Hari ini tepat dua bulan setelah kejadian memalukan di toko ice cream.
Setelah kejadian tersebut, Jonathan menariknya dan memaksa agar pulang, bahkan ia mengantar Bianca sampai depan pagar rumah gadis itu, walau Bianca sudah teriak-teriak ngga jelas membuat mereka jadi pusat perhatian supaya diantar ke rumah Vanesha tapi Jonathan ngga peduli dan tetap mengantarnya ke rumahnya.
Dan alhasil, Bianca harus kena siraman rohani siang-siang bolong, dan untungnya ia bisa lepas dari sang ayah berkat ajaran yang selama ini ia terima dari Leon dan Vernand. Karena di luar begitu terik membuat suhu badan gadis itu naik dan terasa cukup panas, alhasil ia diperbolehkan masuk kamar, bahkan ia bisa manja seharian penuh.
Dan setelah kejadian itu pula Bianca menjadi semakin dekat dengan Jonathan. Entah kebetulan atau disengaja hampir setiap jam dan setiap Bianca keluar kelas maka ia akan bertemu dengan pria itu. Entah siapa yang memulai tapi mereka akan berakhir dengan perbincangan ringan diselingi canda tawa dan sesekali gadis itu marah.
Satu sekolah juga sudah tahu hubungan antara keduanya. Berteman, tidak dekat namun juga dekat. Banyak yang setuju mereka menjadi pasangan, tapi banyak juga yang tidak suka bahkan untuk melihat keduanya saling melirik. Maklum, namanya juga artis Starlight High School.
Dan karena itu juga cowok-cowok di kelas Bianca semakin menjaga ketat gadis itu namun tetap membiarkan Jonathan berinteraksi dengannya, walau pria itu tidak pernah diperbolehkan memasuki kelas ajaib tersebut. Bukan hanya Jonathan, semua murid tidak ada yang bisa memasuki kelas 11 IPA 1. Tidak ada, kecuali guru yang mengajar.
Di dalam kelas...
"Lo ngapain sih, Ca?" Vanesha bertanya begitu mendapati sahabatnya masih asik dengan benda pipih di tangannya.
Sudah hampir satu jam Bianca asik memainkan jarinya di layar ponsel, entah ngapain, sambil tersenyum seperti orang bodoh. Dan Vanesha sudah muak melihatnya. Kalau saja pacarnya tidak sedang sakit pasti ia tidak akan bosan seperti ini.
Lihat, sangking fokusnya gadis itu bahkan tidak menjawab pertanyaan manusia disebelahnya, jangankan menjawab, bahkan sepertinya Bianca ngga tahu kalau Vanesha bertanya.
"Ca, ihh!" Gemas karena Bianca tak kunjung menjawabnya, Vanesha langsung mengambil paksa handphone Bianca membuat gadis itu terkesiap dan menatapnya horor.
"Apaan sih, Nes? Balikin ah!" Kesal Bianca. Gadis itu berusaha meraih handphone-nya yang berada di tangan Vanesha, namun gadis itu lebih cepat menjauhkan tangannya dan menyembunyikan handphone Bianca di balik badannya.
"Lo yang apaan! Main hape mulu dari tadi, ngga sakit mata Lo, hah?"
"Ngga! Balikin!"
"Ngga mau, wlee!" Vanesha menjulurkan lidahnya meledek Bianca membuat gadis itu kesal setengah mati.
"Balikin, Vanesha! Balikin ngga? Balikin!"
"Ngga mau, ngga mau, ngga mau..."
Dan terjadilah aksi tarik menarik disertai ribut kecil dari bangku belakang tepat di sebelah jendela. Vanesha yang pindah agar duduk di sebelah Bianca, bukan Bianca yang pindah.
"Ish, balikin, Vanesha! Penting itu." Masih berusaha menarik kembali ponselnya yang masih dikuasi Vanesha, Bianca justru capek sendiri karena tenaganya memang tidak sebanding dengan gadis baja itu.
"Penting? Penting apaan sih?" Karena ucapan Bianca membuatnya penasaran, Vanesha segera menyalakan ponsel gadis itu yang sudah ia hafal di luar kepala sandinya. Karena tadi Vanesha langsung merebut ponsel itu asal jadi roomchat Bianca dengan seseorang langsung terpampang jelas di layar ponsel gadis itu.
"Eh? Apaan nih? Lucu tau kak, makanya kakak jangan bikin kesel. Heh?" Vanesha berucap sambil membaca beberapa kalimat yang menurutnya ambigu. Matanya melotot kaget begitu mendapati kata dan kalimat yang memperlihatkan kedekatan keduanya.
"Kak Mel? Siapa, Ca?" Bianca memutar bola mata hazel cerahnya dengan malas. Lihat betapa sopannya sahabatnya ini. Seenaknya membuka dan membaca isi pesan miliknya, dan lebih sopannya lagi saat gadis itu membaca pesan tersebut dengan lantang.
Untungnya semua sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing sehingga tidak begitu mempedulikan mereka berdua, jadi tidak ada yang benar-benar mendengar apa yang Vanesha ucapkan. Lagian sepertinya tidak ada yang peduli juga.
Merasa Vanesha terlalu jauh men-scroll roomchatnya dengan 'Kak Mel', Bianca segera menarik kembali ponselnya dan menatap sinis gadis itu.
Vanesha yang masih asik membaca chat-chat di handphone Bianca langsung terkesiap kaget saat ponsel itu dengan tiba-tiba ditarik oleh pemiliknya, ia pikir jatuh, udah panik.
"Sopan banget Lo, scroll-scroll sampe atas. Privacy nii!". Bianca berucap dengan nada yang sedikit menaik, bukan marah kok, ia hanya kesal karena hal yang menurutnya privacy diganggu begitu saja.
Melihat raut wajah dan nada bicara Bianca sudah mulai berubah, Vanesha segera menegakkan badannya dan menatap Bianca seperti biasa. "Itu... Cowok yang Lo ceritain ke gua waktu itu?" Tanya Vanesha sedikit waspada, ia takut pertanyaannya sedikit menyinggung, tapi kalau tidak ditanyakan maka ia akan mati penasaran, karena gadis itu tidak akan menjelaskan kalau tidak diminta.
Bianca menoleh dan kembali fokus pada ponselnya, ia mengetikan beberapa huruf lalu mengirim pesan tersebut. "Hm, cowok ganteng yang sering gua ceritain." Jawabnya acuh, gadis itu tersenyum simpul begitu mendapat balasan secepat kilat dari orang di sebrang sana.
Melihat logat sahabatnya sedikit aneh, Vanesha mengintip sedikit pesan-pesan yang dapat ia lihat. Sesaat kemudian Vanesha menyadari sesuatu, ia menatap kaget pada sahabatnya dan menunjuk-nunjuk wajah Bianca heboh.
"Jangan bilang Kak Mel itu Kak Melbbmm..."
Dengan cepat Bianca membungkam mulut Vanesha rapat-rapat memaksa agar gadis itu tidak bersuara dan membuat kericuhan. Bianca menatap Vanesha tajam dan memberi sinyal melalui matanya.
Vanesha mengangguk pelan. Masih dengan wajah kagetnya Vanesha menatap Bianca dengan perasaan campur aduk.
"Woiiiiii!" Saat hendak membuka mulut mengeluarkan pertanyaan, Vanesha terhenti begitu adiknya, Leon juga Nathan datang dan merangkul bahu Bianca tiba-tiba. Kebiasaan.
"Kaget!" Kesal Bianca lalu memukul kepala Vernand sedikit kencang. Tenang saja, Bianca bukan gadis yang ringan tangan kok, ia sengaja memukul kepala Vernand karena memang itu satu-satunya yang bisa ia lakukan, berharap agar setidaknya otak temannya itu bisa menormal sedikit.
"Sakit, woy! Kira-kira dong kalo mau mukul."
Bianca tidak memedulikan perkataan Vernand barusan, termasuk Leon, Nathan, juga Vanesha selaku kakak kembar cowok itu. Tidak ada yang peduli karena Vernand mengucapkannya dengan sangat sangat alay.
"Ngapain sih?" Tanya Vanesha kesal, karena tiga cowok di hadapannya kini ia sampai harus menahan kembali pertanyaan yang akan ia lontarkan barusan.
Leon, Vernand, dan Nathan beralih menatap Vanesha. "Istirahat, cuy. Kantin kuy laa." Ucap Leon senang. Dari tadi ia menahan cacing-cacing perutnya yang keroncongan karena belum diberi makan. Memang sedang tidak ada guru tadi, tapi guru piket mengawasi kelas mereka ketat, siapapun yang berani keluar atau kabur akan langsung diberi hukuman.
"Kantin-kantin, Lo aja sono! Ngeganggu banget jadi orang." Ketiga cowok itu lantas memusatkan perhatiannya pada gadis yang merenggut kesal di depan mereka.
Leon, Vernand, dan Nathan menatap Vanesha dengan alis terangkat satu, "dih? Kenapa Lo?"
"Kenapa?" Vernand mengangkat bahunya tanda tak tahu menjawab bisikan Nathan yang tidak seperti bisikan. Ia bahkan tidak tahu ada apa dengan kakaknya ini, tadi pagi baik-baik saja, baru sekarang marah-marah. Padahal Vernand yakin dengan sangat kalau saudarinya sedang tidak kedatangan tamu bulanannya.
"Lo kenapa sih, Nes? Aneh banget, kalo ngga mau ke kantin yaudah lah, gua sama mereka mau ngantin dulu." Bianca bangkit dan bersiap berjalan bersama tiga cowok yang menghampirinya sebelum suara Vanesha menghentikan keempatnya. "Iya-iya ikut, gua ikut ngantin elah." Ucapnya malas.
Mereka berlima berjalan beriringan menuju kantin. Banyak yang menatap kelima orang itu, ada yang hanya melihat sekilas ada juga yang benar-benar menatap sampai matanya mau copot. Walau sudah makanan sehari-hari melihat lima orang itu berjalan bersama, namun tetap saja rasanya masih sangat wah kalau mereka berlima berjalan bersama seperti sekarang.
Biasanya berenam, namun Franky, entah kemana cowok itu pergi, dari awal jam kosong sudah tidak terlihat batang hidungnya.
"Rame banget, tumben." Leon menatap sekitarnya, kantin terasa sangat penuh sekarang. Bahkan semua tempat duduk sudah terisi tanpa sisa.
"Udah cepetan pesen, makan di lapangan." Ucap Vanesha dengan sedikit perintah dan nada datar kemudian cewek itu pergi memesan makanannya meninggalkan keempat temannya yang menatapnya heran.
"Kakak Lo napa sih, Nan? Marah-marah mulu buset dah." Kesal Leon sambil memperhatikan pergerakan Vanesha yang mulai mengantri dan meletakan makanannya pada nampan berukuran sedang.
"Mana gua tau, tadi pagi sih oke-oke aja dia." Jawab Vernand, ia beralih menatap ketiganya yang masih sibuk melihat kegiatan Vanesha. "Udah ngga usah dipikirin, cari makan cepetan, keburu makin rame." Ucapan cowok itu mampu membuat ketiganya sadar dan segera memisahkan diri, berpencar mencari makanan yang mereka ingin.
Leon pergi ke arah Timur laut, Vernand mengikuti kakak kembarnya, sedangkan Nathan dan Bianca pergi ke arah Barat laut.
"Mau pesen apa?" Tanya Nathan. Bianca sibuk melihat-lihat makanan yang tersaji di depan matanya. "Ngga tau, masih bingung. Lo?" Nathan ikut melihat-lihat makanan yang sama dengan yang gadis itu lihat. "Ngga tau juga, bingung."
Nathan memang tidak seperti kebanyakan laki-laki diluaran sana, ia bisa menempatkan diri dengan baik dan bisa berteman dengan siapa saja. Ia dapat berprilaku lembut juga sabar pada teman-teman ceweknya dan bersikap tegas, dan sangar bersama teman lelakinya. Nathan bisa memilih bahasa yang pas dengan situasinya saat itu juga.
Nathan masih sibuk melihat-lihat jajanan yang hampir setiap bulan selalu sama. Sedangkan Bianca, perhatiannya teralihkan oleh seorang gadis yang terlihat kesusahan dengan makanan dan nampan di tangannya.
Bianca berjalan mendekati gadis itu perlahan, lalu menunduk memungut makanannya yang jatuh tepat di bawah kaki gadis tersebut.
"Ini makanan kamu jatuh." Ucap Bianca sambil meletakan makanan tersebut ke atas nampan gadis itu yang sudah penuh, membuat gadis yang sedang sibuk mengambil beberapa makanan dari atas meja terlonjak kaget.
"Eh? E-eh, iya kak, makasih." Jawabnya gugup. Bianca terkekeh pelan mendengar bagaimana gadis itu berucap patah-patah padanya.
"Ngga usah gugup gitu. Kenalin, aku Bianca." Bianca mengulurkan tangannya bermaksud berjaba tangan berkenalan dengan gadis itu. Hingga beberapa saat tidak mendapat balasan, Bianca langsung menarik kembali tangannya dan tersenyum kikuk. "Eh, ya ampun lupa tangan kamu kan penuh ya." Ucap gadis itu sambil menggaruk belakang lehernya lucu.
Gadis yang melihat tingkah Bianca tertawa pelan. "Iya kak, ngga papa. Saya Violett Irene Jovanka, kakak bisa manggil saya Violett." Jawab gadis itu ramah.
Bianca tersenyum tak kalah ramah, namun masih terlihat jelas rasa malu dalam senyumnya. "Violett? Oke Violett, salam kenal."
Violett kembali tertawa pelan, "kakak imut, lucu deh." Ucapnya jujur. Kakak kelas yang sedang berbincang dengannya ini benar-benar sangat lucu.
Mendengar penuturan Violett yang terlalu tiba-tiba membuat Bianca semakin malu. Pandangannya beralih pada tangan gadis itu, "banyak banget? Kamu makan semua ini?"
Violett ikut melihat nampannya yang sudah sangat penuh, kemudian menggeleng pelan. "Engga kak, ini buat temen-temen saya, tuh mereka disana." Ia menunjuk ke salah satu meja dimana terdapat sekitar lima siswi sedang tertawa riang.
Menganggukan kepalanya beberapa kali, Bianca kembali melihat makanan yang masih berada di atas meja, "aku bantu mau yah?" Ucap Bianca dengan senyum mengembang, Violett sampai kaget mendengarnya. "Oh iya, ngga usah canggung sama aku. Jangan pake saya-sayaan, kaku banget, hehe. Aku-kamu aja, atau Lo-gua juga ngga masalah." Kaget banget Violett ketemu senior seramah Bianca.
"Lho, Ca? Lo ngapain malah ngobrol begini?" Nathan datang dan langsung membuat obrolan dua cewek itu terhenti. Bianca menatapnya tenang, "gapapa, bentar dulu ya, Than. Gua bantuin dia dulu." Bianca berucap sebelum berlari ke belakang Nathan. Membuat dua orang disitu mengernyit heran.
"Kenapa dia?" Nathan bertanya random, entah untuk siapa, namun gadis di depannya menganggap bahwa itu adalah pertanyaan untuknya. Jadi ia menggeleng pelan tanda tak tahu. "Ngga tau, kak."
Nathan mengalihkan pandangannya pada Violett, ia memerhatikan gadis itu dari bawah sampai atas. "Lho? Lo siapa? Gua ngga pernah liat."
Violett sedikit membungkuk sebelum memberitahukan identitasnya. "Saya Violett, kak, kelas sepuluh IPA dua."
Nathan sedikit membulatkan mulutnya mendengar jawaban Violett. "Oh, Lo yang diceritain anak-anak itu ya?"
Violett mengangguk ragu, "iya... Iya mungkin, saya ngga tau, kak." Jawabnya kikuk. Bahkan Violett ngga tau kalo ada yang membicarakannya di sekolah.
Nathan mengangguk lalu tersenyum menanggapi gadis itu. Ya emang dianya aja yang ngga benar nanya sih.
Tepat setelah itu Bianca datang dengan membawa satu nampan di tangannya, senyumnya merekah sempurna.
"Sini, biar aku bawa sebagian." Bianca mengambil beberapa makanan dari nampan Violett lalu mengambil semua makanan di meja yang sudah dipilih gadis itu sebelumnya.
"Eh, ngga usah, kak, saya bisa sendiri ko." Ucap Violett tidak enak. Ia ingin mengambil kembali makanan yang diambil Bianca, namun apa daya, tangannya sibuk memegang nampan di kedua sisi.
"Gapapa, dia emang anaknya begini, ke-baikan." Ucap Nathan menggantikan Bianca, membantu gadis itu menyusun makan-makan tersebut di atas nampannya.
"Yaudah, gua langsung ke lapangan aja ya, Ca."
"Hm."
Nathan mengapit leher Bianca sebentar sambil mengacak-acak rambut gadis itu. "Jangan lama-lama, gua tunggu." Tepat setelah itu Nathan langsung lari keluar kantin, menyelamatkan dirinya dari amukan monster bertubuh mini.
"Nathan kurang ajar Niel!" Maki Bianca. Ia meletakan nampannya lalu merapikan rambut-rambut yang berantakan akibat ulah cowok itu.
Violett terkekeh melihat interaksi Bianca dan Nathan yang menurutkan lucu. "Itu pacarnya, kak?"
Bianca hampir tersedak ludah sendiri mendengar pertanyaan Violett. Selama ia dan Nathan dekat, berteman, atau bahkan melakukan skinship dengan cowok itu, ngga ada satupun orang yang menganggap mereka memiliki hubungan lebih dari sahabat. Ngga ada.
"Bukan..." Bianca menjeda ucapannya, membuat Violett mengerutkan dahinya menunggu lanjutannya. "Temen doang kita, temen. Sahabat deh. Ya pokonya gitu lah."
Violett menganggukan kepalanya paham. "Oalah, kirain pacar. Padahal cocok, lho." Ucap gadis itu sambil tersenyum usil. Kini dua orang itu tengah berjalan menuju meja teman-teman Violett menunggu.
"Engga lah, mana ada cocok-cocoknya. Kamu doang yang ngira kita pacaran."
"Masa sih? Aku doang?"
"Iya, yang lain ngga ada, mereka malah ngiranya kita adik-kakak."
Violett dan Bianca telah sampai. Keduanya meletakan nampan penuh berisikan makanan itu secara bersamaan. "Lho? Kak Bianca?" Kaget salah satu gadis.
"Haii..." Sapa Bianca ramah. Kelima gadis itu sedikit membungkuk dan membalas sapaan Bianca riang namun agak canggung.
"Yaudah, aku pergi ya. Dadah." Enam cewek di meja itu melambaikan tangannya sampai Bianca benar-benar hilang dari pengelihatan mereka.
Setelah tidak terlihat lagi, salah satu gadis dengan cepat menghadap Violett dan menatap gadis itu sedikit heboh.
"Lo kenal kak Bianca?"