Blood Misteri

1212 Kata
" kenapa anak itu seperti anak kecil, berapa usia nya? 8tahun? 5tahun, bahkan Eland bisa lebih baik lagi dari nya" gerutu gadis muda itu Kini Yuline beralih memakai pakaian piyama bercorak polkadot biru putih dress tidur terusan Nampak cantik di pakai nya ia duduk menghadap cermin rias antik nya, terdapat ukiran cantik bergelombang bangku di rancang satu paket terlihat kesan anggun dan mewah Bersyukur ia mendapatkan kamar dengan penampilan ekslusif menurut nya patut di samakan dengan dekorasi kamar mewah dari salah satu filem bangsawan di sin bajak laut blackjack pernah ia lihat. Seperti remaja putri lainnya ia Ingin terlihat cantik sempurna kini Yuline mencepol rambut panjang nya sibuk mengoles kulit mulus nya dengan cairan kental di sebut masker wajah. Suara senandung nya terdengar mengalun dari celah bibir Yuline, ia menyambar tabloid dari kolong meja dari sekian tumpukan buku-buku belajar mengambil buku eklopedia Remaja unik, malas dengan tabloid ataupun majalah fashion lainnya ia tertarik dengan buku-buku tak salah ia pernah di bully geek oleh teman-temannya namun itu dulu sebelum ia memilih mengikuti arus menjadi 'normal' miris sebenarnya jika ingat Edbret memilih tetap menunjukkan kecintaan nya pada seni serta dapur dari pada olahraga ataupun pelajaran. " Yuline, kenapa kau berubah?" Kata lelaki berambut coklat acak-acakan nya suatu sore ia melempar pertanyaan itu ke dirinya. " Apa nya, bukan kah ini cantik? Ini tengah populer di kalangan gadis-gadis kini" Yuline memutar badan nya membuat dress selutut dikenakan oleh nya berkibar, potongan V rendah dengan bahu di buka turun lengan panjang seperti Jasmine pasangan Aladin, sungguh anggun dan cantik banyak gadis-gadis lainnya jelas iri dengan wanita di hadapan nya kini. " Bagaimana, bagaimana... Aku terlihat lebih segar kan" tuntut nya agar si adik mengomentari tentang dirinya sekarang. Edbret terdiam memandangi gaya pakaian Yuline yang kini berubah drastis tak ada lagi bingkai kacamata menggantung di batang hidung Bagir nya, tak ada lagi rambut pendek sebahu favorit nya ia memanjangkan rambut pirang tersebut sampai Sepinggan. Edbret menutup buku tulis selama ini sebagai media menggambar meletakan hati-hati takut terjatuh ke kolam " Yah~ kau cantikk" kata lelaki itu dengan suara mendayu-dayu, " tapi ini seperti bukan diri mu, kau tau? Yuline Stone yang ku kenal lebih mementingkan kenyamanan tubuh nya tapi sekarang kenapa kau ingin jadi perempuan tiba-tiba?" Lanjut nya dengan ekspresi datar tanpa minat menatap perempuan itu memuja Yuline mengigit gigi nya kuat-kuat hingga gemletak suara gigi nya terdengar, wajah nya memandangi Edbret emosi " Kau! Kau sama sekali tak tahu style wanita" Dengan santai Edbret menaikan bahu nya sembari berkata, "aku kan memang bukan bagian dari Kalian, jika kau lupa" ia mencebikan bibir nya sebagai aksi masa-bodo-dengan orang. " Kauuu!!!" Jerit nya marah, jari nya menunjuk batang hidung Edbret, mata nya melirik ke sebuah buku sedari tadi menyita pandangan Edbret, " kau kira gambaran mu akan membuat kau di cintai ayah?" Tuding nya Menyudutkan Kaget dengan apa yang di dengar membuat ia mengerutkan dahi dengan mata menyipit, " Apa?" Jujur saja ia ingin tak percaya dengan pendengaran nya namun selanjutnya ia harus menyadari itu sebuah ungkapan yang jelas nyata " Buku mu ini cuman coretan, lebih baik kau seperti ku saja, seperti lelaki umum nya, jangan menyukai dan menjadi orang yang tak bisa bersosialisasi" Yuline merebut buku kesayangan Edbret dengan wajah sinis ia ingin melempar ke air mancur dekat mereka namun ia urungkan buku berwarna hitam ia lemparkan ke tanah lalu meningalkan Edbret beserta buku nya yang mungkin kotor karena ulahnya. Mengingat masa lalunya dimana ia kekanakan cukup membuat nya menyesal, andai saja ia lebih halus saat itu mungkin hubungan mereka tak se-canggung sekarang, Yuline sendiri Engan memulai untuk meminta maaf pikir nya kenapa ia harus meminta maaf jika ia tak salah, bahkan Edbret sendiri memang selalu mencari gara-gara dengan nya. Itu isi pikiran gadis yang tengah menginjak remaja seperti dirinya. ' hoamm' Yuline melihat jam weker di meja kecil sebelah ranjang nya, tengah malam pantas saja. Yuline segera bergegas menuju kamar mandi sebelum ia terlelap dalam kondisi muka berwarna hijau. Kucuran air mengalir segera ia basuh kan ke area muka dengan berlahan belum sempat ia membuka manik nya Yuline di kejutkan lampu kamar mandi mati secara tiba-tiba, " apa rumah lama selalu begini? Lampu mati!! Bisa gila aku" sungut nya kesal segera ia mencari jalur alternatif lain ketika mata nya masih perih belum sempat ia bilas Berapa helai tisu toilet ia sambar rakus secepat nya mengelap wajah nya kasar, merasa sudah baik-baik saja dia berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju kasur, tak lucu ia jatuh terjungkal karena keteledoran nya Yuline sangat ingin teriak mencari bantuan mengingat juga salah nya tak segera terlelap malah Mendapati acara mati lampu Seperti sekarang tentunya tak akan ada yang sadar ' dukkk' " Auhh!!" Jerit nya tertahan, ngilu sekali kaki nya sampai membuat ia melompat-lompat dengan sebelah kaki, kaki nya terasa di injak oleh sesuatu tapi ia tak yakin itu apa Merasa hawa kamar nya menghangat serta menyesak membuat bulu kuduk nya meremang berdiri mata nya menelisik seluruh ruangan yang hanya terlihat siluet nya saja segera ia bejalan cepat dengan kondisi kaki terasa membengkak Menemukan kasur nya di tempat seharusnya segera Yuline mencoba mencari benda diyakini dapat membantu nya dalam kegelapan harap nya, perasaan kalut dan tak tenang membuat Yuline gencar mengobrak-abrik laci-lacinya perasaan was-was Seperti ada orang lain di ruangan sama dengan nya membuat semakin jantung nya berlomba-lomba dengan nafas milik nya bak orang tengah maraton Telapak tangan nya menepikan sesuatu di harapkan dapat membantu nya, " Ini dia.. ah, ayo menyala..ayoo" Yuline segera mengotak Atik benda bernama senter tersebut, nampak sekali benda itu keluaran lama Yuline yakin benda itu berkarat sampai menolak untuk menyala atau kehabisan baterai Merasa acara memukul-mukul sumber cahaya tersebut tak membuahkan hasil ia melempar senter ke-sembarang arah hingga membuat debuman nyaring Keringat dingin mengucur sudah membasahi dahi gadis muda tersebut sesekali ia dengan cepat mengusap keringat-keringat cairan yang berbau amis, eh. Yuline terdiam membeku ia merasa aneh dengan aroma besi berkarat menyeruak Indra penciuman nya bau khas sekali dengan darah namun ia berusaha mengatur nafas mengambil serta mengeluarkan nya secara berlahan tangan kurus nya nampak bergetar menyibukkan diri mencari alat sumber cahaya mengalihkan fokus dari afeksi aroma asing " Ini.." lirih dengan bergetar, Yuline menemukan Batang lilin merah dengan pemantik model Zippo, "ayo menyala.. ayoo" seru nya berusaha memercikkan api, bersukur tak lama api dari sana muncul segera Yuline membakar lilin temuannya hingga suara terdengar sangat lega ia keluar kan, menengok kanan serta kiri nya yang mulai terkena cahaya kecil dari sumber lilin Ia menaruh batang lilin ke atas meja lelehan lilin membuatnya tak akan mudah terjatuh dari posisi nya, berlahan Yuline membaringkan tubuhnya dengan wajah kusut ia berusaha memejamkan mata nya erat, perasaan di awasi nya mulai sedikit berkurang setelah mendapat kan sumber cahaya nya sebagai alat bantu nya melihat sekeliling.. ' plazzh' Cahaya dari senter tadi dibuang secara ajaib menyala kembali kepada fungsi normal nya, sorot cahaya senter itu mengarah ke sudut ruangan kamar, samar-samar nampak wujud wanita melayang dengan pakaian mewah gaya penduduk kerjaan Inggris terdahulu namun hanya nampak sebagian pingang serta baju menjuntai tak menyentuh lantai sebelah tanggan nya terdapat lampion kaca kuno sebagai mana lazimnya penerangan jaman dulu namun api di pancarkan oleh benda tersebut berwarna merah darah dan menjadi sumber amis sempat di cium oleh Yuline tadi. Sosok mengerikan tadi menghilangkan di telan gelap tanpa bisa terlihat siluet wajah nya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN