Gang Gelap

1066 Kata
“Siapa itu, Git?” tanya Yusuf, ia menyuruhku membuka pintu. Namun, aku enggan membukanya. Suara ini sudah kukenal. Ia demit perempuan yang suka menggangguku. “Totoloong. Suara itu terdengar sangat menyayat hati, seperti kesakitan. Toni gemetar di dekatku sedangkan Yusuf masih mematung di tempatnya. Tadi ia menertawai kami, sekarang baru tahu rasa beneran diganggu. “Tooloong saya, ucap suara demit perempuan lagi. Aku yang mendengarnya jadi iba. Ia seperti mengalami sesuatu yang membuatnya menderita. Akan tetapi, mungkin ini hanya tipu daya setan yang ingin menyesatkan kami. Mulutku mulai komat-kamit membaca surah An-Nas dan ayat kursi. Yusuf pun membaca doa dengan lantang. Sepertinya ia benar-benar ketakutan. Beberapa saat kemudian suara itu sudah tak terdengar lagi, sepertinya si demit kepanasan dan kabur. “Git, beneran ini kosan ada hantunya ya? tanya Yusuf yang baru saja mengalami gangguan. “Tadi sudah kuceritakan, 'kan? Kamu enggak percaya malah ketawa-ketawa, kata Toni sedikit kesal. “Kukira kalian berbual saja, sahutnya, Yusuf bergidik, matanya memindai sekeliling kamar. “Jangan bilang kamu enggak jadi pindah ke sini, ucapku segera sebelum Yusuf membatalkan niatnya untuk pindah. Ia malah nyengir, sepertinya Yusuf memang ingin membatalkan pindah ke sini. Aku coba merayunya agar tetap pindah. Lagi pula nanti kami berdua jadi tak akan terlalu takut. “Tadi kalian dengar enggak. Itu kuntil minta tolong. Kira-kira kenapa ya? tanya Yusuf. “Sudahlah jangan dibahas. Nanti ia datang lagi. Mungkin ia cuma mau menyesatkan kita, sahutku mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur. Akhirnya, kami sibuk dengan ponsel masing-masing meskipun Yusuf masih terus saja membahas kuntilanak yang tadi minta tolong. Malam semakin larut, perutku keroncongan begitu pun dengan kedua temanku. Akhirnya aku keluar membeli nasi bungkus. Gelap, tak ada bintang satu pun yang nampak. Hening, tak ada satu pun binatang malam yang bersuara. Malam ini begitu tenang bahkan sepertinya angin pun enggan untuk lewat. Sebenarnya jantungku mau copot saat melihat ke ujung gang. Sepanjang gang gelap sekali. Terlihat terang hanya di ujung saja. Netraku berkeliling, benar-benar hening. Tiba-tiba pohon mangga yang berdiri tepat di seberang kosku melambaikan daun-daunnya sedangkan pohon-pohon di sekitarnya tak ada yang bergerak sedikit pun. Pohon mangga itu bergoyang-goyang seperti ada yang menggerakkan. Rasanya napasku akan berhenti. Aku kembali ke dalam dan menutup pintu. Kupejamkan mata sambil mengatur napas menyeder di belakang pintu. “Kamu kenapa, Git?” tanya Toni yang sedang menonton video ceramah. “Anterin ke depan, ayo, ajakku ke salah satu temanku. Mereka beradu pandang. Sepertinya tak ada yang berani tinggal sendiri. Ah, sudahlah aku harus memberanikan diri keluar membeli makan daripada kelaparan. Kuusap wajah dengan kedua telapak tangan. Dengan mengucap basmallah aku buka pintu dan berjalan keluar. Kedua temanku samar terdengar terkikik. Mereka pikir ini lucu, awas saja nanti giliran mereka yang ketakutan. Aku menyusuri gang sempit yang gelap. Bulu kudukku meremang, seperti ada orang yang mengikutiku. Namun, saat aku menengok ke belakang tak ada siapa pun. Aku berjalan cepat, tetapi rasanya tak kunjung sampai di ujung gang. Gang ini terasa sangat panjang sekali padahal kira-kira hanya seratus meter saja dari kosanku. Angin lembut menyentuh telinga dan tengkukku membuat semakin merinding. Tanganku mulai gemetar dan dingin. “Tolooong sayaa, bisik suara yang mungkin hanya aku yang mendengarnya karena tak ada siapa pun lagi. Pasti suara kuntilanak itu lagi. Entah mengapa tiba-tiba langkahku terhenti. Diam mematung. Tubuhku menjadi kaku, kaki pun sangat berat untuk melangkah. Padahal hanya tinggal beberapa meter lagi tiba di ujung gang. Srek srek srek. Suara seseorang berjalan di belakangku. Rasa takutku sangat kuat hingga tak terasa cairan hangat menjalar dari pangkal kakiku, membasahi celana panjang hitam yang kukenakan. Terbata aku membaca ayat kursi yang akhirnya mampu membuat kakiku bergerak. Sekuat tenaga aku berlari dari gang tersebut. Napasku terengah saat tiba di warung pecel lele. Beberapa orang sudah mengantre di sini. Mereka memperhatikanku yang ngos-ngosan. Untung saja celanaku berwarna hitam jadi tak terlalu terlihat basah. Aku jadi risih diperhatikan seperti ini. Setelah mendapatkan tiga bungkus pecel lele berikut nasinya, aku memikirkan cara agar bisa melewati gang gelap bagai lorong itu tanpa diganggu dedemit seperti tadi. Aku juga membayangkan sudah pasti Toni dan Yusuf akan menertawakanku kalau mereka tahu celanaku sampai basah begini gara-gara si kuntil. Bergidik saat aku melihat kembali sepanjang gang yang gelap. Aku diam sejenak di ujung gang. Suasana di gang terasa tak mengenakan, sepertinya kuntil itu menungguku kembali. Mau tak mau aku harus melewatinya. Masa aku akan berdiri di sini sampai pagi. Aku harus memberanikan diri. Dengan sekuat tenaga aku gunakan langkah seribu dengan pandangan lurus ke depan. Tak kuhiraukan suara yang berbisik minta tolong di telingaku. Sekelebat kulihat seorang perempuan mengikutiku berlari. Aku terus berlari meskipun perasaanku sudah tak karuan. Akhirnya, aku tiba di depan kosanku. Tak ingin aku menengok ke sekeliling, aku segera masuk. Napasku tersengal, tubuhku lemas dan langsung ambruk setelah membuka pintu. Berkali-kali aku batuk karena berlari tadi. Toni dan Yusuf sudah menebak pasti aku diganggu dedemit saat keluar tadi. Mereka bergidik ngeri. Yusuf segera mengambilkan minum untukku. Aku baru ingat celanaku masih basah. Segera aku bangkit dan ke kamar mandi sebelum mereka menyadarinya. Bisa jadi bahan ejekan kalau mereka tahu. Git, kamu ngompol ya? teriak Yusuf saat aku di kamar mandi. “Enggak, emang kenapa? elakku, kok, Yusuf bisa tahu pikirku. “Ini di keramik bekas bokongmu mendarat basah begini, ucapnya sambil terkikik kudengar. Aku diam saja membersihkan diri dan mengganti celana. Ah, biarlah mereka mengejekku. “Tuh kan kamu ngompol, haha. Yusuf terbahak melihatku yang sudah berganti celana. Toni yang sedang membuka bungkusan nasi pecel lele ikut menertawaiku. Awas saja mereka berdua. “Enggak usah berisik, deh. Coba aja kalian tadi ikut enggak akan kualami kejadian di gang tadi, ucapku kesal, menghampiri mereka dan menyambar nasi bagianku. “Memangnya kamu diikuti pas keluar tadi? tanya Toni, tangannya sibuk memilah daging lele. “Iyalah, kalian enggak ada yang mau nganterin, sih, ucapku masih kesal karena Yusuf masih saja cengar-cengir. “Gara-gara kuntilanak, Agit ngompol. Yusuf masih saja meledekku. Rasakan nanti kalau dedemit di sini menganggu lagi. Belum tahu ia rasanya diganggu habis-habisan seperti malam kemarin. “Kamu tetap jadi pindah ke sini, 'kan? tanyaku meyakinkan Yusuf. “Entahlah, balasnya singkat. Hilang sudah harapanku satu-satunya. Jujur aku tak berani kalau sendirian setiap malam mengahadapi para demit di sini. Kalau ada Yusuf setidaknya ada teman meskipun kami sama-sama takut. “Ayolah, Suf. Aku sudah gratiskan selama tiga bulan kamu enggak usah bayar, rayuku kepada Yusuf. “Iya kasihan Agit, Suf, timpal Toni. Lagi-lagi manusia di depanku ini cuma nyengir. Membuatku kesal saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN