Menikah

1513 Kata
" Ada apa ini ribut- ribut?" tanya seorang perempuan menghampiri kami " Tidak tante, kami hanya mengobrol karena jumpa teman lama. " jawab blue queen " Ohh ya, jaga sikap kalian , ini pemakaman keluarga bukan pesta. " ujar perempuan tersebut berjalan pergi " Hampir saja dion victory, begitu saja kamu sudah terdiam, kamu mau mengenalkan princess indah larasati lagi pada mama kamu, eleanor falove, yang terkenal dengan ucapan nya yang seperti silet?" senggol blue queen " Maksudnya?" tanya ku tiba- tiba. " Eleanor Falove, perempuan tadi yang datang menegur kita adalah mama dion victory, beliau punya andil yang sangat besar dalam mengatur keuangan keluarga, itu sebabnya semua keluarga bahkan relasi perusahaan pun segan pada beliau." jelas blue queen Setelah kami menyicip makanan dan minumna yang dibawa steven william, kami pun pamit pulang. **** Setahun kami melaksanakan internsip, dengan suka duka dan pengalaman medis yang tidak pernah kami pelajari waktu di kampus dulu. " Akhirnya ya... Kita selesai juga. " ujar haga caroline saat pesta perpisahaan terakhir dengan tenaga kesehatan rumah sakit dan puskesmas tempat kami internsip Aku pulang ke rumah di sambut peluk hangat ibu yang sudah tidak berjumpa selama setahun. Kakak kedua pun telah menikah dengan dosen kampus kami. Masih teringat pas acara wisuda ku yang cukup menyedihkan karena ibu ku tidak mau berfoto bersama ayahku padahal harusnya mereka mengalah di hari gembira ku. Sama halnya di pernikahan kakak kedua ku, ibu ku menolak foto bersama bila ada ayah. Kami sampai dilihatin fotografer nya karena sempat cekcok mulut. **** Setahun setelah internsip, bang rangga baxtier pun kembali menghubungiku via telepon. " Indah, besok indah ada waktu? ada yang mau abang bilang, penting. " ujar nya pada ku Besok pun aku ketemuan sama bang rangga sambil makan di waroengsteak " Indah" ujar nya pelan Penampilan nya lebih rapi, kata- katanya sopan dan lembut. " Iya bang" sahutku melihat perubahan nya setelah beberapa tahun tidak jumpa " Indah mau menikah sama abang?" tanya nya membuat ku spontan menjatuhkan segelas air putih di meja " Bukan nya abang sudah punya pacar?" tanya ku pada nya mengingat terakhir kali kami jumpa di petisah dia sedang bersama seorang wanita yang dikenalin nya sebagai pacar. " Iya dulu, orangtua abang tidak setuju sama perempuan itu, kami sudah putus pas abang internsip. " jawab nya " Hmmmm. " aku terdiam dan berpikir " Tidak harus sekarang jawaban nya, pikirkan lah dulu, abang memang sudah kerja di rumah sakit, tapi gaji abang cuma 4 juta, kalau indah nikah sama abang, abang cuma sanggupnya kasih segitu." bang rangga baxtier langsung to the point cerita soal penghasilan nya Setelah itu kami pun makan dalam diam kemudian bang rangga mengantar ku pulang ke rumah " Itu siapa indah?" tanya ibu melihatku diantar oleh laki- laki yang tak pernah kukenalin ke ibu " Itu bang rangga baxtier bu, tadi dia melamar indah, menurut ibu bagaimana?" tanya ku pada ibu berharap mendapat sedikit pencerahan " Apa tidak terlalu cepat indah buat menikah? Indah baru berumur 25 tahun, pengalaman kerja saja belum ada, sudah mau menikah. " jawab ibu membuat ku kesal dan masuk ke kamar Aku pun tertidur dan dalam tidur ku , aku bermimpi datang ke rumah bang rangga baxtier dan dikenalkan dengan kedua orangtua nya. Lalu aku pun terbangun dan keluar dari kamar untuk makan malam berdua dengan ibu. Setelah kakak kedua ku,kak yolanda menikah, aku tingga berdua dengan ibu ku yang seorang penjahit. " Sudah dipikirkan indah soal bang rangga baxtier? coba bawa ke rumah kenalkan ke ibu, biar setidaknya bisa ibu nilai orang nya bagaimana. " ujar ibu membuka pembicaraan " iy bu, nanti biar indah sampaikan ke bang rangga. " jawabku sambil mengambil rendang daging ibu yang rasanya paling enak sedunia " Ibu si menyarankan indah biar kerja dulu, cari pengalaman, menikmati masa lajang, tapi ya semua kembali ke indah, ibu hanya kasih saran karena ibu sudah pernah menjalani nya duluan. " sahut ibu sambil menuangkan teh manis di gelas kosong ku. " Iya bu, bagaimana kabar kak dhea sama kak yolanda bu?" tanya ku basa basi pada ibu " Kak dhea lagi sibuk urus anak pertama nya, kapan kamu ada waktu, pergilah lihat kak dhea dan anaknya, kalau kak yolanda, ibu lihat sepertinya bermasala, kamu tahukan kakak mu yolanda agak pendiam dan apatis. " ujar ibu Esoknya aku pun menelpon bang rangga untuk datang bertamu ke rumah agar ibu bisa kenal lebih dekat dengan bang rangga baxtier. " Halo tante, saya rangga baxtier. " ujar bang rangga ketika tiba di rumah dan bertemu ibu yang membuka kan pintu " Masuk rangga. " ujar ibu menyalami rangga dan menyuruh nya masuk dan duduk di ruang tamu " Indah, rangga sudah datang, buatkan minum nak. " ujar ibu padaku Aku pun ke dapur membuatkan teh manis hangat dan membawa beberapa gorengan yang ibu masak buat dihidangkan ke bang rangga " Rangga baxtier berapa bersaudara? kenal sama indah darimana?" tanya ibu menginterogasi bang rangga baxtier " Rangga dua bersaudara sama kakak perempuan, kenal sama indah dulu waktu co assistant di rumah sakit pakam tante. " jawab bang rangga meminum teh manis " Orangtua rangga masih hidup? Apa pekerjaan nya? " tanya ibu tanpa jeda " Masih hidup keduanya tante. Dulunya wiraswasta, sekarang sudah di rumah saja tante. Kebetulan kakak juga sudah menikah tinggal rangga saja yang belum menikah. " jawab rangga baxtier tersenyum " Oh ya, kata indah, kamu melamarnya kemarin ya?" tanya ibu lagi " Indah sudah cerita ya.. Iya rangga melamar indah buat segera menikah. " ujar rangga baxtier " Kamu sudah siap untuk menikahi anak saya? " tanya ibu menatap nya dengan serius " Biar indah saja tante yang melihat kesiapan saya, izin tante, boleh saya bawa indah menjumpai kedua orangtua saya?" tanya rangga baxtier " Silahkan... Makan lah dulu gorengan nya baru pergi. " ujar ibu Rangga baxtier pun memakan gorengan tempe dan bakwan yang kuhidangkan di piring kecil di samping gelas teh manis. " Indah pamit ya bu. " ujar ku menyalami ibu setelah bang rangga memberi kode dengan matanya untuk berpamitan Sesampainya di mobil , bang rangga tersenyum padaku. " Maaf ya bang, ibu memang langsung the point orang nya. " ujar ku melihat ekspresi bang rangga yang terlihat baru bisa bernapas Kami pun mendatangi rumah bang rangga, dan aku terkejut, rumah nya sama persis dengan yabg ada di mimpi ku, bahkan sofa dan tirai gorden nya. " Ini rumah abang?" tanya ku melepaskan sepatu ku sebelum memasuki rumah " iya, napa indah?" tanya bang rangga membuka kan pintu " Semalam indah bermimpi masuk ke dalam rumah ini bahkan isinya juga sama persis." jawab ku spontan " Ini yang namanya princess indah larasati?" sambut mama bang rangga " Iya tante." jawab ku tersenyum sambil duduk di sofa " cantik ya orangnya baik juga sepertinya " ujar mama bang rangga, tante jelita " ahhh tante bisa saja. " senyum ku lagi melihat mama bang rangga , sepertinya orang nya cukup asyik. " pa, ini princess indah larasati. " ujar tante jelita pada papa bang rangga , om yus. " jadi kapan rencana kalian menikah?" tanya om yus membuat suasana menjadi tegang sesaat " Indah saja masih belum kasih abang jawaban lho pa. " tegur bang rangga sambil tertawa meledek " ohhh iya... hahahha .. maaf om terlalu antusias. " ujar om yus tertawa " Indah anak ke berapa?" tanya tante jelita " Anak ketiga tante, dua kakak saya sudah menikah tinggal saya belum " jawab ku " Ayo makan siang la dulu kita, nanti biar indah sambil pikir- pikir buat menikah dengan rangga ya" ujar om yus berjalan ke meja makan Aku duduk di samping bang rangga, bang rangga mengambilkan nasi dan lauk ke piring ku lalu segelas air putih Setelah siap makan, aku pun berpamitan pulang pada kedua orangtua bang rangga " Bagaimana?" tanya bang rangga di pertengahan jalan " Apanya bagaimana bang?" tanya ku pura- pura bodoh " ya sudah nanti sudah ada jawaban kabari abang ya" ujar nya pada ku sesampainya di rumah " Bagaimana nak?" tanya ibu yang juga antusias dengan jawaban ku " Biar indah istirahat dulu ya bu. " ujar ku masuk ke dalam kamar dan mandi kemudian berbaring di tempat tidur Apa aku memang berjodoh sama bang rangga makanya dikasih mimpi seperti itu, batin ku dalam hati. Beberapa hari kemudian , aku pun menelpon bang rangga dan menerima lamaran nya. Kemudian aku menelpon sania, haga dan irene memberitahu kabar gembira. Orangtua kami berjumpa dan membicarakan soal mahar dan pernikahan kami. Ibu yang single parent pun mulai membuat masalah dengan nominal mahar yang tidak disetujui oleh keluarga bang rangga. Akhirnya aku mengalah dan membujuk ibu untuk menurunkan nominal mahar yang di minta pada keluarga bang rangga. Saat membeli perlenkapan pernikahan yang kuurus sendiri dengan mahar yang diberikan, bang rangga sedikit tersinggung dan marah karena menurutnya aku memakai nya untuk keperluan pribadi. Aku sempat terkejut namun aku berpikir pernikahan adalah hal yang baik dan disegerakan, maka aku pun tidak ambil pusing dengan tuduhan bang rangga. Akhirnya kami menikah setelah beberapa kali cekcok dari jumlah mahar, aku sendiri sempat menambahi dengan tabungan ku sendiri , namun aku tidak cerita pada bang rangga
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN