Suara bantingan pelan dari pintu tertutup menjadi tanda bahwa Elbert sudah pergi meninggalkan kamar ku
Sedikit ku meremas helai rambut pirang milik ku, mungkin akan semakin berantakan hingga menjadi kusut aku tak peduli, segera ku berdiri berjalan ke arah kamar mandi.
Tisu kotor se-malam tergeletak di lantai, kuambil dan langsung memasukan ke keranjang sampah dengan kesal aku mendengus jengkel, kini di depan cermin besar ku lihat bayangan diriku
Wajah kusut; katung mata, bibir kering terlihat mengelupas. Segera Yuline mengambil air membasahi wajah cantik nya, " astaga apa yang aku pikir kan... Bisa saja memang semalam mati lampu, tapi hanya kamar ku saja" kata ku menenangkan diri, ayolah aku ini pecinta ilmu fisika dan b******a-cita mendedikasikan hidup pada teori yang masuk akal, bodoh. Harus nya aku 5ak segera menyimpulkan mimpi buruk semalam.
Diri nya segera membersihkan diri serta Menganti pakaian semalam dengan yang baru segera hidangan di sediakan oleh Elbert di habiskan dengan lahap.
Segera ku turuni anak tangga, kulihat adik ku sedang bercakap bersama ibu ku, entah dari mana dirinya tadi
" Kau sudah bangun" kata nya haru, Anna mendekati dirinya sembari mengecek suhu tubuh dengan punggung tanggan, " kau sehat?" Tanya nya tak percaya
Kedua bahu ku naikan sembari ku berkata, "aku sehat Bu, memang ada apa dengan kalian" heran ku
Anna mengusap kedua bahu putri nya menatap khawatir, " kau sedari subuh sama sekali tak bangun, kau mengerti. Aku panik sekali dan baru saja ku kembali dari toko obat"
Ku lihat dari balik punggung, benar saja di atas meja terdapat Tote bag berlogo nama apotek berada, ku menunduk sebentar selanjutnya memastikan ibu ku, Anna, untuk tidak menghawatirkan diri ku terlalu besar.
Yuline memeluk Anna hangat masa bodoh dengan sosok Eland yang masih asik bermain Lego milik nya.
"Apa Elbert membantu mu tadi"
" Ya, dia mengantarkan sarapan ku ke kamar Lalu pergi" beritahu Yuline
" Kemana anak itu kenapa ia tak ada di sini"
" Tadi ku lihat dia keluar, sebelum ibu kembali"
Anna melihat Eland, " Keluar? Apa anak itu sudah memiliki teman di sini, dia kan pemalu"
Elbert kembali lagi ke area kubangan tempo hari ia sudah merencanakan sesuatu dengan membawa gulungan tali rajut milik ibu nya yang masih baru, rasa penasaran anak lelaki itu belum juga terpecahkan.
" Satu, dua, tiga.... Enam, tujuh" di hitung batu-batuan cukup berat di ikat dengan benang merah milik nya
' blumm' cipratan air meriyak ketika batu tersebut telah ke Cemplung ke dalamnya, Elbert memastikan berat batu dapat mencapai dasar dirinya mengulur benang membiarkan tali nya di tarik oleh beban batu.
Aku melongo tak percaya, ku yakin beban berat batu memberatkan, namun sampai benang terakhir di genggaman ku sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa mencapai dasar, aku heboh menoleh kanan kiri mencari batang pohon ku lihat tak jauh ada patahan batang pohon di dekat kubangan kurasa cukup kuat, dengan cepat ku ikatkan tali ku bawa tersebut ke sana ku ikat dengan kuat-kuat, setelah memutar otak aku akan mencari cara agar menambah benang lagi lain hari.
Baru kuingat hari ini adalah hari dimana ayah akan pulang jadi kurasa sebelum dia marah-marah karena aku banyak keluar rumah mending aku nikmati saja saat ini sekalian mumpung dia belum sampai rumah.
Jalan tanah setapak ku lalui, semakin ku mendekati dalam nya hutan berbeda dari tempat ku tadi semakin dalam rimbunnya pepohonan semakin membuat gelap lingkungan sekitar ku
' sreeekkk...'
Elbert memutar tubuh nya kembali melihat kebelakang menoleh ke-sana kemari, dirinya yakin betul sekelebat bayang hitam tadi melewati belakang nya, dirinya meneguk air liur nya sendiri kepayahan
Aku yakin itu orang
Kepala nya mendongak ke atas memastikan bahwa rimbunan dedaunan sama sekali tak menghalangi cahaya, cukup terang benderang dirinya melihat objek jikalau benar ada sosok lain di sana namun nihil, tak seorang pun bersembunyi ataupun terlihat berada di sana.
" Lebih baik aku kembali, ini sudah di luar aman... Tapi tak mungkin ada macan ataupun serigala kan" monolognya sendiri segera bergegas meninggalkan tepat tersebut.
Sosok bertubuh basah keluar dari bebatuan ia hanya menyembulkan kepala nya, wajah nya tertutupi rambut nya kecoklatan hanya terlihat sebagian mata tajam nya menatap anak yang berlari-lari menjauhi.
' hoshh... Hoshh...'
Edbret mengambil nafas dalam-dalam tangan nya bertumpu pada siku kaki, dirinya baru saja sampai ke rumah, bocah berambut coklat itu sama sekali tak menyadari sosok lain di sana tengah mengendap mendekati diri nya tangan kurus nya terulur...
" Ya tuhaaannn... " Meremang seketika bulu halus di kulit nya secepat mungkin ia mengambil langkah berbalik serta menjauhi sosok 'asing' di belakang nya.
" Yuline!!" Kaget akan sosok gadis itu tiba-tiba bisa muncul di belakang nya, bahkan tampang nya sangat ingin Elbert maki, " kau kenapa?" Bingung Yuline kenapa adik nya muncul di depan rumah seperti di kejar anjing, well. Adik nya itu benci hewan maka nya mereka tak bisa memelihara hewan di dalam rumah, selain biaya nya akan mahal ketakutan adik nya pada hewan-hewan menyebabkan mereka tak mengambil peliharaan rumah
Kembali dari ke-kagetan nya dirinya kembali memasang wajah stoic andalan nya, " Kau yang kenapa? Bukan nya kau masih sakit kenapa malah berkeliling rumah"
Apa? Sakit.
Yuline segera meraih pergelangan tangan Edbret, meletakan punggung tangan ke dahi nya lalu mengibaskan tanggan Edbret kemudian.
Dengan percaya diri dan bangga, "aku sehat dan aku baik-baik saja, tolong kondisi kan diri mu, semenjak di sini kau makin aneh saja" merasa tak ada yang di butuhkan lagi Yuline melangsungkan pekerjaan yang sempat tertunda, dia ke pekarangan rumah kembali asik menanam bibit bunga-bunga entah dari mana dia dapat, mungkin Yuline membeli dari toko setempat pesan antar.
Edbret memandang Yuline aneh dia setia berdiri di sana memandang dari kejauhan, bagai mana mungkin tadi pagi buta ibunya panik histeris putri pintar nya sakit lalu dan dia ada di sana untuk menunggui kakak nya itu sadar secara ajaib tiba-tiba gadis pirang itu bangkit dari kasur seperti filem horror sekarang malah berkebun, bukan kah ajaib.
Memilih tak peduli Edbret memasuki rumah, kaki nya akan menampaki lantai jika dirinya tak sadar lumpur serta tanah, "ouch! Sialan" umpat nya jengkel
Edbret segera melepas sepatu nya cepat menggulung celana panjang nya berjalan cepat melewati ibu beserta adik nya yang masih menonton tv beserta Yuline yang asik membaca buku tak jauh dari ruang keluarga.
Edbret terdiam kaku menengok berlahan ke arah Yuline, dia Yuline anak itu memakai pakaian yang berbeda dari Yuline di perkarangan tentu nya Yuline yang pertama dia lihat memakai baju berkebun dengan bunga kuning terselip di telinga bersamaan rambut panjang nya terurai, dan sosok itu bukan Yuline berpakaian santai dengan rambut setia di ikat layak nya kebiasaan nya seperti sekarang ia lihat
Edbret termangu di tengah-tengah anak tangga berdiri dengan tatapan tak percaya
Anna tadi nya menikmati acara tv beserta anak bungsu nya merasa ada sosok lain dan benar saja, tak jauh dari sana Edbret tengah melihat ke arah mereka dengan mulut menganga
" Edbret, kau sedang apa"
Menyadari keberadaan ibu nya Edbret segera pergi dari sana selesai menjawab Anna.
" Dia kenapa?"
" Entah lah" Eland menyahuti pertanyaan kakak nya.