Seira menghela napas kasar bersamaan dengan air mata yang tak kunjung mereda. Sudah dua hari lelaki itu masih terbaring di ranjang dengan bantuan segala alat termasuk oksigen dan alat yang pemacu denyut jantung. Wajahnya bagian kiri Jeza terdapat luka jahitan yang ditutupi oleh kain kasa dan juga bagian kepala mengalami hal yang sama. Tangan yang masih dipegang erat oleh Seira juga tak luput dari luka-luka kecil yang bisa dipastikan sangat-sangat perih dan sakit. Jujur, Seira tak kuasa melihat semua itu. Hatinya teriris sekaligus sesak yang tak kunjung mereda. Entah bagaimana rasa takut menghantuinya hingga ia sangat takut jika Jeza meninggalkannya tanpa satu kata yang ingin sekali ia dengar. Maaf dan aku mencintaimu! Kalimat itu sudah dinanti Seira sejak Jeza memintanya untuk menetap

