" Kau demam" khawatir Anna mendapati si sulung menggigil kedinginan dengan badan panas
Ia menempelkan kain telah di basahi air dingin dari baskom secara berulang, dalam kondisi kalut Anna mondar mandir di area kamar anak nya menunggu panggilan terhubung, ia tengah berusaha menghubungi sang suami yang belum juga pulang dari pekerjaan baru nya
" Hallo"
Ada apa sayang?
" Apa kau bisa pulang cepat, sekarang.. Yuline sakit" beritahu nya pada sang suami atas kondisi anak mereka
Bagaimana dia? Maaf, aku belum bisa pulang cepat sekarang aku harus menyelesaikan tugas ku, aku belum bisa meminta ijin di hari-hari awal aku bekerja.
Sahut orang di sebrang sambungan ikut panik, terdengar nada khawatir menyertai nya bagaimana pun dirinya baru saja mendapatkan pekerjaan dan mengharuskan untuk saat-saat seperti ini lembur mengingat ia karyawan baru si sana dan orang pindahan yang beruntung mendapatkan pekerjaan baru cukup bagus, Anna terpaksa harus mengerti situasi mereka sekarang.
" Jam berapa kau pulang"
Sekitar sore hari tapi kau tenang saja akan ku usahakan akan pulang secepat nya
" Kurasa tidak akan sempat, akan ku urus sendiri kau hati-hati di sana dan jaga diri mu"
Terimakasih sudah menghawatirkan diri ku, tapi tolong kau fokus jaga anak-anak dulu, aku sayang pada mu darl
Ucapan Amstrong di sebrang menjadi kata penutup dari sambungan telpon mereka, segera ia mengecup pipi hangat anak nya dengan berucap, "kau tunggu ibu ya, istirahat lah aku akan pergi ke apotek terdekat"
Anna bergegas menuruni tangga mendapati kedua anak nya duduk di meja makan usai menghabiskan sarapan mereka bahkan si bungsu Eland tengah sibuk membaca buku tebal berisikan pengetahuan umum tentang hewan-hewan
" Elbert.." pangil nya ragu
" Ada apa Bu?" Jawab Elbert balik melihat ibu nya mendongak
" Ibu minta tolong, tolong jaga kakak mu di atas badan nya panas, aku akan pergi ke kota terdekat mencari obat"
Tanpa menunggu persetujuan ataupun penolakan si anak Anna Clarkson bergegas ke kamar tak lama kembali keluar dengan pakaian lainnya segera pergi dari rumah meningalkan anak-anak nya aman di rumah.
Elbert dan Eland saling memandang kedua Stone tersebut menatap tajam satu sama lain
" Kenapa kau diam, ayo jaga Yuline sana" usir Eland melanjutkan acara membaca nya membuat Elbert geram pada yang lebih muda, ia sudah tahu jika dirinya di suruh ibu mereka untuk menjaga Yuline tapi jika itu keluar dari mulut si kecil rasa nya bisa menyulut emosi
"Aku sudah dengar, jangan mengatur diri ku.. bocah" Eland mendengus kesal ingin ia protes namun memang ia termuda diantara mereka ber-3
Langsung Elbert bertolak pergi ke kamar atas dapat ia lihat tubuh kakak nya kaku dengan keringat mengalir wajah putih nya terlihat pucat pasif bibir nya sedikit membiru melihat hanya bangku rias satu-satunya bangku di sana Elbert mengambil nya untuk menjadi tumpuan b****g nya
Jika boleh berkata raut Yuline menampilkan ekspresi takut atau ngeri tergambar jelas di sana, apa yang di mimpikan nya.
Edbret segera mencondongkan tubuh nya mendekati wajah Yuline yang masih setia terpejam
" Yuline.. yull.. heyy, kau mendengar ku.. yulline" panggil nya lirih tepat di daun telinga Yuline agar gadis itu segera terusik dan bangun sekira nya walaupun sekedar memaki nya karena menggangu tidur nya, setidak nya kakak nya tersebut bangkit dari tidur dari pada memucat tanpa reaksi apapun.
" Siapa itu?" Suara gadis itu menggema di seluruh ruangan namun gelap tanpa ada penerangan apapun
' tap.. tap..tap'
Suara langkah-langkah kaki terdengar puluhan atau ribuan entah dari mana asal sumber suara yang pasti Yuline nampak ketakutan ia berlari kesan kemari tak pasti hanya gelap
Secercah cahaya dari ujung jalan nampak menjadi harapan Yuline untuk segera keluar dari sana, segera ia bergegas berlari menuju sumber cahaya aneh nya sumber penerangan tadi seperti tertutup tanah ia menggali udara di depan nya seolah ada benda padat agak basah
Gadis pirang itu menoleh dimana tadi ia keluar dan cukup tercengang ia baru saja keluar dari tanah pakaian di kenakan oleh nya juga tak seperti semalam ia pakai baru ia sadari bawah yang di kenakan oleh nya adalah pakaian Marquess atau orang-orang kaya bangsawan terdahulu
Bukan baju nya saja membuat cukup tercengang atau dari mana dirinya keluar namun pemandangan dilihatnya sekarang dapat membuat gadis muda itu menganga mendapati sepanjang mata memandang adalah Medan perang
Asap mengepul membumbung cukup membuat perih mata, menumpuk sana sini mayat korban-korban perang
' apa ini mimpi' pikir nya memastikan dia mencubit lengan nya namun rasa sakit amat membuat nya sadar ini nyata, mimpi terasa nyata atau kenyataan di hadapan nya sekarang itu bukan lah sebuah ilusi
Kaki nya melangkah mengitari tempat ia berada dan hanya mendapati beberapa orang lalu lalang namun sama sekali tak dapat melihat Yuline yang berada di tengah-tengah mereka dengan gaun kotor nya
Manik biru milik nya tertarik pada sesosok tubuh dengan baju zirah berbeda dari lainnya warna biru safir cukup nyentrik bagi nya diamana lainnya akan memakai baju zirah dari besi putih ataupun besi-besi terbaik berwarna hitam legam hanya dua warna tersebut ia selalu dapati di gambaran buku-buku sejarah milik nya
Yuline membungkuk mencoba menyentuh si pria tak tahu ia indentitas nya karena pria asing itu tertelungkup
" Arghhh!!" Erang nya berasal dari korban dikiranya tadi adalah mayat
" Astaga tuhan..." Kaget nya refleks mundur dari situ..
" Astaga.......!!!" Elbert terjungkal jatuh melihat kakak nya mendadak terduduk bangkit dari kasur dengan mata melotot seperti terkejut dan shock
" Kau kenapa di sini" kembali dari sadar nya Yuline mengangkat dagu nya dan bertanya pada adik nya masih dalam kondisi naas
" Kau yang kenapa" kata nya ikut heran sembari membenarkan kursi ikut tergeletak akibat diri nya sembari menepuk pakainya sekiranya terkena debu, " kau itu sakit, sejak pagi sama sekali tak bangun ibu sedang pergi membeli obat untuk mu, kau tau tadi Seperi mayat"
Yuline memeriksa tubuh nya beserta bagian wajah nya, benar saja ia mendapati kain untuk mengompres dirinya Elbert sedang tidak bercanda.
Dirasa kakak nya kembali normal Elbert sekilas menempelkan punggung tanggan nya memeriksa suhu tubuh si kakak, normal.
" Kau sudah sehat, jadi tak usah manja... Tunggu di sini aku ambilkan sarapan untuk mu"
" Tak usah.."
" Aku di minta ibu untuk menjaga mu, tenang saja, aku juga tak iklas kok membantu mu tanpa di suruh dan jika tak terpaksa" anak berambut Curly kecoklatan tersebut melenggang pergi dari sana.
Yuline menelisik ke segala penjuru ruangan, mendapati sosok menyebalkan Seperti Elbert ia yakin kini buka. Berhadapan dengan mimpi seperti tadi
Jika dirasa sebenarnya semalam ia menyalakan Lilis di atas meja namun sama sekali tak ada tanda-tanda bekas lelehan batang lilin di atas meja, bercak merah warna lilin setidak nya pasti akan terlihat kalau pun di singkirkan, permukaan meja pun terasa halus sejauh Yuline menyentuh permukaan kayu tersebut
Turun dari ranjang Yuline mengitari sudut-sudut ruang kamar ia berjongkok mengambil sebuah senter tergeletak samping lemari ia kebingungan, semalam ia yakin memang melempar senter dan senter itu ada di sana, tapi bekas lilin atau korek sama sekali menghilang
" Ada apa?" Intrupsi Edbret menganggu kegiatan Yuline, nampan berisikan makanan tertata epik
" Aku taruh sini ya, kau tinggal makan saja" nampan dengan menu menggugah selera ia letakan di atas kasur
" Ed.."
Panggilan Yuline seketika menghentikan pergerakan Edbret keluar dari pintu kamar
" Ya.."
" Apa semalam mati lampu?"
Elbert mengerutkan kening sembari berfikir semalam dia ngapain saja
" Kurasa tidak ada tuh mati lampu semua nya menyala dengan semestinya"
" Kau yakin" di angguki oleh Elbert penuh keyakinan, " aku baru tidur dini hari, aku mau menyelesaikan gambaran ku"
" Kau masih menggambar" cela nya
" Kalau kau menghina lebih baik jangan bertanya, dan jangan bilang ayah dan ibu" Elbert melengos pergi dari sana
'deg..'
Seketika jantung nya terasa mati, ia ingat betul seluruh ruangan kamar milik nya gelap kalaupun ada tanda-tanda lampu hidup selain kamar nya pasti dari celah pintu akan terlihat samar nya temeram lampu luar..
Jadi, semalam.