Seira tersadar dari pingsannya dan sangat terkejut saat mengetahui jika dirinya berada diruang rawat dan lebih mengejutkan saat mengetahui jika lengan kirinya terdapat selang infus. Ia kembali mengingat kenapa bisa berada di ruangan ini dan saat menyadari tentang apa yang membuatnya pingsan, Seira memekik tak tertahan. Jeza!” Ia melepas jarum infus di tangannya dengan kasar hingga darah segar mengalir dari lengannya. Kemudian ia memilih segera keluar dari kamar itu. Perasaannya kacau, pemikiran buruk mendominasi apalagi saat dokter meminta maaf pada mereka, bagaimana jika Jeza .... Seira tidak ingin berpikiran buruk, tapi tetap saja ia harus tetap pada realita. “Sei, mau ke mana?” Seira tertahan di pintu karena Iqbal lebih dulu masuk. “Aku ingin melihat Jeza. Bagaimana keadaannya?

