Ruly menghela napas kasar lalu menatap ponselnya kemudian beralih menatap Iqbal, Jeza dan dua orang lelaki asing yang duduk di depannya dengan wajah tak bersahabat sama sekali. Ia sempat mendengar keduanya menyebut nama, tapi ia tidak terlalu fokus. Toh, keduanya itu tidak terlalu penting. Ya, bagi Ruly, orang itu tidak penting sama sekali. Yang lebih penting itu adalah rencana yang akan dilakukan hari ini. Ia tidak ingin gagal dalam rencananya kali ini sehingga bisa saja nyawanya melayang. Ia adalah salah satu sasaran yang akan disingkirkan walau ia tidak tahu apa alasan Dokter Riga menyingkirkan dirinya. Sebelum membunuh lelaki itu, ia harus tahu alasan di balik ini semua. Kenapa dan kenapa? “Apa lo udah yakin sama rencana lo?” Jeza mencoba mengintimidasi Ruly. Demi apa pun ia bel

