Semenjak di mana Edbret bertemu doplanger Yuline setelah ayah nya dia merasa semua kembali normal dimana ayah nya setia menjadi sosok dingin, ibu nya terlihat peduli pada dua anak nya selain Edbret, Kakak perempuan nya setia menjadi sosok sempurna serta si kecil dengan kepintaran mengagumkan, komplit.
Usai kejadian cukup membuat dirinya jantungan Edbret memilih tidak mengunjungi kembali hutan-hutan semenjak itu, dan hari dimana mereka akan kembali bersekolah juga sudah di tentukan.
" Kau pasti bisa bergaul dengan mudah, dan Eland kau cukup tunjukan kemapuan mu, okay"
" Baik" jawab Eland yang duduk di sebelah ayah nya tengah menyupiri mereka ber-3, seperti nya ucapan keren untuk Edbret, sekarang duduk bersebelahan dengan Yuline seperti sosok gaib
" Ehhm.. ehmm" Amstrong melihat wajah masam Edbret dari kaca sepion pengemudi, " untuk Edbret, anak lelaki ku, kau jangan macam-macam di sana"
Edbret sama sekali tak berniat menyahuti dari pada ia mendapat kan masalah, pepohonan di tepian jalan lebih menarik bagi nya untuk di lihat serta Diamanti dari pada mendengar kan maklumat tak menyenangkan dari tutur si ayah pilih kasih.
Mobil mereka kendarai kini berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah sekolahan di mana kedua putra putri nya akan bersekolah khusus si kecil akan bersekolah di sekolah lain karena dia masih sekolah dasar
" Nah, Yuline jaga adik mu marahi dia jika dia membuat masalah" kata Amstrong dari balik kemudi mengingati putri satu-satunya untuk menegur adik nya
Bahkan aku tak pernah membolos satu pun, sejak kapan aku membuat masalah.
Jika Edbret bisa marah di hadapan pria itu kini ia akan menyumpah serapahi, sayang nya ia tak begitu berani dan mengumpati orang tua nya bukan lah gaya nya sekali walaupun dia ingin
Yuline hanya tersenyum canggung seringkali intensitas kedekatan dengan Edbret hanyalah bertengkar namun dia tau adik nya juga bukan tipe pembuat onar, rasa nya berlebihan mengatakan hal seperti itu pada orang lain begitu walaupun itu anak mu sendiri.
" Ayah akan mengantarkan Eland ke sekolah nya dan pergi bekerja, kalian hati-hati ya" kata nya sebelum menancap gas melaju ke ujung jalanan.
" Edbret..." Panggil Yuline lebih dahulu di tinggalkan oleh Edbret sendirian
" Kenapa?" Menengok kakak nya dengan wajah tak dapat di prediksi, kesal tentu nya.
"Tunggu aku, kita ke kelas bersama" Yuline berjalan beriringan dengan Edbret lalu mereka berpisah di persimpangan jalan, tentu mereka beda tingkatan, ini adalah hari pertama mereka pindah ke sekolah cukup bagus di Inggris raya.
Edbret berdiri bersebelahan dengan sosok wanita tak lain adalah guru di kelas nya, si guru muda itu mengambil alih atensi para anak murid nya, samar terdengar banyak suara bisik-bisik dari anak di kelas baru nya, Bu guru itu menoleh ke samping pemuda lebih pendek dari nya memberi kode untuk maju memperkenalkan diri
" Perkenalkan diri mu nak" suruh nya
" Hai, salam kenal. Aku Edbret Stone baru pindah baru-baru ini di wilayah sekitar sini" kata Stone muda itu memperkenalkan diri, seumur hidup anak lelaki itu dia mengalami kepindahan tempat tinggal dan baru pertama kali nya dia memperkenalkan diri nya lagi setelah sekian lama nya
Katup jantung milik nya mungkin akan menunjukkan aktivitas signifikan karena rasa gugupnya tak dapat di tutupi bahkan bisa di rasa rambut nya mulai lepek karena keringat, ruangan di mana terisi belasan anak sepantaran diri nya seolah hening mendadak sesekali terdengar bisikan para murid di lempar kan ke arah nya, entah darimana perasaan tak di hargai muncul di otak nya perasaan was-was Seperi kali pertama orang tua nya sendiri berkata ia tak akan ada guna nya jika hanya menyukai seni dan sekedar berkeinginan menjadi tukang masak
Edbret merasakan seolah langkah nya terasa berjalan di atas es batu ketika dia diminta untuk duduk di salah satu meja kosong yang tersisa di sana.
Edbret meletakan tas nya dan mulai mencoba mengikuti pembelajaran tengah di terangkan oleh guru wanita mereka, " hai.." sapa orang di sebelah
" Hai" kata nya dengan canggung.
Berbeda dari adik nya di dalam kelas Yuline menjadi objek paling menyedot perhatian teman sekelas nya, selain ia datang dengan pakaian modis di hari pertama nya tersebut dirinya mencoba maju ke depan kelas dengan fasih menjelaskan soal-soal sulit di berikan sang guru. Itu semua berawal dari si guru killer membuat seisi kelas membeku, kembali ke beberapa jam sebelum nya
" Astaga ini jadwal nya tuan sempurna, bagaimana ini" gadis ber-kuncir itu menyenggol teman sebangku nya terlihat gadis berambut Bob pendek tersebut keturunan etnis Asia
Gadis Asia itu juga tak kalah panik dia mengusap dahi nya sampai memerah
Yuline duduk di dekat jendela tak jauh dari dua orang tadi hanya tersenyum simpul dirinya ikut heran kenapa terlihat anak sekeliling nya nampak berwajah kepanikan.
Ada yang mengigit jari sembari merapal doa dari sosok anak berkulit hitam rambut afro pendek di pojok sana, ada juga anak lelaki terlihat kalau geek buku dari tampilan nya memakai kaca mata hitam dengan pakaian di kancing ke atas diri nya nampak berkeringat sesekali mengeluarkan sapu tangan telah basah membuka lembaran-lembaran buku rumus tebal
Merasa di kelas nya di isi oleh anak-anak ajaib Yuline menepuk pundak anak lelaki yang duduk di depannya sekarang
" Ada apa dengan mereka? Apa akan Ada sidak" Yuline bertanya pada orang di depannya dirinya sedikit mencondongkan diri agar orang itu menyadari dirinya lah yang berbicara
" Ah, kau anak batu kan... Kau tak akan paham betapa menyeramkan neraka yang akan kau hadapi, aku sedikit kasian dengan mu saat ini kau baru masuk dan menghadapi ujian besar, semoga bapa menyertai mu" perkataan anak berbadan gendut di depan nya sama sekali tak memberikan jawaban malah membuat Yuline makin bingung
Dia cukup tercengang ia kira anak bertubuh tambun tadi, sedikit normal namun juga sama saja, dia memegang kalung salib serta Alkitab di depan nya, terdengar sesekali gumaman anak tadi
' jangan aku, jangan aku.. jika aku tuhan tolong beri aku kepandaian seperti Toni Stark'
Yuline menjadi sanksi mendengar nya seolah merasa bersalah kuping nya mendengar doa anak tersebut, doa macam apa dari anak itu malah menginginkan sepintar pemain dari film iron man tersebut. Batin nya penuh keheranan.
" Heyy" sapa nya pada gadi ber kuncir dua tadi
" Apa!" Jawab nya sewot
" Aku hanya bertanya, okay" diri nya berusaha bersabar atas reaksi tak terduga dari lawan bicaranya toh ia masih anak baru jika mencari gara-gara akan menjadi kesalahan fatal.
" Baiklah, cepat katakan" balas nya cepat tak bernada, entah itu marah atau dia memang menahan kencing nampak terburu-buru
" kenapa kau" Yuline menunjuk si gadis ber-kuncir, " serta mereka seperti ketakutan, apa akan ada sidak khusus" Yuline membuat gestur melingkar mengartikan semua teman sekelas mereka
" Beritahu tidak" gadis itu menyenggol gadis Bob
" Beri tahu saja, kasian jika dia mati muda kena serangan jantung"
Yuline meringis geli mendengar penuturan si gadis Asia, dirinya tak memiliki riwayat jantung ngomong-ngomong.
" Jadi begini.. di kelas kam-" belum sempat ucapan nya di potong oleh kedatangan seseorang dalam kelas mereka
" Nah anak-anak, kalian siap hari ini" kata nya riang
Yuline melihat sosok itu sangatlah positif dengan raut penuh bahagia, jadi apa yang di takuti oleh mereka, nampak sebagian besar dari mereka menelan ludah ataupun mengelap keringat, apa jangan-jangan guru mereka ini pelaku tindak kekerasan
Tidak-tidak, Yuline menggeleng ribut. Kalau memang guru nya pelaku kekerasan pasti akan di tindak tegas oleh hukum negara, belum lagi orang yang melamar menjadi guru pasti sudah melalui proses tes psikologi berpotensi tidak iya nya mental mereka menjadi pelaku kriminal.
" Memang nya dia kenapa? Terlihat baik" kata nya lirih melirik bangku sebelah
Oh man, kau gila. Tatap gadis itu mengumpati
" Dia sumber masalah nya" gumam nya terdengar
" Masa sih?" Nada nya sedikit meninggi sampai membuat sang guru penasaran di buat nya
" Kau yang di sana, apa kau murid baru" seloroh nya menunjuk Yuline dengan spidol
Tatapan kedua teman karib duduk di sebelah nya melihat penuh kasihan terhadap diri nya
" Kemari" panggil guru pria pada Yuline dengan patuh Yuline beranjak ke depan kelas, menunggu si guru tersebut selesai menulis sekian panjang nya hitungan logaritma ataupun rumus matematika terlihat njlimet
Ah, jadi ini masalah nya, batin Yuline kini menyadari alasan mereka ketakutan, guru nya ini adalah seorang guru pelajaran fisika dengan rumus yang rada pusing
" Kerjakan ini" guru bernama Alex tersebut mengetuk spidol milik nya ke papan tulis menunjukkan sekian banyak nya rumus.
Berbeda dari wajah bersukur ataupun kasihan tengah di layangkan untuk nya Yuline santai bahkan menerima spidol hitam tersebut dengan senyum mengembang, cukup membuat Alex mengeryit heran begitupun anak lain memaki dia bodoh karena menyepelekan sang guru.
Pria berambut hitam keturunan Argentina itu menatap tak percaya, dirinya di kaget kan oleh kemampuan si murid baru, menyadari kebodohannya si guru itu segera mengelap bawah hidung nya ketika ia merasa gugup diri nya selalu merasa cairan ingus akan keluar dari sana
" Bagai mana kau bisa mengerjakan nya begitu cepat"
" Karena ini mudah sekali" balas nya tanpa ragu.