Jakarta, 19.30 WIB. (Beberapa waktu sebelum kecelakaan) Seira menautkan kedua alisnya, tidak lupa dengan mulutnya yang menganga saat ketiga orang di depannya terlalu sibuk berbenah mulai dari kado-kado yang di masukkan ke dalam paper bag beserta kue yang di jaga bik-baik oleh Kinan. Seira tidak tahu apa yang ketiganya perbuat karena ia hanya jadi penonton tanpa tahu apa pun rencanakan oleh keluarga barunya itu. Seira sudah bertanya beberapa kali, tapi tak satu pun yang berniat menjawab dan Seira teralu lelah mengharapkan jawaban yang tidak pasti. “Sei, mama minta tolong, boleh?” Fara menoleh pada Seira yang duduk di sofa dengan wajah cemberut. Mendengar itu spontan Seira mengangguk semringah. “Boleh, Ma. Apa itu?” “Ambilkan minum di dapur. Mama haus.” Fara memerintah Seira. “Oke.

