itu paling ngga suka direndahin begini. Apa lagi di bidang yang memang ia kuasai.
Kembali memetik gitarnya, sekarang Jonathan memainkan gitarnya sedikit kencang, namun tetap lembut membuat siapapun pendengarnya merasa kagum. Alunan-alunan yang keluar membuat Bianca reflek merasa tenang dan menikmati permainan cowok itu.
Jonathan menatap wajah Bianca intens. Ia tidak bernyanyi namun alunan yang ia ciptakan mampu membuat suara indah bagaikan nyanyian.
Bianca mengalihkan atensinya dan balas menatap Jonathan.
Merasa seperti terhipnotis, Bianca tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kelamnya mata Jonathan dan dalamnya tatapan laki-laki itu.
Pipi Bianca sontak memanas saat bibir Jonathan tertarik ke atas menciptakan senyum yang mempesona.
Selesai dengan petikan terakhirnya, Jonathan tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Bianca, ia terus menatap wajah polos Bianca yang membuatnya semakin merasakan hal aneh.
Iya, setiap berada dekat dengan Bianca, Jonathan selalu merasakan ada yang aneh dalam dirinya.
Ia merasa senang, nyaman, juga tenang disaat yang bersamaan.
Jonathan juga tidak suka saat ada pria lain yang menyentuh Bianca. Entah karena apa. Dirinya pun tidak mengerti.
Jonathan juga jadi sangat suka melihat Bianca yang memerah seperti ini. Membuat tingkat kegemasan dalam diri gadis itu meningkat. Dan membuat perasaan Jonathan semakin tak menentu.
Sebenernya, apa yang terjadi padanya?